NovelToon NovelToon
Damar Dan Kitab Tabib

Damar Dan Kitab Tabib

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Sistem / Tamat
Popularitas:55.4k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Perjalan hidup seorang Damar menggapai kesuksesan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Tulisan yang Bergerak

Malam semakin larut di ujung desa. Suara jangkrik bersahut-sahutan di tengah hamparan sawah yang gelap gulita. Setelah menyelesaikan urusan peti tua itu, Damar beranjak ke dapur kecilnya untuk mencuci peralatan makan. Ia dengan telaten menyuapi ibunya sisa bubur hangat dan memastikan obat dari puskesmas diminum tepat waktu.

"Ibu rasanya sudah enakan banget, Mar. Batuknya sudah jarang kumat," kata Bu Rahmi sambil bersandar nyaman di dipan kayu kamarnya.

Damar tersenyum lega, membetulkan kacamata tebalnya yang sedikit melorot. "Alhamdulillah kalau begitu, Bu. Yang penting Ibu istirahat yang cukup saja, jangan banyak pikiran lagi."

"Kamu juga tidur, Le. Sudah malam, kamu kan seharian kerja keras," puji ibunya penuh kasih sayang.

"Iya, Bu. Ini Damar mau beres-beres sebentar di depan, habis itu langsung tidur," sahut Damar lembut sembari menyelimuti ibunya dengan kain sarung tua.

Setelah memastikan napas ibunya mulai teratur dan masuk ke dalam tidur yang pulas, Damar kembali melangkah ke ruang tengah gubuknya. Pendar cahaya dari lampu tempel minyak tanah menari-nari pelan di dinding bambu yang lapuk. Di atas tikar pandan yang robek, tumpukan buku medis tua masih tersusun rapi, dan di paling atas terletak buku kuno bersampul kulit legam yang dipenuh simbol-simbol aneh tadi.

Damar duduk berjongkok di hadapan buku tersebut. Rasa penasaran yang sangat besar merayapi pikirannya. Ada daya tarik yang aneh dari buku itu, membuat tangannya seolah terdorong untuk kembali menyentuhnya.

"Aneh banget ini buku. Masa tulisan sama gambarnya tidak ada yang bisa dibaca sama sekali?" gumam Damar pada dirinya sendiri.

Ia mengambil buku bersampul kulit tebal itu dan memangkunya dekat pendar cahaya lampu minyak tanah. Tangan kasarnya yang penu kapalan mengusap ukiran-ukiran simbol di bagian sampul depan. Saat ia hendak membuka lembaran pertama secara terburu-buru, gerakan tangannya yang kurang hati-hati membuat pinggiran sampul kulit yang rupanya sangat keras dan berujung agak runcing menggores ibu jari tangan kanannya.

Sret!

"Aduh!" ringis Damar pelan, reflex menarik tangannya.

Goresan di ibu jarinya ternyata cukup dalam. Darah segar berwarna merah pekat langsung merembes keluar dari lukanya. Karena terkejut dan gerakan refleksnya yang mendadak, satu tetes darah segar menetes jatuh tepat di atas permukaan sampul buku kuno tersebut.

Damar buru-buru mengisap ibu jarinya yang berdarah. Namun, sebelum ia sempat mengambil kain lap untuk membersihkan noda darah di atas buku itu, sebuah kejadian aneh terjadi di depan matanya.

Tetesan darah segar di atas sampul kulit itu tidak mengering atau mengalir turun. Sebaliknya, darah itu meresap masuk ke dalam pori-pori sampul buku seolah-olah diserap oleh spon basah. Dalam hitungan detik, noda darah itu hilang tanpa berbekas.

Seketika itu juga, ukiran simbol-simbol emas di sampul buku yang tadinya pudar dan kusam perlahan-lahan pendar memancarkan cahaya keemasan yang redup namun sangat jelas di dalam kegelapan ruangan.

Mata Damar membelalak lebar di balik kacamata tebalnya. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena kaget luar biasa. "Lho... lho? Kok bisa begini?!"

Dengan tangan gemetar, Damar mencoba keberaniannya untuk membuka lembaran pertama buku tersebut. Begitu sampulnya terbuka, pemandangan ajaib kembali terpampang di hadapannya.

Aksara-aksara kuno yang tadinya kaku dan rumit meliuk-liuk di atas kertas kulit tebal itu tiba-tiba seperti hidup. Tulisan-tulisan itu bergeser, berputar, dan memancarkan pendar cahaya keemasan tipis yang melayang sedikit di atas permukaan kertas. Simbol-simbol yang semula tidak dipahami Damar perlahan-lahan menata ulang bentuknya.

