- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.
- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.
- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: RAHASIA YANG MEMATIKAN
Tangan Ain gemetar hebat saat membalik lembar demi lembar buku catatan itu. Tulisan Hamid semakin lama semakin berantakan, penuh coretan dan noda bekas air mata atau darah, seakan ditulis saat ia sedang ketakutan dan menyesal luar biasa. Semakin mereka baca, semakin deras air mata mengalir di pipi mereka, dan semakin besar rasa ngeri yang menyelimuti hati.
Ternyata apa yang mereka ketahui selama ini hanyalah sebagian kecil saja dari kejahatan yang sudah dilakukan Hamid. Di dalam catatan itu tertulis nama-nama lengkap, alamat, dan kisah hidup lebih dari lima belas wanita yang pernah ia tipu, ia manfaatkan, lalu ia buang begitu saja di berbagai daerah. Bahkan ada yang sampai hilang jejak, ada yang gila karena kesedihan, ada yang meninggal dunia karena sakit hati dan kemiskinan.
Tapi bagian paling mengerikan ada di lembar terakhir, ditulis dengan tinta merah menyala seakan ingin memberi peringatan keras. Tulisan itu berbunyi:
*“Ain, Nova, Sari… dan Ratih kalau kamu membaca ini juga. Ada satu rahasia paling gelap yang aku kubur sampai sekarang, rahasia yang kalau terungkap bisa menghancurkan kalian semua sampai tidak bersisa. Kalian ingat tidak? Saat kalian berhubungan denganku, kalian semua pernah memberikan uang dalam jumlah besar, barang berharga, bahkan ada yang menjual tanah dan harta warisan demi membantuku. Aku bilang uang itu akan dipakai untuk modal usaha, untuk membangun rumah, untuk masa depan kita… SEMUA ITU BOHONG!
Uang dan harta kalian aku pakai untuk membayar hutang narkoba dan judi yang jumlahnya sangat besar. Aku terjerat lingkaran setan ini bertahun-tahun, tidak bisa keluar. Dan yang paling parah… orang-orang yang aku hutangi itu adalah kelompok penjahat berbahaya, mereka tidak segan-segan membunuh siapa saja untuk menagih hutang. Saat aku meninggal, hutang itu belum lunas sama sekali. Aku kabur dan mati dalam pelarian, meninggalkan semua beban itu begitu saja. Aku pikir mereka tidak akan pernah tahu tentang kalian… tapi aku salah. Mereka tahu semuanya. Mereka tahu nama kalian, alamat kalian, bahkan nama anak-anak kalian.
Mereka bilang kalau aku mati, tanggung jawab hutang itu jatuh ke tangan wanita-wanita yang pernah bersamaku. Mereka sudah mengawasi kalian bertahun-tahun, menunggu waktu yang tepat untuk datang menagih. Maafkan aku… aku pengecut, aku jahat, aku tidak punya hati. Kalian yang tidak bersalah harus menanggung akibat dosaku yang paling besar. Lari sejauh mungkin, sembunyikan anak-anak kalian… sebelum mereka datang dan mengambil apa yang paling berharga dari hidup kalian.”*
“Aaaaaa!!!” Sari berteriak histeris, melempar buku itu ke lantai seakan benda itu terbakar. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, matanya melotot penuh ketakutan. “Ini tidak mungkin… ini tidak mungkin benar! Kenapa dia bawa masalah sebesar ini ke hidup kita?! Kita sudah menderita cukup banyak, kenapa masih harus dapat ujian yang lebih mengerikan lagi?!”
Nova terduduk lemas di kursi, darahnya serasa berhenti mengalir. Ia teringat anak-anaknya, teringat suaminya, teringat semua kebahagiaan yang baru saja ia dapatkan. “Ya Tuhan… kalau mereka sampai datang, apa yang akan terjadi pada keluargaku? Mereka jahat, mereka pembunuh… mereka tidak akan peduli siapa yang salah dan siapa yang benar…” isaknya pelan, rasa takut mencekik lehernya.
Ain hanya diam mematung, matanya menatap kosong ke dinding. Yang paling ia takutkan adalah keselamatan Rian, anak yang baru saja ia temukan dan menjadi nyawa hidupnya. Kalau ada apa-apa dengan anak itu, ia tidak akan sanggup hidup lagi. “Mereka sudah mengawasi kita selama bertahun-tahun… berarti semua kejadian aneh dulu, surat ancaman, bayangan yang selalu mengikuti… itu bukan Sari, itu mereka!” ucap Ain dengan suara parau, menyadari kebenaran yang selama ini salah mereka artikan.
Belum sempat mereka menenangkan diri, tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari halaman depan Rumah Harapan, disusul teriakan orang-orang yang ketakutan. Kaca jendela ruangan pecah berkeping-keping, asap putih tebal mulai masuk memenuhi ruangan.
“KELUAR SEMUA! KITA SUDAH MENEMUKAN KALIAN! WAKTUNYA MEMBAYAR HUTANG YANG TERTUNDA!” suara berat dan mengancam bergema dari luar, disertai suara langkah kaki berat banyak orang yang mendekat.
Lira yang ada di ruangan sebelah berlari masuk dengan wajah ketakutan. “Bu! Ada banyak orang berpakaian hitam, membawa senjata tajam dan api! Mereka blokir semua jalan keluar, tidak ada yang bisa lari!” teriaknya panik.
