Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.
Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Down
Rara mendengar suara alarm mobil dinyalakan. Lalu suara pintu mobil dibuka. Rara pun berlari menuju jendela kamarnya.
"Papa! Papa!" teriak Rara dari jendela kamarnya. Jika saja kamar Rara tidak terletak di lantai 2 maka Ia pasti sudah loncat ke bawah.
"Papa! Rara mau ikut sama Papa! Rara gak mau sama Mama!" teriak Rara sambil menangis histeris.
Rara tidak melihat perempuan yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil Papanya. Rara hanya mendengar Papanya menyalakan alarm pintu mobil dan tak lama Ia melihat Papanya keluar dari ruang tamu. Tanpa memperdulikan Rara, Papa David membuka pintu mobil dan menutupnya.
Rara secepat kilat berlari ke arah pintu. Ia ingin mengejar Papa David. Ia tak mau kehilangan lagi Papanya yang sudah lama tidak pulang ke rumah.
Inez masih menghalangi Rara di depan pintu. Inez masih dengan wajah ketakutan setelah melihat Tante Vio dicekik oleh Om David. Ia tidak menyangka kalau Om David sekejam itu pada istrinya sendiri. Bagaimana kalau saat itu Inez tidak muncul dan melihat semuanya? Apakah mungkin Om David sudah membunuh Tante Vio?
"Nez, minggir Nez! Ada Papa di depan Nez. Aku mau ikut sama Papa, Nez." pinta Rara disela isak tangisnya.
Inez teringat pesan Tante Vio yang memintanya agar Rara tidak melihat semuanya dan menjalankan perintah Tante Vio. Inez pun menghalangi pintu agar Rara gak bisa keluar dan menemui Papanya.
"Nez.... tolong minggir Nez. Aku mau ikut Papa!" teriak Rara sambil menangis histeris.
"Enggak, Ra. Kamu jangan keluar. Tante Vio nyuruh kamu di kamar aja." cegah Inez.
"Jangan dengerin Mama, Nez. Mama tuh jahat! Mama mau pisahin aku sama Papa! Minggir gak? Kalau kamu gak minggir aku dorong nih!" ancam Rara.
Awalnya Inez masih keukeuh menutupi pintu agar Rara tidak bisa keluar, namun Rara dengan sekuat tenaga menarik Inez dan mendorongnya. Inez pun jatuh tersungkur dekat tempat tidur Rara. Untunglah Ia tidak apa-apa dan hanya lecet saja.
Rara membuka pintu kamar dan langsung berlari menghampiri Papa David. Ia mengejar Papa David di halaman depan namun sayang mobil Papa David sudah menjauh pergi meninggalkannya. Meninggalkannya sampai sekarang dan tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi.
"Nez! Inez!" panggil Mama Olive dari bawah.
Inez tersadar dari lamunannya saat mendengar panggilan Mama Olive. Ternyata sejak tadi Ia melamun karena teringat kejadian beberapa tahun lalu. Hubungannya dengan Rara sempai renggang sampai akhirnya Rara mau berteman lagi dengan Inez. Namun Rara sudah tidak ber-aku kamu dengan Inez lagi melainkan menjadi gue-lo, pertanda hubungan mereka yang sudah retak dan tak bisa seperti dulu lagi.
Inez tetap berusaha mendekatkan diri dengan Rara. Usahanya tidak sia-sia. Perlahan Rara mulai akrab lagi dengannya bahkan sampai mengajaknya makan di cafe, namun sayangnya keakraban mereka malah berbuah petaka untuknya. Ia kehilangan keperawanannya dan Papanya harus menderita sakit karena mendapati nasib putrinya yang malang.
"Nez! Kamu ngapain sih lama banget?" teriak Mama Olive lagi karena Inez tak kunjung menjawab panggilannya.
"Ketemu gak Nez?" Tante Vio pun ikut berteriak. Ia khawatir inez tidak menemukan cardigan yang Ia maksud.
"Iya... Ma... Tante. Ketemu kok. Inez habis numpang ke kamar mandi. Kebelet pipis!" Inez terpaksa berbohong. Ia tidak mau Mama dan Tante Vio tau kalau sejak tadi Ia melamun mengingat kejadian di masa lalu yang membuatnya trauma.
