NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25 JANJI DI ATAS TANGGA RAVENGARD

***

Udara pagi di Kastel Ravengard masih terasa berat, dingin, dan lembap. Kabut tipis menggantung di luar jendela-jendela besar, menciptakan tirai pucat di antara dunia luar dan kehangatan dalam kamar Grand Duchess.

Iris sedang bersandar di tepi tempat tidur saat Lisa dengan sigap menyeka wajahnya menggunakan handuk hangat. Napas sang Duchess masih berat, tubuhnya lelah akibat muntah yang datang lebih awal dari biasanya. Gaun tidurnya—satin gading yang lembut—melekat di tubuh karena peluh, dan rambut peraknya dikepang rapi ke samping.

“Pagi ini lebih buruk dari biasanya, Grand Duchess,” ujar Lisa cemas, berlutut di depannya. “Mungkin sebaiknya Anda tetap di tempat tidur sampai suhu tubuh membaik…”

Iris menggeleng pelan, menyentuh perutnya yang terasa bergerak tak menentu. “Tidak, Lisa. Aku merasa anak ini... ikut resah. Sejak fajar tadi, ia bergerak lebih liar dari biasanya. Seolah tahu sesuatu akan terjadi.”

Lisa membuka mulutnya untuk menjawab, tapi belum sempat kata-kata keluar, pintu kamar diketuk keras.

“Permisi! Permisi, Lisa, Grand Duchess!” terdengar suara panik seorang pelayan muda dari balik pintu.

Lisa membuka pintu setengah, menahan suara keras agar tidak menyentakkan tubuh lelah Iris. “Ada apa pagi-pagi begini?”

Pelayan itu menunduk dalam-dalam, napasnya tersengal. “Pesan dari istana pusat, sangat mendesak. Dari para penjaga kekaisaran. Permaisuri... Permaisuri Valeria mengalami keguguran tengah malam tadi!”

Lisa membeku. “Apa?”

Tapi pelayan itu belum selesai. Matanya membulat, suaranya bergetar saat kalimat berikutnya keluar. “Dan... perintah dari kekaisaran disampaikan langsung. Grand Duke Darian von Ravengard diminta berangkat memimpin perang pagi ini juga. Tanpa penundaan.”

Semua darah seolah surut dari wajah Lisa. Ia menoleh ke arah Iris, yang kini berdiri perlahan, tubuhnya gemetar.

“Berangkat... pagi ini?” suara Iris pelan, hampir tak terdengar.

“Ya, Yang Mulia. Para kesatria dan pelayan sedang bersiap di halaman utama. Grand Duke telah dipanggil oleh dewan panglima.”

Iris tidak menjawab.

Tanpa sepatah kata pun, ia meraih selendang wol di sandaran kursi, menyampirkannya ke pundaknya yang menggigil. Gaun tidurnya masih melekat di tubuh, belum sempat berganti pakaian. Tapi ia tidak peduli.

“Lisa,” katanya tegas. “Bantu aku berjalan. Kita akan ke kamarnya.”

“Nyonya, Anda belum siap—”

“Lisa,” potong Iris, menatap pelayannya dalam-dalam. “Kalau aku terlambat satu langkah saja... aku akan menyesal seumur hidupku.”

Lisa langsung membungkuk, membantu Iris berjalan ke pintu.

Perutnya masih terasa kram, dan bayi dalam kandungannya seperti menendang-nendang lebih keras, seolah ikut protes atas kegelisahan ibunya. Tapi langkah Iris terus bergerak di lorong panjang itu—melewati para pelayan yang menunduk dalam keheningan, dan para ksatria berpakaian lengkap yang bersiap di sisi dinding. Mereka semua menoleh melihat Grand Duchess berjalan tanpa sepatah kata, tanpa riasan, hanya dalam balutan gaun tidur dan mata yang merah karena cemas.

Namun tak satu pun berani menyela. Tak satu pun berani menghalangi.

Langkahnya berat, tapi mantap. Lisa setia di sampingnya, menjaga setiap gerakan.

