NovelToon NovelToon
Ternyata Dia Masih Ada

Ternyata Dia Masih Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Auliya Wulandari

Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana Hangat di Kediaman Duan

“Ah, Kakak Sepupu Ketiga, halo!” seru A Mao dengan suara lantang namun tetap menjaga kesopanan.

“Kakak Sepupu Ketiga, selamat datang kembali!” sambut Fu Fu segera, wajahnya berseri-seri penuh senyum lebar sebelum ia berlari kecil mendekat dan masuk ke dalam pelukan hangat Yanfei.

Menyambut kedatangan kedua anak kecil itu, Yanfei tersenyum lembut, matanya memancarkan kehangatan yang telah lama terpendam. Ia mengelus kepala dan punggung kedua cucu sepupunya itu dengan penuh kasih sayang, seolah ingin menebus semua waktu yang terlewatkan selama bertahun-tahun terpisah.

“Adik Kelima dan Adik Keenam, maaf ya, Kakak baru saja pulang dari perjalanan jauh dan belum sempat menyiapkan banyak barang. Sepertinya hari ini Kakak belum membawa apa-apa,” ucapnya dengan nada bercanda namun lembut, lalu melanjutkan, “Tapi bagaimana kalau nanti, setelah kita duduk dan mengobrol sebentar, kita pergi bersama ke Halaman Yongning? Di sana sudah ada sesuatu yang Kakak siapkan khusus sebagai hadiah pertemuan kita.”

Meski berkata seolah tidak membawa apa-apa, kedua tangannya perlahan menjulurkan dua buah boneka kecil yang terbuat dari kain sutra halus dan dihias dengan benang berwarna-warni yang indah. Boneka itu tersembunyi rapi di balik lipatan lengan bajunya sejak tadi, dibuat sendiri oleh Yanfei selama ia tinggal jauh di lembah pengobatan. Bentuknya unik, berbeda dari mainan yang biasa dijual di pasar ibu kota, dan terlihat sangat lembut saat disentuh.

“Wah, ada boneka yang cantik sekali!” seru Fu Fu dengan mata berbinar-binar tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.

“Terima kasih banyak, Kakak Sepupu!” tambah A Mao dengan suara riang, segera menerima boneka itu dengan kedua tangannya.

“Fu Fu sangat menyukai hadiah ini, akan ia simpan di samping bantal tidur setiap malam!” kata gadis kecil itu sambil memeluk erat bonekanya ke dada, sedangkan A Mao memutar-mutar mainannya dengan wajah penuh kegembiraan. Keduanya melompat-lompat kecil di tempat, membuat suasana ruangan menjadi lebih hidup dan ceria.

Melihat pemandangan hangat dan menyenangkan itu, hati Nyonya Tua terasa dipenuhi kebahagiaan yang meluap-luap. Inilah gambaran yang menjadi impian setiap ibu dan nenek di dunia: melihat anggota keluarga berkumpul dengan damai, saling menyayangi tanpa ada rasa iri hati, persaingan yang tidak sehat, atau niat buruk satu sama lain.

Ia sangat sadar betul bahwa di luar sana, di antara keluarga-keluarga bangsawan lainnya, pemandangan seperti ini sangat jarang ditemukan. Banyak keluarga besar yang justru menjadi tempat perselisihan yang tak berkesudahan. Ada yang saling menjatuhkan demi memperebutkan harta warisan atau kedudukan, persaingan ketat antara saudara kandung yang memicu permusuhan, bahkan di antara sepupu sekalipun sering terjadi sikap saling menusuk dari belakang, menyebarkan gosip buruk, atau mempermalukan satu sama lain hanya demi keuntungan diri sendiri.

Namun, di keluarganya, hal-hal itu tidak pernah ada. Nyonya Tua merasa sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas anugerah yang diberikan kepada keluarganya. Ia menengadah sedikit, menatap langit-langit kamar yang diterangi cahaya matahari pagi, seolah sedang berbicara dengan suaminya yang telah mendahuluinya pergi ke alam baka.

“Duan Tua, lihatlah cucu-cucu kita ini. Mereka begitu menggemaskan, rukun, dan saling menyayangi. Kamu pasti juga merasa senang melihatnya dari atas sana,” gumamnya pelan dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.

Tak lama kemudian, ia menoleh ke arah pelayan yang berdiri rapi di dekat pintu dan memberi perintah dengan nada yang jauh lebih bersemangat dari biasanya. “Segera siapkan hidangan sarapan yang lengkap dan lezat. Cucuku-cucuku ini datang khusus untuk menemaniku hari ini, dan pastinya mereka semua sudah bangun sejak pagi buta serta belum sempat makan dengan tenang. Siapkan juga teh hangat dan kue-kue kesukaan mereka.”

“Baik, Nyonya. Segera hamba laksanakan dengan baik,” jawab pelayan itu dengan nada hormat, lalu segera bergegas keluar untuk melaksanakan perintah.

