dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Kecelakaan Yang Mengubah Segalanya
Langit sore ini terasa menggantung kelabu, awan hitam berkumpul diatas bangunan bertingkat yang masih dipenuhi suara dentuman besi, mesin pemotong, dan teriakan pekerja lapangan.
Bau semen bercampur debu kini memenuhi udara yang menyisakan rasa sesak di dada siapa saja yang terlalu lama berdiri disana, namun seorang laki-laki dengan kemeja putih yang lengan nya sudah tergulung hingga siku kini tampak berdiri tenang ditengah kekacauan itu.
Sepasang sepatu kulit hitamnya sudah kotor terkena lumpur proyek, jam mahal dipergelangan tangannya tidak membuat dirinya terlihat seperti seorang pengusaha mudah yang hanya duduk manis dibalik meja kerja. Tidak, iya justru berdiri paling depan memastikan semuanya berjalan dengan baik.
" Pak Arsen, hujan mulai turun lebih baik kita turun dulu saja" ucap salah satu mandor saat tatapannya menatap langit yang mulai mendung.
Laki-laki itu mengangkat wajahnya sekilas, menunjukkan rintik kecil yang mulai turun, tipis tapi cukup membuat permukaan proyek licin.
" Nanti dulu, tunggu sebentar lagi... Aku mau cek sisi timur dulu karena kemarin aku lihat sepertinya pengamanan cukup kurang" suara Arsen cukup tenang namun tegas.
" Besok juga masih bisa, Pak" Mandor itu terlihat ragu.
Arsen menggelengkan kepalanya kecil.
" Kalau ada yang bahasa lalu kita tunda, satu orang terluka atau kenapa-kenapa itu tanggung jawab saya".
Tidak ada nada tinggi, tidak ada kesan menggurui tapi cukup membuat semua orang diam karena semua pekerja harus satu hal pemilik perusahaan mereka memang muda baru berusia dua puluh delapan tahun, tapi cara berpikirnya jauh lebih dewasa dibandingkan kebanyakan orang.
Arsen Mahardika tidak pernah memperlakukan pekerja seperti angka, baginya mereka adalah keluarga dan memiliki hak yang sama.
" Pak, biar saya saja yang cek " ujar seorang pekerja.
" Kalau saya cuma duduk dikantor dan nyuruh orang bekerja, nanti saya dibilang bis sok kaya" Arsen tersenyum tipis.
Beberapa pekerja terkekeh kecil mendengar ucapan sang Bos, suasana yang tadinya tegang sedikit mencair. Arsen berjalan menuju sisi timur bangunan, sepatu hitamnya menginjak genangan air kecil dengan tatapan yang menyapu setiap sudut.
Tiang penyangga, Besi, pengaman, tangga proyek, sampai kemudian matanya berhenti pada sesuatu yang membuat alisnya mengkerut.
" Pengaman ini siapa yang pasang?" tanya Arsen.
" Kenapa, Pak?" Mandor langsung menghampiri Arsen.
" Longgar, tidak pas" ucap Arsen penuh tekanan.
Wajah mandor langsung berubah ketika Arsen mendekat, tangannya menyentuh pembatas besi... dan benar saja tidak stabil.
" Kalau ada yang bersandar sedikit saja, bisa jatuh Ya Tuhan..." ucap Arsen menghela nafas panjang dan dalam.
Belum sempat siapapun bergerak, tiba-tiba saja sebuah suara keras menggema.
" PAK..... HATI-HATI..."
BRAAAKKKKK.....
Semuanya terjadi terlalu cepat, seorang pekerja yang berdiri diatas scaffolding kehilangan keseimbangan. Tubuhnya nyaris terjatuh refleks, Arsen langsung bergerak.
" PEGANG!!!"
Tangannya menarik tubuh pekerja itu, namun pengaman yang longgar mendadak ambruk. Tubuh Arsen kehilangan tumpuan, besi tajam menghantam pelipisnya. Lengan kirinya terbentur keras, dan tubuhnya yang tinggi kini jatuh menghantam lantai proyek.
Bbbrrruuugghhh...
" PAK ARSENN!!!!"
Suasana berubah kacau, suara hujan makin deras campur aduk dengan kepanikan. Seseorang berlarian beberapa pekerja panik mengangkat tubuh laki-laki itu. Darah mulai mengalir dari pelipisnya, wajah Arsen sedikit meringis namun yang pertama kali ia tanyakan justru....
" Dia aman?" ucap Arsen lemah.
" Pak, Bapak loh yang berdarah" mandor membelalakkan matanya.
" Pekerjanya?"
" Aman, Pak..."
Setelah mendengar jawaban itu baru Arsen bisa mengembuskan nafasnya pelan.
" Syukurlah..." setelah itu Arsen merasa kepalanya mulai berdenyut.
" Bawa saya ke rumah sakit aja" gumamnya lirih.
Rumah Sakit Bintang Medika.
Malam mulai turun lorong IGD dipenuhi suara langkah kaki, monitor jantung, dan aroma antiseptik yang khas. Dibalik semua kesibukan itu, seorang perempuan berjalan cepat dengan langkah tegas.
