NovelToon NovelToon
Tahanan Sang Konglomerat

Tahanan Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Obsesi
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Dokumen Tersembunyi

Momo tidak membuka pintu malam itu.

Ia berdiri di tengah kamar dengan tangan masih berbau alkohol dan darah, sementara Sen menahan napas di samping lemari. Di balik pintu, Renard menunggu. Tidak menggedor. Tidak memaksa masuk. Justru karena ia diam, Momo merasa lebih takut.

"Aku sudah mau tidur," kata Momo.

"Suaramu aneh."

"Aku kedinginan."

"Buka pintu. Aku akan panggil Bu Ratih membawa selimut tambahan."

"Aku punya selimut."

Jeda lagi.

Momo bisa membayangkan Renard berdiri di luar dengan mantel gelap, wajah pucat karena luka lama, mata amber yang menghitung semua kemungkinan dari satu tarikan napasnya.

"Kau berbohong," katanya.

Momo menggenggam gunting lebih erat. "Itu bukan berita baru."

Untuk beberapa detik, ia yakin Renard akan membuka pintu dengan kunci cadangan. Ia yakin lelaki itu akan masuk, melihat darah, melihat Sen, dan seluruh Vila Puncak akan berubah menjadi medan perang.

Namun langkah Renard akhirnya menjauh.

Baru setelah suara itu hilang, Sen menghembuskan napas.

"Dia tahu."

"Belum," kata Momo.

"Dia tahu sesuatu."

"Maka jangan membuatku menyesal membiarkanmu hidup."

Sen menunduk, terlalu lemah untuk melawan.

Dua hari berikutnya, kamar Momo menjadi tempat paling melelahkan di vila. Siang hari ia berjalan di taman, makan di meja yang sama dengan Renard, menjawab pertanyaan Albert, dan berpura-pura tidak ada pria terluka bersembunyi di balik panel lemari. Malam hari ia mengganti perban Sen, menyuapkan bubur, membersihkan darah yang merembes, dan mengutuk semua keputusan hidupnya.

Renard memperhatikannya lebih tajam.

Di meja makan hari keempat, Momo mengambil sendok dengan tangan kiri karena tangan kanannya lecet terkena gunting. Renard langsung melihat.

"Tanganmu."

"Tergores."

"Oleh apa?"

"Kaca."

"Kaca apa?"

"Kaca kepercayaan diriku. Pecah setiap kali makan bersamamu."

Albert hampir tersedak teh.

Renard tidak tersenyum. Tatapannya turun ke pergelangan Momo, ke bawah lengan, ke bahunya, seolah bisa membaca kebohongan dari urutan otot. "Jangan main-main dengan luka."

"Kamu bicara dari pengalaman?"

"Aku bicara sebagai orang yang akan menyeretmu ke dokter jika kau demam."

"Romantis sekali. Dipaksa berobat."

"Kau suka kata dipaksa ketika ingin membuatku terdengar lebih buruk."

Momo menatapnya. "Kamu tidak butuh bantuanku untuk itu."

Hening jatuh di meja makan.

Namun di bawah hening itu, sesuatu berdenyut. Momo merasakannya setiap kali Renard terlalu lama menatapnya. Bukan hanya kemarahan. Bukan hanya kecurigaan. Ada rasa milik yang disangkal oleh ruang, oleh meja, oleh sendok di antara mereka. Seolah pria itu ingin menariknya dari kursi, memeriksa sendiri setiap luka kecil, lalu mengurung tangannya di genggaman sampai Momo berhenti berbohong.

Yang lebih buruk, Momo bisa membayangkan hangat genggaman itu.

Ia membenci imajinasinya sendiri.

Malam itu, Sen akhirnya mengatakan alasan ia datang.

"Aku butuh dokumen dari ruang kerja Renard."

Momo yang sedang menutup kotak P3K berhenti. "Kamu hampir mati, dan rencana pertamamu setelah tidak mati adalah mencuri?"

"Mengambil kembali."

"Itu kata yang dipakai pencuri agar merasa lebih sopan."

"Dokumen itu tentang Aula Dalam."

Nama itu membuat Momo diam.

Sen duduk bersandar pada dinding di balik lemari yang kini menjadi tempat persembunyian darurat. Wajahnya masih pucat, tetapi demamnya turun. Matanya kembali hidup, dan itu membuatnya tampak lebih berbahaya.

"Renard membuatmu percaya semuanya sederhana," kata Sen. "Dia orang jahat, mereka lebih jahat, kau korban yang harus dia simpan agar tidak dihancurkan. Tapi Aula Dalam bukan sekadar jaringan kriminal. Ada orang-orang di dalamnya yang dibeli, dibesarkan, dipakai. Ada anak-anak yang tidak pernah punya pilihan sejak awal."

Momo menyilangkan tangan. "Seperti kamu?"

Sen menatap lantai. "Seperti aku."

Untuk pertama kalinya, suaranya tidak minta dikasihani. Justru karena itu, Momo tidak bisa langsung menolaknya.

"Kenapa aku harus percaya?"

"Jangan percaya. Cari sendiri."

"Di ruang kerja Renard."

"Di kabinet biru. Folder tanpa label. Dia menyimpannya dekat meja karena masih membacanya."

Momo tertawa pelan. "Kamu tahu tata letak ruang kerjanya?"

"Aku pernah hidup dengan rahasia Renard lebih lama daripada kau hidup di bawah atapnya."

"Kalimat yang sangat tidak menenangkan."

"Aku tidak dibayar untuk menenangkanmu."

"Aku juga tidak dibayar untuk menjadi perawat dan pencuri."

Sen memandangnya. "Kau ingin tahu kenapa Renard sudah mengawasimu sebelum Gunawan menjualmu?"

Momo merasa napasnya berhenti.

Sen tidak tersenyum. "Ada foto-fotomu di file itu."

"Foto apa?"

"Aku belum melihat semuanya. Tapi cukup untuk tahu dia tidak mulai mencarimu setelah transaksi. Dia sudah tahu wajahmu jauh sebelumnya."

Kamar terasa miring.

Momo teringat Gelang Sakura yang tiba-tiba ada di pergelangannya ketika ia bangun. Terlepas dari kemarahannya, ada terlalu banyak kebetulan yang tidak pernah terasa seperti kebetulan. Makanan Semarang. Dokter untuk Ama. Foto Ama di tablet Sen. Cara Renard mengenali setiap kelemahannya, bahkan sebelum ia menyebutkan kelemahan itu.

"Kalau kamu bohong..."

"Aku terlalu lelah untuk bohong malam ini."

Momo menatap pintu kamar.

Ruang kerja Renard berada di lantai dua, dekat perpustakaan. Selama dua hari ia melihat Albert menguncinya setiap malam, tetapi Momo juga melihat Bu Ratih membawa teh ke sana melalui pintu samping yang jarang dijaga. Tidak ada jalan yang benar-benar tertutup jika seseorang cukup sering memperhatikan.

Momo pernah belajar itu di Pulau Raja.

Keesokan sore, hujan turun deras. Renard menerima panggilan di ruang makan dengan suara rendah, lalu pergi ke sayap barat bersama Albert. Vila sibuk menutup jendela. Pengawal berkumpul di teras karena salah satu kamera luar mati terkena air.

Momo memakai kardigan tebal dan berjalan ke perpustakaan dengan buku kosong di tangan.

Ia tidak berlari.

Orang yang berlari terlihat bersalah.

Perpustakaan sepi. Aroma kertas tua dan kayu basah membuat ruangan itu terasa seperti gereja kecil bagi orang yang percaya pada rahasia. Momo melewati rak, membuka pintu samping yang tidak terkunci penuh, lalu masuk ke ruang kerja.

Ruangan Renard lebih sederhana dari yang ia bayangkan. Meja besar. Kursi kulit. Lampu baca. Peta di dinding. Rak arsip. Tidak ada hiasan pribadi kecuali satu bingkai foto kecil yang dibalik menghadap meja.

Momo tidak menyentuh foto itu.

Belum.

Ia menemukan kabinet biru di sudut.

Terkunci.

Tentu saja.

Momo mengeluarkan penjepit rambut dari saku. Ama pernah mengajarinya membuka laci tua saat kunci rumah kontrakan hilang. "Jangan dipakai untuk mencuri," kata Ama waktu itu. "Dipakai kalau hidupmu sedang dikunci orang bodoh."

Maaf, Ama.

Kunci berbunyi klik setelah percobaan ketiga.

Di dalam kabinet, ada beberapa map. Momo menemukan folder biru tua tanpa label. Tangannya dingin saat membukanya.

Foto pertama menunjukkan gedung tua dengan lambang yang tidak ia kenal.

Foto kedua, bagan nama dan garis hubungan.

Foto ketiga, seorang anak laki-laki kurus dengan mata kosong. Di bawahnya tertulis: Seno Hartono, aset pelatihan.

Momo menelan napas.

Lalu ia membalik halaman.

Dan melihat dirinya sendiri.

Momo usia belasan, memakai seragam sekolah lusuh, berdiri di depan gang Pecinan Semarang sambil membawa tas kain. Foto lain menunjukkan ia membantu Ama menutup kios kecil. Foto berikutnya, ia duduk di bangku rumah sakit, memegang botol obat, wajahnya lelah dan terlalu muda untuk terlihat setua itu.

Tanggalnya bertahun-tahun sebelum Gunawan menjualnya.

Momo merasa lantai hilang di bawah kaki.

Renard tidak menemukannya.

Renard sudah melihatnya.

Entah dari mana, entah untuk apa, pria itu sudah menyimpan hidupnya dalam folder biru sebelum ia pernah mendengar suara "Kamu milikku" di Pulau Raja.

Di luar ruang kerja, langkah seseorang terdengar mendekat.

Momo menutup folder dengan tangan gemetar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!