NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — Aku Akan Menceritakan Separuhnya

BAB 10 — Aku Akan Menceritakan Separuhnya

Pukul enam lewat dua belas menit, Elsa mengirim satu kalimat yang membuatku berhenti di depan pintu rumah.

Damar menemukan tanda tangan Nadira. Jangan biarkan dia mengira itu berarti dia memahami apa yang ditandatangani.

Aku sudah mengenakan jas, tetapi tidak membawa pengemudi. Mobil keamanan yang biasanya menunggu di belakang juga kusuruh kembali ke garasi. Sejak menikah, baru kali itu aku pergi menemui Nadira tanpa seorang pun mengetahui rute yang kupakai selain petugas gerbang.

Rasanya tidak nyaman.

Aku tidak takut diserang. Yang membuatku tegang adalah bergerak tanpa lapisan perlindungan yang bisa kuaktifkan sebelum sesuatu terjadi. Bahkan keputusan datang sendirian tetap harus kurencanakan: mobil mana yang tidak terhubung ke sistem keluarga, pintu mana yang tidak direkam vendor Kalyana, dan telepon cadangan yang sengaja kutinggalkan di rumah.

Aku hampir tertawa ketika menyadari ironi itu.

Aku sedang berusaha berhenti mengatur hidup Nadira dengan mengatur sedetail mungkin cara aku menemuinya.

Di kursi penumpang terdapat map cokelat yang selama tujuh tahun kusimpan di brankas berbeda dari buku abu-abu. Salinan perjanjian lama. Tanda tangan Laksmi. Tanda tangan Nadira. Dua lampiran yang tidak pernah kumasukkan ke arsip digital karena Laksmi tidak memercayai server keluarga Kalyana.

Ada satu lampiran lain yang tidak kubawa.

Bukan karena tidak penting. Justru karena isinya dapat mengubah cara Nadira memandang ibunya, ayahnya, dan semua orang yang pernah tinggal di sekelilingnya.

Aku masih memilih bagian mana yang boleh ia ketahui.

Kesadaran itu ikut sampai aku memarkir mobil di depan gedung Ruang Tengah.

Damar menungguku di lobi. Kemejanya kusut, rambutnya belum sepenuhnya rapi, dan satu gelas kopi berada di tangannya. Ia tidak terlihat terkesan melihatku datang sendiri.

Damar memeriksa kedatanganku dengan tiga pertanyaan singkat: pengawal, pengemudi, dan alat perekam.

“Tidak ada. Telepon saya di mobil,” jawabku.

Ia mengangkat alis. “Ini bukan interogasi polisi.”

“Aku tahu. Nadira tidak ingin satu pun orangku berada di dekatnya.”

“Bagus. Tunggu di sini.”

“Aku membawa dokumen yang menjelaskan rekening itu.”

“Saya tetap harus meminta izin klien saya.”

Ia berbalik sebelum aku sempat mengatakan bahwa aku adalah suaminya. Kalimat itu sempat muncul, lalu berhenti sendiri. Status pernikahan bukan izin masuk ke ruang tempat Nadira sedang berusaha berlindung dariku.

Aku menunggu sebelas menit.

Dulu, sebelas menit cukup untuk menghubungi pengelola gedung, mengetahui siapa yang berada di lantai enam, serta membuka rekaman pintu utama. Pagi itu aku hanya berdiri di dekat tanaman plastik yang berdebu dan membaca poster layanan mediasi berulang kali.

Sebelas menit itu tidak mengubah apa pun. Cukup lama untuk membuatku sadar betapa terbiasanya aku menganggap menunggu sebagai masalah yang harus dipecahkan. Di lobi sederhana itu, aku tidak memiliki pekerjaan selain menerima bahwa pintu di depanku hanya akan terbuka bila Nadira mengizinkannya.

“Dua puluh menit,” katanya. “Saya ikut masuk. Nadira boleh menghentikan pembicaraan kapan saja.”

Aku mengangguk singkat.

Nadira berada di ruang rapat. Wajahnya pucat karena kurang tidur, rambutnya diikat seadanya, dan kemeja yang dikenakannya sama dengan kemarin. Di atas meja terletak buku abu-abu, dokumen bank, serta foto dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Ia tidak memintaku duduk.

Aku meletakkan map cokelat di ujung meja, lalu mundur satu langkah.

“Apa itu?” tanyanya.

“Salinan perjanjian yang kamu tanda tangani di bank.”

“Aku sudah punya formulir pembukaan rekening.”

“Formulir bank hanya menjelaskan dananya. Ini menjelaskan siapa saja yang terlibat.”

Tatapan Nadira turun ke map, tetapi tangannya tidak bergerak.

“Kenapa baru dibawa sekarang?”

“Karena Elsa memberi tahu Damar sudah menemukan tanda tanganmu.”

“Jadi kalau kami tidak menemukannya, kamu tetap diam?”

Pertanyaan itu tidak membutuhkan waktu untuk dijawab. Aku hanya tidak menyukai jawabannya.

“Mungkin.”

Damar melirikku, tetapi tidak menyela.

Nadira tersenyum tipis tanpa kehangatan.

“Setidaknya pagi ini kamu tidak membungkusnya.”

“Aku tidak datang untuk meminta kamu percaya.”

“Lalu untuk apa?”

“Supaya kamu memiliki dokumen yang selama ini kusimpan.”

Aku mendorong map sedikit ke arahnya. Nadira masih tidak menyentuhnya.

“Tanda tangan itu milikku dan aku memang berada di bank?” tanyanya.