Inez jarang dekat dengan laki-laki. Inez pun takut memulai hubungan dengan lawan jenis karena trauma yang Ia miliki. Ia beranggapan semua laki-laki kecuali Papanya adalah makhluk yang kasar. Ia berpikir semuanya sejahat Om David yang bahkan tega mencekik leher istrinya sendiri hanya demi selingkuhannya. Om David bahkan menelantarkan Rara dan tak pernah mengunjunginya sekalipun. Untunglah Rara tinggal dengan Tante Vio, jika dengan Om David Inez tak bisa bayangkan bagaimana kehidupan Rara disana.
Inez membawa cardigan miliknya lalu turun ke lantai bawah. Ia memasang senyum di wajahnya agar Mama dan Tante Vio tidak tahu apa yang Ia lakukan diatas.
"Makasih banyak ya Tante Vio. Bagus banget loh cardigannya. Mahaalllll deh pasti." Inez menghampiri Tante Vio dan memeluknya. Inez memang biasa bermanja-manja dengan Tante Vio. Berbeda dengan Rara yang dingin dan seakan menjaga jarak dengan mamanya sendiri.
"Iya, Sayang. Nanti kamu harus sering-sering main kesini ya. Sebentar lagi Inez kan akan selesai kuliah jadi Dia akan balik tinggal disini lagi. Kamu bisa sama-sama Dia lagi deh." kata Tante Vio. Ia pun tersenyum dan terlihat kecantikan di wajahnya yang mulai menua. Inez heran kenapa Tante Vio yang secantik ini masih saja dikhianati oleh Om David. Apa kurangnya Tante Vio coba?
"Iya, Tante. Tapi nanti Inez akan sibuk karena harus jagain Papa dan kerja jadi gak bisa sering-sering Main ya Tante."
"Iya. Yang penting jangan lupain Tante ya."
"Siap Tante."
"Sudah-sudah. Ayo kita pulang. Masih banyak yang harus dipacking. Kasihan Papa sejak tadi berjemur di depan gak diangkat-angkat. Bisa gosong nanti!" ujar Mama Olive memisahkan Inez dan Tante Vio. Ia harus mengejar waktu sebelum mobil truk pengantar barang datang dan memindahkan barang milik mereka ke rumah baru yang akan mereka tempati nanti.
"Kita pamit ya Tante. Jaga diri Tante. Jangan kebanyakan nyari duit Tante. Tante juga harus nikmatin hidup." nasehat Inez. Inez memang kasihan dengan hidup Tante Vio yang hanya sibuk kerja dan kerja untuk membiayai Rara tanpa menikmati hidupnya.
"Iya Inez bawel." ujar Tante Vio sambil mencubit hidung mancung Inez.
"Inez benar tuh Vio. Sudah saatnya kamu mencari pengganti David. Kamu cantik, pasti banyak yang mau sama kamu. Cukup kamu membuka diri saja pasti ada yang kamu sukai kok." nasehat Mama Olive.
"Iya... iya... Kalian ini Ibu sama anak kok kompak banget sih nasehatin aku? Tapi makasih ya perhatiannya. Hanya kalian yang benar-benar perhatian sama aku. Makasih ya. Aku akan benar-benar kehilangan kalian loh." air mata Tante Vio pun tak terbendung lagi. Mama Olive dan Inez memeluk Tante Vio. Pelukan perpisahan.
*******
Inez merebahkan tubuhnya di kamar barunya. Kamar tersebut lebih kecil dari kamar yang biasa Ia tempati. Hanya muat untuk kasur kecil, lemari baju dan meja belajar saja. Kamarnya pun terletak di lantai bawah karena rumah yang Ia tempati saat ini hanya satu lantai saja. Hanya ada dua kamar tidur dan sebuah amar mandi yang terletak di luar kamar. Jangan bandingkan dengan rumahnya dahulu. Ini saja sudah bersyukur mendapatkan rumah yang bagus dengan harga murah.