Garis-garis dan ukiran rumit itu bertransformasi menjadi susunan huruf-huruf latin biasa yang sangat rapi dan mudah dibaca!

Damar mengucek matanya berulang kali. Ia membetulkan posisi kacamatanya, memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi karena kelelahan kerja seharian.

"Astaga... Tulisannya bergerak sendiri? Ini... ini beneran tulisan latin?!" bisik Damar dengan suara bergetar menahan napas.

Dengan hati-hati, Damar mendekatkan wajahnya ke arah buku ajaib itu. Pendar cahaya keemasan dari huruf-huruf itu memantul di lensa kacamatanya. Tulisan yang tadinya berupa simbol asing kini berbunyi sebuah kalimat pembuka yang sangat jelas:

'Kitab Tabib Langit — Warisan Pemahaman Pengobatan dan Penyelarasan Energi Tubuh.'

Damar membaca kalimat demi kalimat yang kini terpampang di lembaran tersebut. Setiap kali matanya selesai membaca satu baris kalimat, tulisan bercahaya itu akan memudar pelan dan berganti dengan susunan penjelasan baru yang mengalir sangat alami.

Di lembaran selanjutnya, tulisan bercahaya itu menjelaskan dasar-dasar ilmu pengobatan kuno. Bukan hanya sekadar racikan ramuan tanaman herbal biasa, melainkan cara memetakan seluruh alur titik saraf, pembuluh darah, hingga alur hawa murni atau energi kehidupan di dalam tubuh manusia.

"Ini... ini ilmu pengobatan?" gumam Damar penuh rasa takjub. "Bagaimana bisa tulisan kuno ini berubah jadi bahasa yang saya mengerti hanya karena kena darah?"

Damar terus membalik lembaran demi lembaran dengan perasaan cemas bercampur kagum yang luar biasa. Setiap kali jemarinya yang masih bernoda bekas darah menyentuh lembaran baru, aksara di halaman tersebut akan langsung bercahaya keemasan dan bertransformasi menjadi tulisan latin yang begitu runtut.

Buku itu menjelaskan dengan sangat detail tentang bagaimana seorang tabib bisa mendeteksi letak penyakit tersembunyi di dalam tubuh seseorang hanya dengan menyentuh titik denyut nadi di pergelangan tangan. Bahkan, di lembaran berikutnya, tertera diagram teknik pemijatan dan penekanan titik-titik saraf tertentu untuk melancarkan penyumbatan darah dan meredakan rasa sakit secara instan.

Damar tertegun di tempat duduknya. Ia memandangi kedua tangannya yang kasar dan penuh kapalan, lalu kembali menatap tulisan-tulisan bercahaya di atas meja kayu kecilnya.

Selama ini, ia hanyalah seorang pemuda miskin, culun, dan kucel yang selalu diremehkan oleh seluruh warga desa. Ia dihina oleh Jaka dan teman-temannya, dipermalukan di balai desa, ditolak dan dipandang jijik oleh gadis yang disukainya, serta diinjak-injak oleh Pak Broto hanya karena hutang obat. Tak ada satu orang pun di dunia ini, selain ibunya, yang percaya bahwa ia bisa menjadi seseorang yang berguna.

Namun kini, di dalam gubuk reyotnya yang hampir roboh di ujung sawah, sebuah keajaiban yang tak masuk akal berada tepat di depan matanya.

"Apakah ini... jawaban dari doa-doa Ibu selama ini?" bisik Damar pelan, air matanya perlahan menetes menimpa pipinya yang kusam.

Ia membaca satu bagian penting dalam buku itu yang menjelaskan tentang cara mengobati kerusakan paru-paru dan batuk kronis menahun, penyakit yang persis diderita oleh ibunya. Di sana dijelaskan secara rinci gabungan antara penekanan titik saraf di punggung dan racikan herbal khusus untuk mengembalikan kesegaran paru-paru yang rusak.

Damar menarik napas panjang, menetralkan jantungnya yang masih berdebar kencang. Ia mengusap air matanya dan membetulkan kacamata tebalnya. Rasa takut akan hal gaib dari buku ini perlahan-lahan sirna, berganti menjadi tekad bulat yang menguat di dalam dadanya.

Ia membalik halaman demi halaman hingga larut malam. Setiap kata, setiap teknik penekanan titik saraf, dan setiap racikan tanaman obat yang tertera di dalam Kitab Tabib Langit itu ia resapi dan pelajari dengan tekun di bawah pendar redup lampu minyak tanah.