“Iya.”

Perhatiannya tertahan pada foto lama tersebut.

“Aku ingat Ibu mengajakku mengurus uang asuransi Ayah dan menyuruhku menandatangani banyak halaman. Aku tidak ingat satu kalimat pun tentang membayar orang.”

“Laksmi menjelaskannya sebagai dana kuliah, tempat tinggal, bantuan hukum, dan orang yang dapat dihubungi saat darurat.”

“Itu berbeda dari membayar sahabatku. Berarti persetujuanku diperoleh dengan penjelasan yang tidak lengkap.”

Aku melihat tanda tangannya.

“Menurutku, iya.”

Nadira akhirnya mengambil map. Ia menyerahkan map itu kepada Damar lebih dulu. Pengacara itu memeriksa segel, nomor halaman, dan tanggal, kemudian membuka penjepit logamnya.

Halaman pertama memakai kop sebuah yayasan yang sudah dibubarkan. Di bagian atas tertulis nama program yang hampir tidak pernah disebut dalam dokumen digital.

LINGKAR AMAN.

Nadira membaca nama itu pelan.

“Siapa yang membuatnya?”

“Laksmi, setelah Aditya meninggal. Ia punya cukup bukti untuk percaya kematian ayahmu berkaitan dengan Kalyana, tetapi belum cukup untuk membawa perkara ke polisi.”

Tangannya berhenti di atas halaman.

“Lalu Ibu memilih orang-orang di sekelilingku—Tara, Bu Ratna, dan yang lain?”

“Sebagian. Naufal datang belakangan.”

Nadira mengangkat wajah.

“Dan kamu?”

Aku tahu Damar sedang menunggu jawabanku.

“Aku membantu Laksmi dua tahun setelah jaringan itu dibentuk.”

“Kenapa dia memercayaimu? Kamu anak Surya Kalyana.”

“Karena aku memberikan satu salinan audit yang disembunyikan ayahku.”

“Kenapa?”

“Waktu itu aku baru mengetahui Aditya meninggal setelah mencoba membuka kasus internal. Aku ingin tahu seberapa jauh keluargaku terlibat.”

“Kemudian Ibu meninggal dan kamu mengambil alih.”

“Iya.”

“Siapa yang menunjukmu?”

“Laksmi.”

“Lewat halaman NIKAHI?”

“Bukan sesederhana itu.”

Wajah Nadira mengeras.

“Kita kembali ke kalimat itu.”

“Aku membawa perjanjian ini untuk menjelaskan awal jaringan, bukan seluruh bagian yang terjadi setelahnya.”

“Dengan kata lain, kamu akan menceritakan separuhnya.”

“Iya.”

Jawaban itu membuat ruangan sunyi.

Aku tahu mengaku sengaja menahan kebenaran tidak akan memperbaiki apa pun. Kali ini aku tidak ingin menjadikan kebohongan sebagai hadiah yang dibungkus alasan perlindungan.

Nadira menutup map.

“Keluar.”

Damar menoleh kepadanya.

“Kita belum selesai memeriksa lampiran.”

“Dia yang keluar. Dokumennya tinggal.”

Aku tidak bergerak.

“Ada bagian yang perlu konteks.”

“Dari siapa? Orang yang menyembunyikannya selama tujuh tahun?”

“Nadira—”

“Dua puluh menit belum habis, tapi kesabaranku habis.”

Aku mengangguk, lalu berbalik.

Di depan pintu, suaranya menghentikanku.

“Setelah Ibu meninggal, apa hal pertama yang kamu ubah?”

Pertanyaan itu mengenai bagian yang sengaja tidak kubawa. Aku tetap menghadap pintu.

“Nilai pembayaran keamanan, lalu arti keadaan darurat.”

“Menjadi apa?”

Aku bisa menyebut laporan Tara, pelacakan Gilang, akses Mira, dan rute seminar. Aku mengubah sistem itu. Dari menjaga Nadira dari bahaya menjadi memastikan ia tetap berada dalam jangkauanku.

Aku menoleh.

Nadira berdiri di ujung meja, memegang map buatan ibunya. Matanya lelah, tetapi tidak lagi goyah.

“Menjadi apa pun yang membuatku takut kehilanganmu,” jawabku.

Tidak ada pengampunan di wajahnya. Memang tidak seharusnya ada.

Aku meninggalkan ruangan.

Pintu belum sepenuhnya tertutup ketika kudengar Damar membuka lampiran pertama. Kertas bergeser. Nadira membaca beberapa bagian dalam diam, lalu meminta halaman berikutnya.

Aku berjalan sampai lobi, tetapi tidak langsung keluar. Ada sesuatu dalam map itu yang bahkan tidak pernah kupahami sepenuhnya. Satu kalimat yang ditulis Laksmi dengan tinta berbeda, setelah dokumen utama disahkan.

Sesaat kemudian, langkah kaki Nadira terdengar dari lorong.

“Rendra.”

Aku berbalik.

Ia berdiri di depan pintu ruang rapat dengan satu lembar lampiran di tangannya. Ia tidak lagi terlihat seperti seseorang yang baru menemukan bahwa hidupnya telah diatur. Lebih seperti mediator yang baru melihat celah dalam kesepakatan yang selama ini dianggap tidak dapat dibatalkan.

Ia mengangkat lembar itu.

Di bagian paling bawah, tepat di atas tanda tangan Laksmi, tertulis satu kalimat:

Lingkar Aman berakhir ketika Nadira memilih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!