Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
T-Thorton? Yang Mulia..?
"Seperti itu, Yang Mulia."
Raja Arthur memijit pelipisnya, kepalanya terasa berat. Bukan karena sakit kepala, melainkan akibat informasi yang baru saja ia dengar dari Zen. Kenyataan mengenai asal-usul belati milik anak panti asuhan Esmeralda, keterlibatan jaringan pasar gelap di benua Ergarth, hingga fakta bahwa konspirasi ini tidak hanya digerakkan oleh perorangan tetapi juga melibatkan pihak-pihak dari kerajaan lain, semua ini benar-benar menguras isi pikirannya.
Namun, di tengah kepenatan itu, sang penguasa Castlewood tetap mengangguk pelan. Segaris senyum puas terukir tipis di wajah paruh bayanya, "Terima kasih atas informasi yang kau dapatkan, Zen. Kau memang selalu dapat kuandalkan."
Ia mengulurkan tangan mengambil belati tersebut yang tergeletak di atas meja kerja di hadapannya. Ditimangnya logam hitam kelam itu sejenak.
"Sekaligus aku juga harus meminta maaf karena lagi dan lagi telah merepotkanmu," lanjut sang Raja, suaranya kini merendah diselimuti rasa bersalah. "Kau terus bekerja ekstra belakangan ini. Bukan hanya kuperintah mencari informasi mengenai belati ini di Distrik Bawah hingga kau tidak pulang semalaman, tetapi kau juga masih harus direpotkan oleh tingkah laku putriku. Jika bukan karena ketanggapanmu, aku tidak tahu nasib buruk apa yang akan menimpa Cassia di luar sana."
"Itu sudah menjadi kewajiban hamba, Yang Mulia," sahut Zen dengan wajah datarnya. "Melindungi keselamatan keluarga kerajaan adalah sumpah yang hamba bawa sejak menjadi ksatria Castlewood.
Sang Raja kembali mengukir senyum tipis ketika mendengar ucapan Zen. Ada rasa lega sekaligus bangga yang tebersit di wajah tuanya. Ia tahu betul betapa besarnya kesetiaan pria di hadapannya ini. Sebuah loyalitas tanpa pamrih yang selalu terbukti lewat kesungguhan Zen dalam menuntaskan setiap misi sesulit apa pun.
"Namun, tampaknya aku harus kembali meminta maaf kepadamu, Zen... karena waktu istirahatmu harus terpangkas lagi." Raja Arthur memajukan tubuhnya, menatap ksatria kepercayaannya itu lekat-lekat dengan sorot mata yang mendadak berubah serius.
"Informasi yang kau bawa dari pandai besi tua itu terlalu berharga untuk diabaikan. Jika belati ini benar-benar berasal dari Thorton, maka benang merah konspirasi ini jauh lebih besar dari yang kita duga. Karena itu, aku ingin kau kembali menjalani misi rahasia." Sang Raja menjeda ucapannya cukup lama. Arthur tampak ragu untuk melanjutkannya. "Pergilah ke Thorton, Zen. Selidiki pasar gelap mereka dan cari tahu siapa pengrajin yang menempa benda ini. Namun yang terpenting, cari tahu siapa bangsawan atau pihak yang memesan persenjataan dari baja Voltherium ini. Kita harus menggali informasi sedalam mungkin agar dalang di balik rencana pembunuhan Cassia bisa segera kita temukan sebelum terlambat."
Degh...!! Zen membeku.
"T-Thorton, Yang Mulia?" ulang Zen, suaranya tercekat.
Sepasang mata biru sang ksatria yang sedari tadi sedingin es kini melebar, memancarkan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. Seluruh otot di tubuh Zen seketika menegang kaku. Sorot matanya terpaku lurus pada sang Raja, namun tatapannya mendadak kosong. Jemari yang tersembunyi di balik jubah hitamnya otomatis mengepal begitu rapat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gemetar hebat yang tiba-tiba menyerang batinnya.
Raja Arthur yang menyadari perubahan ekspresi Zen langsung bangkit dari kursi kebesarannya. Dengan langkah pelan, sang penguasa berjalan memutari meja kerjanya, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap lembut pundak Zen yang masih berdiri kaku seperti batu. Sentuhan hangat itu bukan lagi perlakuan seorang raja kepada bawahannya, melainkan seperti seorang ayah kepada anak yang sedang diselimuti masalah pelik.