Ketika ayam jantan pertama mulai berkokok samar-samar di kejauhan menandakan waktu subuh makin dekat, pendar cahaya keemasan di atas lembaran buku kuno itu perlahan-lahan meredup. Tulisan-tulisan latin bercahaya itu menyatu kembali ke dalam kertas kulit dan berubah menjadi susunan huruf-huruf biasa yang kini tetap bisa dibaca oleh Damar tanpa perlu memancarkan cahaya lagi.

Damar menutup buku itu dengan perlahan dan hati-hati. Ia membelai sampul kulit legamnya dengan rasa hormat yang mendalam.

"Terima kasih..." bisik Damar pada buku di tangannya.

Ia menyimpan Kitab Tabib Langit itu kembali ke dalam peti kayu berukir, lalu menutupnya rapat-rapat. Damar berdiri dari duduknya, berjalan menuju jendela bambu kecil gubuknya, dan membukanya sedikit.

Udara dingin subuh bertiup masuk, menyapu wajahnya yang lelah namun memancarkan binar harapan yang baru. Di luar, kegelapan malam perlahan-lahan mulai terkikis oleh garis tipis cahaya fajar di ufuk timur. Damar tahu, kehidupannya yang penuh dengan penderitaan dan penghinaan mungkin belum sepenuhnya usai, tetapi mulai hari ini, ia bukan lagi Damar yang lemah dan tak berdaya.

1
Hardware Solution
Alhamdulillah makasih Thor dah jadiin Amara sama damar... semoga langgeng sampe pelaminan🤭
Hardware Solution
dikit amat Thor.....
Hardware Solution
mantab konfliknya
Hardware Solution
tetep semangat cemburu mbak amara🤭
Hardware Solution
moga2 jadian ad Ampe akhir hayat
dhani satria
abis ya jebulnya
Sulaeman Effendi
cerita nya mulai seru 👍
$$$=Benn Hurr=$$$
ceritanya sangat sangat bagus , banyak kalimat motivasi, sepertinya author seorang motivator 👍
Hary
Prolog terlalu panjang, bertele tele...
SKIP and OUT
PENTOL KOREK...!!!
Arjuna Singit
kepercayaan adalah hal yang mahal dan susah di dapat,,💪💪💪
Arjuna Singit
💪💪💪👍👍👍
Night Watcher
secara umum ceritanya bagus.
sayangnya terlalu byk main spasi.
percakapan yg hny satu dua kata terasa kaku, terkesan seperti robot.
disinilah letak sesuatu yg harus outhor perbaiki, agar kedepan karya2 outhor lebih terasa hidup, & nyaman dinikmati reader, sehingga menjadikan outhor sbg writer yg paling dicari karyanya.
tetap semangat, pantang menyerah karna komentar yg mengkritik bahkan menyinggung. anggap itu semua sbg pemicu semangat & tangga pencapai suksesmu..💪👍🙏
Paksu82: terima kasih masukannya boskyu...
total 1 replies
Andri Ristianto
Thor..... hutang nya ayah damar gimana ya???
Paksu82: 🙏 waduh lupa ya... maaf... maaf... tar di akhir-akhir dech di bahas, makasih infonya boskyu...
total 1 replies
Night Watcher
sebenarnya banyak sekali komunikasi yg harus tertulis, selain memperjelas alur cerita, jg memperbanyak perbendaharaan kata/ huruf utk pencapaian target per bab.
contoh pembicaraan antara mc & perempuan yg bertemu dgnnya, dan mc dgn nita. tau2 nita nongol tanpa ada info drmn dia tau/ mengenal mc.
dr situ ceritamu akan terasa lbh padat dan berisi, tdk terkesan "hny menjual spasi"💪
Paksu82: 🙏 mkasih masukannya boskyu, makasih sudah mampir sehat semua boskyu banyak rizkinya juga...
total 1 replies
Night Watcher
nama surya ini kyknya pasaran banget, kalo gak salah udah 3.🤭🤭
Paksu82: 🙏 saya sedang buat 5 cerita jadi kurang fokus, maaf ya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
cerita masa lalu org yg sdh meninggal, sygnya tdk diceritakan mngl karna apa, padahal mungkin ceritanya bisa lbh menarik
Night Watcher
baca novel serasa baca puisi...
kyk makan arum manis..
Night Watcher
bertele tele banget .
jd terasa kosong ceritanya
Paksu82: maaf boskyu target ingin bab panjang soalnya...🙏
total 1 replies
Night Watcher
mak jlebbb banget..
Gege
berat bener bang ceritamu... pikir Nemu kita jadi sakti bisa nyembuhin, jadi kaya raya, merubah takdir kemiskinan, bantu sesama.. yang entengan dikit gitu Thor..😄🤭
Paksu82: makasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!