Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Aroma gurih keju mencair dan adonan memanggang perlahan memenuhi setiap sudut ruangan.
Jam dinding di dapur menunjukkan pukul lima sore tepat saat Alena mengeluarkan pizza buatan rumah favoritnya dari oven.
Warna keemasannya sempurna, dipadu dengan taburan toping kesukaannya yang masih mengeluarkan uap hangat.
Malam Minggu ini, Alena sudah merencanakan agenda tunggal: menikmati makanan buatannya sendiri sambil menjauhkan diri dari kebisingan dunia luar.
Ting tong.
Suara bel rumah memecah ketenangan yang baru saja dirancangnya.
Alena menatap pintu depan dengan dahi berkerut, bertanya-tanya siapa yang bertamu di waktu seperti ini.
"Iya, sebentar!" serunya seraya mengusap jemarinya pada celemek dan melangkah menuju pintu utama.
Ketika gagang pintu diputar dan daun pintu terbuka, matanya membelalak kaget.
Di hadapannya, berdiri dua figur yang sangat ia kenal—kedua orang tuanya—dengan senyum yang sulit diartikan.
Senyum yang biasanya menjadi pertanda bahwa sesuatu yang besar sedang direncanakan tanpa persetujuannya.
"Mama? Papa? Kok mendadak sekali datangnya?" tanya Alena heran.
Tanpa menunggu dijemput masuk, sang papa melangkah melintasi ambang pintu dengan wajah serius, sementara mamanya mengekor di belakang seraya menatap Alena penuh arti.
"Alena, tidak ada waktu untuk banyak bertanya," potong papanya lugas.
"Nanti malam, kamu harus ke restoran dekat Mall Bintang M."
Alena mengerutkan alisnya semakin dalam, firasat buruk mulai merayapi benaknya.
"Restoran? Untuk apa, Pa, Ma?"
Kedua orang tuanya saling pandang sejenak. Keheningan singkat itu membuat dada Alena berdesir pelan.
Ekspresi canggung dan saling lempar pandang itu bukanlah hal baru baginya.
"Jangan bilang kalau kalian..." Kalimat Alena menggantung di udara, menolak untuk menuntaskannya.
Sang mama akhirnya mendekat, mengelus lembut lengan Alena dengan nada bicara yang melunak.
"Alena sayang, untuk malam ini saja, ya? Tolong datang. Usiamu sudah empat puluh tahun, Nak. Papa dan Mama hanya ingin yang terbaik untukmu. Papa menjodohkan kamu dengan Ferry."
Bersamaan dengan kalimat itu, sang papa merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah foto cetak, lalu menyodorkannya tepat di depan mata Alena.
Foto itu menampilkan sosok pria berpenampilan rapi dengan kemeja formal, tersenyum tenang ke arah kamera.
"Ini Ferry. Usianya empat puluh lima tahun. Pria baik-baik, mapan, dan sangat matang," tambah papanya menegaskan.
"Tapi, Pa..." Alena berusaha menyela, mencari alasan untuk menghindar.
"Tidak ada tapi-tapi," potong papanya tegas, tak memberi ruang untuk negosiasi.
"Sekarang lekas mandi dan berdandan yang rapi. Jangan buat keluarga kita malu."
Melihat tatapan memohon dari sang mama dan wajah tak terbentangi dari sang papa, Alena tahu bantahannya hanya akan sia-sia.
Sang mama mengusap pundaknya lagi seraya tersenyum menenangkan.
"Sudah, sana mandi. Mama yang akan mengurus pizzamu di dapur," ucap sang mama mengambil alih situasi.
Dengan menghembuskan napas berat, Alena akhirnya menyerah.
Ia mengerucutkan bibirnya, berbalik arah, dan berjalan lunglai menuju kamar mandi di sudut lorong.
Padahal malam Minggu ini aku cuma ingin tenang, gumam Alena dalam hati, menatap pantulan dirinya di cermin sebelum menyalakan pancuran air, meratapi malam minggu damainya yang sirna dalam hitungan detik.
Alena melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang terbungkus handuk. Sambil mengenakan pakaian santainya, matanya langsung tertuju pada meja makan.
Di sana, aroma pizza panggang buatan sendiri yang gurih dan menggugah selera menyambutnya.
Tanpa membuang waktu, ia duduk di kursi kayu favoritnya dan mengambil satu potong pizza hangat.
Keju yang meleleh ditarik perlahan saat ia menggigit bagian ujungnya.
Namun, kenikmatan itu tidak bertahan lama ketika dua pasang mata kembali mengawasinya dengan penuh penekanan.
Alena mengunyah pelan sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian untuk bersuara.
"Pa, batalkan saja, ya? Aku masih ingin sendiri."
" No! " sahut sang papa tegas, menepuk meja pelan tanpa memberi ruang untuk kompromi.
"Sendiri terus kamu itu, Alena! Usia kamu sudah empat puluh tahun dan kami ini ingin menggendong cucu!"
Alena menghela napas panjang, lalu menjawab spontan,
"Adopsi saja, Pa."
"Hishh! Itu mulut kalau bicara!" tegur mamanya cepat sambil menepuk lengan Alena gemas.
"Mana bisa dipersamakan begitu!"
Sebelum perdebatan semakin panjang, sang papa merogoh saku celananya dan mengambil sekeping kunci kendaraan.
