NovelToon NovelToon
REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Contest / Patahhati / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ina As

Kalian tahu Reuni itu apa?

Kalian tentu sudah tahu.

Pertemuan kembali setelah berpisah cukup lama.

REUNI betul-betul mengubah hidupku.

Aku bertemu dengan jodohku saat REUNI.
REUNI mempertemukanku kembali, dengan siswa terpintar saat SMA dulu. Sampai benih-benih cinta tumbuh diantara kami. Dan kami pun sepakat mengikat janji suci dalam pernikahan.

Namun siapa sangka?
REUNI yang telah mempertemukan aku dengan jodoh.
Namun REUNI pula membuat rumah tanggaku nyaris berantakan.

Ketika seorang pria yang tidak pernah diperhitungkan di masa lalu. Tiba-tiba hadir dengan segudang pesonanya.

Rumah tanggaku pun dipertaruhkan.

****************

Author : INA AS

Facebook : INA AS

Instagram: INA AS

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Tristan Atmaja (Rev)

NADIA

"Bimasena? Yang mana ya? Kok aku nggak ingat?" tanyaku pada suamiku yang sedang sibuk di depan laptopnya.

Baru saja Admin group whatsapp Alumni SMA kami menambahkan satu orang yang bernama Bimasena ke dalam group. Sudah 12 tahun kami menjadi alumni SMA, dan sudah 6 tahun group kami terbentuk, barulah orang yang bernama Bimasena itu masuk ke dalam group. Kemana saja ia selama ini? Bahkan nama Bimasena sama sekali tidak ada dalam file SMA di otakku.

"Dia nggak sampai satu tahun sekelas dengan kita. Cuman kelas satu doang. Belum juga penaikan kelas dia udah pindah," jawab suamiku tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.

"Ciri-ciri orangnya gimana sih?" Aku makin penasaran saja.

"Eh kamu tuh kepo banget sih, besok juga kalau dia datang di acaranya Mithalia kamu bakal liat kok. Nggak ada kerjaan lain? Kalau nggak ada mending baca-baca buku, biar otak kamu gak buntu. Jangan orang dikepoin terus," hardik suamiku.

Ya seperti itulah suamiku, Tristan Atmaja. Tristan  teman sekelas sewaktu aku masih SMA dulu dan merupakan siswa yang paling pintar di kelas kami. Karena merasa pintar, selama kami menikah ia selalu membandingkan otak cerdasnya dengan otakku yang pas-pasan. Awalnya tentu saja membuatku sakit hati. Namun lama kelamaan hatiku sudah kebal.

Menurut suamiku, wanita cerdas dan berpengetahuan luas lebih menarik daripada wanita yang hanya mengandalkan kecantikannya semata. Wanita intelektual bisa menjadi  problem solver yang baik bagi sebuah hubungan.

Tentu saja itu sangat menyinggung diriku, karena dari berbagai sudut pandang, aku sama sekali tidak termasuk dalam kriteria wanita cerdas, terlebih lagi wanita intelektual.

Saat kami masih sekelas di SMA, aku sama sekali tidak pernah melirik Tristan, pria berkacamata itu. Bahkan aku tidak pernah menyangka suatu ketika akan menjatuhkan pilihan pada Tristan. Ia jauh dari kriteria cowok yang aku tetapkan kala itu.

Aku gadis yang populer di sekolah karena kecantikan dan karena sering mengikuti lomba puteri-puterian serta lomba modeling.

Membuat aku harus mencari pria yang sepadan denganku. Tentu saja yang tampan dan juga populer.

Hatiku lalu tertambat pada kakak kelas, Ketua Osis pada saat itu. Pria tampan dan anak pejabat.

Setelah tamat SMA, saat teman-teman berlomba mendaftar pada universitas favoritnya masing-masing, aku malah memilih masuk sekolah modeling dengan harapan kelak bisa menjadi seorang model profesional. Ya, cita-citaku menjadi model papan atas sekelas Paula Verhoeven dan Laura Muljadi.

