NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Eyang

Istri Pilihan Eyang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

​Kelvin mendengus sinis mendengarkan perkataan Nada. Ia mencengkeram tepi ranjang dengan erat, menolak untuk membiarkan wanita desa ini merasa seolah-olah telah memenangkan perdebatan mereka. Matanya menatap Nada dengan kilatan tajam, penuh dengan peringatan yang tak terbantahkan.

​"Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi, Denada," ucap Kelvin dengan suara yang ditekan rendah, penuh dengan nada dingin yang membekukan. "Aku memperingatkanmu untuk terakhir kalinya. Hatiku tidak akan pernah bisa kau miliki. Aku sudah punya wanita yang sangat kucintai, dan posisinya di hidupku tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun, termasuk dirimu."

​Setelah meluapkan kalimat penuh penegasan itu, Kelvin langsung menyibak selimut dengan kasar. Ia bangkit dari ranjang, menyambar handuk bersih yang disediakan pihak hotel, dan melangkah lebar menuju kamar mandi. Pintu marmer itu ditutupnya dengan debuman keras, disusul suara gemercik air shower yang mulai menyala, menandakan sang CEO tengah membersihkan diri dari sisa-sisa kekacauan semalam.

​Di atas ranjang besar yang kini terasa hampa, keheningan kembali merayap.

​Denada perlahan menurunkan kedua tangan yang semula terlipat di dadanya. Senyuman manis dan menggoda yang sedari tadi ia pasang di depan Kelvin seketika lenyap tanpa bekas, menyisakan raut wajah yang sangat dingin, datar, dan dipenuhi oleh aura kegelapan yang pekat.

​Ia memutar tubuhnya, menatap lekat ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Matanya yang biasa terlihat teduh dan ramah di mata warga desa, kini berkilat tajam seperti bilah pisau yang siap menghujam.

​"Tentu saja... aku tahu dengan sangat jelas siapa wanita itu, Sayang," ucap Nada bicara sendiri. Suaranya terdengar begitu tajam, berbisik lirih di antara keheningan kamar hotel yang mewah.

​Nada mencengkeram sprei ranjang dengan jemarinya yang lentik hingga kain putih itu tampak kusut. Napasnya mendadak memburu, bukan karena takut, melainkan karena amarah masa lalu yang kembali bergejolak hebat di dalam dadanya.

​"Dia perempuan yang sudah menghancurkan hidupku..." desis Nada, setiap kata yang keluar dari bibirnya sarat akan dendam yang mendalam. Kebencian yang selama ini ia kubur rapat-rapat di balik jubah dokternya, kini menguar bebas.

​Ia menjeda kalimatnya, lalu perlahan kembali mengulas sebuah senyuman—senyuman sinis yang mengerikan sekaligus penuh arti. Matanya tidak lepas dari arah kamar mandi tempat Kelvin berada.

​"Dan kau, Kelvin Alexander..." bisik Nada lagi dengan nada yang teramat dingin. "Karena kau telah memilihnya, maka kau juga harus ikut terlibat ke dalam pusaran balas dendamku. Nikmatilah pernikahan ini selagi bisa, karena pelan tapi pasti, aku akan memastikan kalian berdua membayar setiap tetes air mata yang pernah jatuh dari mataku."

Uap hangat sisa bilasan air masih menguar ketika Kelvin keluar dari kamar mandi dengan setelan pakaian baru yang telah disiapkan oleh Raka. Wajahnya sudah kembali segar, namun gurat ketegangan dan sisa pening masih tercetak di dahinya. Ia melirik Nada yang ternyata juga sudah bersiap. Wanita itu tampak anggun dengan blus tunik berwarna pastel dan celana kain yang rapi, rambutnya digulung modern menyisakan kesan yang sangat profesional sekaligus manis.

​Tanpa sepatah kata pun, Kelvin melangkah keluar dari kamar hotel, diikuti Nada di belakangnya. Di lobi, mobil mewah yang dikemudikan Raka sudah bersiap.

​Perjalanan kembali menuju kediaman utama Alexander berlangsung dalam keheningan yang mencekam. Kelvin menatap lurus ke luar jendela kaca, sementara Nada duduk tenang di sampingnya sembari sesekali memeriksa beberapa catatan medis di ponselnya. Raka yang menyetir di depan bahkan tidak berani bernapas terlalu keras, merasakan hawa dingin yang dipancarkan oleh sang bos. Di dalam mobil itu, tidak ada yang tahu bahwa di balik diamnya Nada, sebuah taktik besar sedang dirancang dengan rapi.

​Begitu mobil berhenti di lobi kediaman Alexander, Kelvin dan Nada melangkah masuk bersamaan. Di ruang tengah yang luas, Siska sudah berdiri menanti dengan raut wajah cemas bercampur curiga. Ia menatap tajam ke arah putra tunggalnya, lalu beralih pada menantu barunya.

​"Kelvin, Nada! Dari mana saja kalian? Semalaman tidak pulang ke rumah, bahkan ponsel Kelvin tidak bisa dihubungi!" tanya Siska langsung dengan nada menginterogasi.

​Kelvin baru saja hendak membuka mulutnya untuk berbohong, namun Nada dengan cepat melangkah maju. Ia meraih tangan Siska, menyalaminya dengan takzim, lalu menampilkan gurat wajah yang tampak tersipu malu—sebuah akting yang sangat natural.

