Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.
Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sera tersentak kaget saat suara Adrian yang memanggil namanya terdengar jelas dari lorong luar.
Ternyata Adrian baru saja keluar dari kamarnya, mencari istrinya yang tak ia temukan di tempat tidur. Dengan santai ia berjalan menyusuri lorong panjang itu sambil sesekali memanggil nama istrinya.
Sean segera berdiri tegak dan membuka pintu kamarnya. Tepat di sana, Adrian sudah berdiri tak jauh dari ambang pintu.
"Kenapa, Adrian?"
"Ah... Paman," wajah Adrian yang tadinya tampak kesal seketika berubah lembut dan sopan. "Aku mencari Sarah. Apa Paman melihatnya?"
Sean sedikit menyingkirkan tubuh tegapnya, memperlihatkan sosok Sera yang berdiri di belakangnya.
"Dia ada di sini," ucap Sean tenang.
Sera pun perlahan melangkah maju, mendekati pintu hingga kini berdiri tepat di antara mereka berdua. Adrian langsung mengerutkan alisnya, heran bagaimana wanita itu bisa berada di kamar pamannya.
"Ngapain kau di kamar Paman?" tanyanya dengan nada penuh curiga.
"Tidak ngapa-ngapain. Ada hal penting yang aku tanyakan pada Paman tadi."
"Hal penting apa?" Mata Adrian menyipit.
"Memang kenapa kamu tanya, Mas? Apa kau cemburu sama Pamanmu sendiri?" ucap Sera sengaja menantang, berusaha memancing keributan dan menguji reaksi Adrian di hadapan Sean.
Adrian menelan ludah dengan susah payah, wajahnya sedikit memerah menahan amarah melihat perubahan sikap Sarah yang semakin menjadi-jadi semenjak pulang ke rumah.
"Jangan bicara sembarangan! Mana mungkin aku cemburu sama Paman Sean. Sudah, di bawah ada Kakek Adiguna. Dia ingin bertemu kita berdua, dan juga Paman," ucap Adrian buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, Mas."
Mereka pun melangkah beriringan menuju lantai bawah. Sean berjalan paling depan dengan langkah tegap, Sera berjalan tepat di belakangnya, sedangkan Adrian tertinggal paling belakang. Sepanjang jalan, matanya tak lepas dari keduanya, bergantian menatap punggung istrinya dan punggung pamannya.
Apa yang sebenarnya mereka lakukan berduaan di dalam kamar? Tidak... tidak mungkin... Paman itu kan penyuka sesama jenis, mana mungkin dia berani berbuat macam-macam pada istri keponakannya, batin Adrian berusaha menenangkan diri.
Tapi tunggu dulu... Selama ini Sarah tak pernah berani dekat-dekat dengan Paman, apalagi sampai mau masuk ke dalam kamarnya... Ah, sudahlah! Kenapa aku jadi berpikir macam-macam? batinnya terus berdebat dengan diri sendiri.
Namun rasa ragu itu tetap ada, ia mulai menduga apakah ada hubungan istimewa yang tak ia ketahui antara istrinya dan pamannya, teringat bagaimana Sean selalu membelanya setiap kali ada masalah.
Sera, si gadis licik itu, diam-diam melirik ke arah Adrian. Ia bisa melihat jelas rasa gelisah yang terpancar di mata pria itu. Perlahan sudut bibir Sera terangkat membentuk senyum tipis. Seolah-olah ia baru saja menemukan sebuah mainan yang sangat berharga.
Sebagai seorang dokter, tentu saja Sera tahu betul cara membaca gerak-gerik dan perasaan orang lain. Dan apa yang ia lihat sekarang? Adrian ternyata masih mencintai kakaknya.
Terlihat begitu jelas ada rasa cemburu yang sedang bergejolak hebat di dalam hati pria itu, meskipun Adrian berusaha keras menyangkalnya dan berpura-pura biasa saja.
Sepertinya aku bisa memanfaatkan perasaannya... Aku akan pastikan kau tersiksa, Adrian. Kau akan merasakan siksaan yang membuatmu hidup segan mati tak mau, batin Sera penuh tekad.
"Ayah..." sapa Sean saat tiba di hadapan ayahnya.
"Son? Kau ternyata ada di mansion rupanya?"
"Iya, Ayah. Aku baru saja datang kemarin," jawab Sean sopan.
Adrian melangkah mendekat pada kakeknya, lalu mencium punggung tangan pria tua itu dengan penuh hormat. Begitu pun yang dilakukan Sera, ia ikut mencium tangan kakek dengan sopan.
"Duduklah," perintah Kakek Adiguna lembut namun berwibawa.
Di sana sudah menunggu Rika dan putrinya, Raisa.
Martha dan Alena berdiri agak jauh sedikit, diam-diam menguping. Mereka ingin tahu apa sebenarnya tujuan Kakek Adiguna mendatangi mansion ini. Sebab setiap kali pria tua itu datang, pasti ada hal penting dan maksud khusus yang ingin ia sampaikan.
"Kalian semua tahu kan, kalau Kakek datang ke sini pasti ada keperluan yang sangat penting," ujar Kakek Adiguna mulai membuka pembicaraan.
"Iya, Kek," sahut Adrian.
Rika pun ikut menyahut, "Iya, Ayah..."
Kakek Adiguna mengalihkan pandangan ke arah putri angkatnya.
"Ayah tahu, kau merasa tidak adil soal pembagian harta, karena Kakek hanya memberimu 10 persen, Rika. Ayah tidak bermaksud tidak adil, tapi itu semata karena kesalahanmu sendiri. Lihatlah sifatmu, Rika. Kau sudah cukup dewasa, bahkan kalau Adrian dan Sarah sudah punya anak, kau sudah seharusnya menjadi nenek. Tapi sifatmu masih saja seperti anak kecil."
