“Apa ... jangan-jangan, Mas Aldrick selingkuh?!”
Melodi, seorang istri yang selalu merasa kesepian, menerka-nerka kenapa sang suami kini berubah.
Meskipun di dalam kepalanya di kelilingi bermacam-macam tuduhan, tetapi, Melodi berharap, Tuhan sudi mengabulkan doa-doanya. Ia berharap suaminya akan kembali memperlakukan dirinya seperti dulu, penuh cinta dan penuh akan kehangatan.
Namun, siapa sangka? Ombak tinggi kini menerjang biduk rumah tangganya. Malang tak dapat di tolak dan mujur tak dapat di raih. Untuk pertama kalinya Melodi membuka mata di rumah sakit, dan disuguhkan dengan kenyataan pahit.
Meskipun dirundung kesedihan, tetapi, setitik cahaya dititipkan untuknya. Dan Melodi berjuang agar cahaya itu tak redup.
Melewati semua derai air mata, dapatkah Melodi meraih kebahagiaan? Atau justru ... sayap indah milik Melodi harus patah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPMM1
"Mas Aldrick sibuk atau ... dia memang nggak mau ada di rumah? Apa ... jangan-jangan, Mas Aldrick selingkuh?!"
Melodi menggeleng cepat, mencoba mengusir pikiran-pikiran buruk itu. Namun, semuanya terlalu sulit, sikap dingin yang ditunjukkan Aldrick selama beberapa bulan terakhir membuatnya merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Padahal dulu, mereka tidak pernah seperti ini.
Aldrick bukan orang yang pandai bicara, tapi Melodi tahu, dulu pria itu mencintainya dengan tulus. Senyumnya, sentuhannya, semuanya terasa hangat. Sekarang? Yang tersisa hanya keheningan.
Langit sore kini mulai memerah, memantulkan cahayanya ke kaca jendela ruang tamu yang setengah terbuka. Melodi duduk di sofa, menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Grup chat keluarga Aldrick yang biasanya ramai tidak menarik perhatiannya kali ini. Tangannya menggenggam secangkir teh hangat yang aromanya sudah mulai memudar. Tapi, teh itu tidak diminum, hanya dipegang erat seolah menjadi pelarian dari pikirannya yang semakin berat.
Melodi menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar. Aldrick belum pulang. Lagi.
Ia melirik jam dinding. Pukul 19.30. Sudah lewat waktu makan malam, dan dia tahu, seperti biasa, Aldrick mungkin akan pulang dengan alasan yang sama: “Lembur.”
Melodi meletakkan cangkir tehnya di meja. Hatinya mulai berbisik, merangkai prasangka yang selama ini dia coba abaikan. Tapi, bisikan itu semakin kencang.
Melodi meraih ponsel-nya lagi, kali ini mengetik pesan.
"Mas, pulang jam berapa?"
Ia menatap layar, menunggu balasan. Tapi seperti dugaan, tidak ada pesan masuk. Hanya tanda ceklis biru yang menambah rasa kesalnya.
Hampir satu jam kemudian, akhirnya terdengar suara pintu terbuka. Aldrick masuk dengan langkah pelan, membawa tas kerja yang sudah terlihat penuh sesak. Dia melepas sepatunya tanpa menoleh ke arah Melodi yang masih duduk di sofa.
“Mas,” panggil Melodi, berusaha terdengar santai meski ada nada gusar yang sulit dia sembunyikan.
“Hm?” Jawab Aldrick tanpa mengangkat wajah. Dia sibuk meletakkan tasnya di meja dekat pintu, membuka kancing lengan kemejanya, dan melonggarkan dasi.
“Kamu pulang telat lagi,” lanjut Melodi, suaranya sekarang terdengar lebih tajam.
“Kerjaan lagi banyak,” jawab Aldrick singkat.
Melodi memutar bola matanya. Jawaban itu lagi. Selalu jawaban itu, jawaban yang terdengar seperti alasan sekedarnya. Dia bangkit dari sofa, mendekati Aldrick yang sekarang duduk di kursi makan sambil membuka laptop.
“Kamu nggak lapar?” Tanya Melodi, mencoba mengalihkan suasana.
“Nggak. Udah makan di kantor.” Jawab Aldrick sambil mengetik sesuatu di laptopnya, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Melodi.
Jawaban itu menampar perasaan Melodi. Dia sudah menyiapkan makan malam dengan hati-hati tadi sore. Bahkan Melodi rela menekan laparnya dengan sebungkus mie instan yang direndam dengan air panas saja, agar perutnya masih memiliki ruang untuk makan malam bersama sang suami.
Sementara Aldrick? Bahkan pria itu kini tidak menyadari kalau meja makan sudah tertata rapi dengan lauk favoritnya.
“Mas,” panggil Melodi lagi, kali ini dengan nada lebih serius.
“Hm?”
“Kamu sebenarnya masih peduli nggak sih sama aku?”
Pertanyaan itu membuat Aldrick menghentikan aktivitasnya. Dia menatap Melodi, keningnya berkerut.
“Apa maksud kamu?” tanyanya.
Melodi menelan ludah. “Aku ngerasa kamu semakin berubah. Kamu dingin, jarang ngomong, jarang nanya kabar aku. Kamu lebih banyak di kantor daripada di rumah. Aku ini istri kamu, Mas, tapi ... aku ngerasa kayak tinggal sama orang asing.”
Aldrick menghembuskan napas berat. “Mel, aku capek. Kerjaan di kantor lagi berat. Aku bukannya nggak peduli sama kamu, tapi, aku cuma ... nggak tahu harus gimana.”
