Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa itu?
“Uuukk…”
“Uuk…”
Terdengar suara seseorang sedang muntah berkali-kali dari bilik toilet sebelah.
Vira, yang baru saja keluar dari toilet menatap pintu itu dengan heran. Siapa itu? pikirnya.
Ia menunggu beberapa saat sampai pintu toilet terbuka. Alangkah terkejutnya ketika melihat gadis yang keluar dari sana adalah anak didiknya sendiri.
“Lestari? Kamu kenapa, Nak?” tanyanya lembut.
Gadis itu tampak pucat, matanya sedikit berkaca. “Sepertinya saya masuk angin, Bu.”
“Ayo ikut Ibu ke UKS, ya.”
Mereka bergegas ke ruang UKS. Vira meminta perawat di sana untuk memeriksa kondisi Lestari.
Beberapa menit kemudian, setelah beberapa pertanyaan, perawat itu tampak ragu. Ia melirik ke arah Vira, lalu kembali ke arah Lestari.
“Hm… kita tes urine saja, ya?” katanya hati-hati.
Lestari mengangguk. Setelah itu, perawat membuka bungkus test pack, mencelupkannya ke wadah kecil berisi urine.
Beberapa detik berlalu. Dua garis merah perlahan muncul di stik itu.
Vira terpaku.
“Tari, kamu hamil?” suaranya lirih.
Gadis itu menunduk. Air matanya menetes, awalnya pelan, lalu berubah menjadi tangisan yang dalam dan getir.
“Ada apa, Nak? Katakan pada Ibu, siapa ayahnya?”
Tari hanya menggeleng. “Saya tidak tahu, Bu.”
Vira dan perawat itu saling pandang, terkejut. Lestari dikenal sebagai siswi paling rajin, pendiam, dan berprestasi. Tidak mungkin ia terjerumus ke dalam pergaulan bebas.
“Nak, ceritakan saja. Kami tidak akan menghakimimu,” ujar Vira, suaranya lembut tapi tegas.
Lestari menggigit bibirnya. “Sa… saya diperkosa, Bu.”
Vira menegang, napasnya tercekat. Ia benar-benar tak menyangka mendengar itu.
“Siapa yang melakukan itu?” suaranya kini berat menahan marah.
Lestari menggeleng lagi. “Saya tidak tahu…”
“Coba ceritakan dari awal,” pinta perawat dengan hati-hati.
“Beberapa bulan lalu,” lirih Lestari, “Waktu saya pulang kerja paruh waktu, ada mobil berhenti di dekat saya. Di dalamnya ada beberapa anak muda, mereka menyeret saya masuk.”
Vira merasakan jantungnya berdegup cepat. “Kau kenal mereka?”
“Tidak.”
“Kau ingat ciri-cirinya?”
Lestari berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Apakah ada orang lain yang tahu tentang ini?” tanya Vira.
Lestari kembali menggeleng, tubuhnya gemetar.
Vira menepuk bahu pelan bahu Tari, "Orangtuamu tidak tahu?"
Tari hanya mengeleng.
“Kau belum lapor polisi?” tanya perawat.
“Belum…” jawabnya lirih.
Vira menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia menatap gadis itu dengan teduh.
“Baiklah, Nak. Tenang dulu, ya. Ibu akan membantumu. Kami tidak akan memberi tahu siapa pun. Tapi kamu harus kuat.”
Lestari mengangguk pelan sambil menangis. Vira menatap ke arah perawat UKS, dan perawat itu membalas dengan anggukan.
Mereka sepakat akan menjaga rahasia itu, setidaknya sampai mereka tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Setelah beberapa saat, Lestari tertidur di ranjang kecil di ruang UKS itu. Wajahnya masih sembab oleh sisa air mata.
Vira duduk di kursi dekat jendela, menatap langit yang sudah mulai sore. Dadanya sesak.
"Anak sebaik itu kenapa harus mengalami hal seperti ini?"
Perawat UKS datang menghampiri pelan. “Bu Vira, apa Ibu mau saya hubungi kepala sekolah?”
Vira menggeleng cepat. “Belum. Jangan sampai ada yang tahu dulu, Bu. Saya takut kalau berita ini menyebar, hidup anak itu akan hancur.”
Perawat itu mengangguk pelan, memahami. “Kalau begitu, bagaimana rencananya, Bu?”
