Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : PENYATUAN DUA JIWA DAN RUNTUHNYA TIRANI
Lembah Shrouded belum pernah menyaksikan malam atau fajar yang semengerikan ini. Udara pagi yang biasanya sedingin es kini mendadak bergolak, terasa sangat gerah dan pekat oleh aroma karat besi bercampur anyir darah yang menusuk hidung. Di tengah halaman rumah Mayang yang kini telah berubah menjadi medan penghakiman, lingkaran segel sihir terlarang milik Tetua Gidion kian melebar dengan cepat. Cairan merah menyerupai darah murni terus merembes dari sela-sela tanah berlumpur, berputar membentuk sulur-sulur mengerikan yang mengunci pergerakan setiap orang yang berada di dalam radiusnya.
Penduduk desa yang berada di garis depan mulai menjerit histeris ketika menyadari kaki mereka seolah terpaku ke dalam tanah, tidak bisa digerakkan sama sekali karena daya hisap magis dari sihir pengorbanan tersebut. Mereka yang semula datang dengan amarah untuk menuntut keadilan, kini hanya bisa meratap pasrah, menyadari bahwa pemimpin yang selama ini mereka hormati dengan buta ternyata siap menumbalkan nyawa mereka demi sebuah ego yang terluka.
"Kalian semua akan menjadi pupuk bagi tanah lembah ini!" teriak Tetua Gidion dengan suara yang tidak lagi terdengar seperti manusia biasa, melainkan perpaduan getaran gaib yang melengking tinggi. Kedua matanya kini telah berubah menjadi putih sempurna tanpa kornea, sementara urat-urat hitam di wajah tuanya kian menjalar hingga ke leher, menandakan bahwa sihir hitam terlarang itu sedang mengikis habis silsilah energi kehidupan yang tersisa di dalam raga tuanya.
Dion berdiri kokoh di baris paling depan beranda rumah, dengan kedua kaki yang ditekuk rendah untuk menahan tekanan angin gaib yang terus menerpa tubuhnya. Rompi leather hitamnya berkibar kasar, dan luka sayat di telapak tangan kirinya yang sempat dibalut oleh Mayang kembali mengeluarkan pendaran asap perak yang pekat. Dion tahu, jika lingkaran segel itu sampai menyempit dan meledak, radius kehancurannya tidak hanya akan meratakan rumah Mayang, melainkan sepertiga dari wilayah desa ini akan musnah menjadi abu kelabu dalam sekejap mata.
"Mayang! Bawa ibumu masuk ke bagian paling dalam rumah sekarang juga!" seru Dion tanpa menoleh, suaranya baritonnya beradu dengan gemuruh angin merah yang kian bising.
Namun, alih-alih menuruti perintah tersebut, Mayang justru melangkah maju dengan pasti. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai kayu beranda, meninggalkan ibunya yang terduduk aman di balik pilar rumah. Jubah beludru merah tuanya berkibar mesra bersentuhan dengan pakaian kulit Dion saat ia berdiri tepat di samping pria misterius yang telah menjerat seluruh hatinya sejak malam tadi.
"Aku tidak akan pergi, Dion," ujar Mayang, suaranya tidak lagi bergetar oleh rasa takut, melainkan dipenuhi oleh keteguhan jiwa yang murni. Sepasang matanya yang jernih menatap lurus ke arah badai merah di depan mereka. "Semalam kau sudah mempertaruhkan nyawamu untuk melindungiku dari The Stalker. Dan hari ini, ibuku telah sembuh karena pengorbananmu. Jika kita harus menghadapi kehancuran ini, maka aku akan menghadapinya bersamamu. Kekuatan cahayaku... aku tahu kekuatan ini bangkit untuk sebuah alasan."
Dion menoleh sejenak, menatap wajah cantik Mayang yang kini diterangi oleh pendaran cahaya keemasan yang mulai kembali merembes dari sela-sela pori-pori kulitnya yang seputih susu. Ada kilasan rasa kagum, cinta, dan hasrat protektif yang mendalam berkecamuk di dalam dada bidang Dion. Pria itu mengulum senyum tipis yang sarat akan makna emosional, sebuah senyuman yang seolah menegaskan bahwa seluruh pencariannya selama ratusan tahun sebagai keturunan klan kabut yang terasing telah berakhir pada sosok gadis di sampingnya ini.
"Baiklah, Cantik," bisik Dion dengan nada rendah yang begitu seksi di tengah gemuruh badai. Ia mengulurkan tangan kanannya, membuka telapak tangannya yang besar ke arah Mayang. "Kalau begitu, mari kita selesaikan kegilaan orang tua ini bersama-sama. Satukan tanganmu dengan tanganku."
