Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tegang.
Hatiku jadi semakin bimbang, apa yang harus aku lakukan? tidak mungkin aku berteriak memberitahukan pria itu bahwa kelemahan Rebo ada di kakinya. Tidak mungkin juga aku menjerit memberikannya informasi kalau dia harus memukul dadanya agar menang. Ah ... kepalaku jadi kacau.
Aku menggigit ujung kuku jari telunjukku, Zane menatapku dengan tatapan mengejek.
"Ada apa Irish..tadi kau bilang dia akan kalah, sekarang kau merasa takut?"
"Tidak. Aku sama sekali tidak takut, hanya saja, pria lusuh itu benar-benar bodoh, bagaimana mungkin dia tidak tahu kelemahan besar di depannya. Jika aku jadi dirinya, aku sudah menyerang kaki kanan Rebo dan memukul dadanya dari tadi."
"Bukankah kau sangat senang bertarung, Kenapa tidak kau saja yang menggantikan pria itu?" sela si hacker itu.
Perkataan Aldrik membuat diriku seperti tertampar, dia menantangku. Aku yakin itu adalah bagian dari rencana mereka, apa jangan-jangan mereka curiga dengan identitasku? Jika aku menerrima tantangan, maka setiap pertarungan akan terlihat kalau aku telah terlatih. Aku sedikit tersulut emosi, tapi aku berusaha hanya menjawab dengan santai.
"Kita saksikan saja pertandingannya sampai selesai, jika aku kalah, maka aku akan membayar 10 juta dolar itu, tapi jika aku menang, aku akan mendapat dua kali lipat."
"Tentu saja, arena boxing hole milikku tidak pernah mengingkari janji tentang taruhan. " Jawab Zane berbangga diri.
Sekian menit berlalu pertandingan itu semakin sengit. Serangan yang dilancarkan Rebo berkali-kali berhasil ditepis oleh pria lusuh itu. Zane mengepalkan tangan dan terus berteriak memanggil nama Rebo agar memenangkan pertandingan. Aku hanya tersenyum tipis, firasatku tak pernah salah, dan firasatku mengatakan Rebo akan kalah malam ini.
Rebo terpental beberapa kali di tendang oleh lawannya. Pria lusuh itu bangkit dari keterpurukan, ia kembali menyerang. Aku tersenyum bangga, tampak harapan kemenanganku mulai muncul. Aku bernafas lega saat menyaksikan Rebo di pukul secara beruntun oleh lawannya. Kuda hitam yang menjadi andalan itu di pukul mundur berulang kali hingga berdarah.
Aku sedikit puas, karena pria itu bisa membalas serangan Rebo. Pria itu menendang kakinya, memukul dada Rebo berulang kali. Rebo tampak tak bisa menahan serangan itu. Dia terpojok.
Zane panik. Dia geram dan terus mencaci kuda hitamnya dari jauh. Sementara aku bernafas lega.
Kemenanganku tampak di depan mata. Senyumku sumringah. Beberapa detik kemudian, aku terpukul keadaan. Ternyata apa yang aku hadapi tak sesuai dengan kenyataan. Pria lusuh itu malah salah mengenai titik lemahnya Rebo. Barusan kulihat dia ingin menyerang kaki Rebo sebelah kanan tepat di area kelemahannya. Namun ternyata Rebo sudah mengantisipasi hal tersebut, sehingga Rebo membalas serangan itu dan menghantamkan kepalanya ke lantai.
Braaaaaakkkk. Sorakan penonton bergemuruh. Keadaan berbalik drastis. Seluruh arena riuh dengan aksi Rebo. Sementara aku malah ketakutan. Bibirku memucat. Aku bukan peduli pada pria lusuh itu, tapi takut kehilangan sepuluh juta dolar. Sraaaaaakk. Lagi, Rebo menendang perut lawannya hingga tersungkur dan berdarah-darah.
Pria lusuh itu tak mampu bangkit, kepalanya mengucurkan darah yang deras dan pekat. Tampak pria itu tak sadarkan diri. Wasit mendekat dan mulai menghitung mundur.
"10 ... 9 .... 8 .... 7 ... "
" Irish.... jagoan mu tidak bisa bangun," ejek Zane.
Hatiku semakin kacau.
"Jadilah pacarku Irish... kau tak perlu membayar 10juta dolar itu," Sambung Aldrik.
"Jika kau butuh uang, katakan saja ... aku akan meminjamkannya tanpa bunga." Sela Marcus.
Mereka semua malah mengejekku. Aku semakin tegang. Otakku mendidih. Tapi aku hanya bisa tersenyum pahit.
"Bagaimana... kau bersedia jadi pacarku?"
"Jadilah wanitaku, Irish!"
"Tidak usah pedulikan mereka. Aku akan memberikanmu uang."
Kata-kata mereka semakin menekan mentalku. Aku hanya diam memucat.
"Kenapa kau keras kepala, hentikan taruhanmu dan jadilah pacarku," ucap Aldrik sedikit memaksa.
"Pertandingan belum selesai, jangan berisik!" Ujar Caspian ketus tapi sebenarnya peduli.
Cetusan Caspian membuat semuanya terdiam. Aku sedikit lega. Tapi tak dapat di pungkiri.
