Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Diri Sendiri
Tubuh itu tersenyum ke arah Endric. Senyum itu bukan senyum biasa, terlalu lebar dan dipaksakan, seperti wajahnya ditarik dari dalam.
Endric langsung mundur satu langkah.
“Gue gak lucu, ya?” gumamnya.
Versi dirinya di tengah lingkaran itu mengangkat kepala perlahan. Mata mereka bertemu. Dan saat itu juga, semua orang di dalam balai desa menoleh bersamaan, menghadap Endric.
Sunyi.
Namun tekanannya terasa seperti teriakan.
Endric menahan napas. “Oke... gue harus bangun sekarang,” bisiknya.
Tidak ada yang berubah.
Versi dirinya itu mulai berdiri pelan. Tali di tubuhnya tidak lagi terlihat mengikat.
Ia melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Menuju Endric.
“Lo siapa?” tanya Endric. Suaranya serak, keluar tanpa sadar.
Versi itu tertawa kecil, persis seperti suara Endric sendiri. “Pertanyaan bodoh, cok.”
Endric membeku. Nada itu, cara bicara itu. Semuanya sama.
“Gue ya lo,” lanjutnya santai. “Versi yang lebih cepat adaptasi.”
Endric mundur lagi. “Gue gak mau adaptasi kayak gitu.”
Versi itu tersenyum. “Semua juga ngomong begitu di awal.”
Endric menggeleng. “Gue beda.”
“Gak ada yang beda.”
Langkahnya berhenti tepat beberapa meter dari Endric. Di belakangnya, warga masih berdiri diam, menonton.
“Lo tahu bagian paling enak dari sini?” tanya versi itu.
Endric terdiam.
“Gak ada lagi punya pilihan.” Endric mengerutkan kening. “Apaan enaknya?”
Versi itu mendekat sedikit. “Lo gak perlu mikir. Gak perlu takut. Tinggal ikut aja.”
Endric tertawa pendek. “Lo ngajak gue jadi zombie?”
Versi itu menggeleng pelan. “Lebih simpel, kan.”
Endric menatapnya tajam. “Lebih cari mati, iya.”
Versi itu tidak tersinggung. Ia justru tersenyum lebih lebar. “Lo capek, kan?”
Endric terdiam.
“Capek mikir. Capek takut. Capek nyari jalan keluar yang gak ada,” lanjutnya.
Endric menggigit bibirnya. “Gue masih bisa keluar.”
Versi itu tertawa pendek, sinis. “Semua bilang begitu sebelum masuk lingkaran.”
Endric menggeleng lagi. “Gue gak bakal jadi kayak lo.”
Versi itu mendekat lagi. Sekarang jaraknya hanya satu langkah. “Lo udah setengah jalan.”
Endric menegang. “Apaan?”
Versi itu menunjuk tangan Endric. Kuku itu. Masih di sana.
“Penanda,” katanya pelan.
Endric refleks menutup tangannya. “Ini bisa hilang.”
“Bisa,” jawab versi itu santai.
“Kalau lo berhenti nolak.”
Endric menatapnya. “Gue gak nolak.”
“Lo nolak,” jawab versi itu cepat. “Lo masih mikir keluar. Masih nyari cara. Masih takut mati.”
Endric diam.
“Kalau lo berhenti... semuanya jadi gampang.”
Endric tertawa kecil. “Gampang mati, maksud lo.”
Versi itu tidak membantah. “Gampang selesai.”
Sunyi jatuh di antara mereka. Endric merasakan sesuatu di dalam dirinya bergerak, keraguan, lelah, dan takut bercampur.
“Lo gak kangen... Ketenangan?” tanya versi itu pelan.
Endric menelan ludah. “Tenang yang kayak gini?” ia menunjuk sekeliling.
Versi itu menoleh sebentar, ke warga dan ruangan, lalu kembali ke Endric. “Iya.”
Endric menggeleng pelan. “Gue masih mending capek.”
Versi itu menatapnya lama, lalu menghela napas. “Ya sudah.” Ia mundur satu langkah. “Berarti lo harus lihat sendiri.”
Endric mengernyit. “Lihat apa?”