Tanpa ragu sedikit pun, Mayang menyambut uluran tangan tersebut. Jemari lentiknya yang halus menyusup di antara sela-sela jari Dion yang besar, kasar, dan hangat. Begitu kedua telapak tangan mereka bertautan erat, sebuah sensasi magis yang luar biasa masif seketika meledak di dalam sistem aliran darah mereka. Itu adalah sebuah harmoni yang sempurna—perpaduan antara energi elemental kabut perak milik Dion yang dingin dan menuntut, dengan energi cahaya keemasan fajar milik Mayang yang hangat, murni, dan menyembuhkan.
Penyatuan dua kutub energi yang berbeda itu menciptakan sebuah pilar cahaya baru yang luar biasa megah. Asap perak dan pendaran emas berputar-putar melingkari tubuh mereka berdua, naik membubung tinggi ke langit subuh seolah ingin menembus pekatnya awan kabut yang mengurung Lembah Shrouded selama dua abad lamanya. Suhu udara di sekeliling beranda rumah Mayang yang semula membakar mendadak berubah menjadi sangat sejuk dan menenangkan, memberikan pasokan oksigen baru bagi warga desa yang sempat sesak napas.
"Sihir apa lagi ini?!" teriak Tetua Gidion, matanya yang putih melotot tidak percaya melihat bagaimana lingkaran segel darahnya yang masif perlahan-lahan mulai retak dan terkikis setiap kali energi perak-emas dari Dion dan Mayang menyentuh tanah. "Tidak mungkin! Manusia biasa tidak akan bisa bersanding dengan darah klan kabut sesat!"
"Ini bukan sihir sesat, Gidion!" seru Dion, suaranya bergaung tinggi menggetarkan seluruh halaman. "Ini adalah akhir dari kebohonganmu, dan awal dari pembersihan lembah ini!"
Dion dan Mayang secara bersamaan mengangkat tautan tangan mereka ke depan, mengarahkannya tepat ke arah tongkat berkepala tengkorak milik Gidion yang menjadi pusat dari seluruh bencana magis tersebut. Dengan satu tarikan napas yang serempak, mereka melepaskan seluruh gelombang energi penyatuan jiwa mereka.
"Lux Nebulae!" geram mereka bersamaan.
Sebuah gelombang cahaya berbentuk pusaran naga kembar berwarna perak dan emas meluncur deras membelah halaman rumah, memotong sulur-sulur darah magis di tanah seperti pisau panas yang memotong mentega. Kecepatannya begitu luar biasa hingga Tetua Gidion tidak memiliki waktu sedikit pun untuk merapalkan mantra pertahanan baru.
BLAAAARRRRRRR!
Benturan dahsyat itu menciptakan ledakan cahaya putih yang luar biasa menyilaukan, membuat seluruh penduduk desa terpaksa menutup mata mereka erat-erat menggunakan lengan. Suara hancurnya energi hitam kedengaran menyerupai jeritan ribuan jiwa yang akhirnya terbebas dari belenggu kutukan masa lalu. Tongkat kayu berkepala tengkorak di tangan Gidion seketika hancur berkeping-keping menjadi serpihan abu kelabu, memutus seluruh suplai sihir pengorbanan darah secara instan.
Ketika cahaya menyilaukan itu perlahan-lahan memudar dari pandangan, suasana di halaman rumah berubah menjadi sangat sunyi dan damai. Lingkaran segel darah yang mengerikan telah lenyap tanpa bekas, menyisakan tanah permukaan yang kini justru ditumbuhi oleh rumput-rumput hijau kecil yang segar. Tetua Gidion tergeletak diam di atas tanah berlumpur, tubuh tuanya kini tampak sangat rapuh tanpa sisa energi magis sedikit pun—pria tua itu masih bernapas, namun seluruh kekuatan dan silsilah kelicikannya telah musnah sepenuhnya.
Namun, keajaiban terbesar tidak berhenti di situ. Seluruh penduduk desa serentak mendongak ke atas langit dengan air mata yang mengalir di pipi mereka. Untuk pertama kalinya dalam sejarah dua ratus tahun sejak Lembah Shrouded dikutuk, kabut kelabu keperakan yang tebal di langit perlahan-lahan mulai terbelah. Sinar matahari pagi yang asli, yang berwarna kuning keemasan hangat dan benderang, menembus masuk menerangi setiap sudut desa, mengusir segala hawa dingin dan kegelapan yang selama ini memenjarakan jiwa mereka. Tirani para tetua telah runtuh, dan kedamaian yang sejati akhirnya kembali pulang ke lembah tersebut.