Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Giorgino
Bab 2
Karin menarik napas panjang sebelum melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Tangannya terasa dingin, meski udara pagi cukup hangat. Setiap langkah yang ia ambil membuat jantungnya berdetak semakin cepat.
Hari ini...
Ia kembali bertemu dengan pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Dulu, ia menyambut perkenalan itu dengan senyum malu-malu. Ia percaya bahwa Gio adalah pria baik yang dikirim Tuhan untuk mendampinginya. Bahkan ketika ayahnya bercanda soal perjodohan, pipinya sempat memerah karena malu.
Kini semua terasa begitu menjijikkan. Karin tahu bagaimana pria itu perlahan memperlihatkan sifat aslinya setelah mereka menikah. Kata-kata manis berubah menjadi hinaan. Perhatian berubah menjadi kekangan. Cinta berubah menjadi penderitaan yang tak pernah berakhir.
"Semua itu tidak akan terjadi lagi," gumam Karin dalam hati.
Ia menggenggam erat pegangan tangga, seolah sedang menguatkan dirinya sendiri.
Begitu tiba di ruang tamu, Pak Wirawan langsung menoleh.
"Karin, kamu sudah baikan, Sayang?" tanyanya penuh perhatian.
Karin memaksa dirinya tersenyum.
"Sudah, Pa."
"Syukurlah." Wajah Pak Wirawan tampak lega. "Tadi Papa sampai khawatir."
Hesti menepuk pelan bahu putrinya.
"Tuh, Papa sampai tidak tenang gara-gara kamu."
Mendengar perhatian sederhana itu, hati Karin kembali terasa hangat. Sudah berapa lama ia tidak merasakan kasih sayang seperti ini?
Di kehidupan sebelumnya, setelah kedua orang tuanya meninggal, tidak ada lagi yang menanyakan apakah ia sudah makan, apakah ia sedang sakit, atau sekadar memastikan dirinya baik-baik saja.
Tanpa sadar, matanya kembali memanas.
Tidak.
Ia tidak boleh menangis lagi.
Hari ini adalah awal kehidupan barunya.
"Karin," ujar Pak Wirawan sambil tersenyum, "kemari. Papa mau kenalkan seseorang."
Pandangan Karin perlahan beralih.
Seorang pria bertubuh tinggi berdiri dari sofa. Wajahnya tampan, kulitnya bersih, dan senyumnya terlihat begitu ramah. Orang yang tidak mengenalnya pasti akan mengira ia pria sempurna.
"Giorgino," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan. "Panggil saja Gio."
Karin menatap tangan itu selama beberapa detik.
Dulu, ia pernah menggenggam tangan yang sama saat mengucapkan janji suci pernikahan. Tangan yang sama pula yang pernah mendorongnya hingga jatuh.
Ia masih bisa mengingat rasa sakit itu.
Dengan susah payah Karin mengendalikan emosinya. Ia pun mengulurkan tangan sekadarnya.
"Karin."
Sentuhan mereka hanya berlangsung sesaat sebelum Karin segera menarik tangannya kembali. Sikap dingin itu membuat Gio sedikit terkejut, tetapi ia tetap mempertahankan senyumnya.
Pak Wirawan tidak menyadari keanehan itu. Beliau justru mempersilakan semua orang duduk kembali.
Suasana ruang tamu perlahan kembali hangat. Pak Wirawan mulai mengenang persahabatannya dengan mendiang Ibnu Bastian, ayah Gio.
"Papa dan ayahmu dulu sering pulang kerja bareng," cerita Pak Wirawan sambil tertawa. "Kalau sudah ngobrol, bisa lupa waktu."
"Ibu juga sering cerita begitu," jawab Gio sopan.
"Beliau sering menyebut Om sebagai sahabat terbaiknya."
Pak Wirawan tampak terharu.
"Ayahmu orang baik."
"Iya, Om."
Hesti ikut tersenyum.
"Kami sedih sekali waktu mendengar beliau meninggal."
"Terima kasih, Tante."
Gio menjawab dengan suara pelan.
Karin hanya diam.
Semua yang dilakukan Gio terlihat begitu sempurna.
Cara berbicaranya.
Cara tersenyumnya.
Cara menghormati orang tua.
Tak ada satu pun yang terlihat mencurigakan.
Persis seperti dulu.
Itulah sebabnya seluruh keluarganya tertipu.
Tak lama kemudian, Pak Wirawan menepuk bahu Gio.
"Kalau Om punya menantu seperti kamu, Om pasti senang."
Karin langsung menegang.
Kalimat itu...
Tidak berubah sedikit pun.
Sama persis seperti yang pernah ia dengar bertahun-tahun lalu.
"Sudah tampan, pintar, sopan lagi," lanjut Pak Wirawan sambil tertawa.
Gio ikut tertawa.
"Om bisa saja."
"Lho, memang kenyataannya begitu."
"Kalau memang berjodoh, saya juga senang."
"Tidak!"
Suara Karin memecah suasana.
Ruangan mendadak sunyi. Semua mata tertuju kepadanya.
"Karin?" Hesti tampak bingung.
Karin menarik napas.
Ia tidak boleh membiarkan candaan itu berkembang seperti kehidupan sebelumnya.
"Karin sudah punya pacar."
Ucapan itu membuat Pak Wirawan mengernyit.
"Kamu bilang apa?"
"Karin sudah punya pacar, Pa."
Pak Wirawan spontan menoleh kepada Hesti.
Hesti mengangguk pelan.
"Tadi Karin sudah cerita sama Mama."
Pak Wirawan tampak tidak percaya.
"Lho, sejak kapan?"
Karin tersenyum tipis.
"Belum lama."
"Kenapa Papa baru tahu?"
"Soalnya Karin belum sempat cerita."
Pak Wirawan menggeleng sambil tertawa kecil.
"Anak Papa ternyata sudah besar."
Sementara itu, Gio masih menatap Karin. Tatapannya sulit diartikan. Ia tidak tampak kecewa. Justru terlihat semakin tertarik.
"Sayang sekali," ujar Pak Wirawan kepada Gio.
Namun Gio hanya tersenyum santai.
"Tidak apa-apa, Om."
Ia menoleh kepada Karin.
"Janur kuning belum melengkung."
Karin menatap tajam.
"Artinya?"
"Artinya, sebelum menikah, semua orang masih punya kesempatan."
Ucapan itu terdengar seperti candaan. Namun bagi Karin, itu terdengar seperti ancaman. Ia mengepalkan kedua tangannya di balik gaun.
Dalam hati ia bersumpah. Sekalipun harus berbohong seumur hidup...
Ia tidak akan menikah dengan pria itu lagi.
"Kalau soal jodoh," kata Pak Wirawan mencoba mencairkan suasana, "biar Karin yang memilih."
"Iya, Om."
Gio mengangguk.
"Tapi saya tidak mudah menyerah."
Karin memalingkan wajah.
Muak.
Ia benar-benar muak melihat pria itu.
Obrolan kemudian beralih ke pekerjaan Gio.
Pria itu menceritakan kariernya yang sedang berkembang, rencana bisnisnya, hingga impiannya membangun perusahaan sendiri.
Pak Wirawan tampak kagum.
"Wah, masih muda sudah punya target sebesar itu."
"Harus bekerja keras, Om."
"Bagus."
Hesti ikut mengangguk.
"Anak muda memang harus punya cita-cita."
Karin hanya tersenyum hambar.
Ia tahu semua cerita itu. Karena dulu ia pernah mempercayainya.
Di balik semua mimpi besar itu, Gio hanyalah pria ambisius yang rela mengorbankan siapa saja demi kepentingannya sendiri. Bahkan keluarga istrinya.
-
-
-
Tak terasa hampir dua jam mereka mengobrol. Gio akhirnya berdiri.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Om... Tante."
"Sampaikan salam Tante buat ibumu."
"Pasti, Tante."
Gio melangkah menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti. Ia menoleh kepada Pak Wirawan dan Hesti.
"Om... Tante..."
"Iya?"
"Kalau suatu saat saya mengajak Karin jalan-jalan, boleh?"
Pak Wirawan dan Hesti saling berpandangan. Lalu keduanya melihat ke arah Karin.
"Kalau itu," ujar Hesti lembut, "lebih baik tanya langsung sama Karin."
Gio tersenyum.
"Baik."
Ia menatap Karin lurus-lurus.
"Bagaimana?"
"Minggu depan ada pameran buku."
"Mau ikut denganku?"
Karin menatap balik tanpa berkedip. Tatapan mereka saling bertemu beberapa detik.
Suasana mendadak terasa menegangkan.
"Maaf."
Suara Karin terdengar dingin.
"Aku tidak pernah pergi berdua dengan laki-laki selain pacarku."
Untuk pertama kalinya, senyum Gio memudar.
Hanya sesaat.
Kemudian ia kembali tersenyum.
"Kalau begitu..."
"Aku akan menunggu sampai pacarmu benar-benar muncul."
Setelah berpamitan, Gio akhirnya keluar dari rumah. Suara pintu yang menutup membuat Karin mengembuskan napas panjang. Ia berhasil mengubah satu kejadian. Namun masalah baru kini menantinya.
Karena mulai hari ini, ia benar-benar membutuhkan seorang pria yang bersedia berpura-pura menjadi kekasihnya.
Kalau tidak...Gio tidak akan pernah berhenti mengejarnya.
Dan entah mengapa, di tengah kebingungan itu, satu nama kembali muncul di kepalanya.
Kai.
Pemuda paling menyebalkan yang pernah ia kenal semasa kuliah.
Mungkin...
Hanya mungkin...
Dialah satu-satunya orang yang bisa membantunya mengubah takdir.
-
-
-
Bersambung...