“Dia belum memberitahuku...” bisik Iris lirih. “Dia tahu... tapi dia tetap diam.”

“Grand Duke ingin melindungi Anda dari kekhawatiran, Nyonya,” jawab Lisa pelan.

“Tapi siapa yang akan melindungi dia... dari rasa bersalah karena meninggalkan kami?”

Lorong menuju kamar Grand Duke pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Fajar belum sepenuhnya merekah, tapi udara dingin sudah menjalar di sepanjang dinding batu kastel Ravengard, membawa kesan muram yang tidak bisa dijelaskan.

Lisa berhenti tepat di depan pintu kamar Darian, tangannya bergetar saat ia hendak mengetuk, namun langkah lembut Iris di belakangnya menghentikannya.

“Biar aku saja,” kata Iris pelan.

Pelayan setianya itu menunduk dalam. “Saya akan menunggu di sini, Yang Mulia.”

Iris mengangguk, lalu membuka pintu yang terbuka separuh itu dengan dorongan lembut.

Yang menyambut pandangannya adalah punggung Darian.

Ia berdiri di depan meja panjang, sedang mengenakan sarung tangan kulit, dengan sebagian besar baju perang belum terpasang. Jubah militer bertanda lambang gagak Ravengard telah disiapkan oleh pelayan sebelumnya, tergantung di sisi tempat tidur.

Namun pandangan Iris tak tertumbuk pada jubah.

Matanya jatuh pada tubuh Darian yang sebagian telanjang. Cahaya api dari perapian menyapu bahunya yang kokoh, menyingkapkan kulit yang dihiasi luka-luka lama. Beberapa luka tipis yang telah memudar, beberapa lain masih berwarna merah muda, dan satu-dua garis dalam di sepanjang punggung dan pinggangnya.

Bekas pertempuran. Bekas peperangan. Bekas pengorbanan yang tidak pernah dibicarakan.

Iris berdiri terpaku. Matanya berkaca, bukan hanya karena sedih. Tapi karena selama ini, ia lupa bahwa lelaki yang selalu menjadi tempat bersandarnya, adalah lelaki yang tubuh dan jiwanya telah berkali-kali terkoyak untuk mempertahankan dunia yang ia cintai.

Darian menoleh pelan, dan begitu melihat Iris berdiri di ambang pintu dengan gaun tidur satin gading, rambut kusut, dan mata sembab, tubuhnya seketika menegang.

“Iris...”

Tanpa menjawab, Iris melangkah masuk.

Ia mendekat, lalu berhenti di belakang Darian. Tangannya perlahan menyentuh salah satu bekas luka di punggung sang suami.

Darian menahan napas.

“Aku tidak tahu... luka-lukamu sebanyak ini,” bisik Iris.

“Karena kau selalu memelukku dari depan,” jawab Darian, suaranya pelan, nyaris retak.

Iris mengelus luka itu perlahan, lalu meraih jubah hitam keperakan dan mulai membantu Darian mengenakannya. Tangan Iris gemetar, tapi ia terus melanjutkan. Menyusun ikatan di pundak, merapikan lapisan baju pelindung, dan memastikan sabuk pedang terpasang.

Air matanya jatuh diam-diam saat ia mengancingkan bagian terakhir di dada Darian.

“Aku ingin membencimu... karena menyembunyikan ini dariku,” bisik Iris. “Tapi yang lebih menyakitkan... adalah membayangkan kau menanggung semua ini sendirian.”

Darian meraih wajah istrinya, menyeka air matanya dengan ibu jari yang kasar.

“Aku menanggungnya... agar kau bisa tersenyum. Agar anak kita bisa tumbuh di dunia yang aman.”

Perut Iris tiba-tiba bergerak. Ia tersentak pelan, satu tangan otomatis menempel ke bawah perutnya yang membuncit.

“Dia... menendang,” gumamnya pelan.

Darian berlutut perlahan. Di hadapan istrinya. Di hadapan kehidupan yang telah mereka ciptakan.

Ia meletakkan telapak tangannya di atas perut Iris dan membungkuk, menempelkan dahinya ke sana. Iris menutup mata, membiarkan air matanya jatuh ke rambut hitam Darian.

“Dengar, Nak...” suara Darian berat, tapi penuh kasih. “Ayah tidak akan lama. Tapi selama ayah tak di sini... lindungi ibumu. Jangan buat dia terlalu lelah. Jangan tendang terlalu keras. Jangan marah jika ibu menangis. Karena dia menangis... karena mencintai kita berdua.”

Darian mengangkat wajahnya, menatap perut itu seolah ia bisa melihat anaknya di dalamnya.

“Dan kau... harus ingat suara ini. Karena suara ini akan kembali. Dan saat kembali, suara ini akan membacakanmu dongeng... tentang keberanian dan cinta yang lebih besar dari perang.”

Iris menutup mulut dengan tangannya, menahan isak.

Darian berdiri kembali, lalu menarik istrinya ke pelukannya.

“Kau harus tetap berdiri, Iris. Karena kau bukan hanya istriku. Kau adalah rumahku. Kau adalah benteng terakhir yang membuatku ingin hidup.”

Iris memeluknya erat, wajahnya tenggelam di dada Darian yang hangat meski dilapisi baja.

“Aku akan berdiri... sampai kau kembali. Tapi cepatlah pulang, Darian. Karena rumah ini terlalu sunyi tanpamu.”

Mereka berdiri dalam pelukan yang tak ingin mereka lepaskan, sementara di luar, suara terompet perang mulai terdengar dari halaman kastil. Dunia memanggil Darian sekali lagi.

Dan untuk pertama kalinya... Darian merasa, kepergiannya bukan untuk membela takhta. Tapi untuk pulang lebih cepat kepada dua jiwa yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri.

Langit pagi di atas Kastil Ravengard berwarna kelabu, seolah langit pun turut menunduk dalam sunyi yang menyelimuti pelepasan hari itu. Kabut tipis masih menggantung di antara menara-menara batu dan bendera perang dengan lambang gagak perak—lambang keluarga Ravengard—berkubur berat di ujung tombak-tombak panjang para pengawal.

Derap kaki kuda dan suara besi bertemu batu menggema dari halaman dalam kastil. Pasukan utama Grand Duke telah berkumpul, berdiri dalam formasi sempurna, mengenakan zirah lengkap. Setiap dari mereka menunduk dalam penghormatan kepada pemimpin tertinggi mereka—Darian von Ravengard—yang sebentar lagi akan meninggalkan rumahnya menuju medan perang yang jauh di perbatasan utara.

Di antara semua hiruk-pikuk itu, satu sosok yang tidak biasa muncul dari balik pintu utama kastil.

Iris.

Ia berdiri di tangga batu utama, hanya mengenakan pakaian tidur satin gading yang lembut, tapi tubuhnya dibungkus jubah besar milik Darian berwarna hitam legam dengan lapisan dalam beraksen keperakan. Jubah itu terlalu besar untuk tubuh mungilnya, namun melindungi dirinya dan calon pewaris Ravengard yang kini tumbuh dalam kandungannya.

Rambut peraknya dibiarkan tergerai, hanya diikat setengah ke belakang. Wajahnya pucat, tapi matanya bersinar dengan tekad.

Lisa berusaha menahan tangannya sebelumnya, namun Iris hanya berkata, "Aku harus melihatnya pergi. Aku harus menjadi orang terakhir yang ia lihat sebelum perang. Aku... istrinya."

Suara dari halaman berhenti sejenak ketika semua mata tertuju padanya.

Namun tak seorang pun berani berkomentar.

Darian yang tengah memeriksa pelana kuda perangnya mendongak begitu melihat istrinya berdiri di sana. Matanya membelalak sedikit, lalu melunak. Hatinya berdesir. Ada luka lain yang tak bisa dilindungi dengan zirah atau senjata, dan itu kini menganga di dadanya.

Ia segera berjalan ke arah tangga, mendekati istrinya dengan langkah besar namun hati-hati.

