Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Cuma Bosan!
Siang harinya, Rachel begitu bosan berada di kamar terus dan akhirnya ia memutuskan untuk kekuar kamar. Namun, baru saja Rachel sampai di area bengkel, sebuah tangan kasar yang berbau oli menyambar pergelangan tangannya. Sebelum ia sempat memproses apa yang terjadi, tubuhnya sudah didorong duduk di atas sebuah kursi kayu yang permukaannya kasar di tengah hiruk-pikuk bengkel.
"Santai saja, Nona Cantik. Jangan di dalam kamar terus, nanti bisa jamuran," ucap pria bertato macan di lengannya, yang Rachel ingat bernama Huy, ia menyeringai dan memamerkan deretan gigi yang tidak rata.
Pria-pria lain segera mengerumuninya, Daniel sedang berada di kolong sebuah truk tua di bagian depan bengkel, posisinya cukup jauh dan terhalang suara bising mesin gerinda yang sedang dinyalakan oleh Dandi, sehingga ia tidak menyadari situasi di area tengah.
"Ayo, ceritain dong, gimana bisa perempuan sepertimu berakhir dengan si dingin Daniel? Apa dia menculikmu?" tanya seorang pria lain sambil mencondongkan tubuhnya, aroma alkohol sisa semalam menguar dari napasnya.
Rachel merasa dadanya sesak dan pandangannya liar mencari sosok Daniel, "Aku... aku hanya temannya. Tolong, biarkan aku lewat," ucap Rachel dan suaranya bergetar namun ia berusaha menjaga sisa-sisa martabatnya sebagai seorang direktur perusahaan.
"Berarti aku temanmu juga dong, kan aku temannya Daniel," ucap Huy.
Huy tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya sendiri, tawanya terdengar parau dan tidak menyenangkan. Ia mulai mengulurkan tangan, jemarinya yang kotor oleh pelumas mendekat ke arah pipi Rachel yang mulus.
"Kulitmu ini... rasanya pasti beda ya dengan perempuan-perempuan di pelabuhan sini," bisik Huy dengan tatapan yang semakin berani.
Rachel memejamkan mata, ia sudah siap untuk berteriak sekencang mungkin. Namun, sebelum ujung jari Huy menyentuh kulitnya, suara desingan mesin gerinda di bagian depan mendadak mati, keheningan yang tercipta terasa sangat mencekam.
Sebuah bayangan panjang jatuh menutupi tubuh Rachel, Daniel sudah berdiri di sana dan keluar dari kolong truk dengan tubuh yang kotor oleh tetesan oli hitam. Wajahnya yang penuh luka memar tampak jauh lebih menyeramkan dalam diam, ia tidak berkata apa-apa, hanya berjalan mendekat dengan langkah pelan namun pasti.
"El... kita cuma bercanda, jangan serius begitu," ucap Huy dan suaranya mendadak naik karena gugup, ia mencoba menarik kembali tangannya, namun Daniel lebih cepat.
Daniel menyambar pergelangan tangan Huy dengan gerakan yang begitu kuat hingga terdengar bunyi tulang yang bergeser, Huy memekik kesakitan dan tubuhnya dipaksa membungkuk mengikuti tekanan tangan Daniel.
"Sudah kubilang tadi pagi," tanya Daniel dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan iblis di telinga Huy.
"Tangan ini... mau lo pakai buat makan atau mau gue bikin cuma bisa buat pajangan di rumah sakit?" tanya Daniel.
"Ampun, El! Gue cuma bercanda!" rintih Huy dan wajahnya sudah memerah menahan sakit.
Daniel melepaskan tangan Huy dengan kasar hingga pria itu terjerembap ke tumpukan kaleng oli bekas, eman-temannya yang lain segera mundur dan tidak ada satu pun yang berani membela Huy. Mereka tahu, Daniel yang sedang terluka secara fisik adalah Daniel yang paling berbahaya secara mental.
Daniel beralih menatap Rachel, matanya yang tajam sempat melunak sejenak saat melihat ketakutan di wajah wanita itu, namun ia segera menutupinya dengan kemarahan.
"Sudah kubilang tetap di dalam! Kenapa kau selalu mempersulit segalanya?" bentak Daniel pada Rachel.
Rachel tersentak, rasa takutnya kini bercampur dengan rasa sakit hati. Ia sudah cukup tertekan dengan pengejaran orang-orang ibunya dan sekarang pria yang menyelamatkannya justru membentaknya di depan banyak orang.
"Aku cuma bosan! Aku bukan tawananmu, Daniel!" balas Rachel dengan suara serak dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Rachel berbalik dan berlari kembali ke kamar kayu itu lalu membanting pintunya keras-keras hingga debu-debu di langit-langit bengkel berjatuhan, ia mengunci pintu dari dalam dan jatuh terduduk di balik pintu, terisak pelan sambil memeluk lututnya.
Di luar kamar, Daniel menendang sebuah ban bekas hingga terpental jauh, ia mengusap wajahnya yang kotor dengan kasar.
"Semua keluar dari bengkel sekarang! Bubar!" teriak Daniel pada teman-temannya.
Tanpa banyak tanya, mereka segera menyambar jaket dan kunci motor masing-masing, meninggalkan bengkel dengan terburu-buru. Daniel menarik napas panjang dan mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu cepat, ia melihat ke arah pintu kamar yang tertutup rapat itu dan merasa bersalah, namun terlalu kaku untuk meminta maaf.
Daniel menghela napas panjang, ia melirik Dandi yang masih berdiri mematung di pojok bengkel sambil memegang obeng dengan canggung. Dandi yang biasanya banyak bicara, kali ini tampak ragu untuk mendekati sahabatnya yang sedang terlihat seperti bom waktu yang siap meledak itu.
"El," panggil Dandi pelan.
Daniel tidak menyahut, ia malah sibuk mengelap tangannya yang berlumuran oli dengan kain majun sampai kulitnya memerah.
"Lo nggak bisa terus-terusan kayak gini, El," lanjut Dandi sambil berjalan mendekat.
"Gue tahu lo mau jagain dia, tapi cara lo ngebentak dia barusan itu salah. Dia itu bukan montir kayak kita, yang hidupnya penuh masalah dan biasa dibentak bahkan dipukul. Dia nggak terbiasa dibentak, karena hidupnya dari dulu udah enak dan dimanja," lanjut Dandi.
Daniel berhenti mengelap tangannya, rahangnya masih mengeras. "Dia keras kepala, Dan. Dia nggak sadar kalau tempat ini berbahaya buat dia, udah tahu hidupnya enak, masih aja mau ke tempat kayak gini. Sekarang, kita yang susah," ucap Daniel.
Dandi mendengus dan menyandarkan tubuhnya ke rak besi yang penuh dengan sisa-sisa blok mesin, "Ya emang dia keras kepala, tapi dia ke sini bukan buat liburan, El. Dia itu lari dari penjara mewahnya, sekarang dia ngerasa kayak masuk ke penjara baru yang lebih buruk karena lo bentak dia di depan anak-anak tadi," ucap Dandi.
Daniel tidak membalas, ia menatap pintu kamar yang masih tertutup rapat, keheningan di balik pintu itu justru terasa lebih bising daripada suara mesin motor baginya. Dengan langkah berat, Daniel berjalan menuju wastafel semen di pojok bengkel, menyiram wajahnya dengan air dingin berkali-kali seolah ingin menghapus rasa bersalah dan debu yang menempel.
Setelah sedikit lebih tenang, ia mengambil sebotol air mineral baru dan berjalan menuju kamar yang ditempati Rachel lalu mengetuk pintu itu dan kali ini sangat pelan.
"Rachel," panggil Daniel, suaranya kini melunak, kehilangan nada tajam yang biasanya ia gunakan untuk menggertak orang.
"Buka pintunya," lanjutnya.
Hening, tidak ada sahutan dari dalam. Daniel menyandarkan keningnya pada pintu kayu yang kasar itu. Ia bisa mendengar isak tangis tertahan yang sangat tipis, seolah Rachel berusaha sekuat tenaga agar harga dirinya tidak menangis di depan pria kasar seperti Daniel.
"Aku minta maaf," ucap Daniel lirih.
Kata-kata itu terasa asing di lidahnya. Di distrik pelabuhan, meminta maaf seringkali dianggap sebagai tanda kelemahan, tapi di depan pintu ini, Daniel merasa dialah yang kalah.
"Aku salah, harusnya aku nggak bentak kamu. Aku hanya tidak terbiasa bersikap lembut, jadi aku hanya bisa marah dan bentak kamu kayak tadi," ucap Daniel.
.
.
.
Bersambung.....
yaaa kaaannnnn
bahwa suatu saat Rachel akan kembali kepada Cintanya yg tinggal di Vietnam
akankah Daniel mengejar Rachel ke Indonesia
like lah Daddy Bryan sudak lampu ijo😁😁🤗
ini emaknya Rachel bener2 kebangetan deh, nyari anak kayak nyari tahanan yg kabur. gila sih udah kayak psikopat aja emaknya.😤😤😤
hemmmm bakal ngamuk nih nanti si daniel
dan sang alpha yg menjaga 🤭
dr interaksi kecil, sentuhan ringan, obrolan yg menjurus keranah pribadi. akhirnya nyaman😄😄😄
lanjut thorrr😁