NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Jam di Ruang Kedap Suara

Jarum jam dinding di ruang interogasi bergerak dengan lamban, seolah waktu itu sendiri enggan menyaksikan duel psikologis yang sedang berlangsung di dalam ruangan kedap suara tersebut. Arthur masih duduk dengan posisi santai, kedua kakinya bertengger di atas meja logam, wajahnya menampilkan ketenangan yang nyaris menjengkelkan. Di seberangnya, Victor Hale telah mulai kehilangan senyum sinisnya.

"Kau tahu apa masalahmu, Rutherford?" Victor memecah keheningan, suaranya terdengar merendahkan meskipun borgol di pergelangan tangan membatasi gerak geriknya. "Kau bermain sebagai pahlawan, tapi kita berdua tahu bahwa di balik lencana konsultan itu, kau masihlah monster yang sama. Berapa banyak nyawa yang telah kau ambil sebelum kepolisian memberimu lencana? Lima? Sepuluh? Atau bahkan lebih?"

Arthur tidak berkedip. Ia bahkan tidak mengubah posisi duduknya. "Pertanyaan yang menarik, Victor. Tapi kau salah arah. Kita tidak sedang membicarakan masa laluku. Kita sedang membicarakan masa depanmu. Dan masa depanmu, sayangnya, terlihat sangat suram."

Victor mendengus, mencoba memancing reaksi. "Kau pikir kau bisa mengintimidasiku? Aku telah duduk di kursi seperti ini di Lubyanka, di Markas Intelijen Moskow. Para interogator di sana menggunakan siksaan listrik dan air, bukan kata kata manis seperti ini. Kau hanya membuang waktumu."

"Lubyanka," ulang Arthur pelan, seolah sedang mengingat sesuatu. "Tempat yang menarik. Tapi kau tidak pernah diinterogasi di sana sebagai tahanan, bukan? Kau berada di sana sebagai agen. Sebagai orang dalam. Kau dilindungi oleh negara."

Mata Victor menyipit sedikit. Arthur menangkap reaksi mikro itu dan menyimpannya.

"Sekarang kau di sini, di Amerika, sebagai kriminal biasa," lanjut Arthur, suaranya tetap tenang namun setiap kata terukur dengan presisi. "Tidak ada lagi negara yang melindungimu. Tidak ada lagi jaringan yang akan datang menyelamatkanmu. Kau sendirian, Victor. Dan kesendirian adalah hal yang paling menakutkan bagi seorang pria yang sepanjang hidupnya bergantung pada kekuasaan orang lain."

Victor tertawa keras, tawa yang terdengar dipaksakan. "Kekuasaan orang lain? Aku adalah pemimpin, Rutherford! Aku membangun kerajaan kriminalku sendiri setelah ayah Elena mati!"

"Benarkah?" Arthur memiringkan kepalanya, senyuman miringnya muncul kembali. "Kalau kau benar benar pemimpin, kenapa kau diperintah untuk membunuh Elias Thorne? Kenapa kau tidak mengambil keputusan itu sendiri?"

Untuk sekejap, Victor terdiam. Namun, ia dengan cepat memulihkan dirinya. "Aku tidak diperintah oleh siapa pun. Thorne adalah ancaman bagi operasiku, dan aku menghabisinya. Itu keputusanku sendiri."

"Bohong," kata Arthur datar, menurunkan kedua kakinya dari meja dan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Darren Cole, anak buahmu, mengatakan bahwa direktur operasional yang memberinya perintah. Kau adalah direktur operasional itu, ya. Tapi siapa yang memberimu perintah, Victor? Siapa yang meneleponmu malam itu dan mengatakan bahwa Elias Thorne harus mati?"

Victor menatap Arthur dengan tatapan yang penuh perhitungan. Ia sedang menimbang nimbang, mengukur seberapa banyak informasi yang boleh ia bocorkan tanpa membahayakan dirinya sendiri.

Di balik kaca dua arah yang memisahkan ruang interogasi dengan ruang observasi, Manuel berdiri dengan lengan terlapat di dada. Di sampingnya, Kapten Lopez yang baru saja tiba dari New York, bersama tiga petugas senior kepolisian lokal, menonton jalannya interogasi dengan ketegangan yang semakin memuncak.

"Sudah satu jam lebih," gumam salah satu petugas senior, mengusap keringat di dahinya meskipun ruangan observasi berpendingin udara. "Aku belum pernah melihat interogasi seperti ini. Biasanya tahanan sudah berteriak atau meminta pengacara. Tapi mereka berdua seolah seperti sedang bermain catur dengan kata kata."

