elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Ibu Mertua Menelepon
“Kalau dulu kamu nggak usah kerja di rumah sakit, mungkin nggak secapek ini.”
Kalimat Ibu Kho jatuh begitu saja di ruang keluarga, tepat setelah Nan Shin menutup pintu di belakangnya.
Nan Shin masih memegang tas kerja. Tali tas itu menekan bahu yang kaku. Ia belum sempat melepas sepatu, belum sempat menanyakan kenapa Mama menelepon tiga kali, tetapi kesalahannya sudah diputuskan lebih dulu.
Ia pulang terlalu lambat.
Ia terlihat terlalu lelah.
Dan menurut Mama, semua itu terjadi karena ia memilih bekerja.
“Ma, tadi malam IGD ramai,” jawab Nan Shin. “Ada pasien yang harus dipindahkan ke ruang observasi sebelum aku bisa serah terima.”
Ibu Kho menghela napas. “Mama nggak tanya alasanmu. Yi Ming sebentar lagi dijemput, tapi bekalnya belum masuk tas. Yi Chen juga belum mandi.”
Dari lantai atas terdengar langkah kaki kecil, lalu suara Yi Chen memanggil dengan nada mengantuk.
“Mama?”
Nan Shin mendongak. Putra bungsunya berdiri di anak tangga terakhir dengan piyama bergambar dinosaurus. Rambutnya mencuat ke segala arah. Begitu melihat Nan Shin, wajahnya langsung cerah.
“Mama pulang!”
Yi Chen berlari. Nan Shin menurunkan tasnya dan membuka kedua tangan, tetapi saat tubuh kecil itu menabrak pinggangnya, rasa nyeri menyambar begitu tajam sampai napasnya tertahan.
Ia tetap memeluk putranya.
“Mama gendong,” pinta Yi Chen.
“Mama pegang tangan dulu, ya.” Nan Shin mengusap rambutnya. “Kita mandi.”
“Nggak mau mandi.”
“Tiga menit aja.”
“Mama ikut.”
“Iya, Mama temani.”
Yi Chen cemberut, tetapi akhirnya menggenggam tangan ibunya.
Ibu Kho memperhatikan dari ruang keluarga. “Jangan selalu dituruti. Sudah besar masih minta digendong.”
Nan Shin tidak menjawab. Ia membawa Yi Chen ke kamar mandi, membantu anak itu menyikat gigi, lalu memandikannya secepat mungkin. Kelopak matanya terasa berat. Dua kali ia salah mengambil botol sampo, dan sekali tangannya hampir menjatuhkan gayung.
“Mama ngantuk?” tanya Yi Chen.
“Sedikit.”
Anak itu mengangkat kedua telapak tangannya yang penuh busa. “Tidur sama aku.”
Nan Shin tersenyum tipis. “Nanti setelah kamu sekolah.”
Saat mereka keluar, Yi Ming sudah duduk di meja makan dengan seragam SD. Anak sulungnya lebih tenang daripada adiknya. Ia mengunyah roti tanpa suara sambil sesekali melirik ibunya.
“Mama belum tidur?” tanyanya.
“Belum.” Nan Shin merapikan kerah seragamnya. “Buku matematikamu sudah masuk tas?”
Yi Ming mengangguk. “Sudah. Popo yang cek.”
Ibu Kho muncul dari dapur membawa kotak makan. “Kalau Popo nggak cek, bisa-bisa buku tugasmu ketinggalan lagi.”
Yi Ming menunduk pada rotinya. Nan Shin melihat jari anak itu berhenti merobek pinggiran roti.
“Kemarin bukan ketinggalan,” kata Nan Shin pelan. “Bukunya tertinggal di meja guru karena dikumpulkan.”
“Sama saja. Yang penting anak harus dibiasakan rapi.” Ibu Kho memasukkan kotak makan ke tas Yi Ming, lalu menatap Nan Shin. “Termasuk ibunya.”
