Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Kontrak di Atas Bara Api
Detik jam dinding digital di ruang kendali terasa berdentum seperti godam. Kirei menatap lembaran kertas di atas meja marmernya, lalu beralih pada pulpen montblanc miliknya yang tergeletak pasrah. Lima belas persen saham distribusi bukanlah angka yang kecil. Itu artinya, Vaxerion baru saja memotong urat nadi keuntungan finansial dari sistem operasi yang ia bangun setengah mati.
"Waktumu sisa satu menit untuk berpikir, Kirei," suara Vaxerion mengalun tenang, memecah kesunyian di antara mereka. Pria itu berdiri menyandarkan pinggulnya di tepian meja, melipat kedua tangannya di depan dada sambil terus menatap Kirei dengan pandangan dewasanya yang meluluhkan.
Kirei menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma permen mint yang tadi diberikan Vaxerion mulai mendinginkan tenggorokannya yang sempat kering. Gengsinya menjerit menolak untuk kalah, tapi logika CEO-nya tahu betul kalau dia tidak punya pilihan lain.
Sret.
Kirei menyambar pulpennya, menggoreskan tanda tangan cepat di atas baris kontrak, lalu melempar map kulit itu kembali ke dada bidang Vaxerion. "Jangan senang dulu, Tuan Mahendra. Aku menandatangani ini bukan karena aku kalah, tapi karena aku sedang membeli waktu untuk menghancurkan bajingan yang menyabotase acaraku."
Vaxerion menangkap map itu dengan satu tangan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman menawan yang sangat tipis. "Aku tahu. Dan sifat keras kepalamu itu yang membuat saham ini terasa jauh lebih bernilai."
Pria itu berbalik, menepuk bahu salah satu teknisi asingnya dari London dan memberikan perintah dalam bahasa Inggris yang fasih dan tegas. Dalam hitungan detik, jari-jari tim dekripsi Vaxerion langsung menari di atas papan ketik, memasukkan enkripsi cadangan global yang terhubung dengan satelit konsorsium tersembunyinya.
"Nona Kirei! Aliran data peladen mulai naik! Sistem demo di aula bawah sudah kembali menyala!" teriak kepala IT Zhaklyn Mobile dengan suara yang hampir menangis karena lega.
Seluruh orang di ruangan itu bersorak, melepaskan ketegangan yang sejak subuh mencekik leher mereka. Namun Kirei tidak ikut bersorak. Matanya tertuju pada barisan kode log aktivitas server yang baru saja pulih. Ada satu alamat IP lokal yang sempat masuk ke sistem inti tepat sebelum seluruh data demo terhapus.
"Pelaku penyusupan ini masih ada di dalam gedung," desis Kirei, matanya menyipit tajam. Dia langsung melangkah menuju pintu keluar ruang kendali dengan langkah lebar yang anggun namun penuh amarah.
"Mau ke mana?" Vaxerion menahan lengan Kirei. Genggaman tangannya yang besar dan hangat seketika mengirimkan getaran asing yang membuat Kirei tertegun.
"Mencari pengkhianat di ruang server lantai dua puluh," jawab Kirei ketus, mencoba menarik lengannya namun Vaxerion tidak melepaskannya begitu saja.
"Jangan bodoh. Ruang server bawah gelap total karena aliran listriknya sengaja diputus pelaku. Kamu mau turun ke sana sendirian pakai sepatu hak tinggi itu?" Vaxerion menatap Kirei dengan pandangan dewasa yang begitu intens, membuat Kirei mendadak salah tingkah. "Aku ikut."
Mereka berdua berjalan cepat menuju lift pribadi, turun menuju lantai dua puluh yang menjadi jantung fisik dari seluruh server Zhaklyn Mobile. Begitu pintu lift terbuka, suasana mencekam langsung menyambut mereka. Koridor lantai itu gelap gulita, hanya diterangi oleh lampu indikator darurat berwarna merah yang berkedip pelan di dinding.