Manuel mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari sosok Arthur yang tampak semakin dominan di dalam ruangan. "Arthur tidak menggunakan kekerasan fisik. Dia menggunakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya, yaitu pemahaman. Dia tahu persis tombol mana yang harus ditekan untuk membuat Victor meledak."

Di dalam ruang interogasi, duel psikologis terus berlanjut. Victor kini mulai menyerang dari arah yang berbeda.

"Kau tahu, Rutherford, Elena memberitahumu tentang masa lalunya, bukan?" suara Victor kini lebih pelan dan lebih intim, seolah sedang membocorkan rahasia. "Tapi apa dia memberitahumu betapa hebatnya dia di ranjang? Betapa liarnya dia saat kami berdua masih bersama? Kau pikir dia mencintaimu? Tidak, Rutherford. Dia hanya menggunakanmu sebagai pelarian semata. Suatu hari, saat dia bosan dengan permainan pahlawan ini, dia akan kembali padaku karena hanya aku yang benar benar mengenalnya."

Arthur tidak menunjukkan emosi apa pun. Wajahnya tetap datar, napasnya tetap teratur. Namun, di dalam benaknya, ia mengenali taktik ini. Victor sedang mencoba memancingnya, membuatnya marah, dan membuatnya kehilangan kendali. Ini adalah teknik manipulasi klasik yang sering digunakan oleh psikopat narsistik.

"Itu upaya yang bagus, Victor," balas Arthur tenang. "Tapi kau lupa satu hal. Aku tidak perlu mengenal Elena di ranjang untuk mengetahui siapa dia sebenarnya. Aku mengenalnya dari cara dia melindungi orang orang yang tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau pahami."

Rahang Victor mengeras. Serangan balik Arthur tepat mengenai titik lemahnya, yaitu egonya sebagai pria yang merasa memiliki Elena.

Waktu terus berjalan. Satu jam pertama adalah fase saling mengukur. Satu jam kedua adalah fase saling menjatuhkan. Dan kini, saat memasuki menit ke seratus dua puluh, Arthur merasa bahwa pertahanan psikologis Victor mulai retak.

Arthur berdiri dari kursinya, lalu berjalan perlahan mengelilingi meja interogasi. Ia berhenti di samping Victor, cukup dekat hingga pria Rusia itu bisa mencium bau keringat dan darah sisa pertarungan di dermaga tadi.

"Aku punya sebuah proposal untukmu, Victor," bisik Arthur, suaranya nyaris tak terdengar oleh mikrofon di langit langit ruangan. "Kau bisa terus diam, dan aku akan memastikan kau dipindahkan ke penjara federal tingkat maksimum. Tapi kau tahu apa yang terjadi pada mantan agen intelijen Rusia di penjara Amerika, bukan? Jaringan kriminal Rusia di dalam sana akan menganggapmu sebagai pengkhianat. Mereka akan menghabisimu dalam waktu kurang dari seminggu."

Victor menatap lurus ke depan, namun Arthur bisa melihat keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

"Atau," lanjut Arthur, kembali berjalan ke kursinya dan duduk, "kau bisa memberiku nama. Nama orang yang memerintahkanmu membunuh Thorne. Dan sebagai gantinya, aku akan memastikan kau dipindahkan ke fasilitas perlindungan saksi di negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Rusia. Kau akan tetap hidup, Victor, dengan identitas baru dan uang yang cukup untuk memulai kembali."

Victor menatap Arthur dalam waktu yang lama. Matanya yang dingin kini dipenuhi oleh konflik internal. Di satu sisi, kesetiaannya pada jaringan kriminalnya. Di sisi lain, insting bertahan hidupnya yang berteriak bahwa ia tidak akan selamat di penjara federal Amerika.

"Kau berbohong," akhirnya Victor bersuara dengan suaranya yang serak. "Kau tidak punya wewenang untuk menawarkan perlindungan saksi."

"Aku mungkin tidak punya," jawab Arthur santai. "Tapi Kapten Lopez di balik kaca itu punya. Dan dia sedang mendengarkan setiap kata yang kau ucapkan."

Victor menoleh ke arah kaca dua arah, menatap pantulan dirinya sendiri di permukaan kaca tersebut. Ia tahu bahwa Arthur tidak berbohong. Ia bisa merasakan kehadiran orang orang di balik kaca itu sedang menimbang nimbang nasibnya.

Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan. Arthur membiarkannya, membiarkan keheningan itu menekan Victor hingga ke titik puncaknya.

Akhirnya, Victor menghela napas panjang. Bahunya merosot, dan untuk pertama kalinya, ia tampak seperti pria biasa yang kelelahan, bukan lagi seorang master kriminal yang tak tersentuh.

