NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Sang Mafia

Pernikahan Paksa Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia Seleb

Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang dari London

Pagi hari setelah badai di Pelabuhan Timur membawa atmosfer yang sama sekali baru di kamar utama mansion Barrett. Sinar matahari menembus gorden abu-abu tebal, memantulkan cahaya keemasan di atas sprei sutra hitam.

Elena terbangun dengan posisi tubuh yang sepenuhnya terkunci di dalam pelukan Nicholas. Pria itu masih tertidur lelap sesuatu yang sangat langka terjadi dengan lengan kirinya yang kekar melingkar posesif di pinggang Elena, sementara tangan kanannya yang terbalut perban putih bersih berada di atas bantal, tepat di samping kepala Elena.

Elena menahan napasnya, menatap wajah Nicholas dari jarak beberapa sentimeter. Tanpa topeng ketegangan dan kekejaman yang biasa ia pasang di depan bawahannya, wajah pria itu tampak luar biasa tampan sekaligus damai.

Guratan rahangnya yang tegas melunak, dan napasnya berembus teratur di atas pucuk kepala Elena.

Elena tersenyum tipis, sebuah perasaan hangat yang asing menggelitik dadanya. Dia perlahan menggerakkan jemarinya, mengusap helai rambut hitam Nicholas yang jatuh di dahinya dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan sang singa.

Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh kulit Nicholas, sepasang mata abu-abu itu langsung terbuka dengan cepat, menangkap basah apa yang sedang Elena lakukan.

"Kau suka dengan apa yang kau lihat, istriku?" suara Nicholas serak khas orang baru bangun tidur, namun terdengar sangat seksi dan penuh dengan nada menggoda yang belum pernah Elena dengar sebelumnya.

Wajah Elena seketika merona merah muda, senada dengan gaun rajut kasual yang sering digunakannya. Dia mencoba menarik kembali tangannya dan memalingkan wajah, namun Nicholas justru mempererat pelukannya, menarik tubuh Elena hingga dada mereka tidak menyisakan jarak sama sekali.

"Nicholas, lepaskan... ini sudah siang. Thomas pasti sudah menyiapkan sarapan di bawah," ucap Elena, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang berdegup kencang.

"Biarkan Thomas menunggu," gumam Nicholas pendek, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Elena, menghirup aroma manis buah-buahan yang kini menjadi candu barunya.

Pria itu memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang rahang Elena, membuat gadis itu kegelian sekaligus merinding oleh sensasi sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Setelah beberapa menit keintiman yang manis itu berlalu, mereka akhirnya turun ke ruang makan. Sikap Nicholas hari ini benar-benar membuat seisi rumah tertegun.

Thomas yang biasanya memasang wajah datar tanpa ekspresi, berkali-kali harus menaikkan alisnya ketika melihat Nicholas menarikkan kursi untuk Elena, mengambilkan sepotong roti panggang mentega untuk istrinya, dan bahkan mengusap sudut bibir Elena yang terkena noda selai stroberi dengan ibu jarinya yang kasar.

Namun, kedamaian yang baru saja mekar itu mendadak hancur berantakan ketika Christian melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan wajah yang sangat pucat. Tangan kanannya memegang sebuah ponsel enkripsi khusus, dan matanya terus tertuju pada Nicholas dengan tatapan yang sarat akan urgensi tinggi.

"Tuan Barrett... kita punya situasi darurat," ucap Christian, suaranya bergetar halus meskipun dia sudah mencoba mengontrolnya di depan Elena.

Nicholas meletakkan cangkir kopi hitamnya dengan perlahan ke atas meja. Denting pualam yang beradu dengan kayu hitam itu seketika mengembalikan aura dingin dan dominan pria itu.

"Ada apa, Christian? Jika ini soal Moreno, bukankah aku sudah menyuruhmu meratakan sisa bisnisnya di pelabuhan?"

"Bukan soal Moreno, Tuan" Christian melirik Elena sekilas sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Ini dari agen kita di London. Alana Vance... dia baru saja mendarat di Bandara New York satu jam yang lalu. Dan dia tidak sendirian. Dia bersama Arthur Vance."

*Prang!*

Gelas berisi jus jeruk di tangan Elena tergelincir, tumpah membasahi permukaan meja marmer yang bersih. Wajah Elena seketika memucat, kehilangan seluruh pasokan darahnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia merasa sesak napas.