Ia meletakkannya di atas meja, tepat di samping piring pizza Alena dengan dentang logam yang nyaring.
"Sudah, tidak ada alasan lagi. Papa minta kamu segera berangkat ke restoran sekarang," perintah papanya tajam. "Ini kunci mobil Papa, kamu pakai."
Alena menatap kunci mobil itu dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap kedua orang tuanya.
"Lalu Papa sama Mama naik apa?"
"Papa mau di sini saja sama Mamamu, mau menghabiskan pizza ini," jawab papanya santai seraya meraih sepotong pizza yang masih mengepul dari loyang.
"Lho, itu kan pizza aku, Pa!" seru Alena tak terima, menatap potongan pizza kesayangannya yang kini sudah berpindah tangan.
"Hitung-hitung bayaran untuk kunci mobil dan perjodohan malam ini. Sudah, cepat ganti baju dan berangkat!" seru sang mama menimpali sambil mendorong pelan bahu Alena agar segera beranjak dari kursi.
Dengan helaan napas pasrah dan bibir yang makin mengerucut, Alena terpaksa meninggalkan meja makan dan pizza kesayangannya yang kini dilahap habis oleh kedua orang tuanya.
Sepanjang jalan, suasana di dalam kabin mobil terasa riuh oleh gerutu tak berkesudahan dari bibir Alena.
Jemarinya mencengkeram kemudi dengan erat seraya terus mengomeli nasibnya yang harus kembali terjebak dalam skenario perjodohan sang papa.
Baginya, kesendirian di usia empat puluh tahun bukanlah sebuah tragedi yang harus buru-buru diselamatkan.
Setengah jam kemudian, ia membelokkan setir dan menghentikan mobilnya tepat di pelataran parkir rumah makan bernuansa klasik yang telah ditentukan.
Dari balik kaca mobil, Alena menatap papan nama restoran tersebut dengan napas berat.
"Oke, semoga yang kali ini gagal juga," gumam Alena penuh harap. Hatinya memang belum siap—dan mungkin tidak akan pernah siap—untuk mengikatkan diri dalam sebuah pernikahan.
Dengan langkah enggan, Alena melangkah masuk.
Seorang pelayan mengarahkannya ke meja sudut yang telah dipesan atas nama keluarganya.
Setelah duduk, ia memesan secangkir minuman hangat dan sepiring hidangan pembuka sekadar untuk menghargai tempat, lalu mulai menunggu sosok pria bernama Ferry.
Detik demi detik berganti, berpilin menjadi menit yang merayap lambat.
Alena terus melirik jam tangannya. Sepuluh menit... tiga puluh menit... hingga akhirnya satu jam penuh berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadiran pria berusia empat puluh lima tahun itu.
Senyum lega pelan-pelan terbit di wajah Alena. Ia mengembuskan napas panjang, merapikan tas bahunya, dan bersiap berdiri.
Kebetulan yang sangat menguntungkan; pria itu terlambat atau bahkan sengaja membatalkannya.
"Baiklah, aku pulang..." bisiknya gembira pada diri sendiri.
Sreeet...
Suara gesekan kaki kursi yang ditarik secara mendadak menghentikan pergerakannya.
Belum sempat Alena berdiri sempurna, seorang lelaki berparas tampan dengan postur tinggi dan rahang tegas tiba-tiba duduk tepat di hadapannya.
"Alena?" tanya pria itu dengan suara berat dan tenang, menatap lurus ke dalam matanya.
Alena terpaku sejenak, terkejut oleh kedatangan yang teramat tiba-tiba.
Tanpa sadar, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.
Alena menatap pemuda di hadapannya dengan kening berkerut dalam.
Wajah pria di depannya ini terlalu muda, tegas, dan jauh dari kesan pria paruh baya.
Sambil menahan bingung, jemari Alena bergerak cepat membuka kembali layar ponselnya, memperbesar foto sosok Ferry berumur empat puluh lima tahun yang dikirimkan sang papa beberapa jam lalu.
Sangat berbeda. Sama sekali tak ada kemiripan, selain bentuk garis rahang yang samar.
"Ferry?" tanya Alena ragu, bergantian menatap layar ponsel dan wajah pria di depannya.
Lelaki itu menggeleng pelan, mengembuskan napas berat seolah membawa beban yang amat sangat menyiksa dadanya.
"Bukan, aku bukan Ferry."
Alena terpaku. "Lalu?"
"Perkenalkan, aku Baskara. Putra dari Papa Ferry," ucapnya lugas, tatapan matanya tajam namun menyimpan kesedihan yang amat dalam.
Sensasi dingin mendadak merayapi tengkuk Alena. Firasatnya memburuk seketika.
"Lalu... di mana papamu?"
Baskara menunduk sejenak, mengepalkan kedua tangannya di atas meja sebelum kembali menatap Alena lurus-lurus.
"Papa meninggal dunia saat akan berangkat kemari," jawab Baskara dengan suara bergetar pelan.
"Dan sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Papa meminta agar aku yang menggantikannya... untuk menikah dengan Anda."
Mata Alena membelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan.
Seluruh ruangan seolah mendadak hening seketika.
"APA?!" seru Alena, tak mampu lagi menahan rasa terkejut yang menghantam kesadarannya.
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