Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 10
Rintik gerimis yang turun perlahan tak menyulutkan semangat penduduk desa untuk berbondong-bondong menuju balai kampung setelah mendengar pengumuman dari speaker masjid lepas adzan subuh tadi, perihal hasil pemeriksaan batang padi. Warga yang didominasi pria itu memenuhi bangku kayu, sebagian berdiri bergerombol di serambi sambil menunggu mantri tani, sedang dalam perjalanan.
Dari kejauhan, mobil Volkswagen kodok tua merangkak pelan, lalu berhenti di pinggir jalan. Maria turun dengan gaya elegan, mengenakan kemeja safari lengan panjang berwarna cream, tangan menjinjing tas serta padi baru diperiksa di laboratorium kota, satu lagi menghalau tetesan air hujan.
Senyum terus merekah, menyapa penduduk yang menatapnya dengan raut bisa diterka, kagum.
Kasak-kusuk pun berganti perhatian tertuju pada aparat mulai keluar dari ruangan, berdiri pada mimbar lebar.
Maria maju lebih dulu, wajah kemerahan sebab terkena dingin air hujan menambah kesan ningrat Eropa, dengan pembawaan sederhana, namun memancarkan wibawa seseorang yang terbiasa bekerja di lapangan.
“Saudara … saudara, sebelumnya saya mohon maaf karena sedikit terlambat datang, hujan teramat deras saat di perjalanan, membuat saya sedikit kesulitan melewati jalanan desa. Tapi demi ketenangan penduduk sekalian, saya abaikan bahaya, bersyukur tak terjadi apa-apa dan saya bisa menemui Anda semua.” Suaranya terdengar lembut dan menenangkan disertai senyum hangat di bibir bergincu merah klasik.
“Saudara-saudara, hasil pemeriksaan di laboratorium telah kami terima. Dari penelitian sampel batang padi yang saya bawa kemarin, tidak ditemukan adanya bahan kimia berlebih pada padi-padi kita, tak juga ada bibit virus ataupun hama. Semua normal, saya dan tim dari dinas terkait akan terus mencari penyebab utamanya karena ini terlihat begitu janggal.” Ia terdiam sejenak, membiarkan kasak-kusuk kembali menggema.
“Lantas apa sebenarnya yang terjadi, Bu Mantri, mosok iya padi mati tak ada penyebabnya?!” Seorang warga memberanikan diri melempar tanya.
“Betul. Jika desa hanya bisa memberi jawaban tak pasti, lalu bagaimana nasib padi kami. Apa benar-benar harus dibiarkan mati?!” Lainnya mulai menimpali, tersulut emosi.
“Paling tidak beri kami solusi ibu mantri!”
“Betul itu!"
“Betul!”
Teriakan sahut menyahut, kegaduhan kembali mencuat.
“Ibu ketua, jangan diam saja. Bagaimana ini nasib kami!”
Seorang warga berteriak ke arah Anne sambil mengacungkan jari.
Anne masih bergeming di tempatnya. Ia paham, saat ini bukan ranahnya berbicara meski seluruh pertanian desa di bawah tanggung jawabnya, memilih menyimak dan membiarkan mantri tani menjelaskan tentang apa yang terjadi.
“Tenang … tenang. Saudara-saudara. Permasalahan ini tak sepenuhnya tanggung jawab ketua kelompok tani kita, kami dari dinas serta aparat desa juga bertanggung jawab. Kami akan terus berusaha mencari tahu akar permasalahan ini, dan mengusahakan yang terbaik demi menutupi kebutuhan pangan sampai musim yang akan datang, seperti yang sudah saya katakan tempo hari.” Maria kembali menengahi.
“Huuuuu! Punya ketua kelompok tani ada masalah, bukannya memberi solusi malah diam saja.”
“Betul. Untuk apa tetap duduk di kursi ketua kalau bisanya hanya bersembunyi di belakang aparat desa serta bu mantri.”
“Betul itu!”
“Harusnya ibu ketua mencontoh Noni Mantri tani, sangat cepat dan tepat mengambil keputusan bukan malah melimpahkan kesalahan pada kami, para kaum bawah,” seorang petani kembali bersuara, memancing suasana riuh para penduduk desa.
Mendengar seruan para warga, Anne maju selangkah dari tempatnya, berdiri tenang sambil menyapu wajah-wajah yang melihat ke arahnya dengan tatapan mencibir.
Gadis ayu berkebaya merah hati dengan renda bunga tanjung itu tersenyum tipis, suaranya terdengar penuh kendali.
