Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Lampu pendar di atas meja belajar berkedip sekali sebelum memancarkan cahaya putih yang menyengat mata. Jam dinding kayu di atas lemari menunjukkan pukul 22.15 WIB. Hening menyerap seluruh sudut perumahan elit ini—Cuma ada deru angin luar yang mempermainkan dedaunan dan detak jarum jam yang membosankan.
Kirei menarik rapat cardigan rajut krem yang membungkus bahunya. Tiga lembar kertas berstempel basah terhampar di meja. Surat Perjanjian Pernikahan Kontrak.
Derap langkah kaki yang diseret malas mendadak terdengar dari koridor. Pintu kamar yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka mendadak diusap jemari seseorang.
Arka bersandar di ambang pintu, cuma memakai kaus hitam polos dan celana pendek olahraga. Rambutnya yang basah sehabis mandi berantakan menutupi dahi, menyebarkan wangi sabun citrus yang tajam—aroma khas yang belakangan ini menguasai kamar mandi utama.
"Belum tidur?" tanya Arka datar, matanya melirik tumpukan kertas di meja. "Atau lo lagi menghafal aturan biar enggak kena denda?"
Kirei memutar kursi rodanya, menatap Arka dengan dagu terangkat. "Gue mau tambah dua poin baru. Dan lo wajib tanda tangan malam ini juga."
Arka terkekeh—tawa yang lebih mirip dengusan meremehkan. Tanpa diundang, ia melangkah masuk lalu mengambil posisi di tepi kasur. Kasur empuk itu ambles menahan bobot tubuhnya yang tinggi.
"Aturan apa lagi, sih? Kurang banyak sembilan belas poin yang lo bikin kemarin?" Arka menyilangkan tangan di dada, memamerkan urat-urat halus di lengan bawahnya yang biasa basah oleh keringat tiap latihan basket.
"Ini demi kebaikan bersama, Arka," cetus Kirei seraya menyodorkan pulpen bertinta merah. "Poin nomor dua puluh: Dilarang memasuki area pribadi masing-masing tanpa izin eksplisit, termasuk menyentuh barang-barang sekolah. Poin nomor dua puluh satu: Di sekolah, kalau kebetulan papasan di lorong tanpa ada orang lain, dilarang menegur lebih dari lima kata."
Arka menatap pulpen merah di tangan Kirei, lalu beralih ke wajah cewek di depannya. Rambut panjang Kirei cuma diikat asal-asalan memakai jepit badai, menyisakan anak rambut yang membingkai leher jenjangnya. Tanpa riasan tipis khas ketua OSIS seperti di sekolah, Kirei kelihatan jauh lebih muda—dan tanpa disadari, sedikit rentan.
"Lima kata?" Arka menaikkan alis. "Pelit banget. Kalau gue mau pinjam pulpen di kelas gimana?"
"Lo punya banyak teman tongkrongan. Minta sama mereka, jangan sama gue," sahut Kirei dingin.
"Gimana kalau situasi darurat?" Arka memajukan tubuhnya sedikit. Jarak di antara mereka terkikis. Cahaya lampu meja memproyeksikan bayangan Arka yang menutupi separuh tubuh Kirei. "Misalnya... kalau ada cowok lain yang mendadak nembak lo di depan atrium sekolah kayak si Bima minggu lalu?"
Jantung Kirei mendadak berdegup kencang secara tidak teratur. Ia benci fakta bahwa sorot mata cokelat gelap Arka selalu berhasil membuatnya merasa terdesak. Tapi sebagai Ketua OSIS yang terbiasa pegang kendali, Kirei menolak memperlihatkan kagetnya.
"Gue bisa ngatasin masalah gue sendiri. Bima bukan ancaman," tegas Kirei. "Tanda tangan sekarang."