Rambut hitam panjangnya diikat sederhana, wajahnya terlalu cantik namun ekspresinya dingin... sangking dinginnya sampai sulit ditebak. Jas dokter putih membungkus tubuh rampingnya , stetoskop menggantung di leher dengan tatapan matanya yang tajam.
dr. Nayla Azzura dokter spesialis penyakit dalam termuda dirumah sakit itu, cantik, pintar dan terkenal sulit didekati.
" dokter Nayla, pasien kecelakaan kerja baru masuk" ucap seorang perawat.
" Kesadaran?" Nayla langsung mengangguk.
" Compos mentis, ada luka pelipis dan kemungkinan vedera tangan" jawab perawat.
" CT scan sudah?" tanya Nayla.
" Belum, dok"
" Oke..." nada bicara Nayla tenang dan datar tanpa banyak ekspresi.
Nayla masuk keruang pemeriksaan, dan di sanalah untuk pertama kalinya mereka bertemu. Arsen yang duduk di bangkar pasien masih menekan pelipisnya yang berdarah denga kain, kemejanya sedikit kotor, lengan kirinya tampak sulit digerakkan. Tapi laki-laki itu masih sempat bicara dengan mandor nya.
" Besok jangan lupa cek ulang pengamanan proyek" ucap Arsen.
Nayla berhenti alisnya sedikit naik, "luka seperti itu masih mikirin kerjaan? ".
" Kalau masih mau tetap bekerja, silahkan.. Tapi rumah sakit bukan tempatnya" suara perempuan itu terdengar datar.
Arsen menoleh dan untuk sepersekian detik laki-laki itu diam.
" Cantik... Aah tidak ini terlalu cantik untuk ukuran dokter IGD, tapi... Dingin sekali bahkan gak ada senyum sama sekali".
Arsen hampir lupa kalau kepalanya sedang berdarah.
" dokter?"
" Nama?" Nayla memakai sarung tangannya.
" Arsen..."
" Nama lengkap?"
" Arsen Mahardika"
" Usia?"
" Dua puluh delapan" ucap Arsen.
Nayla berhenti menulis sesaat, masih muda lalu kembali profesional.
" Keluhan?" tanya Nayla datar.
" Saya berdarah, dok" Arsen mengangkat alisnya.
" Kalau masih bisa bercanda berat belum terlalu parah" tatapan Nayla datar.
Mandor disamping langsung menahan tawa, sementara Arsen malah tersenyum kecil.
" Galak juga ... Menarik"
" Angkat tangan kiri "
Arsen mencoba namun sedikit meringis.
" Sakit?"
" Lumayan"
" Lumayan atau sakit?" tanya Nayla masih datar.
" Sakit" Arsen menghela nafasnya kecil.
" Sakit"
" Nah baru jujur" ucap Nayla.
Nayla mulI membersihkan luka di pelipisnya, dan saat cairan antiseptik menyentuh luka.
" Ahh... Pelan dikit, dok" ucap Arsen meringis.
" Kalau takut sakit, jangan kecelakaan" Arsen terkekeh pelan.
Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah sakit, ia merasa lucu.
Perempuan ini dingin sekali, tapi anehnya tidak menyebalkan justru menarik... Sangat menarik.
Sementara Nayla fokus membersihkan luka, tidak menyadari jika sejak tadi laki-laki didepannya terus memperhatikan gerak geriknya. Tatapannya terlalu intens, sampai akhirnya Nayla menghela nafas kecil.
" Kenapa lihat saya begitu? Ada yang salah?" tanya Nayla.
Arsen diam sesaat, lali tanpa rasa takut ia menjawab.
" dokter terlalu cantik, apalagi kalau lagi marah".
Ruangan mendadak hening, perawat hampir tersedak, mandor menatap tidak percaya. Nayla perlahan mengangkat wajahnya dengan tatapan tajam dan dingin bahkan sangat dingin.
" Kalau masih sempat menggoda, berarti belum cukup sakit" kata Nayla tenang sambil menempelkan perban sedikit keras.
" Aahhh... dok!!"
" CT scan, X-ray tangan, setelah itu baru saya bisa simpulkan" Nayla melepas sarung tangannya.
Nayla berbalik pergi, namun sebelum pintu terbuka penuh langkahnya berhenti.
" dokter..." suara itu terdengar lagi.
" Apa lagi?" Nayla menoleh malas.
Arsen tersenyum kecil untuk alasan yang bahkan dirinya sendiri belum bisa memahami, ia tidak ingin perempuan itu pergi terlalu cepat.
" Nama dokter siapa?"
" Nayla..."
Hening beberapa detik, lalu Nayla pergi begitu saja sementara Arsen masih menatap pintu yang tertutup. Entah mengapa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang membuatnya penasaran dan sialnya... Perempuan itu dingin sekali.
Namun dibalik dinginnya, Arsen merasa ada sesuatu Luka yang bahkan mungkin perempuan itu sembunyikan terlalu dalam. Dan tanpa sadar sebuah senyuman kecil terbit di wajahnya.
" Menarik..." gumam Arsen pelan.