*Alana kembali? Kenapa dia kembali setelah melarikan diri ke London?*

Nicholas tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Mata abu-abunya menyipit tajam, memancarkan kilatan kalkulatif yang dingin. Dia memberikan isyarat tangan pada Thomas untuk membersihkan tumpahan jus di depan Elena, lalu menatap Christian kembali.

"Untuk apa wanita bodoh itu kembali ke kota ini?"

"Dari informasi yang kami retas dari maskapai dan jaringan komunikasi mereka, Arthur Vance yang menjemputnya langsung ke London setelah mendengar berita tentang pernikahan megah Anda dengan 'Alana' di gala dinner tiga minggu lalu," jelas Christian dengan nada taktis.

"Arthur tampaknya menyadari bahwa Anda tidak membantai keluarganya meskipun yang menikah adalah Elena. Dia menghasut Alana dengan mengatakan bahwa posisi istri Nicholas Barrett seharusnya menjadi milik Alana, lengkap dengan seluruh akses kekayaan dan kekuasaan keluarga Barrett. Alana... dia datang untuk menuntut haknya kembali, Tuan."

Sebuah tawa sinis, pendek, dan sarat akan racun mematikan keluar dari bibir Nicholas. Pria itu bersandar pada kursi kulitnya, melipat tangan di depan dada.

"Menuntut haknya kembali? Wanita yang melarikan diri seperti pengecut karena takut mati di tanganku, sekarang ingin kembali karena melihat kemewahan yang dimiliki saudaranya? Sungguh keluarga yang menjijikkan."

Elena meremas jemarinya di bawah meja hingga kukunya memutih. Rasa takut yang luar biasa kembali mencengkeram jiwanya. Alana adalah kembarannya, namun Alana selalu tahu bagaimana cara memanipulasi Arthur Vance untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Jika Alana datang dan mengekspos semuanya di depan publik, maka penyamaran ini akan berakhir, dan status Elena di rumah ini akan kembali dipertanyakan. Apakah Nicholas akan mengembalikannya ke lantai bawah tanah dan mengambil Alana sebagai istri yang sebenarnya sesuai perjanjian awal?

Melihat perubahan drastis pada raut wajah Elena, Nicholas bangkit dari kursinya. Dia berjalan memutari meja panjang itu, lalu berlutut di samping kursi Elena, sejajar dengan pandangan gadis itu. Nicholas meraih kedua tangan Elena yang dingin dan bergetar, menggenggamnya erat di dalam telapak tangannya yang besar dan hangat.

"Tatap aku, Elena," perintah Nicholas, suaranya melembut namun penuh dengan otoritas yang tidak bisa dibantah.

Elena perlahan memutar kepalanya, menatap sepasang mata abu-abu Nicholas dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. "Nicholas... dia akan mengambil tempatku. Dia adalah Alana yang asli. Pernikahan ini... perjanjian awalmu adalah dengan dia..."

"Dengar aku baik-baik, Elena Barrett," bisik Nicholas, menekan setiap kata dengan penuh penekanan agar meresap ke dalam pikiran istrinya.

"Aku tidak peduli dengan perjanjian awal yang dibuat oleh dua pria tua yang korup. Di mataku, di dalam dokumen hukum negara ini, dan di dalam kamar tidur ini, wanita yang menjadi istriku hanya ada satu. Dan itu adalah kau. Elena."

Nicholas mengulurkan tangan kirinya, ibu jarinya menghapus setitik air mata yang jatuh di pipi Elena.

"Alana Vance telah membuat pilihan untuk pergi, dan dia tidak akan pernah bisa kembali ke duniaku. Jika dia atau Arthur mengira mereka bisa masuk ke rumah ini dan mengacaukan hidupmu, mereka salah besar. Aku akan memastikan mereka tahu apa konsekuensinya karena telah mencoba bermain-main dengan Nicholas Barrett."

Nicholas menegakkan tubuhnya, berbalik menatap Christian yang masih berdiri setia di dekat pintu. Wajah Nicholas kembali mengeras, dipenuhi oleh aura kematian seorang bos mafia tertinggi pantai timur.

"Christian, biarkan mereka datang," perintah Nicholas dengan senyum dingin yang sangat mengerikan.

"Bawa Arthur dan Alana langsung ke mansion ini begitu mereka menginjakkan kaki di perbatasan New York. Aku ingin menyambut 'ayah mertua' dan 'kakak ipar' istriku dengan sambutan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!