Arka merampas pulpen merah itu dari tangan Kirei. Jemari mereka bersentuhan sekejapan—kontak singkat yang mengirim sensasi hangat seperti sengatan listrik. Kirei menarik tangannya cepat-cepat, berpura-pura sibuk merapikan tumpukan buku.
Dengan gerakan tangkas dan terkesan sembrono, Arka membubuhkan tanda tangan di bawah poin nomor dua puluh satu. Tinta merah tergores tebal di atas kertas putih.
"Selesai, Bu Ketua," ujar Arka sinis sambil melemparkan pulpen itu balik ke meja. Pulpen berputar lalu menggelinding jatuh ke karpet.
Sebelum Kirei sempat memprotes tindakan tak sopan itu, Arka mendadak membungkuk mengambil pulpen yang jatuh, lalu menyejajarkan wajahnya tepat di samping telinga Kirei.
"Tapi ingat satu hal, Kirei," bisik Arka. Suaranya memberat, jauh dari nada ejekan yang biasa ia pamerkan di sekolah. "Perjanjian ini cuma berlaku kalau kondisi aman. Kalau ada yang mulai curiga sama rahasia kita... jangan salahkan gue kalau gue pakai cara gue sendiri buat menutupi semuanya. Termasuk berpura-pura jadi suami yang peduli di depan umum."
Kirei menahan napas. Wangi citrus dan hawa hangat dari tubuh Arka bikin dadanya bergemuruh kencang. Belum sempat Kirei membalas ancaman itu, Arka sudah berdiri tegak, membalikkan badan, lalu melangkah santai keluar kamar.
Brak!
Pintu kamar terhempas pelan. Kirei menyandarkan punggungnya ke kursi, memegangi dada yang naik turun. Matanya tertuju pada kertas di atas meja. Tanda tangan Arka dengan tinta merah kelihatan mencolok—tajam dan tidak beraturan, persis seperti pemiliknya.
Keesokan harinya, SMA Nusantara diselimuti awan mendung yang tebal. Bau tanah basah menusuk hidung sewaktu Kirei melangkahkan kaki melewati gerbang utama pukul 06.45 WIB.
Sesuai kesepakatan rahasia, mereka tak pernah berangkat bareng. Arka selalu berangkat setengah jam lebih awal naik motor sport hitamnya, sedangkan Kirei diantar sopir atau naik taksi daring.
Saat melewati lapangan basket luar ruang, langkah Kirei terhenti.
Arka sudah di sana. Cowok itu bertelanjang dada di bawah gerimis tipis yang mulai turun, memegang bola basket dan melakukan pemanasan sendirian. Keringat dan air hujan menyatu di kulit punggungnya yang tegap. Beberapa siswi kelas sepuluh di pinggir koridor tampak berbisik-bisik sambil mengabadikan momen itu lewat kamera ponsel.
Kirei meremas kuat tali tas ranselnya. Ada rasa tidak nyaman yang aneh menelusup ke ulu hati—rasa asing yang belum pernah ia rasakan. Ngapain sih pamer tubuh pagi-pagi gini? batin Kirei jengkel.
Tanpa buang waktu, Kirei melanjutkan langkah menuju ruang OSIS untuk menyiapkan rapat kedatangan siswa pertukaran pelajar. Baru saja ia membuka pintu ruang OSIS, sosok cowok berjas OSIS rapi dengan kacamata bingkai tipis langsung menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Pagi, Rei. Cepat banget sampainya," sapa Bima, Wakil Ketua OSIS.
"Pagi, Bim. Iya, mau merapikan berkas proposal dulu sebelum bel," jawab Kirei sembari meletakkan tas di atas meja utama.
Bima mendekat membawa dua cangkir kertas berisi teh hangat yang masih berasap. "Gue beliin ini di kantin belakang tadi. Lo kelihatan agak pucat beberapa hari terakhir. Jangan terlalu memaksakan diri, Rei. Kalau ada masalah, cerita aja sama gue."
Kirei tersenyum tipis menerima cangkir itu. "Makasih, Bim. Cuma kurang tidur aja kok."