Nan Shin menarik kursi untuk Yi Chen. Ia mengambil bubur yang masih hangat, meniup satu sendok, lalu menyuapkannya. Yi Chen menggeleng dan menutup mulut.
“Mau telur.”
“Telurnya habis,” kata Ibu Kho.
Nan Shin membuka kulkas. Di rak pintu masih ada dua butir telur.
“Ini masih ada, Ma.”
“Itu untuk Cheng An. Dia pulang siang nanti.”
Tangan Nan Shin berhenti di gagang pintu.
Yi Chen menatap telur itu, lalu menatap ibunya. “Aku mau.”
“Biar telur satu untuk Yi Chen,” kata Nan Shin. “Cheng An bisa makan yang lain.”
Wajah Ibu Kho langsung berubah. “Mama sudah atur bahan makanan untuk hari ini.”
“Cuma satu telur, Ma.”
“Masalahnya bukan satu telur. Kalau semua orang ambil sesuka hati, rumah ini jadi nggak teratur.”
Nan Shin menatap dua telur di rak pintu. “Ma, ini makanan di rumah, bukan persediaan operasi.”
“Justru karena di rumah, harus ada yang mengatur.”
Yi Ming mengecilkan suara. “Telurku boleh untuk adik.”
Nan Shin segera menutup kulkas. “Kamu tidak perlu menyerahkan sarapanmu.”
“Aku sudah makan roti.”
Ibu Kho mengambil tas Yi Ming. “Lihat? Anak saja tahu berbagi.”
“Berbagi itu memilih memberikan, bukan diminta mengalah karena orang dewasa sudah membuat jatah tanpa bertanya.”
“Jangan membuat satu telur jadi pelajaran besar pagi-pagi.”
“Saya juga tidak ingin begitu. Goreng saja satu untuk Yi Chen, nanti Cheng An bisa makan sup.”
“Kalau Cheng An pulang lapar?”
“Dia bisa mengambil makanan lain. Dia orang dewasa.”
Suara mobil antar-jemput terdengar membunyikan klakson pendek dari depan rumah. Yi Ming buru-buru berdiri.
Nan Shin menutup kulkas tanpa mengambil telur. Ia meraih tas putranya dan mengantar Yi Ming ke pintu.
Sebelum keluar, Yi Ming menatapnya. “Mama tidur aja. Aku bisa berangkat sendiri.”
Anak sembilan tahun itu mengucapkannya dengan sangat pelan, seolah khawatir kebaikannya akan membuat orang lain marah.
Nan Shin berjongkok dan merapikan tali sepatunya. Pinggangnya berdenyut, tetapi ia menahan wajah tetap tenang.
“Mama antar sampai mobil.”
“Nggak apa-apa.”
“Mama mau.”
Di depan rumah, udara pagi sudah terasa panas. Nan Shin memastikan Yi Ming naik, melambaikan tangan sampai mobil itu berbelok di ujung jalan, lalu kembali masuk.
Ketika melewati dapur, matanya tertahan pada selembar kertas baru yang menempel di pintu kulkas.
Kertas itu dibuat dengan penggaris. Baris dan kolomnya rapi, tulisan tangan Ibu Kho lurus dan tegas.
Jadwal Rumah Tangga.
Sarapan dan bekal: Nan Shin.
Seragam dan tas sekolah: Nan Shin.
Belanja mingguan: Nan Shin.
Kamar anak: Nan Shin.
Tagihan rumah: Nan Shin.
Nama Cheng An tidak muncul satu kali pun.
Di bagian bawah ada catatan dengan tinta merah: Selesai sebelum pukul 06.30.
Nan Shin menyentuh sudut kertas itu. Selotipnya masih baru, begitu kuat hingga kertas tidak bergerak sama sekali. Jadwal tersebut tampak seperti daftar tugas, tetapi di matanya lebih mirip surat putusan. Semua sudah ditentukan. Tidak ada tempat untuk jadwal malam, pasien gawat, atau tubuh yang butuh tidur.
