Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
Pagi, ditengah alam yang indah. Tapi tak seindah yang dirasa. Masih dengan posisi berjongkok di bawah, Naysilla terdiam. Jantungnya berdebar tapi ia mencoba abai.
Semenjak menjadi siswa SMA Adiwijaya, hidupnya tak setenang dulu. Banyak ancaman mengintai dirinya, kapanpun dan di manapun. Sejak itu, ia menjadi jauh lebih waspada.
"Na..." Suara bariton memecahkan lamunan,pada bayang-bayang ancaman. Naysilla memposisikan tubuhnya tepat disamping cowok jangkung itu.
Ia mendongak ke atas, karena tinggi badan yang tidak setara. Diawali dengan senyum manis yang diberikan, sebagai penutup rasa ketakutan.
"Na..." sapanya dengan nada lebih halus tapi dingin.
"I-iyah Momon" jantungnya semakin kuat berdebar, tatkala tatapan cowok itu semakin tajam.
"Siniin!" Mohan menengadahkan tangan lebarnya. Tapi yang didapat hanya udara kosong tanpa rupa.
"Apa yang lo sembunyiin?" ia melangkah pelan, dengan tatapan tajam, mencekam. Setiap pijak, penuh desak. Hingga langkahnya terhenti, pada dinding sunyi.
Naysilla menelan ludah, ketika wajahnya begitu dekat, hampir tanpa jarak. Bagai terhipnotis, tubuhnya terdiam, dengan debaran yang tak bisa diam.
Apalagi ketika cowok itu mengangkat kedua lengannya keatas. Menghimpitnya, lantas merampas secarik kertas lusuh yang gadis itu lupa.
Ia mengamati dari bawah, ekspresi Mohan yang semakin dingin dan berbahaya.
Kertas lusuh yang semakin tak berbentuk, ketika Mohan meremasnya kuat. Membuang asal ke udara, lantas berlalu tanpa suara.
Seolah alam telah mengatur semuanya. Gumpalan kertas lusuh, jatuh tepat mengenai kepala gadis berkepang dua, yang tak sengaja tengah melintas dibawah.
"Astaga...!"
...****************...
Naysilla menggoreskan tinta basah pada bukunya. Kelopak bunga tabebuya yang seharusnya berwarna cerah, tapi ia gelapkan. Pagar kayu berdiri rapuh, dengan tanaman berduri mengelilingi.
Sebuah gambar, yang memang berisi gambaran, tentang apa yang ia rasakan.
"Makan dulu Na!" Pintanya lembut. Mohan melirik sekilas dengan wajah datarnya. Ia sodorkan susu strawberry dan roti keju kesukaan gadis itu.
Naysilla menerima, tanpa banyak bicara. Lantas menikmati sarapannya, dengan mengaktifkan mode halu.
Rasanya seolah-olah masuk dalam dunia fantasi. Alam yang indah dibawah pohon bunga tabebuya. Menikmati makanan favorit, ditemani pangeran tampan impiannya.
Mohan menarik paksa Naysilla, yang sedari tadi senyum-senyum macam orang gila.
"Apaan sih momon, sakit tau" protesnya kesal, karena lamunan indahnya buyar.
"Lo mau telat lagi?"
"Ya engga lah, gila kali masa telat terus"
"Ayo"
Tak butuh waktu lama untuk bisa sampai ke gedung sekolah. Hanya butuh waktu sepuluh menit jika berjalan kaki dari asrama ke sekolah. Dan lima menit dari area taman ke sekolahan.
"Yang masih diluar, harap segera masuk! Karena sebentar lagi gerbang akan ditutup"
Rombongan siswa, berbondong-bondong mempercepat langkah. Tatkala seorang anggota OSIS menyerukan perintah lewat pengeras suaranya.
Termasuk Naysilla dan Mohan, yang kini tengah berjalan di lorong kelas sebelas IPA.
"Nanti jam istirahat gue kesini!"
"Iyah Iyah. Makasih Momon, udah anterin aku ke kelas. Kamu baik deh" ia tersenyum menggoda, lantas menyipitkan mata bulatnya.
"Ngga usah sok manis deh. Apaan aku kamu, biasanya juga lo gue" Mohan menekan pelan dahi Naysilla dengan telunjuknya. Gadis itu hanya nyengir kuda, lantas berlenggak-lenggok memasuki kelasnya.
"Ada-ada ajah" Mohan bergumam disertai senyuman dan gelengan pelan.
...****************...
Dua jam pelajaran terlewati dengan damai. Tak ada gangguan dari trio bully, atau si pick me Olivia. Hingga tiba waktunya istirahat pertama. Sebagian siswa nampak keluar kelas, tapi tidak dengan Naysilla yang masih setia menunggu jemputan nya.
"Ayo Liv, kantin"
"Iyah Iyah. Ayo Nay, kita kantin bareng!"
"Lo duluan ajah"
"Tapi..."
"Olivia.....!" Pekik rambut ikal Angela, matanya menyorot tajam, penuh tuntutan.
"I-iyah. Aku duluan Nay"
Naysilla mana peduli. Jarinya sibuk dengan ponselnya. Berkali-kali keluar masuk WhatsApp, tapi semua senyap. Sedangkan dahaga, mulai memanggil dirinya.
