Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30.
Sepulangnya Bu Safira bersama keluarga, beberapa warga yang rumahnya berdekatan dengan tempat tinggal Zeya dan Daniel langsung berdatangan. Rupanya, kedatangan keluarga Zeya tadi, berhasil mengundang rasa penasaran mereka.
"Neng Zeya... Nak Daniel..." panggil salah seorang ibu dari luar rumah.
Daniel dan Zeya yang sedang membereskan sisa-sisa suguhan, seketika menghentikan pekerjaan. Keduanya segera bergegas keluar untuk menemui mereka.
Begitu melihat beberapa ibu-ibu bersama anak-anak sudah berdiri di depan rumah, Daniel dan Zeya tampak sedikit terkejut. Keduanya pun saling berpandangan sesaat.
"Ada apa ya, Bu? Kok, pada datang ramai-ramai begini?" tanya Daniel heran.
"Nggak ada apa-apa, Nak Daniel," jawab salah seorang ibu sambil tersenyum. "Kami cuma penasaran. Yang tadi datang itu keluarga kalian, ya?"
"Oh..." Zeya langsung tertawa kecilI. "Iya benar, Bu. Tadi itu Ibu saya bersama keluarga dan sahabat saya," jawabnya tenang.
Jawaban Zeya langsung disambut bisik-bisik oleh ibu-ibu tersebut.
"Ya ampun...Neng Zeya ternyata anak orang kaya, ya!" seru seorang ibu dengan antusias.
"Pantesan...mobilnya saja bagus begitu." Yang lain menimpali.
"Nah... kan, benar. Saya bilang juga apa. Lihat saja penampilannya, meskipun sederhana tapi tidak murahan." Seorang ibu yang sejak tadi diam ikut bersuara.
"Benar, kalian masih ingat kan, waktu itu pas mereka dipaksa menikah? Keluarga Nak Daniel juga kelihatan kalau mereka bukan orang sembarangan."
Zeya dan Daniel kembali saling berpandangan sambil tersenyum kaku. Akan tetapi, keduanya tak ingin status keluarga mereka diketahui oleh warga desa. Biarlah warga mengenal mereka sebagai diri pribadi sendiri, bukan karena status sosial keluarganya.
Namun, belum sempat baik Daniel maupun Zeya menjelaskan, tiba-tiba terdengar suara celetukan dari belakang yang sangat mereka kenal.
"Biyuh...biyuh...biyuuuh...!" seru wanita bertubuh subur itu dengan bibir menyebik dan pandangan sinis.
Entah sejak kapan ia datang, tahu-tahu saja sudah berada di antara mereka. Kedatangannya sudah seperti makhluk astral tak kasat mata -- muncul tak diundang, lalu pergi setelah puas menebarkan kata-kata pedas.
"Jadi orang kok, ya, gumunan kalian ini. Macam nggak pernah lihat orang naik mobil mewah saja," sindirnya pedas.
"Saya kan, sudah bilang. Naik kendaraan bagus itu belum tentu orang kaya," lanjutnya sambil mendecak.
"Bisa saja toh, itu kendaraan dapat nge-rental. Atau bisa jadi kendaraan inventaris malah. Kalian ini kalau lihat yang bagus sedikit saja langsung berlebihan!" sambungnya sembari melengos sengak.
Ibu-ibu yang tadi begitu yakin, mulai saling berpandangan. Melihat suasana tampak canggung, Zeya pun tersenyum tipis, lalu mencoba memberi penjelasan yang mudah diterima.
"Benar kata Bu Yuni, Bu," ucapnya tenang. "Orangtua saya memang cuma orang biasa, bukan seperti yang Ibu-Ibu bayangkan. Kendaraan yang keluarga saya gunakan juga hanya kendaraan biasa saja, untuk transportasi sehari-hari."
Daniel mengangguk, membenarkan. "Zeya benar, Bu-Ibu. Nggak ada yang istimewa dari keluarga kami. Itulah sebabnya, kami merasa senang bisa hidup sederhana di sini bersama kalian."
"Oh... begitu, ya?" Salah seorang ibu tersenyum malu. "Maaf ya, kami telah lancang dan mengganggu kalian."
"Iya, soalnya kami lihat mobilnya bagus, jadi langsung berpikir begitu."
"Nggak apa-apa, Bu," jawab Zeya sambil tersenyum hangat. "Kalau melihat sekilas, wajar bila Ibu-Ibu jadi berpikir seperti itu."
Begitu Zeya menyelesaikan kalimatnya, Bu Yuni langsung berbalik pergi begitu saja, tak mengatakan apapun. Karena merasa tak lagi menemukan celah untuk menyindir atau menyerang dengan ucapan pedasnya.