Jantung Ain berdegup kencang, rasa takut berubah menjadi keberanian untuk melindungi semua orang di sana. “Nova, Sari, bawa semua wanita dan anak-anak ke ruangan rahasia di bawah tanah! Bawa Lira juga! Aku akan tahan mereka di sini selagi bisa! Jangan biarkan satu pun terluka!” perintahnya tegas, meski tangannya dingin dan berkeringat dingin.
“Tidak Ain! Kita bersama-sama, kita tidak akan tinggalkan kamu sendiri!” tolak Nova sambil menangis.
“TIDAK ADA WAKTU UNTUK BERTENGKAR! LARI SEKARANG! DEMI ANAK-ANAK KITA!” bentak Ain, lalu ia segera mengambil sebatang kayu besar dan berdiri menghadap pintu, siap melawan apa pun yang masuk.
Pintu terbuka paksa, masuklah lima orang besar berbadan kekar, wajah mereka tertutup sebagian, mata mereka tajam penuh kejahatan. Paling depan ada seorang pria tua berambut putih, wajahnya penuh bekas luka, tatapannya dingin dan membunuh.
“Jadi kamu Ain ya? Wanita kesayangan Hamid yang paling lama. Katanya kamu sekarang jadi wanita mulia, dihormati banyak orang, punya rumah perlindungan… enak sekali hidupmu ya, sementara hutang ratusan juta dibiarkan begitu saja,” kata pria tua itu dengan suara parau sambil tersenyum menyeramkan.
“Kami tidak tahu apa-apa tentang hutang itu! Kami juga korban sama seperti orang lain! Hamid mengambil semua harta kami, kami tidak dapat apa-apa, malah hancur hidup kami karena dia!” bentak Ain berani, tidak mau menunjukkan rasa takut meski tubuhnya gemetar.
“Kami tidak peduli! Hukum kami sederhana: kalau yang berhutang mati, keluarganya atau wanita yang pernah bersamanya yang ganti rugi. Kalau tidak ada uang, kami ambil harta, ambil anak-anak untuk kami jadikan budak atau jual ke tempat jauh! Itu harga yang pantas!” bentak pria itu, lalu memberi isyarat pada anak buahnya untuk menangkap Ain.
Saat mereka mau maju, tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari luar, disusul suara tembakan di udara. “BERHENTI DI TEMPAT! KEPOLISIAN! JANGAN BERGERAK SATU PUN!”
Semua orang kaget, termasuk Ain dan kelompok penjahat itu. Pintu belakang terbuka, masuklah rombongan polisi lengkap dengan senjata, dipimpin oleh seorang komisaris yang wajahnya terlihat sangat serius. Dan di belakangnya… berdiri Rian! Wajahnya tegas, berpakaian rapi, matanya menatap tajam ke arah orang-orang jahat itu.
“Ibu! Aku datang selamatkan Ibu!” teriak Rian sambil berlari menghampiri Ain dan memeluknya erat.
“Rian… anakku… kenapa kamu ada di sini? Kamu bagaimana tahu…?” tanya Ain kaget dan lega luar biasa, air matanya mengalir deras.
“Saat aku pulang dari rumah sakit tadi, aku melihat ada orang mencurigakan mengawasi rumah dan Rumah Harapan. Aku ingat cerita masa lalu Ibu, jadi aku langsung melapor ke polisi dan meminta mereka datang segera. Aku tidak akan biarkan siapa pun sakiti Ibu atau orang-orang di sini!” jawab Rian tegas, ternyata pemuda itu diam-diam sudah mempersiapkan segala kemungkinan buruk demi melindungi ibunya.
Komisaris polisi maju ke depan, menunjuk ke arah pria tua itu. “Kalian sudah lama kami cari! Kelompok penagih hutang liar dan pedagang manusia yang paling dicari seluruh daerah! Hari ini kalian tidak akan lolos lagi! Tangkap mereka semua!”
Terjadi perkelahian singkat namun sengit, tapi karena jumlah polisi lebih banyak dan bersenjata lengkap, akhirnya semua penjahat itu berhasil ditangkap dan diborgol. Saat dibawa pergi, pria tua itu masih menatap tajam ke arah Ain. “Ini belum selesai! Kalian belum aman! Masih banyak rahasia lain yang akan menghantui hidup kalian!” ancamannya sebelum didorong keluar.
Setelah suasana mulai tenang, Ain, Nova, Sari, dan Lira berkumpul kembali sambil menangis bahagia dan lega. Mereka hampir saja kehilangan segalanya, tapi Tuhan kembali menyelamatkan mereka lewat anak yang selama ini mereka lindungi dan sayangi.
Tapi kata-kata terakhir penjahat itu terus berdengung di telinga Ain: “Masih banyak rahasia lain…”
Ia menatap kembali buku catatan yang tergeletak di lantai, hatinya merasa belum tenang sepenuhnya. Ia tahu… ini belum berakhir. Masih ada potongan teka-teki yang hilang, masih ada kebenaran yang belum terungkap sepenuhnya. Dan firasat buruknya bilang… rahasia yang tersisa itu akan jauh lebih besar dan lebih mengerikan dari apa pun yang pernah mereka alami selama ini.