NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:164.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa ditinggalkan : 20

“Jangan! Siapa kamu ngatur-ngatur papiku?!” Tatiana menegang, suaranya terdengar menusuk, sorot mata tak sedang ingin diajak kompromi.

“Tatiana, dimana sopan santunmu!” tegur Yarash.

Ardan turun dari pangkuan, lalu berlari ke pengasuh yang duduk di ruang bermain bersebelahan dengan ruang santai.

“Seenaknya saja dia mau mengatur, Pi! Aku gak mau kalau rumah ini dipasang cctv, mengekang itu namanya!” elak gadis bersurai panjang yang dibiarkan tergerai.

“Memangnya kamu mau berbuat apa sampai merasa dikekang?” pertanyaan Yarash membungkam mulut Tatiana yang hendak bersuara.

“Ya gak ngapa-ngapain. Risih, Pi. Ngerasa seperti diintai, masa dirumah sendiri pun diperhatikan sudah mirip pencuri saja. Ngerti gak sih?” intonasinya naik satu oktaf.

“Gak semua hal yang kamu anggap mengekang itu sesuatu buruk maupun mengerikan. Semua tergantung cara pandang kamu, Tatiana,” Saniya berkata lembut.

“Diam kamu! Aku gak lagi ngomong —”

“Tatiana Wilman!” Yarash sampai berdiri, suaranya merendah. Ia tatap kecewa putri kesayangannya. “Apa yang membuatmu berubah sejauh ini, Nak? Dulu dirimu pribadi penyayang, sama Ardan sangat perhatian, berbicara dengan orang lebih tua pun gak meledak-ledak, tapi semenjak masuk SMP, perangaimu mirip anak gak diajari adab.”

Tatiana termangu, duduknya gelisah, jemari tangan saling meremas diatas pangkuan. “Itu karena Papi nikah lagi, mana modelan kayak dia lagi yang dijadikan istri.”

“Maksudmu apa?” kesabaran Yarash benar-benar tengah diuji.

Lirikan Tatiana merendahkan sang ibu tiri. Mulutnya mencebik mengeluarkan kalimat cemooh. “Dia cuma punya satu kaki, Pi. Cacat.”

Saniya melepaskan kaki palsunya, menyandarkan pada samping kursi. Kaki kirinya maju sehingga dress longgar tertarik dan memperlihatkan ruang kosong. Ia mengode Yarash, meminta izin lewat sorot mata, biar dirinya saja yang menghadapi gadis impulsif ini.

“Kenapa kalau cacat? Apa itu mengurangi nilai saya dimatamu? Atau kamu merasa malu memiliki ibu tiri penyandang disabilitas?” ketenangannya sama sekali tidak terpengaruh.

“Jelaslah!” Tatiana menaikan kaki kanan ke atas lutut kiri, gayanya pongah dengan sorot mata sengit. “Kalau sampai teman-temanku tau, pasti aku jadi bahan ejekan karena punya ibu tiri sepertimu.”

“Oh begitu,” sahutnya santai. “Ketika kamu terkena masalah, siapa yang menolong, teman atau keluarga? Segala kebutuhanmu siapa yang memenuhi, teman atau keluarga?”

“Apa hubungannya?” tanyanya tidak sabaran.

“Jelas ada. Teman yang sangat kamu pedulikan, belum tentu ada disaat dirimu tertimpa masalah. Namun, keluarga yang sudah merawat, membesarkanmu, tanpa pikir panjang langsung menolong. Bertemanlah sekedarnya, terlebih jika sifatnya picik, suka menghina orang lain, merasa paling sempurna, padahal diri sendiri cacat kepribadian,” balasan Saniya tidak cukup membungkam mulut gadis mulai meradang.

“Kamu menjelek-jelekkan temanku?” Tatiana tidak terima kedua sahabatnya dihina.

“Tanpa menjelekan, kepribadian mereka memang sudah jelek. Termasuk kamu. Menghina fisik orang lain, merasa lebih baik lalu merendahkan seseorang, hal tersebut tidak dibenarkan, dan sebenarnya perbuatan sangat memalukan,” sarkasnya tegas.

“Papi, lihat perempuan yang Papi pilih, dia mengolok-olok aku sama sahabatku!” kalah berdebat, dia mengadu ke sang ayah yang biasanya selalu membela.

Namun kali ini Yarash bungkam, enggan memandang putrinya, dia mendekati Saniya, lalu membopong istrinya sambil membawa kaki palsu.

“Ardan, masuk kamar bareng Papi sama mami Saniya,” ucap Yarash.

“Mbak, dan lainnya. Istirahatlah,” sambung ayah dua anak itu.

Si bungsu sepertinya memahami suasana hati ayahnya, dia tidak protes seperti biasanya. Berlari kecil di belakang ayahnya yang membopong ibu tiri.

Ditinggal sendirian, tak dibela, tidak mendapatkan ucapan selamat malam, pun kecupan penutup malam — Tatiana menangis kencang, suaranya tembus sampai kamar utama lantai bawah.

“Papi jahat!” jeritnya seraya menumbuk sandaran sofa.

Baru kali ini dirinya diabaikan, lebih menyakitkan daripada ditegur secara terang-terangan.

Tatiana mengedarkan pandangan, dia benar-benar sendirian di ruang luas tersebut. Semua orang pergi, masuk ke kamar masing-masing.

Niat hati mau mengadu, Tatiana menghubungi sang ibu. Panggilan pertama tidak diangkat, disambung berikutnya, pun sama.

Pada panggilan keenam, malah ditolak. “Mommy ayo angkat!”

Ia geram, mencoba sekali lagi menghubungi sang ibu yang sementara waktu tinggal di Inggris.

