Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Predator’s Room
Sebuah sensasi dingin menyentuh tengkuknya ketika Emily perlahan membuka mata. Pandangannya buram, kepala terasa berat berdenyut dan masih sedikit merasa kantuk seperti baru bangun dari tidur yang panjang.
Ada yang tidak beres.
Lantas ia memicingkan mata, berusaha fokus. Silau cahaya lampu membuatnya menyipit, dan semakin ia melihat sekeliling jantungnya mulai berdetak tak nyaman.
Tempat ini bukan kamarnya. Bukan penthouse-nya. Bukan pula hotel. Dimana dia? Kamar siapa ini?
Ruangan itu begitu megah dan sunyi. Langit-langit tinggi dihiasi detail ukiran yang rumit, dengan lampu gantung kristal bertingkat menggantung tepat di tengah ruangan. Dinding kamar dilapisi panel gelap bertekstur mewah, dihiasi dua cermin besar berbingkai emas yang memantulkan pantulan cahaya dari lampu meja di kedua sisi ranjang.
Tempat tidurnya—tempat ia terbaring sekarang—berukuran king dengan headboard tinggi yang didesain seperti kipas bercorak, pun bertekstur emas keperakan. Seprai biru keabu-abuan berpola heksagon menutupi ranjang, diapit bantal-bantal tebal yang tersusun rapi. Lantai marmer sebagian tertutup karpet antik bernuansa biru tua dan emas. Di sisi lain, sebuah sofa beludru merah marun terpajang sempurna. Dan tirai panjang dari kain beludru abu lembut menjuntai hingga menyentuh lantai.
Emily mengerjapkan mata. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya masih sedikit limbung. Kepalanya berat sekali. Ia mengusap dahinya perlahan, mencoba mengingat.
"Where the hell am I..." ujarnya serak.
Ia menoleh ke kanan dan kiri, panik, mencari-cari ponselnya—satu-satunya cara untuk mengetahui di mana ia berada, pukul berapa sekarang, dan tentu saja, menghubungi Ceysa atau supir pribadinya agar segera menjemput. Namun, tak ada ponsel itu. Bahkan tasnya pun menghilang.
Kecemasannya mulai membesar. Dia paksakan agar pikirannya bekerja, mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Sampai akhirnya, dia terdiam cukup lama.
Jembatan. Hamburger. Raphael...
Matanya membelalak begitu kilasan ingatan itu kembali. Rahangnya segera mengeras, marah. Sialan. Pria brengsek itu. Demi Tuhan, manusia terkutuk itu sudah melampaui batas. Nafasnya memburu, dadanya naik-turun. Tangannya mengepal begitu erat.
Baru saja ia memutar tubuh, hendak turun dari tempat tidur, suara gagang pintu berputar memecah kesunyian malam. Pintu kamar terbuka perlahan, dan masuklah sosok yang sangat ingin ia tendang sekencang-kencangnya.
Raphael.
Sang pria mengenakan celana linen gelap dan kaus polo berkerah putih dengan dua kancing atas yang sengaja tak dikancingkan, memamerkan sedikit dadanya yang bidang pun berbulu dan mengundang. Lengan bajunya pas mengetat membalut otot-otot besarnta. Gurat wajahnya tenang pun tersirat kelicikan, dan matanya menatap lurus pada Emily kini bagai binatang buas yang baru saja berhasil menjebak santapannya ke dalam kandang emas.
Emily spontan menegakkan duduk di ranjang, menarik selimut hingga ke dadanya meski sadar ia masih mengenakan pakaian lengkap.
"Apa-apaan ini?!" Bentakan itu tajam menggema. "Di mana aku? Kenapa kau membawa aku ke sini, bajingan!"
Raphael hanya berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahu pada kusen kayu yang lebar, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Selamat malam, Nona Cooper," ucapnya dengan senyum miring yang membuat darah Emily mendidih. "Welcome to my sanctuary. Kau sekarang ada di mansionku."
Emily mencengkeram selimut lebih erat. "Apa yang sudah kau lakukan padaku?"
Menutup pintu, Raphael melangkah pelan-pelan ke dalam ruangan. "Tidak banyak. Hanya menyelamatkanmu. Kau hampir pingsan di jembatan, ingat?"
Hah. Tak salahkah Emily mendengar? Omong kosong. Bibirnya membentuk cemoohan karena bualan itu.
