Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu
Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Vera datang
"Din, rumah kau ini kok terasa agak tidak enak begini ya.'' Vera menatap sang adik yang sedang duduk diam sambil menikmati teh.
''Kakak jangan kebiasaan apa-apa selalu berhubungan dengan setan.'' jawab Dina menoleh sama sekali.
''Loh aku cuma mengatakan kalau rumah kau agak aneh, Kenapa kau langsung kepikiran soal setan?'' Vera menatap sang adik yang terlihat begitu dingin sekali.
''Aku sudah tahu arah pembicaraan Kakak itu akan ke mana, mungkin karena masa lalu kita jadi semua hal selalu bersangkutan dengan setan yang ada di dalam pikiran Kakak itu!'' ujar Dina.
''Kau Kenapa menjadi dingin seperti ini?'' Vera sebenarnya ingin banyak bertanya kepada Dina yang telah berubah.
''Setelah semua yang kita lewati makam mustahil bila aku tidak berubah menjadi seperti ini, kita hanya seperti seonggok bangkai yang kemudian menjalani aktivitas hidup.'' sahut Dina.
''Aku tahu kau memiliki banyak tekanan Namun bukan berarti kau bisa terus bersikap seperti ini kepada semua orang.'' Vera ingin menasehati sang adik.
Namun Dina terlihat cuek saja seolah sama sekali tidak peduli dengan ucapan Vera dan dia juga sudah terlalu nyaman dengan sikap serta perilaku dia, Vera menarik nafas panjang karena dia tahu bahwa Dina telah banyak berubah ketika berumah tangga dengan Susanto di kota ini.
Vera juga tahu bahwa sebenarnya Dina mengalami banyak tekanan dalam hidup Namun bukan berarti dia bisa bersikap seperti ini, rasa simpati Dina terhadap orang lain sudah menghilang ketika semua kejahatan Parto terungkap di desa dulu Dan mulai saat itu Dina selalu bersikap seolah tidak peduli terhadap orang lain dan menuruti ego saja.
Entah apa sebenarnya yang dina pikirkan itu karena Vera juga sama sekali tidak paham dengan pikiran sang adik, berulang kali dia berusaha mendekatkan diri agar Dina mau bercerita tentang apa yang dia rasakan namun tetap saja Dina memberikan jarak sehingga Vera bingung harus mendekati dengan cara apa lagi.
Sama seperti sekarang ini ketika Vera mendatangi rumah Dina untuk sekedar mampir ketika dia sedang ada perjalanan ke kota, Dina akan menyambut namun tetap saja sikap Dia terlihat begitu dingin meski menjamu merah dengan berbagai macam hidangan tapi terlihat jelas bahwa ada sesuatu yang berbeda di dalam diri wanita itu sehingga membuat Vera sangat tidak nyaman.
Andai saja Ini bukan adik dia maka Vera tidak akan pernah mau mampir ke rumah ini hanya sekedar untuk basa-basi, tapi sebagai saudara yang paling tua maka Vera tidak ingin bersikap seperti itu dan dia tetap berusaha mendekatkan diri agar Dina mau terbuka dan bercerita apa yang telah terjadi.
"Apa kau tau rasa nya hidup dalam bayangan yang kelam?'' Dina membuka suara Setelah lama terdiam.
''Kau melewati masa kelam itu bersama dengan aku, Jadi kenapa kamu mesti bertanya lagi kepada diriku?'' balas Vera.
''Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terus mendengar suara itu, rasanya mereka terus saja datang untuk mengejar aku.'' ucap Dina.
''Kan aku sudah Mengatakan agar kau kembali mendatangi Mbak Purnama untuk meminta tolong, tapi kau menolak dengan alasan yang sangat tidak masuk akal!'' Vera menjadi bertambah kesal kepada Dina.
''Sudah lah, Aku lelah membahas ini karena kau juga tidak akan paham!'' Dina bangkit berdiri dan meninggalkan taman belakang.
