Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Musik klasik masih bergema lembut di aula utama Hotel Grand Carlton. Di sudut koridor yang sedikit tersembunyi dekat balkon, Vanessa berdiri kaku sambil menggenggam tas tangannya. Suara langkah sepatu bertumit tinggi yang menghentak ketus menyentak lamunannya.
Yessika muncul dari belokan. Gaunnya sedikit kusut, tetapi senyum di bibirnya mengembang penuh keangkuhan.
"Kak Vanessa," panggil Yessika dengan nada manis yang dibuat-buat, berhenti tepat di depan Vanessa. "Kenapa bersembunyi di sini? Pesta di bawah sangat meriah, lho."
Vanessa menatap wanita di hadapannya dengan tatapan dingin tanpa riak.
"Mau apa lagi kau, Yessika?"
Yessika terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menyapu penampilan Vanessa yang kini berbalut gaun hitam polos.
"Aku hanya kasihan padamu. Kau berdandan setengah mati, tapi pada akhirnya... Jordan tetap memilih menyentuhku di ruang VIP tadi."
Ia melangkah mendekat, berbisik tepat di samping telinga Vanessa.
"Kau tunangan sahnya, Kak. Tapi kau tahu apa yang tragis? Di mata Jordan, kau itu tidak ada harganya. Dia cuma mencintaiku. Tubuhku, jiwaku... semuanya."
Vanessa tidak bergeming. Ditatapnya manik mata Yessika yang penuh rasa haus akan pengakuan.
"Lalu bagaimana dengan Alessio?" tanya Vanessa datar. "Bukankah kau yang memohon pada Ayah agar dijodohkan dengan putra kedua Keluarga Carlton itu?"
Yessika tertawa geli, seolah pertanyaan Vanessa adalah lelucon paling konyol yang pernah ia dengar.
"Alessio? Pria terbuang yang bahkan tak diakui ayahnya sendiri itu?" Yessika mengibaskan tangannya meremehkan. "Aku tidak peduli sedikit pun padanya. Dia cuma alat."
Yessika memiringkan kepalanya, memamerkan senyum licik.
"Kalau aku bertunangan dengan Alessio, aku punya alasan sah untuk tinggal di kediaman utama Carlton. Sama sepertimu, Kak. Dan artinya... aku dan Jordan bebas bermesraan setiap hari di bawah atap yang sama. Di belakang punggungmu. Di belakang si bodoh Alessio."
Mata Vanessa menyipit.
"Kau pasti sudah dengar semua percakapan kami di ruangan tadi, kan?" lanjut Yessika, menatap Vanessa penuh kemenangan.
"Nanti, saat Jordan resmi jadi Kepala Keluarga Carlton, dia akan membatalkan tunanganku dengan Alessio yang rendahan itu. Aku akan jadi wanita utamanya. Dan kau? Kau cukup bersyukur karena Jordan masih sudi menjadikanmu simpanan di sudut rumah."
Yessika maju satu langkah lagi, mencengkeram bahu Vanessa cukup kuat.
"Siap-siap saja, Kak. Aku akan memastikan hidupmu di rumah itu seperti neraka. Kau akan ditindas, menderita, sampai akhirnya mati menyusul ibu kandungmu yang menyedihkan itu."
Plak!
Suara tamparan keras memecah udara koridor.
Yessika memegang pipinya yang mendadak panas. Ia terpaku, matanya terbelalak tak percaya.
Vanessa berdiri tegak di hadapannya dengan tangan yang masih melayang di udara, matanya memancarkan kilat kejam.
"Kau benar-benar murahan, Yessika," ucap Vanessa tajam sambil menunjuk wajah Yessika. Setiap kata diucapkannya dengan penekanan dingin.
"Bahkan kata 'sampah' terlalu mulia untuk wanita sepertimu."
"Kau... kau berani menamparku?!" jerit Yessika, wajahnya memerah karena murka. Tangannya terangkat, hendak membalas menampar Vanessa.
Namun sebelum tangannya mendarat, Yessika melirik ke ujung tangga. Langkah kaki Jordan dan beberapa tamu penting terdengar mulai mendekati koridor.
Seketika, ekspresi murka di wajah Yessika berganti menjadi kepanikan yang luar biasa. Sebuah senyuman iblis terukir sangat tipis di bibirnya sebelum ia dengan sengaja melempar tubuhnya sendiri ke belakang, meluncur jatuh menyusuri anak tangga batu pualam.
"Aaakh! Kak Vanessa, ampun! Jangan dorong aku! Ampun!" jerit Yessika histeris, suaranya menggelegar memenuhi seluruh aula.
Duk! Duk! Duk!
Tubuh Yessika terguling hingga dasar tangga, mengerang kesakitan dengan gaun mewahnya yang melilit kacau.
"Yessika!"
Jordan berhamburan lari dari arah aula, mengabaikan para tamu VIP yang ikut terperanjat. Pria itu langsung berlutut, merengkuh tubuh Yessika yang gemetar dan menangis tersedu-sedu.
"Jordan... sakit..." isak Yessika sambil mencengkeram jas Jordan, dadanya naik turun seolah kehabisan napas.
"Aku... aku cuma minta maaf pada Kak Vanessa kalau gaun kita sama... tapi Kak Vanessa marah... dia menamparku dan mendorongku dari tangga..."