Versi itu mengangkat tangan, menunjuk ke belakangnya. Lingkaran itu terbuka, memberi jalan.
Endric menoleh. Dan langsung membeku. Di tengah ruangan, kini bukan hanya satu tubuh. Ada banyak Berjejer Dalam kondisi berbeda.
Ada yang masih utuh.
Ada yang sudah rusak.
Ada yang hampir tidak berbentuk manusia.
Endric menahan napas.
“...Ini apa...”
Versi itu menjawab pelan.
“Yang dipilih.”
Endric merasakan perutnya mual.
“Lo bilang cuma satu.”
Versi itu tersenyum. “Setiap waktu satu.”
Endric tidak bisa berkata apa-apa. Matanya terus menatap barisan itu.
“Yang tidak dipilih ke mana?” tanyanya pelan.
Versi itu menoleh ke arahnya. Senyumnya hilang. “Lo pikir mereka pergi?”
Endric membeku. “Mereka jadi apa?”
Versi itu mendekat lagi. Suaranya turun, hampir berbisik. “Yang manggil lo.”
Endric langsung mundur. Jantungnya berdetak keras. “Gak...”
Versi itu mengangguk. “Yang di bawah lantai. Yang di dinding. Yang di hutan.”
Endric menutup telinganya. “Cukup.”
Namun suara itu tetap masuk. “Semua yang gagal dipilih.”
Endric membuka mata. Napasnya tidak teratur. “Gue gak mau jadi itu.”
Versi itu menatapnya. “Berarti lo harus siap jadi yang dipilih.”
Endric terdiam. Tidak ada jawaban yang benar. Tidak ada pilihan yang aman.
“...Ini jebakan,” katanya pelan.
Versi itu tersenyum lagi.
“Selamat. Akhirnya lo ngerti.”
Endric menatapnya. “Kalau semua pilihan jelek, berarti ada yang belum gue lihat.”
Versi itu mengangkat alis. “Optimis juga lo.”
Endric menarik napas dalam. “Gue gak peduli. Gue bakal tetap nyari.”
Versi itu tertawa kecil. “Silakan.” Ia mundur, kembali ke lingkaran. “Gue tunggu lo di sini.”
Endric mengernyit. “Ngapain nunggu?”
Versi itu menatapnya dalam. “Karena nanti... lo pasti balik lagi.”
Tiba-tiba suara keras menggema, seperti sesuatu retak.
Endric langsung menoleh.
Langit merah di atas balai desa mulai pecah. Cahaya putih masuk, terang dan menyilaukan.
“...Apa ini...”
Versi itu tersenyum. “Waktunya bangun.”
Endric menutup mata.
Dan Ia terbangun dengan napas tersengal. Tubuhnya langsung duduk tegak di kasur. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“ANJIR...”
Gandhul sudah di sampingnya.
“Gimana?” tanyanya.
Endric menatap kosong ke depan selama beberapa detik, lalu menjawab pelan,
“Gue ketemu diri gue sendiri.”
Gandhul mengangguk. “Wajar.”
Endric langsung menoleh. “Wajar apaan?!”
“Efek minuman tadi.”
Endric mengusap wajahnya. “Gue lihat kalau gue gak dipilih, gue jadi yang manggil.” Gandhul diam, tidak membantah. Endric menelan ludah. “Dan kalau gue dipilih, gue mati.”
“Betul.”
Endric tertawa pendek. “Bagus. Dua-duanya jelek.”
Gandhul mengangguk. “Makanya ini menarik.”
Endric menatapnya kesal. “Gue tidak suka definisi menarik lo.”
Ia turun dari kasur, berjalan ke meja, lalu menatap tangannya. Kuku itu masih ada. Namun sekarang lebih panjang Sedikit.
Endric langsung menegang. “Ndhul...”
“Kenapa?”
Endric mengangkat tangannya. “Ini nambah panjang ya.”
Gandhul mendekat, melihat, lalu berkata pelan, “Berarti waktunya makin dekat.”
Endric menelan ludah. “Seberapa dekat?”
Gandhul menatapnya. Senyumnya tipis, tetapi kali ini tanpa candaan.
“Malam ini.”