Ibu-ibu dan anak-anak itu pun akhirnya berpamitan. Namun, Zeya mencegah mereka. "Adek-adek tunggu sebentar, ya. Kakak punya sesuatu buat kalian."
Zeya langsung naik ke rumah panggung dan masuk ke dalam, lalu keluar lagi membawa sekantong plastik kresek besar bertuliskan minimarket waralaba di tangannya.
"Ini buat, kalian," kata Zeya seraya mengulurkan plastik kresek tersebut ke salah satu anak yang paling besar.
"Nanti dibagi sama rata, ya," pesannya sambil mengusap pucuk kepala anak perempuan berwajah manis itu dengan lembut.
Gadis kecil itu menerima dengan mata berbinar, begitupun dengan yang lainnya kira-kira lima anak tampak antusias.
"Terima kasih, Kak," ucap gadis kecil tersebut.
"Semoga Kakak selalu sehat, panjang umur dan rejekinya melimpah," timpal yang lain dan di-aamiinkan bersama-sama.
"Aamiin..." Zeya dan Daniel tersenyum haru, kebaikan tak seberapa tetapi mereka mendoakan begitu besar.
"Terima kasih, Nak Daniel... Neng Zeya," ujar seorang ibu, sambil mengusap sudut matanya dengan ujung hijab.
Setelah tamu yang tak diundang pulang, halaman kembali sepi. Daniel mengembuskan napas panjang.
"Aku tadi sampai kaget waktu melihat mereka datang seramai itu."
Zeya terkekeh pelan. "Aku juga. Kukira terjadi sesuatu."
Mereka pun kembali masuk ke dalam rumah, melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda. Namun, kening Zeya langsung berkerut tajam kala netra jernihnya menemukan sebuah amplop coklat tebal tergeletak di bawah bantal duduk bekas ibunya.
"Apa, ini?" gumamnya pelan lalu mengambil amplop tersebut.
Dibukanya amplop tebal di tangannya dengan perasaan campur aduk. "Ya Allah... Ibu!" pekiknya tertahan, suaranya terdengar bergetar.
Rupanya sebelum pulang Bu Safira menyelipkan amplop berisi uang di balik bantal. Karena ia yakin Zeya tak akan menerimanya jika diberikan terang-terangan.
Daniel yang sedang mencuci gelas dan piring di bawah langsung berlari naik ke atas ketika mendengar suara pekikan istrinya.
"Ada apa, Ze? Kamu, kenapa?" tanyanya dengan raut khawatir di wajahnya.
"Ini..." Zeya menyodorkan amplop coklat tebal pada Daniel.
"Apa, ini...?" Pemuda itu tampak bingung. "... m-maksudku punya siapa? Apa punya Om Rangga atau punya ibu ketinggalan?" tanyanya sambil menggaruk pelipisnya meskipun tak gatal.
Zeya menghela napas dalam. "Ini aku temukan di bawah bantal duduk bekas Ibu."
"Daripada kita penasaran, lebih baik telepon Ibu saja. Beliau sengaja meninggalkannya, atau memang benar-benar ketinggalan," saran Daniel bijak.
Zeya mengangguk pelan, mengambil ponsel di atas meja kecil, lantas menekan nomor ibunya. Tak lama kemudian panggilan pun tersambung.
"Halo, assalamualaikum, Bu," sapa Zeya suaranya sedikit tercekat.
"Waalaikumsalam, Sayang. Ibu baru saja masuk ke dalam rumah ini." balas Bu Safira dari seberang telepon. "Ada apa, Nak?" tanyanya lembut.
Zeya menggigit bibir bawahnya sembari beberapa kali menghela napas, berusaha menekan emosi di dadanya. Netranya berkaca-berkaca. "Ibu... itu..." Zeya menggantung ucapannya, ia menelan air liurnya kasar.
"Ze... Zeya kenapa, Nak?" Suara Bu Safira terdengar panik.
"Ibu... Ibu, kenapa ninggalin uang banyak buat, Ze?" tanya Zeya akhirnya.
Bu Safira mengembuskan napas lega seraya memejamkan mata. Bibirnya tersungging senyuman. Meskipun apa yang dilakukannya tak nampak oleh sang putri.
"Itu buat, Ze. Pakailah untuk keperluan kalian. Ibu mohon terima ya, Nak," ucapnya dengan perasaan membuncah di dadanya.
"Ibu tahu Ze sudah mendapatkannya cukup dari ayah, tapi ibu juga ingin berbuat sesuatu yang berguna bagi, Ze. Putri kebanggaan ibu..." Bu Safira langsung menutup sambungan telponnya, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
.emaknya datang😁