NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Denting pisau dan garpu yang beradu kasar dengan porselen terdengar memekakkan telinga. Mengesalkan. Di atas meja, dua porsi nasi goreng kornet dengan telur mata sapi setengah matang masih mengepulkan asap tipis.

Kirei melipat tangan di dada, memperhatikan Arka yang sibuk mengoyak bagian tengah telur dengan ujung garpu. Muka cowok itu datar tanpa ekspresi—seolah makanan di depannya adalah piring racun yang siap mencabut nyawanya.

"Kenapa? Enggak suka?" cetus Kirei ketus. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Arka yang malah bolak-balik memutar butiran nasi pakai sendok. "Kalau enggan makan, bilang. Mending gue lempar ke tempat sampah daripada ngeliat muka lo yang kayak ketelen biji kedondong gitu."

Arka perlahan mengangkat kepala. Tatapan cokelat gelapnya menusuk lurus, disusul dehaman pelan. "Gue kan udah bilang, gue enggak suka daun bawang, Kirei. Lo sengaja nabur irisan hijau-hijau sebanyak ini?"

Kirei memasang senyum paling manis—jenis senyuman yang sejujurnya lebih mirip seringai ejekan. "Oh, masa sih? Maaf ya, sengaja. Otak gue mendadak amnesia kalau harus nginget hal-hal enggak penting soal lo."

Arka tak membalas dengan omelan atau bentakan. Cowok itu justru sangat tenang mendorong piringnya mendekati piring Kirei, lalu menyodorkan sendoknya. "Kalau gitu, pisahin. Ambil satu-satu daun bawangnya sampai bersih, baru gue makan."

"Lo pikir gue pembantu lo?!" Kirei membelalak. Astaga, tingkat keangkuhan manusia di depannya ini benar-benar di luar nalar.

"Gue pemilik rumah ini yang nanggung listrik, air, sama biaya sekolah lo bulan ini gara-gara rekening keluarga lo dibekukan," balas Arka pelan, tapi tiap katanya menancap telak. Ia menyandar santai, bersedekap dada sembari melempar pandangan menantang. "Pilih daun bawangnya, atau gue batalin perjanjian pengalihan saham Kakek besok pagi."

Napas Kirei tertahan di tenggorokan. Dadanya bergemuruh, serasa mau meledak. Ancaman lagi. Arka selalu tahu persis di mana titik lemahnya. Mengingat kondisi perusahaan Papa yang sedang terombang-ambing dan Kakek yang masih terbaring lemah di ruang ICU, Kirei tak punya pilihan selain menelan bulat-bulat harga dirinya.

Dengan jemari gemetar menahan emosi, Kirei merebut sendok Arka. Ia menunduk, mulai menyingkirkan irisan daun bawang satu per satu ke pinggir piring dengan tingkat ketelitian yang menyiksa.

Arka memperhatikan gerakan itu dari jarak dekat. Dari posisinya, terlihat jelas anak-anak rambut yang lebat di sekitar leher Kirei dan bulu matanya yang melengkung lentik saat cewek itu fokus pada piring. Seringai tipis di bibir Arka mendadak luntur, berganti dengan sorot mata tak tertebak sebelum ia lekas memulihkan raut dinginnya.

"Selesai," desis Kirei sambil melempar sendok itu ke meja. Kling! Suaranya berdenting nyaring. "Makan tuh. Keselek, keselek deh lo."

"Terima kasih atas pelayanannya, Istriku," sahut Arka santai tanpa beban, lalu mulai menyuap nasi goreng itu.

Nafsu makan Kirei sudah nguap entah ke mana. Ia bangkit berdiri dan meraih gelas air putihnya. Baru saja dua langkah bergeser menuju wastafel, bel rumah berbunyi nyaring.

Ting-tong!

Suara bel bergetar dua kali, seketika memotong tensi tinggi di ruang makan.