“Iris, kau seharusnya tidak—”

“Aku tahu aku tak seharusnya keluar dalam keadaan seperti ini,” potong Iris pelan, suaranya terdengar lirih namun tegas. “Tapi lebih tak pantas lagi jika aku hanya bersembunyi... saat kau akan mempertaruhkan nyawamu demi negeri ini.”

Darian diam. Lalu perlahan naik dua anak tangga hingga mereka berdiri sejajar.

Tangannya menyentuh sisi wajah istrinya. “Aku ingin membawa wajahmu ini dalam ingatan, untuk bertarung dengan hati tenang.”

Iris menggenggam tangan itu, memeluknya ke pipinya. “Dan aku akan menyimpan sentuhan ini... agar aku tidak merasa benar-benar kehilangan.”

Angin pagi menerbangkan ujung jubah mereka.

Darian menunduk dan mengecup bibir istrinya, singkat, namun dalam.

“Jangan menangis,” bisiknya.

“Aku tidak menangis,” jawab Iris bergetar, meski air mata sudah mengalir diam-diam. “Aku hanya... menyimpanmu di air mataku.”

Darian tersenyum tipis. “Itu kalimat paling indah dan menyiksa yang pernah kudengar.”

Perut Iris bergerak. Ia meringis sedikit, lalu menatap ke bawah, mengelus pelan.

Darian segera berlutut sekali lagi, dan mencium perut istrinya yang mulai membuncit.

“Nak, dengar ayah baik-baik,” katanya lembut, “jangan biarkan ibu merasa sendiri. Kau adalah penjaga kecil ayah di sini. Jagalah dia. Dan bantu dia menjaga rumah ini... sampai aku kembali.”

Iris tersenyum di balik tangis.

“Aku akan mengatakan pada anak kita... bahwa ayahnya pergi bukan untuk meninggalkan, tapi untuk kembali dengan kemenangan.”

Darian bangkit dan menggenggam kedua tangan Iris. “Dan aku akan kembali bukan hanya sebagai Grand Duke... tapi sebagai ayah. Dan suami yang pantas pulang.”

Dengan berat hati, ia melepaskan genggaman itu, lalu menuruni anak tangga, mendekati kudanya. Kuda hitam bermata tajam itu meringkik pelan, seakan memahami keberangkatan ini bukan keberangkatan biasa.

Darian menaiki pelana dan mengangkat tangan memberi aba-aba.

Para pasukan mulai bergerak.

Formasi mereka perlahan bergerak ke luar gerbang utama Kastil Ravengard.

Iris berdiri mematung di puncak tangga, memandangi punggung suaminya yang menjauh, memantulkan cahaya samar mentari pagi.

Dan ketika Darian menoleh sekali, terakhir kalinya sebelum menghilang di balik kabut...

Iris menunduk ke perutnya, mengusapnya lembut dengan tangan gemetar.

“Lihat itu, Nak. Itu ayahmu. Lelaki paling keras kepala yang pernah kau temui nanti... tapi juga lelaki yang paling mencintaimu, bahkan sebelum kau dilahirkan.”

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Kita tidak akan menangis. Kita akan tetap berdiri. Karena rumah ini... adalah benteng pertama untuk ayahmu pulang.”

Suara kuda semakin jauh, gema derap kaki menjadi samar.

Iris duduk perlahan di anak tangga batu, memeluk perutnya erat dalam jubah suaminya.

“Aku janji, Darian,” bisiknya sambil menatap ke arah jalan yang telah ditinggalkan pasukan, “kami akan menjaga tanah ini... sampai kau kembali. Sampai kau benar-benar pulang.”

Dan untuk sesaat, tanah Ravengard menjadi lebih sunyi dari biasanya.

Tapi di balik keheningan itu, berdiri seorang wanita—seorang Grand Duchess, seorang istri, dan seorang ibu—yang akan menjaga rumah mereka tetap menyala… bahkan di tengah kabar perang dan badai yang akan datang.

***

Bersambung

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!