''Bukan aku yang tidak paham kepada dirimu, tapi kau yang sangat sulit terbuka dan mengatakan apa yang telah terjadi.'' Vera berkata sendirian.
''Biarkan saja, aku tadi kan sudah bilang sama kamu agar tidak usah mampir dulu karena mungkin saja Dina sedang tidak baik-baik saja.'' Matteo menghampiri sang istri.
Vera terdiam karena tidak tahu harus berkata apa dan memang tadi Matteo sudah melarang untuk dia mampir ke rumah ini terlebih dahulu, namun Vera keras kepala karena dia juga ingin melihat keadaan sang adik Apakah dia sehat atau sedang tidak baik-baik saja dan ternyata memang benar Dina dalam masalah.
''Apa yang sebenarnya sudah terjadi kepada dia?'' Vera bertanya dengan suara begitu lirih.
''Kita tentu saja tidak tahu karena memang dia tidak ingin bercerita.'' jawab Matteo.
''Aku sebenarnya bila dia memang ingin tinggal di rumah itu maka tidak masalah, kita bisa pergi dari sana dan tinggal di kota ini saja.'' ucap Vera.
''Aku sudah pernah bilang kepada dirimu untuk pergi saja dari rumah itu dan kita tinggal di kota ini, Tapi kan kamu yang tetap ingin tinggal di sana.'' Matteo menatap sang istri.
''Lantas bila kita pindah tanpa persetujuan dari Dina dan dia menolak untuk tinggal di rumah itu maka rumah warisan akan kosong.'' jelas Vera kepada sang suami.
''Ya sudah biarkan saja bila memang kosong maka kita tidak usah peduli lagi, Siapa tahu saja Dina memang tidak suka kalau kamu tinggal di rumah warisan itu.'' ujar Mateo berusaha mengajak sang istri pindah.
Vera nafas panjang Karena dia mulai memikirkan ucapan dari sang suami, Mungkinkah sang adik tidak terima bila dia tetap tinggal di rumah itu dan menikmati warisan dari orang tua mereka, tapi padahal bila di pikir ulang maka itu semua hasil dari ibu kandung Vera sendiri sehingga sebenarnya Dina tidak ada hak untuk merasa iri.
''Susanto juga sikapnya sangat tidak sopan.'' Matteo mengeluarkan keluhan dia terhadap sang adik ipar.
''Apa yang dia lakukan kepada dirimu?'' Vera bertanya kepada sang suami.
''Kak, Ayo kita makan malam dulu!'' Dina berteriak karena pembantu mereka telah menyediakan makan malam.
''Iya.'' Vera segera bangkit mengajak Matteo.
''Aku rasa dia sangat terbebani dengan keberadaan kita di dalam rumah ini.'' Mateo berbisik kepada Vera.
Vera menggeleng karena dia tidak mau bila Meteo berburuk sangka kepada sang adik terus-menerus seperti itu karena nanti yang ada hubungan mereka justru akan semakin renggang, meski dia sendiri menyadari ada yang tidak beres dengan rumah ini namun tetap saja Vera bersikap biasa setelah tadi melihat respon Dina yang seperti itu.
''Mari kita makan malam dengan bahagia.'' Susanto Berkata sambil tersenyum kepada mereka.
''Terima kasih atas jamuan yang telah kalian berikan kepada kami.'' Matteo berusaha untuk tetap tersenyum.
''Eh tapi kalau gigolo sering mendapat Pelayanan seperti ini kan ya?'' Susanto menatap Matteo seolah tidak bersalah.
Tangan Mateo terkepal erat ketika Susanto mengungkit masa lalu yang telah dia kubur begitu jauh, memang dirinya adalah seorang gigolo di masa lalu namun bukan berarti Bisa sesuka hati Susanto mengatakan hal seperti itu di depan semua orang dan seolah tidak ada menghargai mereka walau hanya sedikit saja.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita author ya.
knp Bu Yuni asal tuduh aja padahal ga ada bukti😒 jln satu2nya datangkan purnama sang ratu ular👍