“Mama buat tadi malam,” kata Ibu Kho dari belakangnya. “Biar ke depannya jelas. Rumah ini nggak bisa terus berantakan hanya karena jadwal kerjamu.”
Nan Shin membalikkan badan. “Rumah ini berantakan di mana, Ma?”
Ibu Kho tampak tidak menyangka ia akan bertanya balik. “Kamu lihat sendiri. Anak-anak hampir telat. Bekal belum siap. Yi Chen belum mandi.”
“Yi Ming sudah duduk makan sebelum saya datang. Tasnya juga sudah siap.”
“Karena Mama yang mengerjakan.”
“Terima kasih. Tapi membantu sekali tidak berarti semua pekerjaan itu otomatis menjadi kewajiban saya.”
“Memangnya Mama bilang otomatis?”
Nan Shin menunjuk setiap baris pada kertas. “Nama saya tertulis lima kali. Nama orang lain tidak ada. Itu cukup jelas.”
“Cheng An dokter. Jadwalnya tidak bisa disamakan.”
“Saya perawat IGD. Jadwal saya juga tidak bisa hilang hanya karena tidak ditulis di kulkas.”
“Aku baru selesai jaga malam.”
“Itu dia.” Ibu Kho menunjuk seragamnya. “Kalau dulu kamu nggak usah kerja di rumah sakit, mungkin nggak secapek ini. Kamu bisa urus suami dan anak-anak dengan benar.”
Kali ini kalimat itu terasa lebih tajam.
Nan Shin menatap tangan Ibu Kho yang masih mengarah pada seragamnya. Dua belas tahun ia mengenakan pakaian itu. Dengan seragam itu, ia pernah menahan perdarahan pasien, membantu anak yang kejang, dan berdiri berjam-jam agar keluarga lain tidak kehilangan orang yang mereka sayangi.
Di rumah sendiri, seragam yang sama dianggap sebagai penyebab semua kekurangannya.
Yi Chen menarik ujung bajunya. “Mama, telur.”
Nan Shin menunduk. Wajah kecil itu masih menunggu jawaban untuk masalah yang sangat sederhana.
Ia mengambil satu telur dari kulkas.
“Aku masak sekarang.”
Ibu Kho mendecakkan lidah, tetapi tidak mencegahnya. Nan Shin menyalakan kompor. Minyak mendesis saat telur menyentuh wajan. Ia berdiri di depan api dengan mata perih, tidak yakin apakah karena panas atau karena ia sudah terlalu lama menahan semuanya.
Setelah Yi Chen selesai makan, mobil antar-jemput TK datang. Nan Shin memasangkan tas kecil di punggungnya dan mengantar anak itu sampai gerbang.
“Mama tidur,” pesan Yi Chen.
“Iya.”
Yi Chen mengulurkan jari kelingking. “Mama janji tidur?”
Nan Shin mengaitkan jarinya. “Mama janji mencoba tidur setelah kamu berangkat.”
“Kalau Popo panggil?”
“Mama bilang sedang istirahat.”
Yi Chen mengangguk puas. “Bilang Mama habis jaga orang sakit.”
“Jangan kerja lagi.”
Nan Shin membeku sesaat. Ia tidak bertanya dari mana anak itu mendapatkan kalimat tersebut. Yi Chen sudah berlari kecil menuju pendamping antar-jemput, lalu melambaikan tangan.
Saat Nan Shin kembali ke dapur, Ibu Kho sedang berdiri di depan jadwal rumah tangga. Ujung jarinya merapikan kertas yang sebenarnya sudah menempel sempurna.
Rumah kini sunyi. Tidak ada anak-anak yang bisa mengalihkan pembicaraan.
Ibu Kho menoleh dan berkata, “Kamu mandi dulu. Nanti kita bicara baik-baik.”