NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 PROLOG (Ending Dari TIRAKAT 3)

Dua tahun pun berlalu...

.....

.....

Iya...

Tak terasa...

Sudah dua tahun berlalu...

.....

.....

Dua tahun sejak peristiwa yang hampir saja membuat sukmaku tak bisa kembali pulang dengan selamat...

Rumah Mbah Marto dan pondok pesantren putri di kaki Gunung Kelud itu menjadi saksi bisu atas semuanya...

.....

.....

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan bekerja di pondok pesantren putri milik Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur...

Aku memutuskan untuk pulang ke Bogor, Jawa Barat, dan mencari pekerjaan lain di sini...

Dengan beberapa alasan yang bisa diterima oleh Ustadz Furqon dan juga Bu Fatimah...

Dan Ayu serta Bunga menerima kepergianku dengan lapang dada...

Mereka berdua tetap menjadi pengurus di sana...

Dan Alhamdulillah, seiring waktu, jumlah santriwati bertambah banyak...

Dan juga ada beberapa pengurus baru setelah kepergianku...

Semakin berkembang pondok pesantren itu, baik pondok putra maupun pondok putri...

.....

.....

.....

.....

.....

☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️

🌳🌳🌳🏠🌳🌳🌳

"Niiis..." Bapak memanggilku dari arah teras rumahku.

"Iya Pak... Sebentar... Aku masih cuci piring, dikit lagi selesai..." jawabku dari dapur.

"Buruan di jemur bajunya Nis. Mumpung panas ini loh. Nanti kalo tiba-tiba hujan lagi kayak kemaren gimana?" kata Bapakku.

"Iya-iyaaa... Sebentaaar..." jawabku lagi.

Aku bergegas menyelesaikan cucian piringku, dan segera mengangkat dua buah ember penuh berisi cucian.

Aku berjalan sambil menenteng ember-ember itu, dan segera menuju ke halaman rumah untuk menjemur. Sedangkan Bapakku sedang bersantai di kursi teras, sambil menikmati segelas kopi hitam pahit kesukaannya, ditemani dengan rokok kreteknya.

Hari ini adalah hari Sabtu, sehingga Bapakku bisa libur bekerja di kebun milik bosnya itu.

"Pak..." panggilku, sambil mulai menjemur satu persatu baju.

"Kenapa Nis?"

"Berhenti dong ngerokoknya, inget minggu kemaren udah dikasih tau sama dokter buat berhenti loh."

"Iya... Nanti juga pasti berhenti ngerokoknya kok Nis..."

Aku menoleh ke arahnya sambil menjemur, kemudian menggelengkan kepalaku, karena melihat kelakuan Bapakku yang malah kembali menyulut rokok kreteknya itu.

Dan dia malah cengengesan melihatku...

"Halaaah... Dasar orang tua... Susah banget dibilangin." gerutu ku saat melihat Bapakku menghembuskan asap rokoknya itu.

Memang agak menyebalkan menasihati orang tua yang sudah sangat kecanduan rokok sepertinya.

Dan dengan entengnya Bapakku kembali berkata, "Lagian Bapak ngerokok itu udah dari masih muda Nis. Sampe sekarang masih sehat-sehat aja kan? Hehehe..."

Aku memiringkan bibirku sendiri mendengar ucapannya, sambil terus menjemur baju-baju yang basah. Dan ku acuhkan saja kelakuan tengil menyebalkan Bapakku itu.

.....

.....

Ketika aku sedang menjemur...

Aku berdiri, berhenti sejenak, di antara barisan jemuran yang masih basah...

Aku memandangi beberapa setel seragam SMP seorang anak perempuan...

Dan tertulis sebuah nama cukup panjang dengan bordiran benang hitam di salah satu seragam itu...

Sebuah nama depan baru untuknya, dan ku gabungkan dengan nama dua sosok perewanganku, serta namaku sendiri...

Nama itu adalah "HARUM SEKAR PUTRI PURNAMASARI"...

Aku menatap seragam-seragam SMP itu dengan tersenyum...

Seolah sambil menerawang jauh ingatanku ke masa lalu...

Dan langsung kulanjutkan menjemur baju-baju lainnya...

.....

.....

Ketika sudah selesai, aku berjalan menuju rumah, hendak menaruh dua ember cucian yang sudah kosong.

"Nis..."

"Ya Pak?"

Langkahku terhenti di teras, saat Bapak memanggilku.

"Anakmu kemana sih? Ini udah hampir zhuhur loh..."

"Tadi sih bilangnya mau main ke rumah Dinda Pak, mau main sama adiknya Dinda itu."

"Oooh..." respon singkat Bapakku, sambil mengepul asap rokok kretek dari mulutnya.

Aku taruh saja ember di dekat kursi yang diduduki Bapakku, dan aku duduk di kursi sebelahnya.

"Kenapa Pak?"

"Ya gak apa-apa sih... Cuma kan gak enak kalo cucu Bapak itu main ke rumah orang terlalu lama. Tolong kamu kasih tau nanti. Gak sopan kalo main terlalu lama di rumah orang."

"Iya Pak... Nanti aku kasih tau. Lagian gak apa-apa lah, sesekali main agak lama. Toh mainnya juga gak jauh-jauh kok."

"Heemm... Kamu tuh, sama aja kayak anakmu Nis."

"Hehehehe... Ya gak apa-apa toh... Kan aku sekarang jadi Ibunya." jawabku sambil menepuk pelan lengan Bapakku.

"Iya deh, iyaaa..."

Bapak menyeruput kopi hitam pahitnya yang hampir habis, lalu kembali menghisap rokok kreteknya.