"Beneran cuma kurang tidur? Bukan karena... anak-anak bandel kayak Arka yang makin sering bikin ulah?" tanya Bima ragu, menatap Kirei penuh perhatian.
Nama itu membuat genggaman Kirei pada cangkir kertasnya mengencang. "Arka? Enggak kok. Kenapa memangnya?"
"Tadi pagi gue lihat dia parkir motor di tempat yang enggak seharusnya. Pas gue tegur, dia cuma melotot dan langsung jalan gitu aja," cerita Bima dengan nada jengkel. "Cowok kayak dia itu cuma ngerusak nama baik sekolah. Gue heran kenapa Kepala Sekolah masih nahan dia di sini."
Kirei terdiam. Ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk membela Arka—untuk bilang bahwa di balik kelakuannya yang ugal-ugalan, Arka adalah orang yang rela bangun jam lima pagi cuma buat memastikan Kirei tidak tertinggal sarapan dengan meninggalkan roti bakar di meja dapur. Tapi Kirei tahu, ia tak boleh membocorkan apa pun.
"Nanti gue yang bicara sama dia," ucap Kirei pelan.
"Gak usah, Rei. Biar gue urus lewat guru BK," potong Bima mantap. Tangannya bergerak tanpa ragu, mengusap pelan bahu Kirei seolah menenangkan. "Lo fokus sama proposal aja."
Klek.
Pintu ruang OSIS terdorong lebar.
Arka berdiri di sana. Seragam putihnya terpasang dengan kancing atas terbuka, rambutnya masih setengah basah. Bola basket di tangan kanannya dipantulkan sekali ke lantai kayu ruang OSIS, menimbulkan bunyi thump yang memotong keheningan.
Mata tajam Arka langsung mengunci tangan Bima yang masih hinggap di bahu Kirei.
Atmosfer di ruangan kecil itu mendadak membeku. Kirei menahan napas sewaktu melihat raut wajah Arka berubah—rahangnya mengeras, dan tatapan matanya menjadi begitu dingin.
"Ops, sori. Gue ganggu momen mesra kalian ya?" bisik Arka dengan nada tajam yang mampu memotong udara.
Bima cepat-cepat menarik tangannya, lalu berdiri tegak membusungkan dada. "Arka? Mau apa lo ke ruang OSIS? Anak non-pengurus dilarang masuk tanpa izin!"
Arka mengabaikan Bima sepenuhnya. Ia melangkah dua tindak, matanya cuma tertuju pada Kirei yang mematung di balik meja.
Arka melempar bola basketnya ke atas meja OSIS—tepat di atas tumpukan berkas proposal yang baru saja dirapikan. Bola berdebu itu meninggalkan bekas lingkaran hitam di kertas putih bersih.
"Gue cuma mau mengembalikan ini," kata Arka tenang, tapi tiap kata yang keluar sarat tekanan. Dari saku celana, Arka mengeluarkan sebuah benda lalu melemparkannya ke samping bola basket.
Gantungan kunci berbentuk gembok kecil berwarna perak—milik Kirei yang terjatuh di mobil kemarin saat mereka berangkat terpisah.
"Ketinggalan di tempat gue semalam," lanjut Arka tanpa berkedip, memamerkan seringai miringnya yang penuh teka-teki.
Mata Bima membelalak lebar, memandang gantungan kunci itu, lalu beralih menatap Kirei dengan raut penuh tanda tanya dan tak percaya.
Darah di tubuh Kirei rasanya berhenti mengalir. Tempat Arka? Semalam?
Arka mendekatkan wajahnya ke arah Kirei, melanggar batas jarak yang mereka sepakati, lalu berbisik cukup keras hingga Bima bisa mendengarnya jelas:
"Lain kali kalau main ke tempat gue sampai malam... barang-barang pribadi lo dijaga baik-baik, Istri Ketua OSIS yang terhormat."