"Baiklah, Rutherford. Kau menang," kata Victor pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh dengung pendingin udara ruangan. "Tapi dengarkan baik baik, karena aku hanya akan mengatakannya sekali. Dan setelah ini, kau harus menepati janjimu."

Arthur mengangguk, matanya tajam dan fokus. "Aku mendengarkan."

Victor menelan ludahnya, lalu menatap Arthur dengan tatapan yang penuh oleh keputusasaan. "Aku bukan otak di balik pembunuhan Elias Thorne. Darren Cole juga bukan. Kami hanya pion. Orang yang benar benar memerintahkan pembunuhan itu, orang yang selama ini melindungi jaringan Aethelgard dari jerat hukum, adalah..."

Victor berhenti sejenak, seolah nama itu sendiri terlalu berbahaya untuk diucapkan.

"...Hakim Federal Marcus Webb."

Nama itu menggantung di udara seperti sebuah vonis mati.

Di ruang observasi, Manuel dan Kapten Lopez saling bertukar pandang dengan wajah pucat. Hakim Federal Marcus Webb adalah salah satu hakim paling berkuasa dan paling dihormati di seluruh negara bagian. Ia adalah sosok yang telah menangani puluhan kasus korupsi tingkat tinggi, dan memiliki koneksi langsung dengan Departemen Kehakiman.

"Webb," ulang Arthur pelan, otaknya langsung memproses implikasi dari nama tersebut. "Seorang hakim federal

"Benar," konfirmasi Victor, suaranya kini dipenuhi oleh kepasrahan. "Thorne tidak hanya menemukan aliran dana gelap Aethelgard. Dia menemukan bahwa sebagian besar dari uang itu mengalir ke rekening pribadi Webb. Webb yang selama ini menutup kasus kasus yang melibatkan Aethelgard. Webb yang memastikan tidak ada penyelidikan federal yang menyentuh perusahaan itu. Dan saat Thorne hendak membocorkan semuanya, Webb meneleponku dan memerintahkan Pelindung hukum dari seluruh operasi Aethelgard."

Arthur berdiri, memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya. Ia menatap Victor untuk terakhir kalinya, menyadari bahwa pengakuan ini baru saja mengubah seluruh arah kasus mereka. Mereka tidak lagi berhadapan dengan seorang direktur operasional perusahaan korup. Mereka kini berhadapan dengan seorang hakim federal, seseorang yang memiliki kekuasaan untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap mereka bertiga jika ia merasa terancam.

"Terima kasih, Victor," kata Arthur dingin, lalu ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

Rutherford!" panggil Victor dengan suara mendesak. "Janjimu! Kau berjanji akan melindungiku!"

Arthur berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit ke arah Victor. "Aku akan menepati janjiku. Tapi kau harus ingat satu hal, Victor. Di dunia ini, tidak ada tempat yang benar benar aman dari orang orang seperti Webb. Jadi, berdoalah saja semoga fasilitas perlindungan saksi itu cukup jauh."

Pintu ruang interogasi tertutup dengan bunyi klik yang menggema. Arthur melangkah keluar, disambut oleh tatapan tegang dari Manuel, Kapten Lopez, dan para petugas kepolisian lokal yang masih terpaku oleh pengakuan yang baru saja mereka dengar.

"Kapten," sapa Arthur, suaranya kini dipenuhi oleh keseriusan yang luar biasa. "Kita punya masalah besar."

Kapten Lopez mengangguk, wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun dalam waktu dua jam terakhir. "Aku tahu, Rutherford. Hakim Federal Marcus Webb. Jika kita salah langkah, dia bisa menghancurkan kita semua dengan satu tanda tangan.".

Arthur menatap Kapten Lopez, lalu beralih menatap Manuel. Di dalam matanya yang hijau, kilatan tantangan kembali menyala. Ini adalah jenis musuh yang selama ini ia cari: seseorang yang memiliki kekuasaan mutlak, seseorang yang berpikir bahwa dirinya tak tersentuh oleh hukum.

"Kita tidak akan salah langkah, Kapten," kata Arthur, senyuman miringnya kembali terukir di bibirnya. "Kita akan bergerak dengan presisi. Dan kita akan meruntuhkan hakim itu dari kursinya yang tinggi."

Manuel tersenyum tipis, merasakan adrenalin kembali memompa di dadanya. "Kapan kita mulai?"

Arthur menatap jam tangannya. "Sekarang."

Dan di luar ruang interogasi yang dingin itu, babak baru dalam perang melawan korupsi tingkat tinggi telah resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!