NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: CCTV Tidak Berbohong

Chenny sedang menghubungi orang lain.

Keira tidak langsung bergerak.

Ia berdiri di balik rak bunga sampai Chenny menyimpan ponsel, menarik napas, lalu wajah lembut itu kembali dipasang seperti kerudung tipis. Dalam hitungan detik, perempuan yang tadi mengetik cepat dengan mata tajam berubah lagi menjadi tamu manis yang tersesat mencari toilet.

Keira menunggu sampai Chenny pergi.

Baru setelah itu ia kembali ke kamar Stephanie.

Stephanie duduk di ranjang dengan wajah pucat. Bayinya tertidur di boks, tetapi tangan Stephanie terus bergerak di atas selimut, meremas ujung kain seperti orang yang menahan diri agar tidak berlari keluar.

"Dia terluka?" tanya Stephanie begitu Keira masuk.

Keira menutup pintu. "Sedikit. Di depan Ko Gilbert."

Wajah Stephanie seperti kehilangan darah lagi.

"Aku tahu. Aku tahu dia akan begitu." Suaranya gemetar. "Dia selalu membuat dirinya terlihat disakiti. Lalu aku yang terlihat jahat."

"Nyonya ingin menangis dulu, atau langsung bekerja?"

Stephanie menatap Keira.

Pertanyaan itu seperti air dingin.

Beberapa detik kemudian, Stephanie menghapus air matanya dengan punggung tangan. "Bekerja."

Keira mengangguk.

"Chenny bukan datang untuk memberi topi. Dia datang untuk memeriksa apakah Nyonya masih mudah dipancing. Kalau kita menyerang langsung, dia akan menang lagi."

"Jadi?"

"Kita buat dia merasa aman."

Stephanie menelan ludah. "Bagaimana?"

Keira menjelaskan pelan. Tiga langkah. Pertama, ia akan tampak ceroboh di depan Chenny, seolah hanya pengasuh muda yang tidak paham intrik. Kedua, ia akan membiarkan Chenny mendengar bahwa Stephanie keluar sebentar untuk pemeriksaan ulang, padahal Stephanie tetap di kamar dalam. Ketiga, mereka akan meminta akses CCTV area kamar dengan alasan keamanan bayi setelah insiden serat bulu.

Stephanie mendengarkan tanpa memotong.

Dulu, ia mungkin akan langsung bertanya apakah itu terlalu berisiko. Hari ini, tangannya memang masih gemetar, tetapi matanya mulai menyala.

"Kalau dia tidak masuk?"

"Berarti dia cukup pintar menahan diri. Tapi orang seperti Chenny datang karena ingin mengontrol cerita. Dia tidak akan tahan kalau diberi ruang kosong."

Sore itu, Keira mendatangi ruang keamanan bersama Bi Sari.

Ia tidak menyebut Chenny.

Ia hanya membuka catatan insiden bayi dan berkata, "Nyonya Stephanie meminta area kamar bayi tetap bisa dipantau kalau ada tamu. Setelah kejadian kemarin, dokter juga menyarankan semua benda dekat bayi tercatat."

Petugas keamanan tidak berani menolak ketika Bi Sari berdiri di sampingnya.

"CCTV koridor dan pintu kamar bisa ditarik kalau perlu," kata petugas.

"Rekaman tersimpan berapa lama?"

"Tiga puluh hari."

Keira mengangguk. "Tolong pastikan area meja rias juga tertangkap dari sudut pintu saat pintu terbuka."

Petugas menatap Bi Sari.

Bi Sari hanya berkata, "Lakukan."

Keesokan paginya, Chenny datang lagi.

Kali ini ia tidak membawa Gilbert pada awalnya. Ia datang dengan alasan ingin mengambil kotak topi yang katanya tertinggal nota kecil di dalamnya. Wajahnya tampak bersalah, suaranya tetap lembut.

"Maaf merepotkan. Aku ceroboh sekali."

Keira yang menyambut di koridor sengaja hampir menjatuhkan nampan kecil berisi gelas.

Air tumpah sedikit di lantai.

"Aduh, maaf," kata Keira cepat, terlihat gugup.

Chenny menatapnya. Sekilas saja. Lalu senyumnya melebar sedikit.

"Nggak apa-apa. Kamu pasti capek sekali menjaga bayi."