Mama Olive sudah mempertimbangkan matang-matang saat membeli rumah ini. Ia sengaja membeli rumah satu lantai agar memudahkan Papa dengan kursi rodanya. Yang terpenting adalah uang sisa penjualan rumah cukup untuk biaya terapi Papa Willy.
Setiap hari Inez sibuk menyelesaikan kuliahnya dan menjaga Papa. Inez belum mencari pekerjaan karena waktunya habis untuk kuliah dan mengantar Papa terapi. Ia juga di kampus hanya seperlunya saja dan langsung pulang. Kasihan Mama Olive kelelahan mengantar Papa terapi juga mengurus Papa dan rumah seorang diri.
Saking sibuknya Inez bahkan tak pernah bertemu dengan Andrew lagi. Hubungan mereka yang memang sudah putus benar-benar sudah tak tertolong lagi dan kandas begitu saja. Inez tidak mempermasalahkannya. Ia mengikhlaskan Andrew. Hatinya masih sakit dengan perkataan Andrew waktu itu.
Tanpa terasa Inez sudah menyelesaikan kuliahnya. 6 bulan berlalu dengan cepat. Terapi Papa mulai mengalami kemajuan yang signifikan, namun tetap saja Papa belum bisa berdiri lama dan berjalan. Kakinya masih lemas untuk menopang tubuhnya.
Kemajuan Papa Willy diantaranya sudah mulai jelas bicaranya. Tangannya tidak kaku lagi dan bisa makan sendiri. Semua itu karena keinginan Papa untuk sembuh sangat besar.
Terapi pengobatan Papa masih terus berjalan, sementara uang sisa penjualan rumah sudah menipis. Belum untuk membayar keperluan sehari-hari, semakin cepat pula uang tersebut habis.
Mau tidak mau Inez harus mencari pekerjaan agar mendapatkan uang untuk membantu membiayai pengobatan Papa sampai Papa pulih dan bisa bekerja kembali. Inez mulai Apply lamaran pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya saat kuliah.
Mencari pekerjaan tidak semudah yang dibayangkan. Mau mengandalkan koneksi tapi tidak mungkin karena teman-teman Papa Willy saat ini menjauh, biasalah saat orang susah semut pun gak mau dekat, namun saat Papa Willy sukses maka semua orang akan menganggap saudara.
Jadilah Inez terluntang lantung mencari kerja kesana kesini. Wajah cantiknya banyak memikat para pemberi kerja namun tentunya pekerjaan yang ditawarkan tidak sesuai dengan pendidikannya dan cenderung menjual kecantikannya demi memikat pembeli. Inez tidak mau pekerjaan seperti itu.
Kaki Inez sudah lelah keluar masuk gedung untuk interview. Dari beberapa interview belum ada yang menerimanya. Semua gagal. Rata-rata yang diterima karena koneksi. Sekalinya diterima Ia menjadi sales pinggir jalan yang harus memakai pakaian seksi. Apa kata Papa Willy dan Mama Olive kalau tahu putri kesayangannya mencari kerja dengan cara seperti itu? Inez juga tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya karena itu Ia menolak pekerjaan yang seperti itu.
Inez berjalan ke halte bus terdekat. Ia duduk di kursi yang disediakan. Kedua kakinya Ia luruskan. Lumayan mengurangi rasa pegalnya. Cuaca hari ini amat terik. Keringat menetes dan membasahi keningnya.
Tenggorokannya terasa kering, Inez ingin membeli air minum tapi uang yang Ia miliki hanya cukup untuk interview besok. Rasanya tak tega meminta uang jajan pada Mama Olive yang sudah hidup dengan amat berhemat demi kelangsungan hidup keluarganya.
Inez menelan ludahnya, berharap dapat membasahi tenggorokannya sedikit.
"Ah... panas sekali siang ini." gumam Inez.
Inez mengambil sebuah ikat rambut dari tasnya dan menguncir rambutnya. Amplop berisi CV miliknya dipakai untuk mengipasi wajahnya.
Inez menunggu bus menuju arah rumahnya. Agak jarang karena letaknya lumayan jauh dari pusat kota. Inez dengan sabar menunggu sampai bus yang Ia tunggu tiba.