Namun setelah menggeluti dunia modeling, ternyata dunia itu tidaklah semenyenangkan yang aku duga. Cita-citaku menjadi model papan atas terlalu tinggi.

Kadang-kadang aku sudah letih dengan berbagai latihan, tapi ternyata tidak pernah dipanggil untuk tampil.

Persaingan dalam dunia modeling sangat ketat. Belum lagi stigma negatif yang sering aku terima sewaktu masih menjadi model, bahwa kami para model bisa dibooking untuk kepuasan pria hidung belang.

Tidak mudah menjadi model papan atas. Dan aku terlambat menyadarinya.

Saat Reuni pertama dengan teman-teman SMA, pada saat kami berusia 24 tahun, di saat itulah aku menyesal memilih jalur modeling untuk berkarir. Saat reuni, teman-temannya sudah ada yang menjadi dokter, perwira polisi, jaksa, atau bekerja pada perusahaan bonafit.

Sementara diriku? hanya kecantikan yang membuatku masih percaya diri. Selebihnya itu tidak ada sama sekali yang bisa dibanggakan. Bahkan titel sarjana pun aku tidak memilikinya. Sungguh malang nasibku.

Disaat itu pulalah, aku mencapai titik jenuh pada Dunia Modelling dan ingin segera meninggalkan dunia itu.

Saat reuni pertama, disitulah aku berjumpa dengan Tristan, siswa terpintar di kelasku. Saat itu bahkan sampai saat ini, Tristan menjadi Auditor BPK.

Hanya dengan melempar senyum manis padanya, Tristan sudah jatuh hati padaku, dan ingin menikahiku. Karena kegagalanku di dunia Modeling, kriteria pria yang aku inginkan berubah pula. Aku menginginkan pria yang pintar, bukan lagi yang tampan dan maskulin. Dan Tristan sudah masuk ke dalam kriteriaku.

Kami akhirnya mengikat janji suci dalam sebuah pernikahan.

Lima tahun pernikahanku dengan Tristan, kami belum juga juga dikaruniai keturunan. Beberapa kali aku  mengajak Tristan untuk berkonsultasi dengan dokter, namun Tristan selalu menolak dengan alasan sibuk.

Memang benar, pekerjaannya sebagai auditor BPK membuat suamiku sangat sibuk. Ia bahkan sering Dinas keluar kota selama berhari-hari sampai berminggu-minggu lamanya.

Saat aku jenuh sering ditinggal oleh Tristan, aku pun memiliki  ide untuk membuka salon. Tentu saja dengan meminjam modal pada mertua. Pada Ayah Tristan.

Sekarang aku sudah memiliki kesibukan, mengelola salon kecantikan yang aku bangun dengan bantuan modal ayah mertua.

Namun menjadi wanita yang memiliki pekerjaan belum cukup untuk membuat suamiku bangga padaku. Ia tetap saja selalu mengagungkan perempuan cerdas seperti otak yang dimilikinya. Tidak jarang bahkan ia menyebut nama perempuan cerdas yang ia kagumi.

Bila nama Menteri Keuangan Sri Mulyani atau pembawa acara TV Najwa Sihab yang ia sebutkan tidak ada masalah.

Namun bila ia sudah mengagumi orang di sekitarnya, harusnya ia sudah menyadari bila itu menjadi masalah dalam diamnya aku.

Tetapi aku berusaha untuk mengerti tentang pernikahan. Percikan asmara tidak lagi sama seperti waktu pacaran. Cinta sebenarnya tidak hilang diantara kami, namun romansa dan gairah sudah menurun karena kesibukan, kebosanan, kebencian, perasaan yang diabaikan, marah dan kesepian. Sehingga pernikahan kami seperti hambar. Terlebih lagi kami belum dianugerahi buah hati.

Ternyata orang yang tidak mengenal Bimasena bukan hanya diriku. Aku tertawa begitu group WA kami yang bernama Still Young diramaikan orang-orang yang mempertanyakan siapa Bimasena.