Melodi tertawa kecil, tapi, tidak terdengar menyenangkan. “Nggak tahu harus gimana? Mas, aku nggak minta banyak. Aku cuma pengen kamu ngomong sama aku. Jangan cuma diem. Kita ini suami-istri, bukan sekedar orang yang tinggal di bawah atap yang sama.”
Aldrick tidak menjawab. Dia hanya menatap Melodi dengan tatapan sulit dijelaskan. Ada rasa bersalah, tapi, juga ada kelelahan yang nyata di matanya.
“Aku sayang kamu, Mel,” ucap Aldrick pelan.
Melodi tertegun sejenak. Kalimat itu seharusnya membuat hatinya hangat. Namun, entah kenapa, kali ini terdengar seperti kalimat kosong. Kalimat yang semakin membuat dadanya sesak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Melodi duduk di sebuah kafe kecil di dekat rumah. Dia sengaja menghubungi Nadia, sahabatnya, untuk bertemu. Nadia datang dengan senyum lebar, tapi, ekspresinya langsung berubah begitu melihat wajah Melodi yang tampak kusut.
“Ada apaan, Mel? Komuk lo murung amat?” tanya Nadia sambil duduk di kursi seberang.
Melodi mengaduk-aduk cappuccino-nya tanpa menatap Nadia. “Gue ngerasa Aldrick udah nggak sayang sama gue.”
Nadia mengerutkan alis. “Hah? Kok lo bisa mikir gitu?”
“Dia dingin banget, Nad. Mirip sama kulkas 4 pintu, kayak ... nggak peduli sama gue. Pulang kerja telat terus, jarang ngobrol. Gue bahkan mulai mikir jangan-jangan dia ada cewek lain.”
Nadia langsung tertawa kecil. “Aldrick selingkuh? Yang bener aja, Mel. Laki lo itu terlalu kaku buat yang namanya selingkuh.”
Melodi menatap Nadia dengan tatapan tidak percaya. “Lo tau apa soal Aldrick? Dia itu misterius banget. Gue bahkan nggak tau apa yang dia rasain sekarang.”
Nadia menghela napas. “Lo udah coba ngomong serius sama dia?”
“Udah. Tapi dia selalu bilang dia capek kerja. Gue ngerti dia kerja keras buat kita, tapi ... apa ya, gue ngerasa kayak dia nggak ada buat gue.”
Nadia menyentuh tangan Melodi, memberikan dukungan. “Gue ngerti perasaan lo. Tapi, coba deh, jangan langsung mikir yang jelek-jelek dulu. Mungkin dia emang lagi banyak tekanan di kantor.”
Melodi terdiam. Kata-kata Nadia masuk akal, tapi itu tidak cukup untuk menghapus rasa sakit yang dia rasakan.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Aldrick duduk di ruang kerjanya. Matanya menatap layar komputer, tapi, pikirannya melayang ke percakapan tadi malam dengan Melodi. Dia tahu istrinya tidak bahagia, dan itu membuatnya merasa bersalah.
Pria itu menghembuskan napas kasar, sembari menatap kaca pembatas ruangan. Namun, beberapa detik kemudian ia tersentak saat seorang wanita melintas di depan kaca ruangan kerjanya, sambil melemparkan kedipan nakal nan menggoda.
Tatapan Aldrick beralih pada ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan masuk dari Melodi.
Melodi : Mas, nanti pulang jangan telat, ya. Aku tunggu.
Aldrick menatap pesan itu lama. Dia ingin membalas dengan sesuatu yang menenangkan, tapi seperti biasa, dia tidak tahu harus menulis apa. Akhirnya, dia hanya mengetik:
"Ya."
Malam itu, Aldrick pulang tepat waktu. Melodi sudah menunggunya di ruang makan dengan meja yang kembali tertata rapi. Dia mengenakan dress sederhana, tapi, terlihat cantik seperti biasa.
“Mas, ayo kita makan,” ajak Melodi dengan senyum kecil begitu Aldrick keluar dari kamar. Pria itu baru selesai mandi.
Aldrick mengangguk dan duduk di kursi di depannya. Mereka makan dalam keheningan. Melodi berusaha memulai pembicaraan, tapi, Aldrick hanya menjawab singkat.
Setelah makan, Melodi menghela napas panjang. Dia ingin bicara lagi, tapi, takut akan hasilnya. Dia memutuskan untuk tidak memaksakan diri malam itu dan lekas masuk ke dalam kamar.
Namun, saat dia masuk ke kamar, air matanya jatuh tanpa bisa dia tahan. Tepat di belakang pintu, sehelai rambut menempel di jas kerja Aldrick yang bergelantungan di sana. Rambut yang jelas Melodi tau, bukan miliknya ataupun Aldrick. Air matanya semakin menetes.
Melodi memandang ponselnya. Tangannya gemetar saat mengetik pesan untuk Nadia:
"Nad, gue nggak tahu berapa lama lagi gue bisa bertahan kayak gini. Kayaknya umur pernikahan gue gak bakal lama lagi."
Melodi menekan tombol kirim, lalu memejamkan matanya, membiarkan rasa sakit itu membanjiri dirinya.
*
*
*
Hallo readers, kita berjumpa lagi di karya sederhana ini 😇
Mohon dukungannya untuk meramaikan lapak Author, dukungan kalian selalu berharga😘
Dukungan bisa berupa like & meninggalkan jejak komentar, gift, vote, permintaan update, dan cara membaca yang benar (tidak lompat-lompat bab 🥰)
Jangan lupa di subscribe ya, biar dapat notifikasi update 🎉
,, penyesalan,, membuat sesak di
di dada, dalam penyesalan hanya
dua kata sering di ucapkan,
,, andaikan dan misalkan,, dua
kata ini tambah penyesalan.
thanks mbak 💪 💪