Aku menatap dalam-dalam wajah Bapakku...

Terlihat sangat santai...

Dan terlihat bahagia...

"Pak..." panggilku, sambil menatapnya.

"Apa Nis?"

"Eemm... Bapak bahagia ya?"

"Bahagia apa Nis?"

"Ya karena kehadiran Harum di sini..." jawabku, dan yang kumaksud adalah Harum Sekar Putri Purnamasari.

"Ya jelas dooong... Bapak bahagia... Bisa ngerasain punya cucu... Hehehe..."

"Hehehe... Aku juga bahagia Pak..."

"Ya walaupun Harum itu bukan anak kandungmu... Walaupun dia anak adopsi kamu... Tapi Bapak bisa ngeliat kamu setiap saat, sangat sayang dan perhatian sama Harum, dan dia juga sangat bahagia karena punya Ibu baru sepertimu, itu bikin Bapak ngerasa kayak di surga loh Nis." jelas Bapakku sambil tersenyum.

"Eemm, masa sih?"

"Iya loh... Nanti kamu juga ngerasain kalo Harum udah nikah, terus bisa kasih cucu buat kamu."

"Eeeh... Kalo mikir Harum nikah, itu masih jauh banget Pak. Sekarang aja dia baru kelas 2 SMP loh."

"Hehehe... Ya kan gak apa-apa kita mengkhayal yang bagus di masa depan nanti. Kan itu juga jadi doa yang bagus buat kamu Nis."

"Hehe... Iya Pak... Aamiin..."

Di tengah obrolan hangat kami berdua, terdengar adzan zhuhur berkumandang.

"Eh, udah adzan zhuhur. Bapak mau ke musholla dulu."

"Iya Pak..." jawabku.

Bapak langsung masuk ke dalam, dan keluar lagi dengan membawa kain sarung serta peci hitamnya.

"Nis, kamu jemput Harum sana. Kalo gak dijemput nanti malah keterusan mainnya." kata Bapak sambil memakai sandal, dan bergegas pergi menuju musholla.

"Iya-iya Pak... Aku jemput..."

Aku pun masuk ke dalam, mengambil dompet di atas meja dalam kamarku. Berjaga-jaga jika nanti Harum malah minta jajan.

Dan sejenak aku menatap foto almarhumah Ibuku di atas meja kamarku...

"Bu... Seandainya Ibu masih ada... Pasti Ibu juga bahagia seperti Bapak..." gumamku dalam hati. Dan yang kumaksud bahagia pada Ibu adalah bahagia karena kehadiran Harum di rumah sederhana ini.

Lalu, aku keluar kamar, dan segera keluar rumah sambil menutup pintu depan...

Dan ketika aku berbalik badan...

Datang Mas Padi, tetanggaku, menaiki sepeda motornya...

Namun, Mas Padi tidak sendirian...

Dia sambil membonceng anak perempuanku...

Aku langsung tersenyum, merasa lega melihat anakku sudah pulang dengan di antar oleh Mas Padi...

"Assalamu'alaikum..." ucap Mas Padi sambil memarkirkan motornya di halaman rumahku.

"Wa'alaikumsalam..." jawabku.

"Nisa... Ini loh... Anakmu susah diajak pulang!" ucap Mas Padi sambil membantu Harum turun dari sepeda motornya.

Harum hanya cengengesan sambil dibantu untuk turun...

"Dasar kamu ya Nak... Main kok lama banget sih? Sampe ngerepotin Pak Padi gitu..." kataku pada anakku itu.

"Hehehehe... Maaf Bu..." jawab anakku itu dengan cengengesannya yang sangat manis di wajahnya.

"Lain kali gak boleh gitu lagi kamu Nak..." kataku.

"Iya-Iya Bu... Maaf..."

Lalu... Anakku berjalan mendekatiku...

Langkahnya sudah cukup lihai dan sudah hapal dengan lingkungan rumahnya yang baru ini...

Tapi masih agak perlahan langkah kakinya itu...

"Eh, Harum..." ucap Mas Padi.

"Kenapa Pak Padi?" anakku menoleh sambil berbalik badan.

"Ini loh tongkatmu... Masa Bapak bawa sih? Hehehe..."

"Oh, iya... Aku sampe lupa tongkatku..."

Anakku kembali mendekat ke Mas Padi. Lalu diberikan tongkat itu kepada anakku. Dan setelah itu, Mas Padi langsung berpamitan untuk pulang.

"Pak Padi... Terima kasih ya udah anterin aku pulang..." ucap anakku saat Mas Padi sudah melaju meninggalkan halaman.

"Iyaaaa... Sama-samaaa..." teriak Mas Padi.

.....

.....

.....

Anakku itu berbalik badan, menatapku dengan sambil tersenyum manis. Dan aku balas senyumannya...

Aku memakai sandal, dan berjalan mendekat padanya yang masih berdiri di halaman sambil memegang tongkatnya...

Langsung kubelai lembut rambut hitamnya yang panjang penuh kasih sayang...

Sambil ku tatap ke dua mata butanya yang putih itu...

Dan ia menatapku juga...

Aku bisa tahu, dia bisa melihatku dengan matanya yang putih itu...

Lalu, kubelai penuh kasih sayang pipi kanannya...

Dan... Kucubit pelan pipi kananya itu...

Lalu... Aku menasihatinya...

"Gendis... Kalo mau main keluar rumah, jangan lupa sama kerudungmu lagi ya anakku yang cantiiik..."

"Hehehehe... Iya Buuu..."

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!