STILL YOUNG

Hendra:

Selamat bergabung Bro Bimasena, Selamat datang di Indonesia.

Bimasena:

Terimakasih Bro. Salam untuk teman-teman semua.

Mithalia:

Bimasena? yang mana ya? kok aku lupa.

You/ Nadia:

Sama...yang mana ya?

Hendra:

Bima sekelas dengan kita waktu kelas satu. Nggak sampai dua semester karena harus pindah ke Amrik.

Reyna:

Pasang foto dong Bimasena, foto profil kok pakai logo.

Alfredo:

Bimasena cowok yang berpostur tinggi, putih, berbadan subur, yang suka duduk paling belakang di pojok, jarang ngomong, tidak seperti kalian cerewet.

Reyna:

Oh oh oh, aku ingat, bukan yang sering telat datang itu ya?

Bimasena:

Tepat sekali.

Angga:

Bim, masih single ya? cewek2 masih banyak yang single tuh.

Bimasena:

Ha ha ha

Aku mulai bisa mengingat cowok bertubuh tinggi gemuk saat kami kelas satu dulu, namun aku sudah tidak bisa mengingat wajahnya. Ia bukan pria gaul dan tidak populer sehingga tidak masuk dalam lingkaran pertemananku. Bahkan aku tidak pernah melirik dan memperhatikannya sama sekali.

Yang membuat seorang siswa populer di sekolah, diantaranya:

Cantik dan tampan, seperti aku dan Hendra tentunya.

Pintar, seperti Tristan.

Anak orang kaya, seperti Mithalia.

Anak pejabat, seperti Hendra.

Bintang olahraga, seperti Alfredo.

Ketua Osis, seperti mantan pacarku.

Nakal, seperti Angga.

Dan Bimasena?,  tidak masuk dalam penggolongan di atas.

Wajarlah bila teman-teman, jarang yang mengingat orangnya.

1
Faridaruhana Sari
Baca lagi dong.. Bagus banget sih. Menghiburku 👍
Anindya Suci Ramadhani
baca untuk kesekian kli tiada bosan2y🤭ka inna the best
Yay.
tentu saja lah
Yay.
lah kan emang Nadia dr awal mau nikah sama bimasena, tp kamu yg memohon untuk Nadia kembali
Yay.
beda kali. kalau u, karena u yg udh berkali-kali nyakitin istri
Yay.
bentar ini kok Agus namanya, pdhal saat novel ini publish kan belum viral si Agus
Yay.
🔨😩😢
Yay.
/Brokenheart//Brokenheart//Brokenheart//Brokenheart/
Yay.
Bima 🤗
Yay.
Nyatanya ini hanya novel
Yay.
Lah kan kamu yg ga jelas Nadia..
Yay.
keren bima bisa menahan diri
Yay.
Tolong 🤣🤣
Yay.
bunuh aja Tristan biar berumur pendek
Yay.
ini yg mengherankan, kalau sukanya wanita dg karakter seperti itu, kenapa nikahin orang yg ga sesuai kriterianya???
Yay.
baca ulang
Yay.
ni yg aku heran sama cowo kek gini, kalau sukanya wanita cerdas knpa ga nikahin wanita cerdas juga😌
📴🙏🏻OFF G𝘊🙏🏻📴𝘔𝘦𝘮𝘦𝘺
astaga Nad.. Tuh kalung bisa jadi investigasi, kala ka jual nilainya gak akan turun, kemungkinan naik harga malah lebih besar 🤣🤣🤣
📴🙏🏻OFF G𝘊🙏🏻📴𝘔𝘦𝘮𝘦𝘺
pakek nanyak.. ngadon kue bolu, Mas /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
jangan sok polos dan pura² gak tau deh, ndra
📴🙏🏻OFF G𝘊🙏🏻📴𝘔𝘦𝘮𝘦𝘺
Astaga ngakakk /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
jauh² buat kasih rumah dg percuma ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!