“Kalian mengatakan aku tak melakukan apa-apa setelah berjuang menyelamatkan berhektar-hektar sawah kalian dengan cara pengairan. Menuduh aku bersembunyi di belakang para perangkat desa sedang akulah yang berada di persawahan hingga malam sampai pagi menjelang. Apa mata kalian sudah benar-benar di butakan oleh kebencian hingga tak bisa melihat perjuanganku dan para kamituwo desa!”
“Lantas jika memang Anda sudah berjuang mana hasilnya? Sawah kami masih tetap mati, tak ada harapan panenan!” Sugi petani yang sawahnya kemarin sempat terdampak maju ke depan, menatap nyalang Anne beserta aparat desa lainnya.
“Kang, kowe mabok tuak? Genah-genah baru kemarin kami kerjakan masalah ini, kowe minta langsung ada bukti, kok pikir kami poro kamituwo iki sulapan?” Dasim turut ambil suara, tak tahan melihat ndoro kecilnya terus di sudutkan.
“Intinya kami hanya ingin tau penyebab sawah kami mengalami gagal panen. Itu saja!” Sugi masih tak mau kalah, sengaja menyenggol lengan temannya agar ikut bersuara.
“Iyo betul kui. Paling tidak kami tak lagi berharap jika benar-benar tak ada panenan tahun ini.”
“Betul!”
“Betul!”
“Saudara-saudara kami tak mengatakan tak ada panenan. Tolong pengertiannya, kami hanya belum menemukan apa penyebab pasti padi-padi itu menguning dan mati.” Maria kembali berusaha menjelaskan.
Sementara itu di belakang, dengung percakapan mengisi barisan ibu-ibu.
Wanita paruh baya dengan kerudung masih menutupi setengah wajahnya, berbisik ke salah satu ibu muda di sebelahnya. “Rasanya kok aneh, ya. Padi-padi mati tanpa penyebab, atau jangan-jangan ini tulah, malapetaka akibat perbuatan salah satu warga desa ini.”
“Maksude opo, Mbokde?” balas si wanita muda tengah sibuk menyusui anaknya, dia istri Rusli, Rodiyah namanya.
“Kita ndak pernah tau ada kesalahan besar apa yang di tinggalkan pendahulu kita, bisa jadi saat ini penduduk desa sedang menerima balak sebagai penebusan dosa masa lalu,” jelas si wanita, sengaja merapatkan kerudung yang menutupi kepalanya. “Wes kita tunggu saja bagaimana para kamituwo menyikapi, kalaupun benar ini adalah tulah, maka penduduk harus mencari sumbernya dan menyingkirkan dia sejauh mungkin dari desa.”
Alis Rodiyah mengerut dalam, pikiran menerka-nerka arah ucapan orang di sebelahnya. “Sek, Mbokde, maksude sampean iki azab seko Gusti Pengeran?” (Sebentar, Bude, maksudnya sampean ini azab dari Gusti Allah)
“Bisa jadi. Tapi amit–amit, kalau bisa jangan sampai, karena kalau benar ini balak dari Gusti Allah, maka tidak akan ada lagi kemakmuran di desa ini sampai si pembawa balak diusir dan desa mengadakan ruwatan,” imbuh wanita berkerudung panjang seraya beranjak dari duduknya, meninggalkan barisan ibu-ibu yang masih menyimak penjelasan para petinggi desa.
Wanita sedikit gemuk itu menyempatkan diri menoleh ke mimbar lebar, menatap lekat wajah Anne sembari menyeringai sinis.
‘Sebentar lagi kekuasaanmu akan runtuh bersama kesombonganmu, dan kowe juga ibumu akan berlutut memohon ampunanku.’
Rodiyah manggut-manggut, bibir berkedut, sudut mata memicing berusaha menggali ingatan lama. “Opo jangan-jangan iki balak karena dulu desa ini pernah menampung gund—”
Ia menoleh ke kanan-kiri mencari sosok wanita yang baru saja bicara dengannya, namun sudah berpindah entah kemana berganti lelaki tua beraroma minyak urut dengan udeng di kepala.
“Nangdi minggat e mbokde mau,” gumamnya sambil menggaruk kepala.
(kemana perhinya bude tadi)
Ia kembali mendongak, fokus pada deretan pria masih berdebat sengit dengan para aparat desa. Mulut terus komat-kamit meyakini hal yang terlintas pertama kali dipikirannya. Wanita tak pernah berpikir saat berbicara itu tiba-tiba berdiri dari duduknya, membenarkan sejenak tali gendongan yang melilit bayi tertidur pulas lalu berteriak, menarik perhatian seluruh penduduk desa.
“Saudara-saudara, Jangan-jangan iki tulah, balak karena desa ini pernah menampung gundik!”
Bersambung
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria