NovelToon NovelToon
Penyesalan Yang Terlambat

Penyesalan Yang Terlambat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:578
Nilai: 5
Nama Author: Amak Mpis

"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."

"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."

Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antri.

Satu minggu kemudian, Black sudah keluar dari rumah sakit, dia sekarang sedang duduk ditaman sendirian, Black sebenarnya sudah mulai masuk kerja tapi karena hari ini ada reservasi atas nama Melisa, dia memilih pergi ke taman, tapi nyatanya dia memang tidak bisa jauh dari mereka. 

Menjauh dari Melisa dia malah bertemu dengan sosok laki-laki yang dia sendiri tak ingin temui. 

‘Sama saja bohong gue kabur dari Melisa kalau akhirnya malah ketemu dia,’ batin Black sambil membetulkan posisi duduknya agar Bintang tak menyadari perut buncitnya. 

“Boleh gue duduk disini?”

“Silahkan, gue juga mau pergi udah males duduk disini.”

“Tunggu,” Cegah Bintang sambil memegang tangan Black yang sudah berdiri. 

“Gue mau ngomong sebentar sama lo.”

“Apalagi?” Tanya Black sambil kembali duduk dan menghempaskan tangan Bintang. 

“Gue gak akan menganggap lo Rain tapi jangan jauhi gue, anggap selayaknya lo itu Black, orang yang baru gue kenal, asal lo mau nganggep gue juga Bintang orang yang lo baru kenal bukan Bintang yang menyiksa Rain.”

“Sekarang lo tau kan kalau perbuatan lo dulu sama Rain berimbas sampai sekarang, bahkan gue orang yang tidak kenal kalian berdua saja sampai males deket sama lo karena meskipun hanya tahu sekilas gue tahu kalau sikap lo sama Rain sudah sangat kejam.”

“Iya gue tahu gue salah tapi jangan lo ikut menjauh dari gue juga, gue mau temenan sama lo.”

“Yakin lo mau temenan sama gue?”

“Iya gue yakin.”

Pikiran jahil muncul dipikiran Black. ‘Walau bagaimanapun anak ini juga anak dia meskipun gue belum ingat apapun tentang masa lalu gue, dia juga harus sedikit ikut merasakan susahnya dong,’ batin Black. 

“Hey, kok lo diam?” Tanya Bintang sambil melambaikan tangannya didepan muka Black yang sedikit tersenyum. 

“Eh iya, kalau lo mau jadi temen gue, gue mau lihat lo ngantri di resto itu,” Ucap Black sambil menunjuk salah satu restaurant yang ada di seberang  taman. 

“Ngantri di restoran itu? Panjang banget itu, bisa satu jam lebih. Gue telfonin yang punya aja ya biar kita bisa langsung masuk.”

“Gue maunya lo yang ngantri bukan ditelfonin yang punya.”

“panjang banget itu.”

“Kalau gak mau yaudah, silahkan lo pergi, gue masih bisa kok ngantri sendiri tapi jangan pernah lo muncul di hadapan gue.”

“Eh iya gue bakal ngantri buat lo tapi lo jangan jauhin gue, ok!”

“Iya, udah sana gue mau beli minum dulu.” Bintang pergi mengantri sambil sedikit ngedumel tapi tetap dia lakukan. 

“Panas banget astaga.”

Satu jam berlalu dan Black kini ikut nyempil di belakang Bintang karena antrian sudah tinggal 3 orang lagi.

“Kok lo ikut ngantri, udah sana lo duduk lagi biar gue yang ngantri, ini panas banget,” pinta Bintang sambil menutupi kepala Black dengan tangannya. 

‘Gue yakin lo gak pernah melakukan hal ini sama Rain, sakit ya Rain jadi lo dulu?’ batin Black sedikit sedih. 

“Apa lo pernah melakukan ini buat Rain?”

Bintang diam sekejap, pikirannya terbang ke masa lalu karena dulu bukannya dia yang mengantri untuk Rain melainkan Rain yang mengantri untuk Bintang. 

“Gue gak pernah mengantri buat Rain dan itu salah gue, andai dia disini gue mau ngantri buat dia.”

“Apa lo ngantri buat gue hanya karena muka gue mirip Rain dan lo mau menebus kesalahan lo?”

“Jujur iya, tapi gue tulus mau temenan sama lo juga,” Jawab Bintang sedikit panik. 