"Iya, Kak Chenny." Keira menunduk, membiarkan dirinya terlihat lebih muda dan mudah ditekan. "Nyonya Stephanie juga sedang keluar sebentar. Pemeriksaan dokter."

Mata Chenny bergerak cepat.

Cepat sekali sampai orang biasa mungkin tidak melihat.

"Oh. Beliau keluar?"

"Sebentar saja. Saya diminta merapikan kamar bayi dulu."

"Kalau begitu, aku tunggu di dekat sini ya. Tidak enak kalau masuk tanpa izin."

Kalimatnya sopan.

Namun ketika Keira pura-pura dipanggil staf ke ujung koridor, Chenny hanya menunggu kurang dari satu menit.

Lalu ia membuka pintu kamar Stephanie.

Dari ruang kecil di samping kamar, Stephanie menutup mulutnya sendiri. Keira berdiri di sebelahnya, satu tangan memegang tablet kecil yang terhubung dengan tampilan CCTV dari ruang keamanan.

Di layar, Chenny masuk.

Ia tidak bergerak seperti tamu yang tersesat.

Ia bergerak seperti orang yang tahu apa yang dicari.

Pertama, ia melihat boks bayi. Lalu meja rias. Lalu laci kecil di samping tempat tidur. Tangannya cepat, rapi, dan hati-hati mengembalikan posisi benda agar terlihat tidak tersentuh.

Stephanie gemetar.

Keira berbisik, "Tunggu."

Chenny membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih.

Ia meletakkan amplop itu di bawah kotak perhiasan Stephanie, cukup terlihat kalau seseorang mencari lip balm atau obat, cukup tersembunyi agar tampak seperti ditemukan tidak sengaja.

Lalu ia merapikan rambut, mengambil kotak topi bayi dari meja, dan keluar.

Stephanie hampir jatuh duduk.

"Dia benar-benar..."

"Sekarang kita panggil Ko Gilbert," kata Keira.

Malam itu, aula utama Kediaman Ciu kembali menjadi panggung.

Gilbert datang dengan wajah tegang. Chenny berdiri di sisinya, masih mengenakan gaun putih sederhana. Stephanie duduk di sofa dengan selimut tipis di pangkuan. Wajahnya pucat, tetapi kali ini ia tidak bersembunyi.

Keira berdiri di belakang Stephanie.

Bi Sari berada dekat layar besar yang biasa dipakai untuk rapat keluarga.

"Steph," kata Gilbert, "kau bilang ada hal penting."

Stephanie mengangkat mata. "Aku ingin kamu melihat sesuatu sebelum bicara."

Chenny menunduk. "Kalau ini tentang aku, Nyonya Stephanie, aku sungguh tidak ingin membuat masalah."

"Aku tahu," jawab Stephanie pelan. "Kamu selalu tidak ingin membuat masalah."

Kalimat itu membuat Chenny menatapnya sekejap.

Bi Sari menyalakan layar.

Rekaman CCTV muncul.

Awalnya hanya koridor kosong. Lalu Chenny masuk ke kamar Stephanie.

Gilbert berdiri lebih tegak.

Chenny tersenyum kecil. "Aku hanya mengambil kotak topi yang tertinggal."

Rekaman terus berjalan.

Chenny membuka laci.

Senyumnya memudar.

Ia membuka kotak perhiasan.

Gilbert menoleh kepadanya.

"Itu..."

"Aku hanya memastikan tidak ada barangku yang tercampur," kata Chenny cepat.

Di layar, tangan Chenny masuk ke tas.

Amplop putih muncul.

Tidak ada suara di aula.

Lalu rekaman memperlihatkan dengan jelas amplop itu diselipkan di bawah kotak perhiasan Stephanie.

Gilbert tidak bergerak.

Wajah Chenny berubah.

Untuk pertama kalinya, kelembutan di wajahnya retak terlalu jelas untuk diperbaiki.

"Ko Gilbert, aku bisa jelaskan."

Stephanie mengambil amplop dari meja. Ia sudah membukanya. Di dalamnya ada surat anonim yang menyinggung Gilbert, perempuan lain, dan kalimat-kalimat yang dirancang untuk membuat seorang istri pascamelahirkan kehilangan kendali.

Stephanie meletakkannya di meja.

"Ini yang kamu ingin aku temukan?"

"Bukan begitu." Suara Chenny naik sedikit. "Aku menemukannya di luar. Aku takut kalau langsung memberikan, Nyonya Stephanie akan salah paham."

