Dijodohkan dengan lelaki yang lebih muda 5 tahun darimu, apa kamu mau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon athania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gendong
Rey tengah sibuk dengan buku pelajaran yang di bacanya, dia duduk di sofa panjang di dalam kamarnya. Angin sore yang berhembus perlahan menggoyangkan gordennya yang tergantung, seseorang dengan tingkah lakunya yang biasa masuk tanpa permisi itu pun datang. Daniel tahu jika dia meminta ijin atau mengetuk pintu pasti Rey akan langsung mengusirnya atau menolaknya untuk masuk.
"Ada apa?" tanya Rey yang menghentikkan kegiatan membacanya dan melihat ke arah Daniel yang sudah membuang dirinya di kasur tempat Rey tidur.
"Kamu tidak menemui Olivia hari ini?" tanya Daniel yang memandang langit-langit kamar Rey.
"Tidak" jawabnya acuh. Tatapannya kembali pada buku yang dibacanya sedari tadi.
"Dua hari lagi kalian akan bertunangan, bukankah lebih baik kamu berkunjung ke rumah orangtuanya. Setidaknya sebagai calon suami kamu harus menyapa kedua orangtua Olivia secara resmi" Rey sendiri sebenarnya sudah mengenal dengan baik kedua orangtua Olivia, hanya dengan putrinya sajalah Rey baru saling mengenal.
"Nanti"
"Sebagai pasangan normal apa kalian tidak berniat pergi kencan atau melakukan sesuatu bersama-sama?, sebentar lagi Olivia akan kembali ke Singapura loh"
Entah mengapa kali ini Rey merasa Daniel sangat cerewet, memang biasanya dia banyak bicara tetapi pernyataannya kali ini seolah memprovokasi.
"Malas, lagi pula si jangkung itu pasti kaum rebahan akut"
"Haha, rupanya kamu tahu ya kebiasan Olivia sekarang, apa kalian sudah sedekat itu" sindir Daniel menggoda adiknya.
"Tidak juga" meski berkata demikian, mimik wajah Rey tak dapat berbohong dia mulai salah tingkah.
"Apa kamu sangat memahami sifatnya, ekhem! ternyata adikku yang sok cuek ini diam-diam sangat memperhatikan calon tunangannya" senyum Daniel menyeringai.
"Diam! sudah keluar sana. Kau menggangguku yang sedang belajar!" Rey melempar salah satu bantal yang ada disofa ke arah Daniel dan lemparannya itu tepat mengenai tubuhnya, dia tidak ingin membahas hal ini lebih jauh lagi karena sudah pasti sang kakak tidak akan berhenti menggodanya.
"Kenapa kamu marah-marah, baiklah aku akan pergi. Ingat jangan lupa berolahraga dan minum susu agar tubuhmu cepat bertumbuh tinggi, tahun depan statusmu akan berubah jadi seorang suami" ucapnya sambil berdiri dan melangkahkan kaki menuju pintu.
"Hem! tetap seperti ini pun tak apa" jawabnya tanpa menoleh pada Daniel sedikit pun.
"Untukmu tak apa-apa tapi Olivia aku merasa kasihan padanya, semoga tidak ada lelaki tinggi dan dewasa yang mendekatinya" sang kakak menakut-nakuti.
"Silahkan saja jika dia mau"
"Wah jika sampai terjadi aku rasa kamu akan menyesal nanti"
"Sudah cepat tutup pintunya!" Rey membulatkan matanya, meladeni Daniel tidak akan ada habisnya.
"Iya iya selamat belajar adikku yang cebol" Daniel menempelkan tangannya di bibir dan meniupkannya ke arah Rey seolah memberi kecupan perpisahan.
"Iisshhh kau!!" Rey menutup kembali bukunya sambil menghentakkan kakinya keras ke lantai.
Sang kakak tertawa renyah seraya menutup pintu, sebenarnya dia takut Rey akan benar-benar marah jadi dia merasa cukup untuk menggodanya.
Rey sendiri belum bisa memahami dirinya yang selalu bersikap aneh jika bersama Olivia, dengan Olivia rasanya dia sedikit berbeda.
Dddrrt Ddrrtt
Ponsel Rey bergetar di atas meja, dia segera bangun dari duduknya, menyimpan buku dan mengambil ponselnya. Rupanya pesan itu berasal dari Olivia.
"Apa yang akan kau lakukan nanti sore?"
Rey mengerutkan alisnya, tumben Olivia mengiriminya pesan seperti ini, apa dia salah makan atau belum minum obat. Biasa hanya sebuah pesan dengan kata-kata nyolot yang selalu Rey dapatkan.
"Tidak ada, kenapa?" begitulah balasan Rey.
"Aku harus ke rumahmu"
Kata-katanya bernada terpaksa, akhir-akhir ini kedua orangtua mereka memang seperti ikut campur dengan kehidupan mereka, Rey dan Olivia harus selalu terlihat bersama, pendekatan yang di paksakan. Kata itu cocok untuk menggambarkannya.