Tiiin!!!
Sebuah klakson dari mobil yang berhenti di depan halte mengagetkan Inez. Inez melihat sekeliling halte dan hanya ada dirinya yang duduk di halte tersebut.
Inez memicingkan matanya, menghalangi sinar matahari yang amat silau memancarkan sinarnya siang itu. Sebuah mobil sport yang pastinya mahal punya mengklakson dirinya. Siapa gerangan? Inez gak punya teman yang tajir seperti itu.
Kaca mobil lalu diturunkan. Seorang cowok dengan memakai kacamata sunglass memanggilnya.
"Inez!" panggil cowok tersebut.
Inez mengerutkan keningnya. Ia pun bangun dan berjalan mendekati mobil tersebut. Betapa kagetnya Inez saat tahu siapa yang ada di dalam mobil.
"Rio?" Inez tak menyangka akan bertemu lagi dengan cowok yang telah merenggut kesuciannya tersebut.
"Masuk, Nez." ajak Rio.
Inez mundur perlahan. Inez merasa hubungannya dengan Rio sudah berakhir dan Ia tidak mau bertemu dengan Rio lagi.
Inez menggeleng. "Enggak usah. Makasih."
Inez berbalik badan dan hendak kembali ke halte. Rio yang sudah menduga kalau Inez tidak akan mau ikut naik mobilnya. Rio lalu turun dari mobilnya dan duduk di samping Inez.
"Lo mau apa, Io?" tanya Inez penuh hati-hati.
"Kenapa lo ketakutan gitu sih ketemu gue? Biasa aja kali. Kayak ketemu setan aja." celetuk Rio dengan santainya.
"Gak usah gue jawab pasti lo udah tau jawabannya kenapa gue sampai ketakutan begitu." jawab Inez dengan jutek.
"Tenang aja Nez. Gue gak akan ngapa-ngapain lo kok. Gue tadi lihat lo keluar dari gedung B dan duduk di halte kayak kecapean gitu makanya gue mau nawarin buat anter lo. Gak ada niat jahat kok dalam diri gue." kata Rio membela dirinya dari sikap curiga Inez atas dirinya.
Inez merasa bersalah telah berpikir negatif pada Rio. Terlepas dari kekhilafan Rio padanya waktu itu, sebenarnya Rio anak yang baik. Mungkin kesan pertama mereka saja yang kurang baik sehingga image Rio sudah jelek saja di mata Inez.
"Maaf, Yo, lo tau kan kita punya history yang kurang baik. Maaf ya udah mikir jelek tentang lo." Inez menyesali perbuatannya. Kalau orang tuanya tahu Ia memperlakukan orang lain seperti itu pasti mereka akan marah dengannya.
"Gak apa-apa, Nez. Lo kenapa gak minta gue buat tanggung jawab sama lo? Padahal gue pikir lo akan minta gue bertanggung jawab loh sama lo. Gue udah nunggu namun lo malah gak ada kabarnya." Rio menatap Inez yang terlihat kelelahan dan penuh tekanan.
"Awalnya gue mau minta tanggung jawab kalau gue sampai hamil tapi ternyata gue gak hamil. Apa yang harus dipertanggungjawabkan lagi? Toh kita berdua sama-sama mabuk dan gak sadar apa yang kita lakukan jadi.... ya sudahlah. Mungkin semua ini memang takdir gue. "
Rio masih tidak percaya dengan apa yang Inez katakan. Kenapa sikap Inez dengan apa yang Rara ceritakan amat jauh berbeda.
"Baik banget sih lo Nez jadi orang. Hati-hati ah nanti dijahatin orang deket lo sendiri."
"Maksudnya? Orang deket apa ya?" tanya Inez bingung.
"Udah gak usah dipikirin. Kalo lo gak mau minta tanggung jawab sama gue, setidaknya ijinin gue bertanggung jawab dengan menjadi temen lo. Gimana? Lo mau gak temenan sama gue?" Rio menjulurkan tangannya menunggu tangan Inez menyambut tangannya dan mau temenan dengannya.
(Rio)
terima kasih ya kak 😍😍😍😍