Rika mendengus kesal mendengar ucapan ayahnya. "Bilang saja kalau Ayah memang lebih sayang pada Sean! Karena aku hanya anak angkat Ayah!"
"Jaga bicara, Kakak," tegur Sean dengan nada dingin namun tenang.
"Kau enak, dapat 90 persen! Tentu saja kau selalu menurut pada Ayah," ucap Rika sewot, namun Sean tak membalas dan tetap tenang seperti biasa.
"Rika, kau harus tahu... Sebenarnya perusahaan ini dulu tidak sebesar sekarang. Nanti setelah adikmu turun tangan mengurusnya, barulah perusahaan bisa melebarkan sayap sampai ke luar negeri. Jadi apa yang Kakek berikan padamu itu sebenarnya sudah cukup dan layak. Hari ini Kakek datang ke sini bukan untuk membahas soal itu, melainkan membahas tentang Adrian."
"Aku? Ada apa denganku, Kek?" tanya Adrian bingung.
Semua orang langsung menatap serius ke arah Kakek saat menyadari kedatangannya ternyata bertujuan khusus untuk membahas soal Adrian.
Hanya Sean yang terlihat tidak terlalu tertarik, seakan pembicaraan itu bukan urusannya.
"Adrian, Kakek tanya sama kamu, sudah berapa lama kau menikah dengan Sarah?"
"Sudah lebih dari lima tahun, Kek."
"Tapi kalian belum punya anak kan?" tanya Kakek sekali lagi.
Adrian menoleh pada istrinya dengan tatapan tidak suka. "Bagaimana mau punya anak, Kek? Mungkin saja Sarah itu mandul, makanya sampai sekarang enggak hamil-hamil juga."
"Jangan langsung mengambil kesimpulan, Adrian. Karena yang kamu bicarakan itu belum pasti benar. Dan kehadiran Kakek hari ini di sini, Kakek punya tawaran menarik untukmu. Kalau kamu mampu dan sanggup memenuhinya, maka Kakek punya hadiah yang istimewa untuk kamu."
Adrian langsung terlihat bersemangat. "Hadiah? Hadiah apa, Kek?" tanyanya penasaran tak sabar.
"Lima bulan, Kakek memberimu jangka waktu lima bulan. Kalau dalam masa itu istrimu berhasil hamil, maka Kakek akan menyerahkan 10 persen lagi dari saham perusahaan. Dan kalau istrimu berhasil melahirkan, maka Kakek akan memberikan lagi tambahan 25 persen. Jadi jumlah keseluruhannya menjadi 35 persen saham yang akan Kakek berikan semuanya padamu."
Mendengar itu, Rika, Raisa, dan Adrian serentak terperanjat tak percaya.
"Benarkah, Kek?" tanya Adrian dengan mata berbinar.
"Tapi bagaimana dengan Sean?" timpal Rika. "Bukannya saham 90 persen itu sudah Kakek serahkan pada Sean? Kenapa Kakek bisa menyerahkan lagi pada Adrian? Apa itu tidak akan menimbulkan pertengkaran?" ujar Rika sengaja memancing emosi adiknya.
Kakek Adiguna langsung menoleh ke arah putranya. "Ayah sudah membahas ini dengan adikmu sebelum Ayah datang ke sini."
"Apa?" Rika terperanjat. Dia tidak menyangka Sean setuju saham perusahaannya dipertaruhkan.
"Serius... Kamu setuju, Sean? Jangan sampai nanti di belakang kamu nangis-nangis ngemis minta dibalikin," ujar Rika tersenyum meremehkan.
Sean balas tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Sebuah berlian, sekalipun dikubur di dalam lumpur, tetap akan memancarkan cahayanya. Berbeda dengan batu kerikil, sekalipun diletakkan di atas menara yang penuh cahaya, warnanya tetap akan tenggelam."
Kata-kata itu bagai tamparan keras bagi Rika. Wajah dan telinganya hingga ke leher memerah menahan amarah yang meluap-luap.
Tanpa sadar, Sera tersenyum kagum mendengar jawaban Sean yang begitu menohok.
Sean langsung melirik ke arahnya saat sadar Sera tersenyum. Membuat Sera buru-buru mengalihkan pandangannya dari wajah Sean.
Ternyata Adrian menyadari tatapan keduanya, membuat hatinya tiba-tiba memanas.
"Tunggu dulu... Tapi ingat, Kakek tidak mau anak dari wanita lain. Kakek hanya mau anak dari Sarah, istrimu. Jika wanita lain yang mengandung anakmu, Kakek tidak peduli sama sekali dan tidak akan pernah menyerahkan saham itu. Kakek hanya menginginkan keturunan dari Sarah. Jika kau berhasil membuatnya hamil dalam batas waktu yang Kakek tentukan, saham yang kau dan istrimu miliki akan melampaui milik Pamanmu."
Mendengar syarat Adiguna. Alena yang dari tadi menguping mengepalkan tangannya erat.
"Maksud Ayah?" tanya Rika tak mengerti.
"Bukankah Adrian yang mengelola harta dan saham milik istrinya sekarang? Istrimu adalah salah satu pemegang saham di perusahaan ini. Jika kau mampu mencapai apa yang Kakek harapkan, kau akan menduduki posisi yang paling tinggi. Jika kau setuju, maka kesepakatan ini berlaku mulai hari ini. Bagaimana, Adrian? Apa kau mampu melakukannya?"
"Tentu saja saya setuju, Kek! Saya sangat setuju!" sahut Adrian dengan semangat yang meluap-luap.
Sudut bibir Sera terangkat membentuk senyum tipis yang penuh makna. Ingin menghamiliku? Mimpi saja kau, batinnya mengejek dalam hati.