NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Badai yang sedang dimulai

Mikayla mengendarai motornya menembus jalanan dengan pikiran yang berkecamuk. Ia teringat kembali masa-masa kuliahnya. Dulu, ia begitu memuja seni, ingin membangun galeri atau bisnis desain yang estetik. Namun, orang tuanya mematahkan mimpi itu dengan satu kalimat dingin: "Jangan sok kreatif, kamu cuma mau menyaingi Naura yang memang berbakat di bidang desain, kan? Kuliah perbankan saja, biar kamu berguna sedikit untuk keluarga."

Saat itu ia menangis, tapi kini ia menyeringai di balik helmnya. Keputusan paksa itu justru menjadi senjata makan tuan bagi mereka. Di jurusan perbankan dan akuntansi, Mikayla tidak hanya belajar menghitung uang orang lain; ia belajar bagaimana uang bekerja, bagaimana cara menyembunyikan aset, dan bagaimana membaca pergerakan saham.

Selama lima tahun menikah dengan Elang, Mikayla diam-diam mengelola uang "belanja" yang sangat besar dari suaminya dan mengalokasikannya ke instrumen saham serta investasi jangka pendek menggunakan akun atas nama orang lain yang ia percayai.

Kepulangan yang Dingin

Sesampainya di rumah mewah milik Elang, Mikayla mengatur nafasnya. Ia melihat mobil Elang sudah terparkir di garasi. Di dalam, suasana tampak hangat sandiwara yang biasa ia telan bulat-bulat.

"Kamu dari mana, Mika? Kok baru pulang?" Elang menyambutnya dengan senyum manis yang dulu selalu membuat jantung Mikayla berdesir, namun kini hanya membuatnya merasa mual.

"Dari rumah sakit, Mas. Cek rutin seperti biasa," jawab Mikayla tenang. Ia sengaja memasang wajah lesu agar Elang tidak curiga.

"Oh... hasilnya tetap sama?" tanya Elang, tangannya terulur mengusap kepala Mikayla dengan penuh "kasih sayang". "Sabar ya, sayang. Mungkin memang belum rezeki kita. Mas nggak apa-apa kok kalau kita cuma berdua."

Bohong. Kamu sudah punya Naura yang bangun dari koma, dan kamu sengaja membiarkanku merasa cacat sebagai wanita, batin Mikayla.

Strategi Penarikan Aset

Malam itu, saat Elang sedang mandi, Mikayla duduk di depan laptopnya. Jarinya menari dengan lincah di atas keyboard. Ia tidak lagi melihat grafik saham dengan perasaan takut. Ia melihatnya sebagai tiket kebebasannya.

Langkah 1: Mikayla mulai memindahkan dividen dari beberapa saham blue-chip miliknya ke rekening rahasia yang tidak pernah diketahui keluarga atau suaminya.

Langkah 2: Ia memeriksa perjanjian pranikah yang untungnya dulu ia usulkan dengan alasan "keamanan aset keluarga Elang". Di sana tertulis bahwa jika terjadi pengkhianatan atau kekerasan fisik/mental yang terbukti, Mikayla berhak atas sebagian aset properti yang mereka tempati.

Langkah 3: Ia mulai mendokumentasikan obat-obatan yang diberikan ibu mertuanya.

"Mika? Kamu lagi apa?" Suara Elang mengagetkannya.

Mikayla dengan cepat menutup tab bursa saham dan membuka situs web desain pakaian anak-anak yang selama ini menjadi hobi rahasianya.

"Hanya melihat-lihat baju anak, Mas. Lucu ya, kalau suatu saat kita punya satu yang pakai baju tema My Melody seperti ini," ucap Mikayla sambil menunjuk layar.

Elang tertegun sejenak, ada kilat rasa bersalah yang melintas di matanya namun segera hilang. "Iya, lucu. Tapi jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu stres.”

Mikayla tersenyum manis. "Enggak kok, Mas. Aku sudah nggak stres lagi. Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan sekarang."

Keesokan paginya, saat Elang sudah berangkat kerja yang Mikayla tahu pasti tujuannya adalah rumah sakit untuk menemui Naura, Mikayla menerima pesan dari nomor tidak dikenal.

"Aku tahu apa yang mereka lakukan padamu di rumah sakit kemarin. Jika kamu butuh bantuan untuk menghancurkan mereka dari dalam, temui aku di kafe biasa jam 1 siang.”