"Untuk apa kau ke rumahku?" tanya Rey penasaran.
"Pokoknya ya harus ke rumahmu, sudah jangan tanya-tanya lagi!"
Rey tersenyum mendapat balasan dari Olivia, dia pikir akan mendapat pesan yang santai-santai, pada akhirnya sikap nyolot Olivia akhirnya keluar.
"Pemarah" tanpa sadar Rey terus memandangi layar ponselnya dengan ulasan senyum yang sumringah.
***
Olivia berguling-guling di kasur Rey, tidak peduli lagi dengan bantal dan gulingnya yang tidak tertata rapi. Sore ini ia berkunjung ke rumah calon suaminya dan kedua orangtua Rey beserta Daniel sedang tidak di rumah. Rey masih terlihat santai dengan buku tebalnya di sofa, sepanjang hari hanya itu yang dilakukannya membuat Olivia sangat bosan.
"Hei! bisakah kita melakukan sesuatu seperti keluar atau kemana?"
"Lakukanlah, rapikan kembali kasurku" jawab Rey cuek.
"Aku benar-benar bosan!" teriak Olivia semakin mengacak-acak selimutnya.
"Kalau begitu pulang saja sana!" ucap Rey yang sedikit kesal melihat tingkah Olivia yang kekanak-kanakan.
"Kalau aku pulang aku akan di marahi ayahku, dia menyuruhku untuk selalu mendekatimu!" ceritanya dengan bibirnya tercebik.
"Haaahhhh" Rey membuang napasnya lalu berdiri dan melangkah pergi tanpa sepatah katapun.
"Cebol mau kemana?"
"Ke ruang perpustakaan lantai bawah"
"Aku ikut, kau tega meninggalkan aku di sini"
"Cepatlah"
Olivia mengekor pada Rey, kini keduanya berada di ruang perpustakaan. Rey mencari buku lanjutan yang sedang di bacanya. Mencari ke sana ke mari akhirnya Rey menemukannya, sialnya buku itu berada di rak paling atas dan sulit untuk di gapai. Rey berjinjit berharap bisa mendapatkan buku tersebut.
"Akkhh kenapa susah sekali!" gerutunya mulai melompat-lompat namun tiba-tiba Rey merasa tubuhnya melayang, seseorang melingkarkan tangannya di perutnya lalu mengangkatnya agar bisa menggapai buku itu.
"Jangkung! apa yang kau lakukan!" Rey memutar tubuhnya tidak bisa diam, tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri meronta ingin di turunkan.
"Jangan bergerak terus! cepat ambil bukunya!" teriak Olivia menahan tubuh Rey yang berbobot.
"Tapi lepaskan tidak usah mengangkatku!" Rey menjadi kesal dan malah semakin tidak bisa diam.
"Cepatlah!! Eh!!"
Brruuukkk
Olivia yang mengangkat Rey jadi hilang keseimbangan dan mereka berdua pun jatuh. gadis itu kini berada di atas tubuh Rey menahan dirinya agar tidak terlalu menindihnya.
Tatapan mereka bertemu, cukup lama mereka saling memandang. Wajah Rey terlihat dingin sedangkan yang menatapnya seolah sedang meniliti wajah calon suaminya, dengan jarak sedekat ini Olivia menganggumi ketampanan wajah Rey.
"Hidungnya mancung, bulu matanya lentik, bola matanya kecoklatan, wajahnya putih mulus, jika sudah besar nanti dia pasti lebih tampan dari kak Daniel. Uuuuuhhhh" pujinya dalam hati.
"Berat!!" tapi kata itulah yang keluar dari mulut Rey.
Seketika wajah Olivia menjadi suram dan segera menjauh dari tubuh Rey.
"Aku ini kurus, mana mungkin berat"
"Kurus kalau dilihat pakai sedotan, lihat lemak di tubuhmu" Rey menunjuk lengan Olivia yang berisi.
"Berat badanku normal kok, lagipula kau tidak tahu terima kasih aku sudah membantumu untuk mengambil buku tadi, tubuhmu sendiri tidak ringan!"
"Jangan mengangkatku seenaknya, memangnya aku balita yang bisa kau gendong!"
"Kalau tidak aku gendong memangnya tanganmu sampai!" Olivia menjadi sangat kesal padahal tadi ia cukup mengagumi Rey, ia menarik kembali kata-katanya.
"Ahhh sudahlah!!" Rey berjalan meninggalkan Olivia tanpa peduli meski di panggilnya beberapa kali.
Rey menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Dia menjatuhkan dirinya kasar di ranjang. Dia menjambaki rambutnya sambil meraung-raung.
"Memalukan!! kenapa dia harus menggendongku! memangnya pantas seorang lelaki di gendong oleh calon istrinya seperti itu! malu malu malu!!!" rupanya hal itu yang membuat Rey uring-uringan.
kangen sma pasangan ini
keknya seru
seru soalnya
senangnya..
see u Rey dan Oliv...🥰🥰🙏💪
cukup. Rey dan Oliv aza
Daniel di novel lain aj kak