Keira melihat Gilbert menutup mata sebentar.

Mungkin ia sedang mengingat semua kali Chenny berkata takut disalahpahami.

Semua kali ia percaya.

Chenny melangkah mendekat. "Ko Gilbert, percaya sama aku. Aku tidak pernah berniat jahat. Aku hanya..."

"Cukup."

Satu kata dari Gilbert membuat Chenny berhenti.

Gilbert menatap layar yang sudah berhenti di gambar Chenny menyelipkan amplop.

"Selama ini, berapa banyak hal yang kau buat agar terlihat seperti kebetulan?"

Wajah Chenny memucat. "Ko Gilbert..."

"Jawab."

Kelembutan Chenny runtuh lebih cepat dari yang Keira duga.

"Aku melakukan semua ini karena aku peduli sama kamu!" Suaranya mulai tajam. "Kamu tidak bahagia dengan dia. Semua orang tahu itu. Dia cuma bisa marah, curiga, menangis. Aku yang mendengarkan kamu. Aku yang mengerti kamu."

Stephanie mencengkeram selimut di pangkuannya.

Gilbert mundur setengah langkah.

Seolah baru pertama kali melihat perempuan di depannya.

"Jangan pernah lagi menghubungi keluarga kami."

Chenny membeku.

"Ko Gilbert, kamu tidak bisa begitu. Aku..."

Gilbert berjalan ke arah pintu.

Chenny mengejarnya dan menangkap ujung jasnya. "Ko Gilbert, percaya sama aku..."

Gilbert menepis tangannya.

Tidak kasar, tetapi cukup tegas hingga seluruh aula melihat.

Chenny terhuyung.

Saat itulah Ethan masuk.

Tidak ada yang mengumumkan kedatangannya. Ia muncul dari koridor samping bersama Jefri, wajahnya dingin, seolah ia sudah tahu akhir cerita sebelum semua orang selesai menonton.

Matanya melewati layar, amplop, Chenny, lalu berhenti sebentar pada Keira.

Keira tidak bergerak.

Ethan menatap Bi Sari.

"Bi Sari, antar keluar."

Bi Sari menunduk. "Baik, Ko Ethan."

Chenny menoleh panik. "Ko Ethan, ini salah paham. Aku tamu Ko Gilbert."

Ethan bahkan tidak melihatnya lagi.

"Kalau dia menolak, panggil keamanan."

Kali ini, topeng Chenny benar-benar pecah.

Matanya memerah, bukan karena sedih, tetapi karena marah yang dipermalukan. Ia menatap Stephanie, lalu Keira. Tatapan terakhirnya berhenti lebih lama pada Keira, penuh kebencian yang akhirnya tidak disembunyikan.

Keira membalas tatapan itu dengan tenang.

Bi Sari memberi isyarat kepada dua staf. Chenny dipersilakan keluar dengan sopan, tetapi semua orang tahu itu bukan pengantaran tamu. Itu pengusiran.

Pintu aula tertutup.

Stephanie masih duduk diam.

Gilbert berdiri di dekat pintu lain, wajahnya pucat. Ia membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar. Setelah beberapa detik, ia hanya menunduk.

"Steph..."

Stephanie mengangkat tangan kecil.

"Jangan sekarang."

Gilbert berhenti.

Untuk pertama kalinya, ia patuh pada batas yang Stephanie pasang.

Ethan melihat adiknya, lalu memberi isyarat agar semua staf keluar. Keira ikut hendak mundur, tetapi Stephanie menggenggam ujung seragamnya.

"Jangan pergi."

Keira berhenti.

Aula perlahan kosong.

Begitu hanya mereka berdua di sisi sofa, bahu Stephanie runtuh. Tangisnya keluar tanpa teriakan, tanpa barang pecah, tanpa tuduhan. Ia menangis seperti orang yang akhirnya boleh percaya bahwa ia tidak gila.

Keira duduk di sampingnya, tidak memeluk dulu sampai Stephanie bersandar sendiri ke lengannya.

"Aku benar," bisik Stephanie di antara tangis. "Aku tidak gila, Keira."

Keira menatap layar yang sudah gelap.

"Nyonya tidak gila."

Stephanie menangis lebih keras.

Dan untuk pertama kalinya sejak Keira mengenalnya, tangis itu terdengar seperti napas yang kembali.

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!