Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Seorang Istri
"Bangun Mas, sholat subuh dulu." Ku goyangkan tubuh Mas Davin yang tertidur dengan pulasnya, Mas Davin menggeliat kecil dan terperanjat kaget melihat ku yang telah terduduk di tepi ranjang miliknya.
"Siapa yang menyuruh mu masuk ke dalam kamar ku?"
"Aku hanya ingin membangunkan mu untuk melaksanakan sholat subuh Mas, setelah sholat Mas boleh melanjutkan tidur."
"Iya, cepat pergi dari sini."
Terlihat Mas Davin tengah beranjak dari ranjangnya. Aku pun bersiap untuk membereskan rumah, cukup melelahkan jika membersihkan rumah ini sendirian, sepertinya Mas Davin ingin menyiksa ku dengan tidak memberikan asisten rumah tangga. Padahal di rumah orang tua ku, aku tak pernah beres-beres ada Bi Lastri yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah, aku hanya cukup membereskan kamar ku. Tapi setelah menjadi istri aku harus melakukannya sendiri, tak apa aku harus belajar untuk lebih sabar dan ikhlas.
Membersihkan rumah pun telah selesai aku kerjakan, saat nya untuk masak. Hari ini aku berencana untuk memasak ayam kecap, ku buka ponsel, untuk mencari resep menu masakan yang akan aku buat. Ku keluarkan ayam dari dalam freezer dan mempersiapkan bahan-bahan yang akan di gunakan. Aku bisa masak meski tak terlalu jago dengan bantuan google aku bisa mengetahui resep-resep masakan sehingga memudahkan ku untuk belajar memasak.
Ayam kecap yang masih berada di dalam wajan, ku tuang kedalam mangkok lalu di simpan di atas meja makan, tak lupa dua piring dan dua gelas ku tata di atas meja yang sama. Suatu saat nanti piring yang berada di atas meja mungkin akan bertambah menjadi tiga, empat bahkan lima, meja itu akan di penuhi oleh anak-anak ku kelak. Mungkin jika suamiku telah mencintaiku dan menginginkan anak yang terlahir dari rahimku.
Terlihat suamiku telah menuruni anak tangga, sepagi ini sudah rapih dan wangi padahal dia mengambil cuti menikah selama satu minggu. Ingin rasanya aku bertanya kemana dia akan pergi, jika sampai aku menanyakan nya pasti dia akan memaki ku karena telah mencampuri urusannya. Mungkin aku harus menyimpan rasa ingin tahu ku.
"Makan dulu Mas."
"Tidak, nanti saja biar aku makan di luar."
"Cobain sedikit saja Mas, dengan susah payah aku memasaknya, bisakah mencicipinya terlebih dulu?" bujuk ku.
"Baiklah."
Ada binar dimata ku, ketika Mas Davin tak menolak untuk mencicipi masakan ku. Ku sendokan nasi dan ayam kecap ke atas piringnya, berharap dia akan menyukainya.
BRAKKKKK
Suara meja makan di gebrak oleh suamiku, membuat ku terbelalak kaget. "Astagfirullah Mas, kenapa?" tanyaku.
"Makanan apa ini, asin. Sungguh tak layak untuk di konsumsi. Tidak perlu memasakkan apapun lagi untuk ku. Aku bisa membelinya sendiri."
Aku hanya mengelus dada mendapati perlakuan suamiku, tak lama terdengar suara mobil, aku sedikit berlari untuk menuju jendela, mobil itu telah pergi menjauhi rumah. "Aku tau kamu akan menemui wanita itu mas. Aku tidak akan menyerah untuk membuat mu mencintaiku, aku tak ingin rumah tangga yang sedang ku jalani hancur karena wanita lain." gumam ku, dengan mengepalkan kuat tanganku.
Ku kembali menuju meja makan untuk mencicipi ayam kecap yang telah ku buat, rasanya tidak terlalu buruk masih layak untuk di konsumsi. Entah kenapa dari awal pertemuan hingga telah menjadi suami pun tidak ada perubahan yang terjadi untuk sikapnya, tetap senang marah-marah dengan alasan yang tak pernah ku ketahui.