Mikayla menyipitkan mata. Siapa lagi yang tahu rahasia ini selain Rasya? Namun, insting bisnisnya mengatakan ini adalah peluang. Jika ia ingin membalas dendam atas lima tahun hidupnya yang dicuri, ia butuh lebih dari sekadar uang; ia butuh sekutu yang sama marahnya dengan dirinya.

Mikayla pun bersiap. Ia tidak lagi mengenakan baju warna pastel yang lembut kesukaan Elang. Ia memilih setelan blazer tegas berwarna hitam. Hari ini, sang "pembunuh" yang mereka tuduhkan akan mulai menyusun skenario kematian bagi reputasi mereka semua..

ke-esokan harinya....

Langkah Mikayla terasa mantap saat memasuki kafe itu. Aroma kopi yang biasanya menenangkan kini justru terasa seperti pengingat, bahwa hari ini bukan tentang bersantai, melainkan tentang perang yang dimulai secara halus.

Ia memilih meja di sudut, posisi yang memberinya pandangan luas ke seluruh ruangan, kebiasaan lamanya membaca situasi tidak pernah hilang. Satu menit berlalu. Dua menit. Tepat ketika jarum jam menyentuh pukul satu, seseorang duduk di hadapannya tanpa permisi.

Seorang pria.

Berpenampilan rapi, tapi tidak mencolok tatapannya tajam, seperti seseorang yang terbiasa mengamati dari balik bayangan. “Kamu datang juga,” ucapnya datar.

Mikayla tidak langsung menjawab. Ia mengamati wajah pria itu, mencoba mencocokkannya dengan ingatan mana pun yang ia miliki. “Kamu siapa?” tanyanya dingin.

Pria itu tersenyum tipis. “Seseorang yang punya tujuan yang sama denganmu.”

Jawaban klise. Mikayla tidak suka. “Aku tidak bekerja sama dengan orang yang bahkan tidak berani menyebut namanya sendiri.”

Hening sejenak, lalu pria itu menyandarkan tubuhnya, seolah mempertimbangkan sesuatu. “Reno,” katanya akhirnya.

Nama itu membuat jantung Mikayla berdetak sedikit lebih cepat, tapi wajahnya tetap tenang. Jadi benar dugaannya, lingkaran ini memang tidak pernah benar-benar tertutup. “Kamu tahu terlalu banyak,” ujar Mikayla pelan. “Kenapa?”

Reno mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya merendah. “Karena aku ada di sana… lebih lama dari yang kamu kira.”

Alis Mikayla sedikit terangkat.

“Rumah sakit itu bukan sekedar tempat perawatan,” lanjut Reno. “Itu tempat menyimpan rahasia. Naura… koma itu bukan kecelakaan biasa. Dan kamu.” ia menatap Mikayla lurus, “... bukan sekedar istri yang disingkirkan perlahan.”

Mikayla tersenyum tipis, tapi kali ini ada sesuatu yang lebih gelap di baliknya. “Aku sudah tahu mereka bermain kotor,” katanya. “Yang aku butuhkan sekarang bukan fakta, tapi cara menghancurkan mereka tanpa menyisakan celah.”

Reno tampak puas mendengar itu. “Bagus. Karena aku tidak datang untuk bercerita.” Ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. “Ini langkah pertama.”

Mikayla tidak langsung menyentuhnya.

“Apa isinya?”

“Rekaman. Transaksi ilegal. Obat-obatan yang diberikan ke pasien tanpa izin resmi, termasuk yang diberikan ke kamu.” Reno berhenti sejenak. “Dan tanda tangan siapa yang mengesahkannya.”

Mikayla menatap benda kecil itu, pikirannya langsung bekerja cepat. Jika ini benar, maka ini bukan sekedar balas dendam, ini bisa menjadi kehancuran total.

“Kenapa kamu membantuku?” tanyanya lagi, kali ini lebih tajam.

Reno tersenyum, tapi tidak ada kehangatan di sana.

“Karena aku juga kehilangan sesuatu akibat mereka.”

Hening kembali menyelimuti meja itu, tapi kali ini, bukan hening canggung, melainkan hening yang penuh kesepakatan tak terucap.

Mikayla akhirnya mengambil flashdisk itu. “Baik,” katanya pelan. “Kita anggap ini sebagai awal kerja sama.”

Ia mengangkat pandangannya, menatap Reno lurus.

“Tapi ingat satu hal, aku tidak berbagi kemenangan.”

Reno terkekeh pelan. “Tenang saja… aku juga tidak.”

Di luar kafe, langit yang tadinya cerah mulai tertutup awan. Seolah alam pun tahu, badai tidak lagi mendekat, badai itu sudah dimulai.

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!