Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 ~ Sekertaris Berkacamata
Evan refleks menarik kembali kemeja putihnya yang sudah terbuka hingga memperlihatkan balutan kain di dadanya. Jantungnya berdetak begitu keras hingga nyaris memekakkan telinga.
"Siapa?" tanyanya waspada.
Cklek. Pintu kamar terbuka lebih lebar. Nyonya Chatarina berdiri di sana.
Melihat ibunya, Evan mengembuskan napas lega. Bahunya yang semula menegang perlahan mengendur.
"Mama..." gumamnya lirih.
"Apa Mama mengagetkanmu?" tanya wanita paruh baya itu sambil menutup kembali pintu kamar dan menguncinya dari dalam.
Evan menggeleng pelan.
"Tidak... hanya saja aku kira Ayah atau.. Arlos."
Tatapan Nyonya Chatarina langsung tertuju pada lilitan kain yang masih membungkus dada anaknya. Hatinya kembali diremas rasa bersalah.
Sudah dua puluh enam tahun... Dua puluh enam tahun putrinya hidup sebagai laki-laki.
"Sudah... lepaskan saja," ucapnya lirih.
Evan menunduk. Dengan gerakan perlahan ia kembali membuka lilitan kain itu. Satu demi satu lapisan kain terlepas. Bekas kemerahan tampak jelas memenuhi kulitnya akibat tekanan yang dipakai hampir sepanjang hari.
Nyonya Chatarina memejamkan mata sesaat.
"Maafkan Mama..." Suara itu begitu pelan, namun cukup membuat tangan Evan berhenti bergerak.
"Mama..."
"Seharusnya kau tidak perlu menjalani hidup seperti ini." Wanita itu melangkah mendekat, lalu mengusap lembut bekas lilitan kain di tubuh putrinya. "Setiap kali melihat bekas luka ini... hati Mama seperti disayat."
Evelyn hanya tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja."
"Itu bohong." Nyonya Chatarina menggeleng pelan. "Kau bahkan tidak bisa menjadi dirimu sendiri."
Ruangan kembali hening. Beberapa saat kemudian, wanita itu menyodorkan segelas susu hangat ditangannya.
"Minumlah.." ujarnya lembut. "Mama perhatian beberapa hari terakhir sejak kamu pulang dari pesta itu makanmu hanya sedikit. Dan wajahmu juga pucat.."
"Aku tidak apa-apa, Ma. Mungkin hanya lelah." ucap Evelyn mencoba mengelak.
Ibunya memang tidak seperti sang Ayah. Tapi tetap saja, Evelyn belum siap untuk menceritakan segalanya. Apalagi ini menyangkut tentang Damian.
Evelyn berharap jika ini hanya kesalahan satu malam yang hanya akan menjadi kenangan yang seharusnya dilupakan. Baik baginya maupun pria itu.
Evelyn menerima gelas tersebut tanpa banyak bicara.
"Evelyn..." suara Nyonya Chatarina berubah pelan, "...Mama ingin kau berhati-hati."
Evan mengernyit. "Maksud Mama?"
Nyonya Chatarina menarik napas panjang. "Rencana keluarga Harley sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar persaingan dengan perusahaan Foster."
Evan spontan mengangkat wajahnya.
"Apa maksudnya?"
"Entahlah... Mama belum menemukan buktinya. Tapi insting Mama mengatakan ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya." Ia menggenggam kedua tangan Evan. "Kalau suatu hari nanti kau merasa dalam bahaya..." katanya lirih. "...jangan pikirkan keluarga ini. Larilah."
Evan membeku.
"Mama..."
"Janji padaku." Tatapan mata Nyonya Chatarina dipenuhi kecemasan. "Selamatkan dirimu sendiri."
Belum sempat Evan menjawab, suara ketukan pintu terdengar dari luar.
Tok!
Tok!
Tok!
"Nyonya... Tuan Harley meminta Anda turun ke ruang kerja sekarang juga."
Nyonya Chatarina dan Evelyn saling berpandangan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Nyonya Chatarina segera keluar dari kamar.
Sementara Evelyn tetap berdiri mematung. Pandangannya perlahan beralih ke gelas yang masih berada di tangannya.
Tepat saat Evelyn hendak meletakkan gelas susu di atas nakas, ponselnya yang berada di atas meja bergetar pelan.
Bzztt...
Bzztt...
Evelyn melirik layar ponselnya, lalu segera mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Tuan Evan, ini saya." Suara pria di seberang terdengar tenang. Evelyn langsung mengenalinya sebagai salah satu orang kepercayaan sang ibu sekaligus bawahannya.
"Bagaimana hasilnya?" tanyanya pelan.
"Semuanya sudah beres, Tuan. Sesuai perintah Tuan, seluruh jejak Tuan di kapal pesiar malam itu sudah kami bersihkan. Rekaman CCTV yang mengarah kepada Tuan telah dihapus, begitu juga data yang bisa menghubungkan identitas Tuan dengan kejadian tersebut."
Evelyn terdiam sejenak.
"Bagaimana dengan saksi?"
"Kami sudah memastikan tidak ada seorang pun yang dapat mengarah kepada Tuan. Kalaupun Tuan Damian Foster memutuskan untuk menyelidikinya..." Pria itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "...yang akan ia temukan hanyalah jalan buntu."
Evelyn mengembuskan napas panjang.
"Bagus."
"Mulai sekarang, Tuan tidak perlu khawatir."