***
Ku lihat jam sudah menunjukan jam 21.30 WIB, sepertinya tidak ada tanda-tanda suami ku akan pulang. Apakah dia menginap di rumah wanita tak tahu malu itu? sungguh wanita tak tahu malu, seharunya wanita itu bisa menolak jika seorang pria telah beristri masih mendekatinya, entah siapa yang mendekati dan di dekati yang jelas mereka berdua lah yang salah.
Rasanya aku ingin segera merebahkan tubuhku di atas kasur, mataku sudah tak tahan menahan rasa kantuk yang menyerang Aku masih menunggu pria yang berstatus sebagai suami ku dengan menselonjorkan kaki di atas sofa. Sebenarnya untuk apa aku menunggunya, karena mungkin dia sendiri tidak ingin aku menunggu kepulangannya.
CKLEK
"Mas sudah pulang?" tanya ku yang melihatnya keluar dari balik pintu. Pria itu terus berjalan melewati ku tak menghiraukan keberadaan ku. Di balik aroma parfum maskulinnya, tercium aroma parfum wanita, sudah ku pastikan dia telah menemui wanita tak tahu malu itu. "Mas mau aku buatkan teh hangat?" masih ku tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan ku. "Mas mau ganti baju? biar aku siapkan bajunya."
"BERISIK." Pria itu menaikan suaranya. "Aku ingin istirahat. Untuk apa kau terus mengikutiku. Aku tidak butuh bantuan mu," tutur Mas Davin.
Mendengar suara Mas Davin yang meninggi rasa kantuk ku tiba-tiba hilang, sebagian nyawaku yang tengah beristirahat berkumpul semua.
"Aku hanya bertanya, bisa kah kau menjawab ku dengan sedikit lembut."
"Aku tidak akan pernah memberikan jawaban atas segala pertanyaan tak penting dari mu. Simpan segala pertanyaan untuk dirimu sendiri."
"Baiklah, selamat beristirahat," tutur ku.
Pria itu meninggal kan ku dan aku mengikutinya menuju lantai dua. Tanpa ku sadari dia berhenti di tengah-tengah anak tangga. "BRUKK" aku menabrak punggung suami ku. Ku coba mengangkat wajahku untuk melihat ke arah depan, ku dapati suami ku sedang menatapku dengan sorot mata yang tajam.
"Untuk apa kamu mengikuti ku?"
"Siapa? aku?" Dengan jari telunjuk mengarah kepada diri sendiri.
"Ya."
"Aku tidak mengikuti siapa pun, aku hanya akan menuju kamar ku. Bukan kah kamar kita berada di lantai yang sama dengan ruangan yang berbeda bukan?"
"Ya silahkan, kamu duluan." Tangannya di kepak-kepakan untuk menyuruh ku masuk terlebih dulu. Terlihat pipinya berubah merah, sepertinya dia sedang menahan rasa malu. Ternyata emosi yang berlebihan hanya akan merusak cara kerja otak dan membuat malu diri sendiri. "Bodoh." gumam ku dengan suara sepelan mungkin yang ternyata masih terdengar olehnya.
"Kau mengatai ku bodoh?" Tak ku jawab pertanyaannya, aku terus melangkahkan kaki ku menuju kamar ku.
"Hai.. jawab pertanyaan ku, kau mengatai aku bodoh?"
"Aku memberikan pertanyaan tak satupun kamu menjawab nya Mas, dan harus kah aku menjawab pertanyaan mu? sepertinya tidak." aku langsung memasuki pintu kamar, dan terdengar dari luar sana pria itu masih berteriak-teriak karena kesal.
Ku rebahkan tubuhku yang telah lelah karena aktivitas baruku sebagai Ibu Rumah Tangga. Tak perlu olahraga karena mengerjakan pekerjaan rumah sendirian sangat melelahkan di tambah selalu sport jantung mendapatkan omelan-omelan dari suamiku. Tak apa aku lebih senang pria itu memarahiku, dari pada hanya diam mematung sehingga membuat ku bingung. Aku akan segera mengistirahatkan tubuhku, memejamkan mataku. Bersiap untuk mendapatkan kejutan yang akan terjadi di esok hari.