“Gak usah panik gitu, gue sudah Terima kalau muka gue emang mirip Rain dan lo mau menebus kesalahan lo sama dia lewat gue, tapi jangan anggap gue dia karena kita bukan orang yang sama.”

“Iya gak akan, gue juga akan mencoba menerima kalau lo itu Black bukan Rain.”

“Udah yuk maju udah giliran kita,” Ucap Black sambil menarik tangan Bintang, dia gak bisa membohongi dirinya ada sisi bahagia darinya saat bersama Bintang meski dia juga ingin sekali mengubur karakter Rain dulu. 

Setelah bisa masuk, Black memesan semua menu yang paling favorit di resto itu, tapi bukannya mencatat pelayan yang sedang melayani Black diam mematung, tergambar jelas kalau dia sedang bingung. 

“Kok gak dicatat mas?” Tanya Black yang ikut bingung. 

“Black, ganti ya menunya, kita semua masih mau hidup.” Sepenggal kalimat yang membuat Bintang semakin  bingung. 

“Ayolah gue pengen.”

“Black, gue mohon nyawa kita semua ada ditangan lo, gue mohon ganti menunya, ok!” Pinta pelayan itu sedikit cemas. 

“Memangnya kenapa kalau pesan menu itu, saya masih sanggup bayar kok?” Tanya Bintang. 

“Kamu tidak tahu,ini bukan masalah uang, Black alergi dengan seafood dan semua makanan favorit disini mengandung seafood.”

“Kalian saling kenal? Lalu siapa yang mengancam nyawa kalian?” pelayan itu melirik Black yang memandangnya dengan tatapan biasa menurut Bintang tapi tatapan membunuh menurut pelayan itu. 

“Gue tetep mau pesan menu itu, nanti dia yang makan,” Ucap Black sambil menatap Bintang. 

“Lo makan apa kalau semuanya gue yang makan?” 

“Lo kok gak protes?”

“Dulu gue slalu maksa Rain makan seafood padahal gue tahu dia alergi, gue hanya tak ingin melakukan hal yang sama lagi.”

Black tertegun, segitunya kah Bintang ingin menebus kesalahannya. 

“Gue nanti makan roti panggang aja, lo tapi yakin mau makan semua pesenan gue?”

“Iya yakin, udah lo pesen aja mau apa nanti gue yang makan.”

“Terima kasih.” Black kembali memesan menu favorit dan roti bakar, kali ini pelayan mencatat tanpa ragu lalu pergi ke belakang untuk menyiapkan pesanan Black. 

Setelah beberapa saat menunggu pesanan mereka datang dan mereka lanjut makan. ‘Meski lo melakukan ini buat menebus kesalahan lo sama gue di masa lalu, dengan gue yang sekarang menjadi orang yang berbeda, gue hargai usaha lo, dan Terima kasih sudah memenuhi ngidam anak kita,’ batin Black. 

“Black, lo kok gak makan?”

“Eh iya gue makan.” Black memakan roti panggang sambil terus menatap Bintang yang juga sibuk dengan makanannya. 

“Gue padahal sering makan masakan disini, tapi kenapa yang sekarang terasa lebih enak, ya?”

“Biasanya lo gak pernah antri ya?”

“Iya gak pernah, gue langsung masuk karena yang ngantri dulu Rain,” Jawab Bintang sedikit menunduk. 

“Masakan disini masih biasa cuma bedanya sekarang lo yang berusaha, lo sedang menikmati hasil usaha lo.”

“Mungkin ini juga yang dulu Rain rasakan ya?”

“Iya pasti, soalnya disini gak bisa reservasi seperti di resto Embun Pagi, jadi Rain juga merasakan apa yang lo rasakan sekarang.”

“Maafin aku, sayang,” Ucap Bintang dengan pandangan nanar. 

“Sudah gak usah disesali, Rain pasti paham. Eh udah selesaikan? Gue masih harus jemput Naren, harusnya dia sudah selesai lesnya.”

“Yasudah bentar gue bayar dulu biar gue antar habis ini, gue juga kangen sama Naren, seminggu gak ketemu sama dia.” Bintang memanggil pelayan untuk meminta bill dan membayarnya. Setelah selesai mereka keluar. 

Tanpa mereka sadar dari arah kiri ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mengarah pada mereka. 

“BLACK AWAS!”

BRUK. 

BERSAMBUNG. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!