"Oh, come on. Menyelamatkan?" ia tertawa mengejek. "Aku tidak sebodoh itu. Kau menjebakku. Kau memasukkan sesuatu ke makananku dan itu membuatku pingsan. Lalu kau seret aku ke tempat bedebah ini."
Raphael terkekeh kecil, terlihat terhibur dengan wajah cemooh sang wanita. "Tapi kau memang bodoh, Darling."
"Excuse me?"
"Kau memang bodoh karena tak cukup waspada padaku yang bisa melakukan apa saja." Ia melangkah lebih dekat, gagah tubuhnya menjulang. "Dan sekarang lihat, kau ada di sini. Di kamarku."
Emily mendengus, tak mau kalah. "Kalau aku bodoh, maka kau tolol. Tolol karena menganggap aku bodoh."
Ucapan serampangan itu sukses membuat rahang Raphael mengeras, sorot matanya menajam seketika. Lidah tajam wanita ini benar-benar melewati batas. Mulut lancang itu tampaknya perlu dibungkam—diajari cara bicara yang lebih sopan, mungkin dengan caranya sendiri yang tak akan bisa dilupakan Emily seumur hidupnya.
"Apa? Kau tersinggung aku bilang begitu?" Emily tak berhenti menyulut, senyum sinis terlihat di ujung bibirnya. "Kau merasa? Bagus. Karena kau memang tolol, Raphael."
Tak mau terpancing, Raphael hanya menghela napas pelan lalu menyeringai licik, begitu tenang terkendali. Ia lantas duduk di tepi ranjang dengan kaki menyilang. Wanita itu kontan bangkit berdiri, menjauh cepat-cepat sebab jijik berada terlalu dekat dengannya. Tentu saja. Raphael tahu betul di mata Emily, dia iblis. Dan memang begitulah seharusnya. Sampai ia benar-benar tunduk.
"Kalau kau pikir aku marah, kau salah besar, Emily," ucapnya tenang, seraya merapikan arloji mahalnya. "Aku sudah terbiasa menghadapi ratusan orang yang lebih menyebalkan darimu di ruang sidang. Aku pengacara, kalau kau lupa."
Cih. Emily mencibir sinis, kedua lengannya terlipat di dada. Namun tepat kala ia melakukan itu, matanya membulat kaget. Pandangannya segera turun ke tubuhnya, memandangi dengan tatapan horor pakaian yang kini membalut dirinya. Ini bukan miliknya. Bukan yang ia kenakan terakhir kali. Jantungnya berdegup lebih cepat, dan dalam sekejap, kemarahan membakar wajahnya. Ia menoleh tajam ke arah Raphael, mata melotot, rahang mengeras.
"Siapa yang mengganti bajuku?!" pekiknya.
Si Brengsek itu hanya menatapnya dengan senyum menjijikkan, senyum yang membuat perut Emily melilit muak. "Menurutmu siapa lagi yang bisa melakukannya tanpa ragu?"
Emily makin terkesiap, kedua tangannya refleks menyilang di dada rapat-rapat, menutupi tubuhnya untuk menghalangi pandangan sang pria. Terasa sesak nafasnya, tangannya gemetar. "Jangan main-main denganku, Raphael!" bentaknya keras, matanya mulai berkaca-kaca karena marah dan malu. "Apa yang sudah kau lakukan padaku?!"
Raphael terkekeh. "Tidak banyak. Karena aku lebih suka menidurimu saat kau sepenuhnya sadar." Bibirnya melengkung makin kejam. "Tapi ya... aku tidak bisa menahan diri untuk tidak meninggalkan jejak kepemilikanku padamu itu. Aku mengklaim setiap jengkal kulitmu, menyentuh titik-titik sensitif pertahananmu hingga meninggalkan bekas kehangatan yang memerah, dan memastikan tubuhmu mengingat dengan baik siapa pria yang memegang kendali atas dirimu."
Seakan petir menyambar, Emily membeku. Syok. Tubuhnya menegang, matanya kian memerah, air mata hampir jatuh. Rahangnya mengatup keras. Lalu tanpa pikir panjang, ia meraih apa saja di sekitarnya—bantal, gelas di nakas, buku—melempar itu semua secara membabi buta ke arah Raphael.
"Brengsek! Binatang!" teriaknya histeris.