Fobia kegelapan masa kecil Kirei mendadak bangkit tanpa permisi. Langkah kakinya sempat goyah di atas lantai marmer yang dingin. Ingatan saat dia terkurung di dalam gubuk tanpa lampu saat badai banjir melanda Jakarta Timur kembali berputar di otaknya.
Sebelum Kirei sempat kehilangan keseimbangan, sebuah tangan kokoh menyelusup ke balik jemarinya, menggenggam erat telapak tangan Kirei yang mulai dingin dan berkeringat.
Vaxerion menggandengnya, menuntun langkah Kirei menembus kegelapan dengan ketenangan yang luar biasa. "Tetap di belakangku, Kirei. Aku di sini," bisik Vaxerion dengan suara berat yang begitu menenangkan, membuat ketakutan di dada Kirei perlahan menguap tergantikan oleh rasa hangat yang aneh.
Mereka melangkah masuk ke ruang server utama yang dipenuhi deretan mesin raksasa yang mendengung rendah dalam kegelapan. Di ujung ruangan, bayangan seseorang dengan senter kecil tampak terburu-buru mencabut beberapa kabel konektor fisik.
"Siapa di sana?!" seru Kirei tegas, melepaskan genggaman tangan Vaxerion dan langsung menyalakan lampu senter dari ponsel Zhaklyn miliknya.
Cahaya senter itu langsung menyorot wajah seorang pria paruh baya yang memakai kemeja safari rapi. Pria itu adalah Hendrawan, salah satu direktur senior Zhaklyn Mobile yang selama ini selalu bersikap manis di depan Kirei. Di tangan Hendrawan, ada sebuah cakram keras (hard disk) eksternal yang berisi database enkripsi pelanggan.
"Hendrawan..." Kirei melangkah maju, matanya memancarkan kekecewaan sekaligus amarah yang luar biasa. "Jadi kamu bajingannya? Kamu yang menjual data ayah angkatku pada pihak asing?"
Hendrawan yang panik karena tertangkap basah, langsung tertawa sinis untuk menutupi rasa takutnya. "Ayah angkatmu? Xander Zhaklyn sudah mati, Kirei! Perusahaan ini harusnya jatuh ke tangan orang-orang lama seperti aku, bukan ke tangan gadis pinggiran rel kereta seperti kamu! Kamu pikir kamu pantas duduk di lantai empat puluh lima?!"
Hendrawan mencoba berlari menerobos Kirei, berniat kabur membawa sisa data tersebut. Namun, dia lupa kalau ada orang lain di ruangan itu.
Sebelum Hendrawan sempat melangkah dua kali, Vaxerion sudah menghadang jalannya. Dengan gerakan satu tangan yang sangat cepat dan bertenaga, Vaxerion mencengkeram kerah kemeja Hendrawan, lalu menghempaskan tubuh pria paruh baya itu ke dinding server hingga cakram keras di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
Aura dominan Vaxerion keluar sepenuhnya, begitu dingin dan mematikan. Dia menatap Hendrawan dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Kamu baru saja menyentuh aset milik Mahendra Motors, Pak Tua. Dan di kota ini, tidak ada satu pun orang yang bisa lolos setelah merugikan keluargaku."
Vaxerion menoleh ke arah Kirei, matanya kembali melembut dalam sekejap. "Panggil sekuriti dan tim hukummu ke bawah, Kirei. Biarkan tikus ini membusuk di sel mulai malam ini."
Kirei menatap Vaxerion yang berdiri tegap melindunginya di dalam kegelapan ruang server. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Kirei menyadari bahwa pertahanan es di hatinya tidak hanya retak—tapi mulai meleleh karena kehadiran pria dewasa yang tahu persis bagaimana cara melindunginya tanpa merendahkan harga dirinya sebagai wanita kuat.
Bersambung...