Kirei dan Arka membeku. Pandangan mereka bertubrukan di udara, saling melempar panik yang sama besarnya. Ini sudah jam sembilan malam. Perumahan ini kawasan privat, dan tak ada satu pun teman sekolah atau kerabat yang tahu mereka tinggal berdua di sini.

"Siapa?" bisik Kirei, tenggorokannya mendadak kering.

Arka meletakkan sendok tanpa suara. Ia berdiri pelan, memberi isyarat tangan agar Kirei tidak bergerak. "Gue cek dulu. Lo di sini aja."

Langkah Arka mengendap ke arah pintu depan, lalu mengintip layar interkom digital di dinding lorong. Begitu layar menampilkan citra kamera luar, tubuh jangkung Arka mendadak kaku. Wajahnya menegang hebat.

Kirei yang tidak tahan menanti akhirnya menyusul berjingkat. "Siapa, Ka? Siapa yang datang?"

Arka menoleh cepat, langsung mencengkeram lengan Kirei dan menarik cewek itu bersembunyi di balik lekukan dinding lorong. Bisikan Arka terdengar amat mepet di telinganya.

"Tante Mira," bisik Arka ditahan. "Ibu lo."

Jantung Kirei rasanya merosot ke lantai. Matanya membelalak menatap layar interkom—memperlihatkan sosok ibunya berdiri di depan pagar sambil membawa keranjang buah dan tas tangan.

"Mama?!" pekik Kirei tanpa suara, buru-buru membungkam mulutnya sendiri. "Ngapain Mama ke sini malam-malam?!"

"Gue juga enggak tahu!" Arka ikut panik. Matanya menyapu sekeliling ruang tengah yang kacau: dua tas sekolah SMA Garuda tergeletak berjejer di sofa, dua pasang sepatu di rak, dan yang paling parah... dua pasang piring di atas meja makan!

Kalau Mama masuk dan melihat kekacauan ini, rahasia bahwa pernikahan ini tidak seharmonis yang dibayangkan bakal terbongkar saat itu juga. Lebih buruk lagi kalau Mama sadar mereka berdua setiap hari kerjaannya cuma saling memusuhi.

Ting-tong!

Bel kembali berbunyi, disusul panggilan dari luar. "Kirei? Arka? Kalian di dalam, Nak? Mama dibukain pintunya!"

Napas Kirei memburu. "Gimana ini, Ka?! Kalau Mama lihat tas kita—"

Sebelum kalimat itu tuntas, Arka bergerak cepat. Ia menyambar kedua tas sekolah di sofa, melemparnya ke balik busa dudukan, lalu berbalik mencengkeram erat kedua bahu Kirei. Tatapan Arka mendadak dalam dan penuh tekanan.

"Dengar," bisik Arka rapat, sampai aroma citrus dari tubuhnya menusuk hidung Kirei. "Mainkan peran lo. Jangan sampai kelihatan kalau kita habis berantem. Paham?"

Kirei cuma mampu mengangguk pasrah.

Arka menarik napas panjang, mengangguk sekali, lalu melangkah ke pintu dan memutar gagangnya. Ekspresi dingin dan angkuhnya hilang dalam sekejap, berganti senyuman ramah paling sempurna yang pernah Kirei lihat.

"Eh, Tante Mira..." sapa Arka dengan raut terkejut yang tertata rapi. "Malam-malam begini, ada apa ya, Tan?"

Ibu Kirei tersenyum hangat, melangkah masuk tanpa curiga. "Mama cuma mau ngantarin vitamin sama makanan segar buat kalian. Gimana hari pertama tinggal berdua? Enggak ada masalah, kan?"

Pandangan Ibu Kirei menyapu seluruh isi ruangan, sampai akhirnya matanya tertahan pada meja makan. Kirei menahan napas, meremas kuat ujung bajunya.

"Lho..." gumam ibunya pelan dengan alis bertaut. "Kalian... cuma makan satu porsi berdua?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!