"Hei! Hei!" Raphael mengelak, menangkis semua yang dilemparkan Emily.
"Kau bangsat, Raphael!"
Begitu melihat tangan Emily hendak mengangkat lampu meja, ia melesat cepat, meraih pergelangan tangan wanita itu. Sekali tarikan keras, Emily tersentak, tubuhnya hampir terhempas ke dada bidang Raphael.
"Emily!" ujarnya, suaranya berubah gelap, menakutkan. Cengkeraman tangannya mengeras, membuat Emily terdiam, ketakutan.
"Aku tidak menyentuhmu. Kalau itu yang kau takutkan," katanya, tatapannya membakar lurus ke mata Emily, terdengar rendah suaranya, membuat bergidik ngeri. "Yang menggantikan pakaianmu pelayanku. I swear to God—bahkan jika aku punya kuasa penuh untuk melakukannya saat kau pingsan—aku tak akan melakukannya sampai kau sendiri menyerahkan dirimu padaku, dengan kesadaran penuh, dengan perjanjian yang kita sepakati."
Hening.
Emily gemetar, marah, takut, dan malu campur aduk di dadanya. Sedangkan Raphael tetap menatapnya seperti predator.
Lama mereka saling bersitatap, saling menahan gejolak emosi yang belum sepenuhnya padam. Napas mereka bertaut karena jarak yang begitu dekat. Emily menelan ludah, dadanya naik turun, mencoba menenangkan amarah yang meledak-ledak.
Pun dengan geram, ia tarik paksa tangannya dari cengkeraman Raphael. "Aku mau pulang."
"Tidak kuizinkan."
"What?!" Emily membelalak marah, tak percaya telinganya mendengar kalimat itu.
"Malam ini kau tidur di sini."
Emily mendelik tajam, nadanya meninggi. "Tidak mau! Kau tidak berhak menahanku! Lepaskan!"
"Tidak." Suara Raphael tetap tenang.
"Lepaskan, keparat!" Ia mulai memukul dada pria itu dengan kedua tangan mungilnya, berulang-ulang. Tapi percuma. Bagi Raphael, ia tidak merasakan apapun.
Frustasi sudah menguasai Emily. Dengan nekat, ia menunduk menggigit lengan sang pria sekuat tenaga, keras-keras hingga Raphael mengerang pelan, cengkeramannya terpaksa mengendur.
Kesempatan itu tak disia-siakan. Kontan, Emily berlari terburu-buru, berharap bisa segera lolos dari tempat terkutuk ini. Tapi lagi sia-sialah usahanya. Langkah panjang Raphael tak sebanding dengan langkahnya. Hanya butuh sekejap untuk mengejar wanita tersebut. Dengan sigap, tangan kuat Raphael merenggut pergelangan tangan Emily, menarik keras hingga tubuh mungil sang wanita terhempas kasar ke belakang.
"Akh!" jerit kecil Emily terlepas tatkala punggungnya menghantam pinggir ranjang, lalu ia di dorong hingga terpelanting di atas kasur. Tergeletak.
Seketika perangai Raphael menjelma bengis tanpa ampun, merengkuh ranjang dan memangkas habis seluruh ruang gerak Emily. Postur tegapnya mengurung wanita itu dalam dominasi yang pekat. Ia melumpuhkan segala pertahanan Emily, membuat setiap jengkal pergerakan wanita itu terhenti sebelum sempat memberontak. Sementara kedua tangan Emily tertawan di atas kepala, dikebiri dayanya dalam satu genggaman kokoh. Jemari Raphael yang lain kemudian mengunci rahang Emily, meredam konfrontasi hingga wanita itu tak lagi mampu menguntai kata atau melancarkan perlawanan.
Terasa napas Raphael bak api yang membakar wajah Emily, begitu mengintimidasi di antara serak suaranya yang dalam. "Berhenti berontak kalau kau tak mau aku berbuat gila, Emily."
Emily menatap Raphael dengan penuh kemarahan dan ketakutan. Habis sudah harga dirinya tercabik dalam satu waktu. Ia berusaha menggeliat, mendorong tubuh Raphael agar bisa bebas, tapi cengkeraman dan tekanan dari tubuh pria itu semakin kuat.
"Jangan pancing aku, Emily. Aku tidak suka mengulang perintah."