Sang Raja memang sudah menduga reaksi seperti itu akan keluar dari Zen. Oleh sebab itu, ia sempat ragu untuk memberikan misi tersebut. Bagi Zen, Thorton bukan lagi sekadar nama sebuah kerajaan, melainkan sumber trauma yang terus menghantuinya hingga hari ini. Jauh sebelum Zen mengenakan zirah ksatria elit Castlewood, Raja Arthur-lah yang telah menyelamatkan hidup pria itu dari sebuah tragedi berdarah yang memilukan di tanah terkutuk tersebut.
Raja masih ingat dengan jelas kilasan memori kelam lima belas tahun silam dalam benaknya. Saat itu, di bawah langit Thorton yang diselimuti kepulan asap pekat, Arthur menemukan Zen kecil tergeletak tak berdaya di atas genangan darah yang tercecer di atas tanah, tepat di depan sebuah kastil tua yang hangus terbakar dan menyisakan puing-puing membara. Tak jauh dari tempat Zen terkapar, terbujur kaku jenazah seorang wanita yang bersimbah darah dengan luka tusukan pedang di sekujur tubuhnya.
Arthur yang menyadari bocah itu masih hidup segera mengangkat tubuh ringkih Zen dan menyerahkannya ke barisan pengawal. Hanya berselang beberapa menit setelahnya, saat menyisir area pedesaan yang tidak jauh dari lokasi penemuan Zen, perhatian sang raja teralih pada sebuah gerobak jerami yang setengah hancur.
Di bawah kolong gerobak tersebut, ia menemukan Amanda kecil sedang meringkuk dengan tubuh gemetar hebat. Pakaiannya robek di beberapa bagian, menyisakan kulit pucat yang dipenuhi debu dan luka-luka lebam. Anak perempuan itu tidak merespons kedatangan Arthur saat itu. Tatapannya terpaku kosong, seolah baru saja mengalami kejadian yang teramat mengerikan. Namun, yang membuat jantung sang penguasa Castlewood itu mencelos adalah sebaris guratan darah segar yang mengalir lambat di antara kedua paha bocah perempuan tersebut. Sebuah bukti bisu dari kengerian tragedi memilukan yang baru saja merenggut paksa masa kecilnya.
Didorong rasa iba dan ketidaktegaan yang mendalam, sang Raja membawa kedua bocah malang tersebut pulang ke Castlewood. Arthur tidak sekadar memberi mereka tempat bernaung, ia membesarkan keduanya dengan tangannya sendiri, menempa mereka dengan latihan bela diri ala militer yang keras hingga kini tumbuh menjadi pilar-pilar penting pelindung Castlewood.
Sentuhan hangat di pundak Zen perlahan menarik kembali kesadaran pria itu. Raja Arthur menatap manik mata Zen dengan sorot penuh simpati yang mendalam.
"Aku mengerti tempat itu membuatmu sangat terluka," ucap Raja Arthur, suaranya melunak, sarat akan penyesalan karena harus membuka kembali luka lama yang telah Zen kunci rapat-rapat. "Aku tahu ingatan tentang malam itu tidak akan pernah bisa hilang dari kepalamu. Jika ada ksatria lain yang memiliki kualitas setara denganmu untuk misi ini, aku bersumpah demi mahkotaku, Zen... aku tidak akan pernah memintamu kembali ke tanah terkutuk itu."
Raja Arthur menjeda kalimatnya, meremas pelan pundak Zen, seolah ingin menyalurkan dukungan yang selama ini selalu ia berikan kepada ksatria itu.
"Namun, situasi kita sudah terdesak. Hanya kau satu-satunya ksatria yang cukup mampu menjalankan misi ini tanpa menimbulkan kecurigaan. Thorton menyimpan jawaban atas nyawa Cassia saat ini. Aku membutuhkanmu di sana... bukan sebagai bocah sepuluh tahun yang tak berdaya malam itu, melainkan sebagai ksatria terbaik yang dimiliki kerajaan ini."
Zen menarik napas panjang, lalu perlahan menundukkan kepalanya penuh hormat di hadapan sang Raja.
"Hamba mengerti, Yang Mulia," jawab Zen. Suaranya kini telah kembali datar, dingin, dan tanpa ekspresi. "Hamba akan berangkat ke Thorton besok sebelum matahari terbit."
"Bawalah Amanda untuk menemanimu."
Refleks, kepala Zen yang semula menunduk langsung tersentak tegak. Sepasang manik birunya menatap Raja Arthur dengan sorot mata yang sulit diartikan, sementara kedua alisnya bertaut di bawah dahinya yang berkerut.