Aku semakin deg-degan ... Kenapa pria lusuh itu tak bangun juga?
"6 ... 5 ... 4 ... "
Wasit kembali menghitung mundur. Aku jadi semakin tegang. Kepalaku rasanya ingin melayang. Bagaimana ini? Jika dia tidak bangun, aku akan kehilangan uang itu. Kata-kata penuh tekanan itu menghantui isi kepalaku.
"Irish ... kau benar-benar tamat kali ini ... " bisik Mike.
Aku semakin tegang. Ya tuhan ... Apa tidak ada keajaiban yang membuatnya bisa bangun?? Aku malah mendoakan pria itu. Berharap dia akan menyelamatkan uang sepuluh jutaku. Jantungku semakin cepat, secepat wasit menghitung mundur. Zane dan Aldric terus tertawa, jari-jariku menggigil. Mataku tertuju pada pria lusuh yang tak kunjung sadar itu.
"3...2...1...""""
Pruuuuuuiiiiiiiitttttt.
Wasit telah meniup peluit menandakan pertandingan telah berakhir dan pria lusuh itu dinyatakan kalah. Zane tertawa terbahak-bahak. Jagoan mereka menang lagi malam ini, dan benar saja, Rebo langsung dihujani dengan lembaran uang kertas dari atas balkon. Para penonton di segala penjuru boxing hall melemparkan uang ke sana. Mereka bersorak keriangan.
Sementara kakiku lemas, rasanya aku kehilangan pijakan. Sepuluh juta dolarku melayang. Aku membatu di sana menyaksikan sebuah firasat yang baru kali ini meleset. Aku berusaha senyum di atas tekanan batin dan mental yang luar biasa. Mike terus mengoceh di dalam telingaku. Aku semakin kesal dan menegang. Otakku hampir konslet.
"Irish... kau harus bertanggung jawab atas pengeluaran yang tak perlu itu."
Aku geram, sesungguhnya aku bukan kesal karena kalah. Namun aku takut setelah desakan dari Mike.
"Ayo Irish... putar otak." Batinku.
Bagaimana caraku mempertanggungjawabkan uang 10 juta dolar itu? Apa yang harus aku bayarkan atas taruhan ini. Aku mengepalkan tangan, berulang kali aku mencoba meredam amarah di dalam hatiku. Aku memasang senyum palsu.
Dari atas aku melihat beberapa orang petugas mengambil tubuh pria lusuh itu dan membawanya ke atas tandu, mereka membersihkan area boxing dengan cepat lalu mengumumkan kemenangan Rebo.
Diantara kerumunan orang, terdapat beberapa laki-laki muda yang berpakaian rapi mengenakan jas tampak seperti menarik uang taruhan, mereka lalu mengumpulkan uang taruhan itu dan memberikannya kepada Zane.
Setelah selesai menghitung, Zen mendatangiku secara pribadi. Tubuhnya sangat dekat. Hidung kami hampir bersentuhan.
"Apa kau tidak sanggup membayarnya, nona? Kalau kau tidak punya uang 10 juta itu, sebaiknya jadilah wanitaku." Kembali Zane mengejekku.
"Apa kau pikir aku adalah wanita miskin yang tidak punya uang, tuan? Jangankan Sepuluh juta, seratus juta pun akan kubayar!"
Aku lalu mengeluarkan black card dari tasku, saat aku menunjukkan itu kepadanya, mata Zane dan Aldrich terbelalak. Mereka tahu, hanya orang-orang dengan identitas tinggi dan mempunyai uang tanpa batas yang memiliki Black card.
Aku jadi semakin yakin, mereka pasti akan semakin mencurigaiku, tapi ini juga merupakan taktik ku, semakin mereka curiga maka mereka akan semakin penasaran, pastinya mereka akan semakin mendekatiku begitu pula sebaliknya.
Sesaat sebelum aku menyerahkan black card itu kepada Zane, aku menarik Black card itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Aku menggodanya dan menemukan taktik baru.
"Mr Zane, sepertinya aku tidak jadi membayar uang 10 juta itu. Bagaimana jika Kita bertaruh hal yang lain?" Aku terhenti sejenak.
Zane menyunggingkan senyumnya. Tangannya merangkul pinggangku dengan erat. Seolah aku akan di cerkam. Tekanan tangan itu berat, tapi tatapan nya bagai ingin memilkiku sepenuhnya.
"Katakan, bertaruh apa lagi?"
Aku tersenyum tipis. Jari lentikku manja berjalan di area rambut halus sepanjang rahang dagunya.
"Karena aku kalah, aku ingin menantangmu Mr Zane. Ayo bertarung!"
"Hahahaha..." Zane tertawa lantang. "Baru kali ini aku merasa hariku sangat cerah, tidak pernah selama hidupku aku di tantang oleh seorang wanita. Kau ingin menantangku nona? dengan kemampuanmu saat memukul Joni di bar itu, kau tidak akan bisa mengalahkanku."
Aku keluar paksa dari rangkulan Zane. Dia benar-benar meremehkan aku.
"Oke baiklah kalau kau tidak mau. Bagaimana jika aku mengalahkan Rebo terlebih dahulu, jika aku bisa mengalahkan Rebo, maka kau yang akan turun tangan, bagaimana?"