Tekanan jemarinya di pipi Emily kian menguat, membuat kulit mulus wajah wanita itu memerah, nyeri, dan panas. Mata Emily mulai berkaca-kaca, tapi ia tak ingin meneteskan air mata di hadapan pria keparat ini. Dadanya naik turun tak teratur. Tak hanya emosi, napasnya pun juga benar-benar sesak.
Namun, ia tahu, melawan hanya akan membuat segalanya semakin buruk. Maka, untuk kali ini, jalan terbaik adalah diam. Menunduk. Menahan diri.
Setelah beberapa menit berlalu seperti itu, Raphael memastikan tak ada lagi perlawanan sebelum akhirnya berkata-kata, "Malam ini, kau tidurlah di sini. Aku akan tidur di kamar lain. Besok, aku antar kau ke kantormu. Sekarang... beristirahatlah. Mengerti?"
Emily tak menjawab.
"Emily." Suara Raphael meninggi sedikit. "Kau mengerti?"
Helaan napas berat keluar dari mulut Emily sebelum akhirnya ia mengangguk kecil.
"Good." Raphael mengendurkan genggamannya, lantas perlahan berdiri tegak. Ia membenarkan posisi Emily di atas ranjang, mengangkat tubuhnya sedikit. Gerakan itu membuat Emily refleks melingkarkan tangannya ke leher sang pria—bukan karena ingin, tapi karena takut jatuh. Raphael sempat menatapnya sejenak dengan tatapan ekspresi yang sulit ditebak.
Setelah membaringkan Emily dengan nyaman, ia menarik selimut dan menutupi tubuh wanita itu. "Good night," ucapnya singkat, lalu membalikkan badan dan melangkah keluar kamar.
Pintu tertutup perlahan, menyisakan Emily yang merenung di atas ranjang. Sorot matanya masih menyimpan sisa amarah dan kepedihan. Ia mengusap wajahnya kasar. Frustasi. Lelah. Dan hampa.
God, mengapa hidupnya begitu berantakan sejak orang tuanya pergi? Sejak kehilangan itu, semuanya terasa seperti lorong panjang tanpa ujung—gelap, dingin, dan dipenuhi duri. Ia tumbuh dengan topeng kuat, padahal di dalam dirinya bagai reruntuhan jiwa yang tak sempat dibenahi. Dan sekarang, ia terjebak di rumah seorang iblis berwajah rupawan yang memperlakukan dirinya seperti properti.
Emily memeluk dirinya sendiri, menatap kosong ke arah kaca jendela besar dengan tirai mahal yang menjuntai sempurna. Membiarkan rasa asing itu menemaninya dalam hening .
Ketukan pelan terdengar di pintu. Emily mengangkat kepala sekilas, malas menjawab, namun pintu itu terbuka dengan sopan, memunculkan sosok pelayan wanita paruh baya yang membawa nampan berisi segelas air.
"Maaf mengganggu, Nona," ujar sang pelayan sambil menunduk hormat. "Tuan besar menyuruh saya mengantarkan minum. Beliau khawatir Nona dehidrasi karena belum minum apa pun sejak pingsan."
Emily menatap wanita itu, diam. Ada perasaan ingin menolak, ingin berteriak bahwa dia tidak butuh air, tidak butuh perhatian pura-pura dari pria yang baru saja menyiksanya secara emosional. Ia hanya ingin pulang. Titik.
Tapi dia tahu, menolak hanya akan memperpanjang drama. Raphael pasti akan diberitahu keengganannya ini. Dan dia akan datang lagi, dengan segala dominasi dan cara liciknya yang memuakkan.
Jadi, dengan berat hati, Emily meraih gelas itu. "Terima kasih," katanya pelan.
Pelayan itu tersenyum kecil, sopan, dan beranjak pergi tanpa banyak bicara.
Emily menatap gelas bening itu sesaat, lalu meneguknya hingga tandas. Mungkin bukan karena haus tapi karena pasrah. Karena kelelahan. Setelah gelas itu kosong, ia meletakkannya kembali ke atas nampan di meja samping tempat tidur, lalu rebah. Matanya terpejam, tapi pikirannya tetap kacau, dipenuhi banyak pertanyaan tanpa jawaban.
Apakah semua ini baru awalnya?
Dan... seberapa jauh dia akan jatuh ke dalam permainan Raphael Walter?