Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 16 – Bayangan Masa Lalu yang Kembali
Sosok yang turun perlahan dari tangga itu semakin terlihat jelas seiring ia mendekat ke bawah. Bentuknya memang mirip Tuan Handoko—tinggi tegap, bahu lebar, mengenakan jas yang sudah usang dan penuh noda tanah—tapi wajahnya bukan lagi wajah manusia. Kulitnya pucat membiru, terkelupas di beberapa bagian, matanya bukan lagi bola mata melainkan dua lubang kosong yang memancarkan kabut hitam pekat, dan mulutnya terbuka lebar seolah ingin menelan segala sesuatu yang ada di hadapannya.
Raka mundur selangkah, menggenggam benda lingkaran hitam yang baru saja ia ambil dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya tetap mengangkat lilin kemenyan setinggi bahu. Cahaya lilin itu berkilau terang, memantul pada permukaan basah dinding batu dan membuat sosok itu terhenti sesaat, seolah tidak nyaman terkena sinarnya.
“Kau pikir bisa mengambil benda itu dan pergi begitu saja?” suara itu bergema, bukan hanya dari mulut sosok itu tapi dari seluruh ruangan, membuat dinding-dinding batu bergetar dan butiran pasir jatuh berderai dari langit-langit. “Selama puluhan tahun aku menjaganya. Ia menjadi nyawaku, menjadi ikatan terakhir yang membuatku tidak lenyap sepenuhnya. Jika kau membawanya pergi, maka nasibku dan keluargaku akan menjadi lebih buruk dari sekadar terperangkap.”
“Benda ini bukan penyelamatmu, melainkan rantai yang mengikat kalian selamanya,” jawab Raka dengan suara sekuat tenaga, berusaha tidak menunjukkan rasa takut meski jantungnya berdebar kencang hingga terasa di telinga. “Dengan ini, aku akan menutup kembali perjanjian yang kau buat. Bukan untuk menghancurkan kalian, tapi membebaskan kalian dari kewajiban yang salah itu. Kalian tidak pantas terus menderita hanya karena kesalahan satu orang.”
Sosok itu mengangkat kedua tangannya yang panjang, jari-jarinya kurus dan runcing mengarah ke Raka. Seketika, suhu ruangan turun drastis hingga napas Raka berubah menjadi gumpalan uap putih yang tergeser perlahan. Dari setiap sudut ruangan, muncul banyak bayangan kecil yang melayang, membentuk lingkaran seolah ingin mengepungnya dari segala arah. Bau logam dingin dan darah kering makin menyengat hidungnya, membuat kepalanya terasa pusing dan berat.
“Kata-kata manis tidak akan mengubah kenyataan!” teriak sosok itu, melesat maju dengan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia.
Raka bereaksi secepat kilat. Ia mengayunkan akar kayu seroja yang dibawanya ke depan, dan saat ujungnya menyentuh tubuh sosok itu, terdengar suara mendesis keras seperti besi panas dicelup ke air dingin, disertai semburan asap hitam yang mengepul. Sosok itu mundur terhuyung, menjerit kesakitan, namun tatapan di lubang matanya makin memancarkan amarah yang membara.
“Aku tahu kau tidak berniat jahat… tapi kekuatan yang terikat pada benda ini tidak mengenal belas kasihan,” suara lain terdengar tiba-tiba, lebih lembut namun jelas, datang dari arah belakang Raka.
Ia menoleh sekejap dan melihat sosok Nyonya Handoko muncul dari balik tiang batu, diikuti kedua anak mereka yang berdiri rapat di samping ibunya. Wajah mereka tidak lagi menyeramkan seperti sebelumnya, melainkan terlihat sedih dan lelah, seolah sudah menunggu momen ini sejak lama.
“Suamiku terperangkap di antara dua kenyataan,” lanjut Nyonya Handoko dengan suara parau. “Sebagian dirinya masih sadar dan ingin membebaskan kami, tapi sebagian lagi dikuasai oleh janji yang ia buat. Kekuatan itu telah merasuk ke dalam pikirannya selama puluhan tahun, mengubah keinginannya sendiri menjadi keinginan makhluk itu.”
Raka terdiam sesaat, lalu memandang kembali ke arah Tuan Handoko yang kini bergerak semakin liar, berusaha melawan kekuatan dalam dirinya sendiri. Tubuhnya terlihat terbelah—sebagian ingin maju menyerang, sebagian lagi mundur menjauh, membuat gerakannya terlihat kacau dan menyakitkan untuk dilihat.
“Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara memisahkan dia dari pengaruh itu tanpa menghancurkan kalian semua?” tanya Raka, berusaha mencari jalan tengah yang tidak merugikan siapa pun.
“Gunakan batu hitam yang kau bawa, dan letakkan benda itu tepat di tengah lingkaran ukiran yang tergambar di dasar kolam,” jawab Nyonya Handoko sambil menunjuk ke arah air kehitaman tadi. “Lingkaran itu adalah tempat awal ia membuat perjanjian. Jika benda itu dikembalikan ke tempat asalnya dan disegel dengan energi penahan, maka ikatannya akan terputus secara perlahan. Suamiku akan kembali sadar, dan kami semua akan mendapatkan kedamaian yang selama ini kami dambakan.”
Mendengar penjelasan itu, Raka segera melangkah hati-hati mendekati tepi kolam. Bayangan-bayangan yang tadi mengepungnya kini berhenti bergerak, seolah bingung melihat kehadiran Nyonya Handoko dan anak-anaknya yang melindungi jalannya. Tuan Handoko masih berjuang melawan dirinya sendiri, mengeluarkan suara erangan yang menyayat hati, seolah berusaha berteriak meminta tolong di balik amarah yang menutupi kesadarannya.
Raka berjongkok, mengangkat batu hitam dari sakunya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memegang erat benda lingkaran itu. Di dasar kolam yang kini terlihat jelas terkena cahaya lilin, memang terukir lingkaran besar dengan garis-garis rumit yang sama persis dengan ukiran di permukaan batu penahan itu.
“Semua tergantung padamu sekarang, Nak,” bisik Nyonya Handoko. “Jika kau ragu sedetik saja, semuanya bisa berbalik menjadi lebih buruk lagi.”
Dengan napas panjang dan hati yang mantap, Raka mulai menurunkan tangannya perlahan ke atas permukaan air yang terasa sangat dingin. Ia tahu, momen ini akan menentukan nasibnya, nasib keluarga Handoko, dan juga keamanan seluruh lingkungan di atas tanah sana.