Vira terdiam lama. Ia tahu langkahnya berisiko. Tapi nalurinya sebagai guru dan ibu jauh lebih kuat daripada rasa takutnya pada aturan sekolah.
“Kita bawa dulu ke klinik luar. Saya punya teman bidan yang bisa periksa tanpa harus mencatat data ke sistem sekolah. Kita jaga dia dulu. Setelah itu, saya akan cari tahu siapa yang melakukan ini.”
Perawat itu menatap Vira, kagum sekaligus cemas. “Ibu yakin mau melibatkan diri sedalam itu?”
Vira menatap Lestari yang terbaring lemah. “Kalau saya diam, siapa lagi yang akan melindunginya?”
Vira menyalakan ponsel, mengetik pesan pada seorang temannya.
“Rani, Aku butuh bantuan, tapi tolong, rahasiakan dulu.”
Pesan itu terkirim. Dan di balik dadanya, ada perasaan berat. Campuran antara marah, takut, dan tekad.
Ia tahu hidupnya tidak akan tenang sampai kebenaran terungkap.
***
Malamnya, Vira mulai menulis apa yang ada dalam pikirannya di sebuah buku catatan.
Dia menulis langkah-langkah untuk membantu Lestari. Rencana jangka panjang kalau hal terburuk terjadi. Termasuk opsi perlindungan hukum dan jaringan pendukung psikososial.
Ia meraih ponselnya, lalu mulai mengscroll daftar lembaga yang bisa menjadi tempat perlindungan bagi perempuan muda seperti Lestari.
Bahkan ia menimbang-nimbang kemungkinan paling buruk jika situasi Lestari makin tidak aman, kemana harus dibawa, siapa yang bisa dipercaya, dan apa yang harus dilakukan tanpa membuat gadis itu semakin tertekan.
Tangannya berhenti sejenak. Vira menarik napas panjang.
“Masa depannya masih panjang, ia berhak menentukan hidupnya.” gumamnya lirih, hampir seperti doa.
Drrt… Drrt…
Ponsel Vira bergetar, itu telepon dari suami tercintanya Willie. Vira tersenyum lalu mengangkat panggilan itu.
Suaminya, seorang pengusaha muda di bidang kontraktor pembangunan, ia sedang berada di luar kota untuk meninjau proyek besar.
“Halo, sayang. Kau sudah tidur?” suara Willie terdengar dari seberang sana.
“Belum. Kau sedang apa?” tanya Vira sambil menutup bukunya.
“Aku baru selesai menemui klien. Sayang, aku sangat merindukanmu,” Jawab Willie.
Vira tertawa. “Aku juga, cepat selesaikan urusanmu dan cepatlah kembali. Rumah ini rasanya sepi tanpa kamu.”
Willie terkekeh. “Anak kita sudah tidur?”
“Sudah,” jawab Vira pelan sambil melirik ke arah ranjang.
Di sana, Alia, putri mereka yang baru berusia empat tahun, tengah terlelap dengan boneka kelinci kesayangannya. Wajahnya begitu damai seperti salinan kecil dari Vira.
“Selama kamu pergi, dia selalu tidur bersamaku,” lanjut Vira lembut. “Tadi sempat menangis, katanya rindu Papa.”
Willie tersenyum membayangkan anak kecil itu dengan rambut ikal dan mata besar yang selalu memeluk lehernya setiap kali ia pulang kerja.
“Sampaikan pada Alia, Papa akan cepat pulang, ya. Aku janji bawa sesuatu untuknya.”
“Baik. Tapi kamu juga jangan lupa istirahat. Aku tahu kamu keras kepala kalau sudah menyangkut urusan pekerjaan.”
Terdengar tawa pelan dari Willie. “Kau sangat hafal kebiasaan burukku, ya.”
“Bagaimana aku bisa lupa?” jawab Vira dengan nada manja yang jarang ia tunjukkan di depan siapa pun.
Hening sejenak di antara mereka.
“Sayang…” suara Willie lirih. “Kalau aku bisa memilih, aku ingin pekerjaan ini cepat selesai. Aku ingin pulang, makan malam bersamamu dan Alia seperti dulu.”
“Aku tunggu,” jawab Vira.
Malam itu terasa tenang. Di luar, angin berembus pelan lewat jendela kamar, menggoyangkan tirai putih yang berayun lembut.
Vira dan Willie tidak tahu, bahwa panggilan sederhana itu akan menjadi percakapan terakhir mereka sebelum hidup mereka berubah untuk selamanya.