Jordan mendongak. Matanya yang merah menatap Vanessa yang berdiri di atas tangga dengan tatapan membunuh.
"Vanessa!" bentak Jordan, suaranya menggelegar hingga membuat seluruh aula mendadak hening. Pria itu menyerahkan Yessika pada pelayan dan melangkah naik menghampiri Vanessa dengan napas memburu.
"Kau sudah gila, hah?! Apa yang kau lakukan pada Yessika?!"
Vanessa menatap Jordan tanpa rasa takut. "Aku tidak mendorongnya. Dia jatuh sendiri."
Plak!
Jordan menampar wajah Vanessa tanpa ragu. Pukulan itu begitu keras hingga wajah Vanessa terlempar ke samping, rasa panas dan asin darah menjalar di bibir bagian dalamnya. Para tamu di bawah memekik tertahan.
"Masih berani kau berdusta?!" gertak Jordan, menunjuk wajah Vanessa dengan telunjuknya yang bergetar.
"Yessika baru saja sembuh! Dia tidak mungkin mengorbankan nyawanya sendiri! Kau iri padanya, kan?!"
Vanessa perlahan merapikan rambutnya yang berantakan, mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan.
Ia menatap Jordan dengan senyuman miring yang dingin.
"Iri? Pada wanita yang melemparkan dirinya sendiri ke lantai demi mencari perhatian pria wanita lain? Cukup konyol."
"Tutup mulutmu!" Jordan mencengkeram lengan Vanessa dengan sangat kuat, menyeretnya turun dari tangga secara kasar hingga Vanessa hampir tersandung.
Jordan menghempaskan Vanessa ke tengah-tengah lantai aula, tepat di hadapan Yessika dan ratusan mata tamu undangan yang menonton.
"Minta maaf padanya," perintah Jordan penuh keangkuhan. "Sekarang. Di hadapan semua orang."
Rasa panas membakar dada Vanessa. Dihina, diselingkuhi, ditampar, dan kini dipermalukan di depan umum. Rahangnya mengeras.
"Aku tidak akan pernah meminta maaf atas hal yang tidak kulakukan."
"Kau harus minta maaf!" bentak Jordan, langkahnya mendekat, menunduk menatap Vanessa bagai seorang raja menatap budak.
"Berlutut di kaki Yessika dan mohon ampun padanya! Jika kau melakukan itu, aku mungkin masih bersedia mempertimbangkan pernikahan kita!"
Vanessa terkekeh pelan. Sebuah tawa tanpa rasa humor yang membuat orang-orang di sekitar mereka merinding.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tanya Vanessa datar, menatap lurus ke dalam mata Jordan.
"Bagaimana kalau aku lebih memilih mati daripada harus menundukkan kepalaku pada wanita murahan itu?"
Mata Jordan menyipit tegang. Keangkuhannya merasa tercoreng hebat oleh perlawanan Vanessa yang tak pernah terjadi sebelumnya.
"Jika kau tidak mau berlutut..." suara Jordan terdengar sangat dingin, "...maka detik ini juga, pertunangan kita batal. Dan kau akan keluar dari gedung ini tanpa membawa nama besar Carlton maupun Grey!"
Yessika yang berada di belakang Jordan tersenyum puas di balik tangis palsunya.
Vanessa menegakkan punggungnya. "Kalau begitu, batalkan saja. Aku..."
"Jangan harap kau bisa lolos begitu mudah setelah melukai adikmu sendiri, Vanessa!" potong Jordan cepat.
Ia menyeringai kejam, lalu melambaikan tangannya ke arah para pengawal berbadan tegap di sudut aula.
"Pengawal! Tahan dia!"
Dua orang pengawal bertubuh kekar langsung maju dan mencengkeram kedua bahu Vanessa.
"Lepaskan aku! Jordan, lepaskan!" jerit Vanessa berusaha memberontak, namun tenaga manusianya tidak sebanding.
"Kau butuh diajari cara bersikap sopan, Vanessa," bisik Jordan kejam di depan wajahnya. "Tekan dia ke lantai. Paksa dia bersujud di kaki Yessika!"
"Tidak! Lepaskan!"
Dua pengawal itu menendang bagian belakang lutut Vanessa secara kasar.
Brak!
Lutut Vanessa menghantam lantai marmer yang dingin dengan keras. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, tetapi yang lebih membakar adalah penghinaan yang menatapnya dari segala arah.
Dua tangan kekar mencengkeram tengkuk dan bahunya, menekan kepalanya ke bawah, memaksanya menyentuh ujung sepatu Yessika.
Darah menetes dari bibir Vanessa, jatuh membasahi marmer putih di bawahnya.
Di tengah paksaan dan tawa puas yang tertahan dari Yessika, Vanessa memejamkan matanya rapat-rapat.
Setiap inci rasa sakit, setiap tetes darah, dan setiap tatapan merendahkan malam ini... tercetak abadi di dalam memorinya.
"Lakukan sesukamu, Jordan," batin Vanessa, air matanya menetes bukan karena kesakitan, melainkan karena dendam yang kini membakar seluruh jiwanya.
"Tekan lututku sesukamu malam ini. Karena saat aku berdiri nanti... aku akan memastikan kau, Yessika, dan seluruh keluarga Carlton berlutut di bawah kakiku!"
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