Memang, Nyonya Tua merasa sangat gembira dan segar kembali sejak mendengar kabar kedatangan Yanfei. Sebelumnya, suasana di kediaman ini memang terasa cukup ramai dengan berbagai aktivitas dan suara anak-anak bermain, namun ada kekosongan yang tak tergantikan. Saat Yanfei masih kecil, ia dikenal sebagai gadis yang sangat lincah, berani, cukup nakal, dan sering membuat keributan kecil yang justru membuat rumah ini terasa hidup dan penuh warna. Namun setelah ia pergi meninggalkan ibu kota selama tujuh tahun lebih untuk berobat dan menenangkan hati, meski suara dan kegiatan tetap berjalan seperti biasa, kediaman ini terasa kehilangan kehangatan itu dan menjadi jauh lebih sunyi dari biasanya.

Sejak Yanfei melangkah masuk ke kamarnya tadi pagi, senyum lebar tak pernah lepas dari wajah Nyonya Tua. Ia merasa puas dan hatinya terasa tenang, seolah beban berat yang selama ini dipikulnya perlahan terangkat dan terasa jauh lebih ringan.

Ia memandang wajah cucunya dengan pandangan yang dalam dan penuh perhatian. Dua cucu perempuannya yang lebih tua sudah menikah dan menentukan jalan hidupnya masing-masing, menjalani takdir di rumah tangga baru bersama suami mereka. Namun nasib cucu ketiganya ini terasa berbeda dan membutuhkan perhatian lebih. Selain harus pergi jauh meninggalkan rumah karena sakit yang parah dan kesedihan yang mendalam, kini usianya pun sudah menginjak dua puluh dua tahun.

Di masa itu, usia terbaik bagi seorang wanita untuk menikah dan membangun rumah tangga terbilang sangat singkat. Semakin bertambah usia, pilihan keluarga yang cocok dan baik pun semakin menyempit. Melihat keadaan ini, Nyonya Tua hanya bisa berjanji dalam hatinya dengan teguh: selama ia masih memiliki tenaga dan bernapas, keluarga Duan akan selalu menjaga, melindungi, dan mendukung Yanfei sepenuhnya, agar cucunya itu tidak merasa tertekan dan bisa hidup tenang serta bahagia sampai akhir hayatnya.

Melihat neneknya yang tiba-tiba terdiam dan memandang ke arahnya dengan tatapan yang penuh perasaan, Yanfei segera bertanya dengan nada lembut namun sedikit cemas. “Nenek, mengapa tiba-tiba termenung begitu? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran nenek, atau apakah tubuh nenek terasa tidak nyaman dan sakit di bagian mana pun?”

Nyonya Tua segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu tersenyum hangat dan menepuk punggung tangan cucunya itu dengan lembut untuk menenangkannya. “Tidak, tidak ada apa-apa, Fei Fei. Jangan khawatirkan nenek. Hanya saja, ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu. Dalam waktu dekat ini, tepatnya tiga hari lagi, akan diadakan Jamuan Menyambut Bunga di kediaman keluarga Wei. Bagaimana menurutmu, apakah kau bersedia ikut serta menghadiri acara itu bersama anggota keluarga yang lain?”

Ia lalu menjelaskan lebih rinci agar Yanfei lebih memahami pentingnya acara tersebut. “Setiap tahun, menjelang musim dingin tiba, keluarga Wei selalu mengadakan acara seperti ini. Bunga-bunga yang tumbuh di taman khusus mereka sangat unik dan istimewa, bahkan bisa dikatakan langka di seluruh wilayah kerajaan kita. Tanaman itu mampu tumbuh subur, hijau, dan segar meski saat musim panas yang panjang dan terik sekalipun, yang membuatnya menjadi daya tarik tersendiri bagi seluruh kalangan bangsawan dan pejabat tinggi di ibu kota.”

Pemandangan yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang adalah saat bunga plum mulai mekar dengan indah menghiasi seluruh halaman kediaman keluarga Wei tepat saat musim dingin akan tiba. Di saat semua pohon di luar sana mulai menggugurkan daunnya, terlihat gundul, dan terasa dingin membeku, justru pohon plum di sana memamerkan keindahannya dengan kelopak bunga yang bermekaran sempurna, berwarna putih bersih atau merah lembut, dan mengeluarkan aroma yang harum menenangkan.

Bunga jenis ini jelas bukan varietas yang biasa tumbuh secara alami di wilayah kerajaan ini. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, Kepala Keluarga Wei melakukan perjalanan dinas yang sangat jauh ke luar negeri dan membawa pulang banyak bibit tanaman langka dari daerah yang memiliki iklim dan kondisi tanah yang berbeda. Nyonya Wei yang sangat menyukai dunia tanaman dan bunga-bunga kemudian merawatnya dengan penuh perhatian, bahkan membangun taman khusus yang diatur sedemikian rupa agar suhu, kelembapan, dan sinar matahari tetap terjaga sepanjang waktu. Sejak saat itu, bunga-bunga itu tumbuh subur dan bermekaran dengan keindahan yang memukau setiap tahunnya, hingga acara ini menjadi salah satu pertemuan sosial yang paling ditunggu-tunggu dan bergengsi di ibu kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!