“Kenapa malah dimatikan ponselnya?!” tanyanya pada ruangan sunyi, dingin.

Gadis labil itu teringat kalimat menohok ibu tirinya, tentang siapa yang akan menolong jika bukan keluarga.

Tatiana beranjak, badannya lemas, dan langkah kaki terhuyung. Ini pukulan berat teruntuk seorang anak yang selalu diratukan, diperjuangkan oleh ayahnya.

“Papi!” suaranya gemetaran memanggil ayahnya, namun dia tidak memiliki keberanian mendatangi kamar dekat halaman belakang.

Nyalinya menciut, amarah dalam hati tergantikan oleh perasaan sedih. Ia duduk di undakan tangga, memeluk lutut ditekuk, berharap ayahnya keluar dari dalam kamar.

Waktu pun terus beranjak, sampai setengah jam menunggu, Yarash tidak kunjung keluar dari dalam kamar.

Tatiana naik ke lantai atas, ia berniat akan meminta maaf keesokan harinya.

***

“Ibu tili, jangan coba-coba cium aku lagi ya?” Ardan menyusun banyak bantal di tengah-tengah kasur, membuat pembatas.

“Iya, Abang. Bobok yuk, udah malam loh ini,” ajak Saniya, berbaring miring ke arah balita menggigit ujung dot botol susu yang isinya tinggal sedikit.

“Aku tu belum beldoa,” tutur Ardan, ia memalingkan muka ke belakang. Ayahnya sudah tidur atau pura-pura terlelap.

Saniya bangun, menengadahkan kedua tangan. “Ayo berdoa, Tante temenin.”

“Botol susunya diletakkan dulu, Abang,” titah Saniya sambil menahan gemas.

“Iya, Ibu tiliii.” Dilepasnya gigitan pada kepala dot, dan botol susu menggelinding di atas seprei merah polos.

Ardan membuka kedua telapak tangan, bibir kecilnya mulai membaca doa. “Bismillah … Aamiin.” Tak ketinggalan mengusap wajah.

Saniya termangu, laku buru-buru mencegah Ardan yang hendak menjatuhkan diri ke kasur. “Masa baca doanya baru pembukaan langsung penutup. Yang bener, Abang ….”

“Ndak mau. Malas aku tu.” Kepalanya langsung terjatuh, dan dia berguling-guling sampai punggung menabrak pinggang ayahnya.

“Lain kali harus lengkap ya? Biar bobonya nyenyak, terus pas bangun badannya sehat, paham abang ganteng?” Saniya membenarkan selimutnya.

“Ndak paham … hahaha,” ia sengaja menggoda, hal biasa dilakukan apabila ingin membuat kesal orang yang tidak memiliki kesabaran luas.

Yarash membalikkan badan, memeluk putranya. “Bobok, Nak! Besok Mami sama Papi mau kerja.”

“Ndak usah kelja, dilumah aja,” Ardan mendongak, saat melihat mata papinya terpejam, jari telunjuknya langsung naik berniat menusuk.

“Ardan, Papi sudah ngantuk loh, jangan diganggu,” tegur pelan Saniya, sedari tadi memperhatikan anak sambungnya.

“Ganggu aja.”

“Gak boleh,” larang Saniya.

“Boleh aja.” Badannya mirip Ular yang tengah melata, bergerak naik sampai wajah sejajar dengan muka sang ayah.

“Aku sayang papi Yash. Besok kita beli es klim lagi ya?” Bibirnya maju mencium pipi dekat rahang.

“Ih Papi milip mbek, ada bulu-bulunya.” Tangannya pun langsung beraksi menarik bulu rahang sedikit memanjang.

“Astaga ini anak.” Yarash memeluk erat.

Ardan terpingkal-pingkal. “Pi, aku tu mau adik lima ekol.”

“Hah, kamu bilang apa barusan, Ardan?”

.

.

Bersambung.

1
Damn Nwtch
cucumu d hamilin siapa ardan
dewi rofiqoh
Dari salim, ntar ditambah ccium kening ya mas yarash
sutiasih kasih
covernya baru lgi kak cublik....
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
Humaira
yang lalu biarlah berlalu
Ummu Syu'aib
sampulnya yg ini sdh pling bgus masyaAllah
jngn di ganti lg ya kak cublik
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
cover nya sudah di ganti yaa ka cublik... suka yg terbaru cover nyaa... 🥰🥰🥰
Shee_👚
ini bab di hapus apa kak kemaren? buka ada pemberitahuan bab di hapus
Teti Hayati
Suamimu oy.... suamimu.... 🤭🤭
lyani
sdh si skg mah
novel destiny
jangan yaaaa san..
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
KAGET : baru mau buka untuk vote ,ehh ada tulisan novel telah di hapus😱
jumirah slavina: bab d'hapus Kak
total 1 replies
Ray Aza
ga pny email cadangan ya Kak? kl aq semua akun email, sosmed berikutnya passwordnya aq kirim ke email satunya. cm mmg aq bikinnya telat stlh lupa password jg msk ke ig jd msknya jg pakai akun fb. 😅😅😅
putri
aku juga kangeeennn...
dahayu apa kabarrr...
Nita Nita
pasfi nonton drakor dech 😄😄😄🤭
FiaNasa
lobster n rajungan...aq mau Lo yarash dikirimin banyak² pun tak apa🤣🤣🤣
FiaNasa
hp ku pernah kecemplung disungai,,untung cepat tak angkat,,aq ketuk pelan² agar airnya keluar,,Alhamdulillah Sampek skrg masih terpkai😀
Hanima
ok tks
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Ardan ampun dah semua propesi hrs mami Saniya bisa 😂😂
Bang Fay
kenapa belum lupa mantan pacar Sania ....
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
done author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!