Karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah perumpamaan yang terjadi dalam kehidupan Khalisa Suci Kirani. Jejak noda yang tersemat padanya membawa lara. Cemoohan sudah akrab menyapa yang selalu ditanggapi Khalisa dengan senyuman. Bahkan secara tak terduga, orang-orang yang dianggapnya keluarga termasuk sang suami, bermain madu dan racun di balik punggungnya sebab jejak noda tersebut.
Namun, saat poros hidup yang menjadi kekuatannya terenggut dari sisinya, mampukah Khalisa tetap tersenyum kala noda itu menyeretnya hingga ke dasar nestapa?
Yudhistira Lazuardi, si pengacara muda yang memutuskan mandiri dan menjauh dari keluarganya demi meredam kisruh di dalamnya, alih-alih mendapat ketenangan, hidupnya mendadak tak lagi sama saat membiarkan sosok Khalisa yang dipenuhi problema masuk ke dalamnya.
"Dua ratus juta!"
"Dua ratus juta di muka sekarang juga, untuk dia!" Yudhistira mengarahkan telunjuknya tepat pada Khalisa. Dengan rahang mengetat dan sorot mata tajam tak terbaca.
Akankah Khalisa tetap suci semurni arti namanya? Atau justru tergerus noda yang tak pernah diinginkannya.
Ikuti kisahnya.
Jangan plagiat! Ingat Azab
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Lusuh
Bab 2. Gaun Lusuh
Daster lusuh di tubuhnya yang basah di bagian tengah tertembus air dari celemek saat mencuci setumpuk piring dan peralatan masak sedang Khalisa tanggalkan. Selesai dengan urusan mengepel lantai ia bergegas membersihkan diri setelah sebelumnya memasak air panas di panci dan membawanya ke kamar mandi. Khalisa mengguyur tubuh lelahnya yang bercampur aroma masakan juga keringat. Membiarkan sapuan air hangat dan busa sabun menyapa kulitnya yang mendamba rasa segar.
Khalisa membasuh diri secepat mungkin lantaran jarum jam terus bergerak tergerus waktu. Ia tak ingin kehilangan banyak momen untuk memeluk putra semata wayangnya sebelum si bocah terlelap, juga ingin bercengkerama sembari melepas rindu dengan suami tercinta.
Ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Dion sudah berada di atas kasur. Pria berambut lurus itu duduk bersila dengan mata fokus ke layar gawainya tanpa peduli ataupun tertarik pada Khalisa yang berlalu lalang masih berbalut handuk di dalam kamar yang tak terlampau besar itu.
Khalisa mencoba mencari gaun tidur yang masih layak pakai demi menyenangkan sang suami. Sudah tugas seorang istri untuk selalu terlihat indah di hadapan suaminya kala hendak beranjak ke peraduan. Dengan penuh semangat ia mengacak-acak seisi lemari mencari gaun yang warnanya tidak terlalu pudar. Sudah lama sekali Khalisa tak berbelanja pakaian, kalau diingat-ingat dua tahun lalu ia terakhir membeli pakaian baru.
Untuk sesaat dirinya mendesah frustrasi lantaran gaun tidurnya yang memang tidak banyak tak ada satu pun yang masih layak dipertontonkan pada Dion. Namun kemudian, sudut matanya tak sengaja mengarah ke tumpukan baju paling bawah.
Wajahnya berseri. Ia menemukan gaun tidur warna merah muda yang sebetulnya sudah sedikit pudar juga, hanya saja tidak terlalu parah seperti yang lainnya. Khalisa segera mengenakannya, menyisir rambut dan menyemprotkan kolon murah yang biasa dijual di minimarket. Ia tak peduli dengan merek dan sebagainya lantaran dana untuk kebutuhan pribadinya harus berebut dengan kantongnya yang pas-pasan, yang penting aromanya wangi.
Dengan senyum mengembang ia bergegas ke kamar sang anak terlebih dulu yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya. Untuk sekadar mengecup dan mengucapkan selamat tidur pada si buah hati yang sudah terlanjur terlelap. Bagi Khalisa, Afkar adalah segalanya, permata hatinya, poros hidupnya. Saat sang putra lahir, dunianya yang terkadang masih berselimut kelabu lenyaplah sudah, berganti dengan benderang sukacita dari si buah hati pengobat jiwa.
Khalisa menutup pintu. Mendekati ranjang di mana suaminya duduk bersandar masih asyik bermain game online. Khalisa membuka kimono luar yang melapisi gaun tidur tanpa lengan yang dipakainya. Ia mengusap lengannya sendiri gugup kemudian ikut duduk di sebelah Dion.
“Ehm, Mas,” cicit Khalisa pelan.
“Hmm.” Dion hanya menjawab dengan gumaman, dia terus fokus pada game online yang sedang dimainkannya.
“Mas, nggak ngantuk?” tanya Khalisa berbasa-basi.
“Belum. Kamu tidur duluan aja. Aku lagi tanggung,” sahutnya datar tanpa mempedulikan Khalisa yang menatapnya penuh harap. Sedang mendamba ingin saling mencurahkan kasih sayang dalam upaya pemenuhan nafkah batin.
Mendesah pasrah, Khalisa mati kutu. Sepertinya suaminya tidak berselera padanya bahkan menoleh pun enggan. Padahal ia sudah mengerahkan segala kebolehannya mempercantik diri dengan modal seadanya. Berharap malam ini bisa memadu kasih untuk melepas rindu setelah beberapa bulan terakhir Dion lebih banyak disibukkan dengan pekerjaan. Sangat sering pulang larut malam.
“Ya sudah, Mas. Aku tidur duluan.” Khalisa berkata lesu. Mengembuskan napas kecewa sembari menarik selimut.
Bersambung.
apa Barata nikah lagi yaa thor?
kan Maharani mandul...