"Yang Mulia... dengan segala hormat," Zen menjeda, mengatur keberaniannya untuk sedikit memprotes keputusan sang Raja. "Hamba bisa menyelesaikan misi ini seorang diri. Mengikutsertakan Amanda hanya akan—"
Pria itu kehilangan suaranya. Lidahnya mendadak kelu, tidak tahu harus mencari alasan apa lagi untuk membenarkan ketidaksetujuannya di hadapan Raja Arthur.
Sang Raja menatap Zen lekat-lekat, seolah mampu membaca seluruh keberatan yang gagal diucapkan oleh ksatria kepercayaannya itu.
"Kau meremehkan Amanda? Atau... mengkhawatirkannya?"
Zen mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Pertanyaan itu mengunci seluruh argumennya. Menyadari bahwa membantah titah tertinggi hanya akan membuatnya terlihat lemah, Zen akhirnya memilih untuk menurut.
"Baik, Yang Mulia. Hamba akan mengajak Amanda," jawab Zen akhirnya.
"Amanda adalah salah satu ksatria elit terbaik yang dimiliki Castlewood. Dan kau sendiri tahu betul seberapa tangguhnya ia," ucap Raja Arthur dengan nada yang lebih tenang.
"Kau telah melewati banyak medan pertempuran bersamanya, Zen. Jadi kau tahu betul Amanda bukanlah wanita yang bisa dipandang lemah. Ia adalah ksatria hebat yang telah berkali-kali mempertaruhkan nyawanya demi kerajaan ini," lanjut sang Raja pelan. Sorot matanya kemudian mengeras penuh makna. "Dan saat di Thorton nanti... kau membutuhkan seseorang yang memahami dirimu lebih dari siapa pun."
Raja Arthur menghela napas panjang, lalu berjalan kembali menuju kursi kebesarannya. "Beristirahatlah terlebih dahulu, Zen. Persiapkan diri kalian dengan matang, karena perjalanan menuju Thorton akan memakan waktu tujuh hari."
...***************************************...
Wangi teh premium khas Sylvannor langsung menyebar luas ketika Lord Alaric de Silvestere menyeruputnya. Aroma pahit teh itu berpadu dengan bau kayu cedar yang terbakar di perapian.
Selesai menyesap tehnya, pria paruh baya itu meletakkan cangkir porselennya. Sembari tetap duduk, ia sedikit memutar tubuh ke samping dan mengulurkan tangan untuk mengambil sebuah gulungan dokumen yang terselip di antara deretan buku teori ekonomi yang berjejer rapi pada rak mahoni di dinding ruangan tersebut.
"Laporan kuartal ketiga untuk jalur dagang sektor barat di distrik bawah," ujar Silvestere tenang, jemarinya yang mulai berkerut perlahan membuka ikatan tali pada gulungan dokumen tersebut. Tatapannya beralih pada Pangeran Damian yang sejak tadi berdiri di dekat jendela, mengawasinya dengan sorot mata penuh kecurigaan. "Jika Anda kemari untuk mempertanyakan kelangkaan gandum di wilayah tersebut, sepertinya Anda salah alamat, Pangeran. Angka-angka di dalam sini punya penjelasan yang jauh lebih masuk akal daripada sekadar kecurigaan Anda."
Damian tidak bergeming. Sepasang matanya menyipit, menatap dingin bangsawan paruh baya di hadapannya.
"Aku mendengar langsung keluhan rakyat di Distrik bawah yang kelaparan karena harga gandum melonjak berkali-kali lipat, Lord Silvestere," suara Damian terdengar berat, menahan geram. "Dan aku tahu itu bukan karena gagal panen. Kau sengaja menahan pasokan dan menimbunnya di gudang-gudang pribadimu. Kelalaian yang tak bisa dimaafkan."
Alih-alih tersinggung, Silvestere justru terkekeh pelan setelah mendengar tuduhan itu, hampir seperti seorang ayah yang sedang memaklumi kemarahan anaknya. Ia meletakkan gulungan dokumen itu ke atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang empuk.
"Kelalaian?" Silvestere mengulang kata itu dengan nada geli yang samar. "Tuduhan yang sangat berat, Pangeran. Namun, saya khawatir Anda melihat masalah ini dari sudut pandang yang keliru. Saya menahan stok gandum itu bukan karena lalai, melainkan untuk menyelamatkan kas kerajaan dari kebijakan luar negeri... yang sayangnya, terlalu longgar."