"Aku mengerti."
Tut. Panggilan pun terputus.
Evelyn menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum mematikannya.
"Lebih baik akhiri pencarianmu Damian, kamu tidak akan mendapatkan apapun!"
••
••
Keesokan paginya...
Damian baru saja tiba di Foster Group. Langkahnya mantap memasuki lobi perusahaan. Seluruh karyawan yang berpapasan segera menundukkan kepala memberi hormat.
"Selamat pagi, Tuan Damian."
Damian hanya mengangguk tipis sebelum melangkah masuk ke dalam lift khusus.
Beberapa saat kemudian...
Tok.
Tok.
"Pagi, Tuan." Haris memasuki ruang kerja sambil membawa tablet di tangannya.
"Selamat pagi." Damian duduk di kursinya seraya membuka beberapa berkas yang telah menumpuk di atas meja.
"Ada jadwal penting hari ini?"
Haris mengangguk. "Pukul sembilan rapat dengan direksi. Setelah makan siang, Tuan dijadwalkan bertemu klien dari Singapura."
Damian mengangguk singkat.
"Lalu?"
Haris tampak ragu sejenak sebelum berkata, "Saya juga sudah meminta tim keamanan kembali menyelidiki kasus di kapal pesiar itu."
Damian menghentikan aktivitasnya. "Hasilnya?"
"Mereka tetap tidak menemukan apa pun." Haris menghela napas. "Sepertinya benar dugaan Tuan. Seseorang sudah lebih dulu menghapus seluruh jejak wanita itu."
Damian mengepalkan rahangnya. "Kalau begitu, hentikan penyelidikan di kapal."
Haris sedikit terkejut.
"Tapi, Tuan?"
"Orang yang menghilangkan jejak itu sangat rapi. Kita hanya membuang waktu jika terus mencari di sana."
"Lalu kita mulai dari mana?" tanya Haris bingung.
Damian menyandarkan tubuhnya. Tatapannya berubah tajam.
"Kita cari orang yang memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk menghapus semua jejak dalam waktu semalam."
"Baik, Tuan."
Tok.
Tok.
Ketukan kembali terdengar.
Tatapan Damian langsung teralih ke arah pintu. "Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Evan berdiri di ambang pintu dengan setelan jas hitam yang rapi, kacamata tipis bertengger di hidungnya, sementara sebuah map berada di tangannya.
"Permisi, Tuan. Ini berkas yang harus Tuan tanda tangani."
Damian mengangguk. "Berikan."
Evan melangkah masuk ke dalam ruangan. Seperti biasa, langkahnya tenang dan teratur.
"Ini berkas rapat pukul sembilan, Tuan. Seluruh dokumen sudah saya susun sesuai urutan pembahasan."
Damian menerima map tersebut dari tangan Evan. Tanpa ia sadari tatapannya tertuju pada jari-jari lentik Evan. Seorang pria memiliki jari sekecil dan selentik itu.. Bukankah sangat jarang ditemui, bahkan nyaris tidak ada.
"Hm." sahut Damian akhirnya.
Evan berdiri menunggu beberapa saat. "Apakah masih ada yang perlu saya siapkan?"
Damian membalik beberapa lembar dokumen. "Tidak."
"Baik, kalau begitu saya permisi." pamit Evan sambil menunduk hormat.
Baru saja Evelyn hendak berbalik, suara Damian kembali menghentikannya.
"Tunggu."
Langkah Evelyn terhenti.
"Ya, Tuan?"
Damian menutup map di tangannya, lalu mengangkat kepala. Tatapan tajam pria itu menelusuri wajah Evan beberapa saat.
"Evan."
"Ya?"
"Kau terlihat pucat."
Jantung Evelyn seketika berdetak lebih cepat. Ia refleks menyentuh bingkai kacamatanya.
"Mungkin saya hanya kurang tidur."
"Kau sakit?"
"Tidak, Tuan. Saya baik-baik saja."
Damian masih menatapnya lekat, seolah mencoba memastikan ucapan sekretarisnya itu.
"Kalau merasa tidak enak badan, pulang saja." Ucapan itu justru membuat Evelyn sedikit terkejut. Damian memang dikenal dingin, tetapi bukan tipe atasan yang mengabaikan kondisi bawahannya.
"Terima kasih atas perhatian Tuan. Saya masih bisa bekerja."
Damian mengangguk singkat. "Kalau begitu kamu boleh pergi."
"Baik, Tuan."
Evelyn segera keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya. Tangannya tanpa sadar mengusap dadanya yang berdebar.
"Hampir saja..." Entah mengapa, tatapan Damian barusan membuatnya merasa seolah seluruh rahasianya akan terbongkar.
Di dalam ruangan, Damian masih menatap pintu yang telah tertutup.
"Haris."
"Ya, Tuan."
"Menurutmu... apa Evan memang sedang sakit?"
Haris menoleh ke arah pintu. "Sepertinya begitu, Tuan. Beberapa hari ini wajahnya memang lebih pucat dari biasanya."
Damian kembali membuka berkas di hadapannya. "Kalau kondisinya memburuk, suruh dia pulang. Aku tidak ingin sekretarisku pingsan saat jam kerja."
"Baik, Tuan."
Damian tidak berkata apa-apa lagi. Namun untuk alasan yang bahkan tidak ia pahami sendiri, pikirannya beberapa kali kembali tertuju pada sekretaris berkacamata yang baru saja keluar dari ruangannya.
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya