NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28.

Tenda yang Roboh di Pagi Buta

Jam menunjukkan tepat pukul lima pagi. Udara masih terasa dingin menusuk tulang, dan kabut tipis masih menyelimuti seluruh area perkemahan. Semua siswa masih terlelap nyenyak, terbungkus rapat di dalam kantong tidur masing-masing. Keheningan hanya sesekali pecah oleh suara angin yang berhembus kencang menembus pepohonan.

Tiba-tiba terdengar suara gesekan keras, diikuti bunyi "BRAK!" yang cukup mengagetkan. Satu tenda di sudut area mendadak ambruk dan terguling ke samping, tiang penyangganya patah kena hembusan angin kencang.

Laras yang sedang tidur di dalamnya langsung tersentak bangun dengan jantung berdegup kencang. Selimutnya tertutup tanah dan rumput basah, rambutnya berantakan terkena kain tenda yang jatuh menimpanya.

"Tolong! Aduh—tendaku roboh! Tolong gue!" teriak Laras panik setengah histeris. Ia meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari tumpukan kain yang menutupi tubuhnya, matanya masih sayup-sayup belum sepenuhnya sadar.

Suara teriakan itu memecah keheningan pagi. Rara dan Aisyah yang tidur di tenda sebelah pun terbangun kaget. Mereka duduk bersamaan, menatap ke arah sumber suara dengan mulut sedikit terbuka. Nyawa tidur mereka belum sepenuhnya terkumpul, pikiran masih berputar pelan, jadi mereka hanya diam terpaku sejenak, belum bisa bergerak atau mengeluarkan suara.

"Eh... apa itu?" gumam Rara pelan, matanya menyipit mencoba menembus kabut pagi.

Baru beberapa detik kemudian kesadaran Rara datang sepenuhnya. Ia melihat Laras yang masih terjepit dan tampak ketakutan. Tanpa pikir panjang lagi, Rara langsung melompat turun dari tempat tidurnya.

"Syah, ayo cepat! Laras ada di dalam situ!" serunya sambil berlari kecil mendekati tenda yang roboh.

Aisyah pun segera bangkit, mengikuti langkah Rara dengan tenang meski wajahnya masih terlihat kaget. Mereka berdua segera menyingkirkan kain tenda yang berat itu, lalu membantu Laras bangkit berdiri. Laras tampak gemetar, wajahnya pucat, dan matanya berkaca-kaca menahan takut sekaligus kedinginan.

"Lo nggak apa-apa kan? Ada yang sakit nggak?" tanya Rara cekatan, menyeka debu di bahu Laras.

Laras menggeleng lemah, napasnya masih terengah-engah. "Gue... aku nggak apa-apa. Cuma kaget banget. Tiba-tiba aja jatuh di atas tubuh gue," ucapnya terbata-bata, masih memakai kata 'aku' saat berbicara.

Belum sempat mereka beristirahat, Dimas, Arga, dan Bima pun berlari mendekat karena mendengar keributan. Dimas langsung memeriksa kondisi tiang tenda yang patah, sementara Arga dan Bima membantu mengangkat sisa-sisa kain.

"Udah jangan berdiri di sini, nanti masuk angin," kata Dimas lembut kepada Laras. "Mending barang-barang kamu dipindah dulu ke tenda kami sementara, nanti kita benerin pas matahari udah terbit."

Laras menatap mereka satu per satu, lalu matanya berhenti sejenak pada Rara dan Aisyah yang sibuk memungut barang-barangnya yang berserakan. Rara bahkan tanpa diminta sudah melipat selimut basah milik Laras dengan rapi.

Rasa bersalah sekaligus haru menyelimuti hati Laras. Ia kira Rara bakal senang melihatnya kesusahan, atau setidaknya membiarkannya dulu. Tapi kenyataannya, gadis itu justru menjadi orang pertama yang datang menolong tanpa ragu sedikit pun.

"Makasih ya..." bisik Laras pelan, kali ini menatap tepat ke arah Rara. "Maaf ya ngerepotin pagi-pagi begini."

Rara menoleh sejenak, lalu tersenyum tipis sambil mengangkat bahu. "Santai aja, namanya juga musibah. Kita kan sama-sama di sini, harus saling bantu," jawabnya santai.

Di bawah langit yang mulai memutih perlahan, angin pagi yang tadi terasa dingin kini berubah terasa hangat. Di antara kekacauan pagi itu, benih persahabatan yang baru mulai tumbuh perlahan menyatukan hati mereka.

Mereka pun bergegas memindahkan tas, selimut, dan perlengkapan tidur Laras ke tenda Dimas dan kawan-kawan. Laras berjalan di belakang dengan langkah pelan, sesekali mengusap lengannya yang kedinginan. Rara melihat hal itu, lalu tanpa banyak bicara melepas jaket tebalnya dan menyodorkannya kepada Laras.

"Pakai dulu jaket gue, nanti lo masuk angin," kata Rara singkat.

Laras tertegun sejenak, menatap jaket itu lalu menatap wajah Rara yang tampak tulus. Ia sempat ragu, tapi tubuhnya benar-benar menggigil. "Terima kasih ya..." ucapnya pelan, lalu menyampirkan jaket itu di bahunya.

Sesampainya di tenda cowok, suasana di dalamnya sempit tapi cukup hangat. Arga segera menyusun kantong tidur di sudut yang kosong. "Duduklah di sini, nanti hangat," katanya ramah.

Laras duduk perlahan, masih merasa canggung. Ia biasa berbicara lembut dengan Dimas, tapi kali ini saat berhadapan dengan Rara dan Aisyah, rasanya ada rasa malu yang luar biasa. Selama ini ia sering bersikap sinis, berebut perhatian, bahkan sempat berbuat tidak enak hati pada mereka berdua. Tapi saat ia dalam kesusahan, merekalah yang paling dulu menolong.

"Gue... gue malu banget," gumam Laras tiba-tiba, suaranya terdengar bergetar pelan. "Padahal dulu gue sering jahat sama lo berdua, tapi malah kalian yang bantuin gue sekarang."

Aisyah yang duduk di sebelahnya tersenyum lembut, lalu menepuk pelan punggung tangan Laras. "Itu kan udah lewat. Namanya juga manusia, pasti pernah salah sikap. Yang penting sekarang kita sama-sama aman."

Rara mengangguk setuju sambil menyesap air putih. "Bener kata Syah. Gue juga nggak dendam kok. Lagian kalau gue yang posisinya kayak gue tadi, aku juga pasti panik banget. Wajar aja kok."

Mendengar itu, mata Laras berkaca-kaca. Ia menahan tangis supaya tidak jatuh, tapi bahunya bergetar menahan haru. Ia menoleh ke arah Dimas yang sedang merapikan pintu tenda, lalu kembali menatap Rara dan Aisyah.

"Gue janji deh," ucap Laras mantap sambil menghapus air mata di sudut matanya. "Mulai sekarang gue nggak bakal kayak dulu lagi. Gue sadar sikap gue kemarin salah banget. Gue nggak mau jadi orang yang cuma mikirin diri sendiri dan rebutan perhatian terus."

Dimas tersenyum bangga dari arah pintu. "Itu baru temen yang hebat. Kita semua di sini sama-sama belajar, kan? Nggak ada yang sempurna."

Matahari mulai mengintip malu-malu dari balik bukit, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut. Di dalam tenda yang sempit itu, tidak ada lagi rasa canggung, tidak ada lagi persaingan yang tidak perlu. Yang tersisa hanyalah rasa saling menghargai dan kehangatan persahabatan yang baru saja terjalin erat.

Arga dan Bima saling pandang senyum, merasa senang melihat perubahan suasana hati teman-teman mereka. Pagi yang tadinya penuh kekacauan dan ketakutan, berubah menjadi pagi yang penuh pelajaran berharga: bahwa kebaikan hati jauh lebih kuat daripada rasa cemburu.

Sudah sering banget Laras bilang mau berubah tapi ya ga berubah juga dari dulu selalu sama dan memang tabiat ya tetap tabiat aja tapi karna ada Dimas jadi ya udah aja.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!