​"Maafkan kami, Mama," ucap Nada, suaranya melembut, sengaja dibuat agak lirih seolah sedang membicarakan hal yang sangat tabu. "Semalam... setelah acara selesai, Mas Kelvin bilang dia ingin memberikan kejutan malam pertama untuk saya. Beliau membawa saya ke sebuah tempat khusus yang sangat privat agar kami tidak diganggu oleh siapa pun. Ponsel Mas Kelvin sengaja dimatikan agar kami bisa menikmati waktu berdua."

​Mendengar alasan yang terdengar sangat 'privat' dan intim mengenai hubungan suami istri tersebut, rona merah langsung terbit di wajah Siska. Kecurigaannya seketika menguap, berganti dengan senyum penuh arti. Kelvin yang berdiri di belakang Nada hanya bisa melotot tak percaya, rahangnya mengeras menahan dongkol karena wanita itu berani mengarang cerita seperti itu di depan ibunya.

​"Ah... begitu rupanya," ujar Siska sambil terkekeh geli, menepuk-nepuk tangan Nada. "Yaudah, Mama mengerti. Pengantin baru memang harus punya waktu berdua. Ayo langsung ke meja makan, Eyang dan Papamu sudah menunggu untuk sarapan."

​Suasana di meja makan panjang pagi itu terasa jauh lebih hangat dibanding malam sebelumnya. Eyang Arka duduk di ujung meja, memperhatikan Nada yang dengan cekatan mulai membantu para pelayan menyajikan makanan.

​Dengan gerakan yang sangat luwes dan penuh sopan santun, Nada mengambilkan piring untuk Eyang Arka. "Eyang, ini nasi gorengnya. Saya minta pelayan mengurangi minyak dan garamnya, karena di usia Eyang, kita harus menjaga tekanan darah agar tetap stabil dan jantung tetap prima," tutur Nada dengan senyuman manis khas seorang dokter.

​Eyang Arka tertegun sejenak, lalu tawa ringannya terdengar—sebuah pemandangan yang sangat langka di rumah itu. "Hahaha! Kamu ini benar-benar dokter ya, Nada. Belum apa-apa sudah mengawasi makanan Eyang."

​"Tentu saja, Eyang. Tugas saya sekarang bukan cuma mengobati warga desa, tapi juga menjaga kesehatan seluruh keluarga di rumah ini," balas Nada dengan nada ceria yang menyejukkan hati.

​Tak berhenti di sana, Nada beralih pada Siska dan Gavin, menuangkan teh hangat dengan takaran yang pas sembari melontarkan obrolan-obrolan ringan tentang tanaman herbal yang bisa menjaga stamina. Pembawaannya yang cerdas, berpendidikan, namun tetap rendah hati dan penuh perhatian seketika menyihir atmosfer ruang makan. Gavin tampak mengangguk-angguk setuju, sementara Siska berkali-kali memuji menantu pilihannya itu.

​Bahkan dua sepupu kembar Kelvin, Arsen dan Arsy, yang biasanya canggung, mulai berani menimpali obrolan Nada dengan tawa riang. Di meja makan itu, Nada telah berhasil mengambil hati seluruh keluarga Alexander hanya dalam waktu satu jam.

​Sementara itu, Kelvin duduk diam di kursinya, mengunyah makanannya dengan perasaan yang campur aduk. Ia menatap Nada yang sedang tertawa bersama ibunya. Sisi dingin dan manipulatif wanita itu di kamar hotel semalam seolah sirna tanpa bekas, digantikan oleh sosok malaikat yang begitu dicintai keluarganya. Kelvin mengepalkan tangannya di bawah meja. Gadis desa di hadapannya ini ternyata jauh lebih berbahaya dan pandai bersandiwara daripada apa yang ia bayangkan.

1
Nasya
hadeh kelvin masi aja ingat mantan
Nasya
masa lalu yang tragis
falea sezi
klo abis ne lu jutek 😒 gue timpuk lu empin
Nasya
Wkwkwk kelvin sampai pangling lihat nada, selamat buat pengantin baru
falea sezi
nah loo😕 denada celaka demi lu kevin😒
falea sezi
lanjut klo kevin g bucin q tendang ya🤣🤣 lanjut banyak thor tak kirim kembang sekebon🤣
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi🤣
falea sezi
klo uda anu2 tp lu masih berat ma katalina siap2 di buang sama nada lu kevin🤭
falea sezi
wah apakah unboxing😒
falea sezi
😒 di kasih berlian kyak nada milih jalang kayak catalina🤣 siap siap gigit jari lu klo nada uda bales dendam dan pergi jauh🤣
falea sezi
q ksih hadiah lagi seruu liat kisah bales dendam. gini asal gk kemakan permainan sendiri aja🤣
falea sezi
lanjut banyakk q kasih hadiah banyakk ya🤣🤣
falea sezi
bner jalang Catalina dan kevin lu emank goblok🤣
falea sezi
fashion thor bukan feshen🤭
zra
balas dendam jdi cinta?atau nanti ada yang lebih baik dari kelvin
zra
pasti nanti catalina menyesal wkwk,thor jangan buat kevin kembali dengan cathalina
zra
bagus
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor✍️👈☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!