Silvestere menjeda kalimatnya, sengaja memberikan waktu agar Damian memberikan argumen balasan. Namun, Sang Pangeran tetap bungkam, seolah masih ingin mendengar sejauh mana sang bangsawan senior itu akan berkelit.
"Kita semua tahu bagaimana Yang Mulia Raja Arthur memimpin belakangan ini. Kebijakannya yang defensif dan terlalu mengutamakan kedamaian semu membuat kerajaan tetangga seperti Sylvannor dan Osborn kian bebas mendikte tarif dagang kita," ujar Silvestere, nadanya tenang namun menusuk.
Ia menjeda kalimatnya sejenak, menatap Damian lurus-lurus. "Jika pasokan gandum di gudang saya dilepas begitu saja ke pasar lokal saat ini, banjir komoditas akan membuat harganya anjlok. Para pedagang asing akan memborongnya dengan harga murah, lalu menjualnya kembali ke luar perbatasan demi keuntungan mereka sendiri. Itu sama saja membiarkan kemakmuran Castlewood dijarah secara legal, dan meninggalkan kita tanpa cadangan logistik jika situasi genting atau perang tiba-tiba pecah."
Pria paruh baya itu mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja dengan tatapan yang kini berubah menjadi penuh keprihatinan yang dibuat-buat dengan sangat sempurna.
"Saya menimbun pangan ini juga sebagai antisipasi karena situasi di dalam dinding istana sendiri kian tidak aman. Kabar tentang rencana penusukan Putri Cassia di panti asuhan Esmeralda tempo hari... sudah mulai tercium oleh Parlemen, Pangeran. Jadi katakan pada saya, apakah bertindak waspada demi mengamankan logistik kerajaan di tengah kepemimpinan yang mulai melemah ini bisa disebut sebagai sebuah kelalaian?"
Mendengar nama Cassia dan ayahnya disentil, rahang Damian perlahan mengeras. Namun, di balik kemarahan yang mulai membakar dadanya, sang Pangeran menyadari satu hal yang pahit, apa yang baru saja dikatakan oleh pria paruh baya di depannya itu tidak sepenuhnya salah. Kepemimpinan ayahnya memang terlalu melunak belakangan ini, dan ia tahu betul celah itulah yang kini dimanfaatkan oleh kerajaan tetangga, serta pihak-pihak yang tidak menyukai Raja Arthur.
"Rakyat yang perutnya kosong tidak peduli pada tarif dagang kerajaan ataupun kebijakanmu. Yang mereka tahu, perut mereka lapar hari ini. Dan jika paceklik pangan ini berlangsung lebih lama, mereka tidak akan menyalahkan Raja." Damian menelan ludahnya. "Melainkan mereka akan membakar habis kediaman mewahmu."
Damian menjeda kalimatnya sejenak. Ia menarik napas pendek melalui hidung, menata kembali ritme bicaranya agar kemarahan tidak sampai menguasai dirinya.
"Aku memberi waktu tiga hari, Lord Alaric de Silvestere. Keluarkan setengah dari pasokan gandummu ke pasar dengan harga normal, atau aku sendiri yang akan membawa pasukan ksatria elit untuk membuka paksa gerbang gudangmu atas nama keamanan domestik Castlewood."
Mendengar ancaman militer yang dilontarkan sang Pangeran, tidak membuat Silvestere gentar. Senyum keprihatinan di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan sebaris lengkungan miring yang tipis di sudut bibirnya.
"Ancaman yang cukup berani, Pangeran," sahut Silvestere tenang. Tak terlihat sedikit pun kepanikan di wajah pria paruh baya itu. Ia justru merapikan kembali gulungan dokumen di atas mejanya dengan gerakan santai, seolah ancaman pengerahan ksatria elit barusan hanyalah bagian dari negosiasi biasa.
"Menggunakan pasukan elit kerajaan untuk urusan perut rakyat kecil..." lanjutnya pelan, diiringi senyum tipis yang sulit diartikan. "Anda benar-benar mengingatkan saya pada belas kasih mendiang Ratu Esmeralda." Silvestere menjeda beberapa detik. "Melihat Anda, saya seperti melihat kembali idealisme Yang Mulia Raja Arthur saat beliau masih seusia dengan Anda."
Silvestere kemudian mengangkat pandangannya, menatap Damian lekat-lekat.
"Baiklah. Jika itu memang kehendak Anda, maka saya akan memastikan pasokan gandum tersebut mulai bergerak menuju Distrik Bawah besok pagi."