"Nanti juga ketemu di kantin, gue duluan ajah ke sana" gumamnya lirih.
Langkahnya terhenti tatkala diri telah tiba didepan pintu area kantin. Seketika kenangan buruk berputar dikepala. Suara-suara itu, tatapan mata itu.
Pembullyan kejam, dan hadirnya pangeran sebagai pahlawan. Ia ingat semuanya. Masih begitu segar di kepala. Ia tak menangis waktu itu, kenangan buruk yang akan selalu melekat kuat diingatan, sampai kapanpun.
Ia berbelok kesamping menuju jalur lain. Langkahnya asal, berputar tanpa tujuan. Hingga ia menemukan keramaian di ujung sana.
Sebuah kantin sederhana yang terletak dibelakang. Ia teringat, ini adalah tempat yang sama ketika ia makan mie ayam bareng Momon malam itu.
"Hai Nay" sapaan lembut terdengar samar ditengah keramaian. Matanya menangkap sosok gadis berkepang dua, tengah tersenyum dengan lambaian tangan ke arahnya.
"Dewi..." bisiknya lirih. Langkahnya semakin bersemangat untuk mendekat.
Disini lah, dua sahabat lama kembali bersatu dengan status berbeda. Mereka duduk, makan bersama, dan bercerita apa saja. Hingga sampailah pada satu topik yang cukup serius.
"Jadi, mie ayam ini resep lo sendiri Wi?"
"Iyah. Lo tau sendiri kan, gue dari dulu suka banget sama mie ayam. Jadi gue coba-coba ajah bikin, dan ternyata enak juga. Terus gue jual deh"
"Wah... keren, keren sih. Ini enak banget sumpah"
"Biasa ajah kali. Eh, ngomong-ngomong, soal si pirang itu...." ucapannya ter jeda. Dewi menoleh kiri kanan, memastikan tak ada telinga lain yang mendengar.
"Oh, jadi lo udah tau?"
"Jadi lo beneran target mereka?" Wajahnya makin panik. Ia menutup mulutnya tak menyangka.
"Iyah, kenapa sih kaya takut gitu? Orangnya ngga ada disini juga"
"Sorry, sorry banget Nay. Gue telat nyadarnya. Gue cuma mau ngingetin, mereka berbahaya. Bahkan dengan hati-hati ajah ngga akan cukup"
"Ngomong apa sih Wi"
"Gue serius. Lo harus punya kenalan, koneksi, atau apalah yang bisa bantuin lo nanti. Yang pasti harus setara kuatnya atau lebih di atasnya"
"Apa seserius itu? Gue aja ngga tau salah gue dimana"
"Aduh Nay, lo korban pertama yang berani lawan dia. Udah pasti dia ngga bakal lepasin lo gitu ajah"
"Apa sih maksudnya Wi?"
"Ini punya lo?" Disodorkan nya secarik kertas lusuh yang ia kenal. Naysilla memandang dengan seribu pertanyaan.
"Kok?"
"Pokoknya, Lo harus lebih hati-hati hari ini. Apa nanti kalian ada kegiatan sekolah di outdoor?"
"Yah, habis ini pelajaran olahraga. Kenapa?"
"Gue bilang tunggu gue dateng, kenapa pergi duluan?" Suara bariton memecah ketegangan. Mohan menyorot tajam secara bergantian, dua orang gadis yang saling berhadapan.
"Apa sih momon, ngagetin ajah. Lo tadi lama sih, jadi gue duluan"
"Ngga sabaran banget" cowok itu mendudukkan diri, tepat disamping Naysilla. Tatapannya menyorot tajam pada Dewi, yang sedari tadi terus menunduk ke bawah.
"Gue duluan yah Nay, masih banyak kerjaan dibelakang" pamitnya lirih. Matanya menatap intens pada Mohan, ketika cowok itu berhenti menatapnya.
"Lho, Wi. Tadi lo mau bilang apa? Kok malah pergi duluan"
"Lanjut kapan-kapan ajah yah Nay, sorry banget" ucapnya buru-buru, dengan wajah tegang menunduk, dan debaran hebat di dada.
"Apa sih Momon, liatin gue gitu banget. Nanti naksir lho"
"Idih...!"
"Tuh, gue udah pesenin minum buat lo"
"Yang pink itu?"
"Ya iya lah"
"Gue cowok Na"
"Ya gue tau"
"Ngga level warna pink"
"Alaaaah, ngga usah pura-pura deh Momon. Gue tau lo sebenarnya suka kan ? Kemarin ajah gue liat lo minum es buah warna pink kok"
"Yah, ketauan deh" tangannya menggaet cepat gelas besar itu.
Naysilla tertawa lepas, melihat untuk pertama kalinya kekonyolan teman cowoknya. Tapi sialnya, perkataan Dewi tiba-tiba terlintas begitu saja. Tawanya terhenti. Ekspresi berganti.
Mohan begitu peka melihat perubahan drastis itu. Wajahnya memancarkan kekhawatiran. Dan dari kejauhan, sepasang mata memandang dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.
cupu tuh apaan ?