Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
POV: Nara
Hari ini aku ingin pergi ke pemakaman.
Sudah terlalu lama aku menghindarinya. Terlalu lama aku berpura-pura kuat, seolah kehilangan itu hanya cerita lama yang bisa dilipat dan disimpan rapi di laci ingatan. Padahal kenyataannya, setiap malam sebelum tidur, aku masih memanggil nama yang tak pernah lagi menjawab.
Aku takut datang ke sana. Takut melihat batu nisan itu dan dipaksa menerima bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Tapi hari ini, rindu itu lebih besar daripada takutku.
Aku harus pergi. Dan aku harus melakukannya tanpa sepengetahuan Dev. Ia tidak akan mengizinkan. Ia selalu berkata aku tidak perlu kembali ke masa lalu. Katanya, itu hanya akan membuatku bersedih lagi. Katanya, ia tidak suka melihatku menangis karena sesuatu yang tidak bisa kembali.
Pagi tadi ia berangkat sangat pagi ke restorannya. Seperti biasa, ia menyiapkan sarapan untukku, mengecup keningku sebelum pergi, lalu rumah ini kembali hening. Hening yang terasa panjang.
Sejak Bagas tidak lagi bekerja di sini, aku terbiasa memanggil taksi jika ingin pergi. Dev sempat menawariku supir pribadi lagi, tapi aku menolak. Aku tidak ingin dia merasa aku tidak mampu berdiri sendiri. Aku bukan anak kecil yang harus diawasi setiap waktu.
Setelah merapikan diri, aku memesan taksi dan bergegas pergi. Pemakaman itu masih sama—udara lembap, aroma tanah basah yang khas, deretan nisan yang berdiri sunyi seperti saksi bisu cerita-cerita yang tak lagi punya suara. Pepohonan kamboja masih menjatuhkan daun-daunnya yang mengering di atas tanah.
Aku menyusuri jalan setapak yang mulai ditumbuhi lumut. Jantungku berdetak semakin keras saat langkahku mendekat ke dua nisan yang berdampingan.
Di sana—dua gundukan tanah yang pernah menjadi pusat hidupku. Rumput liar mulai memanjang di sela-selanya. Daun-daun kering menutupi sebagian nama yang terukir.
Aku berlutut. Tanganku mencabut rumput-rumput itu satu per satu. Membersihkan dedaunan yang menempel. Ujung jariku menyentuh batu nisan yang masih basah oleh embun.
Nama itu—nama yang dulu sering kupanggil dengan nada manja.
“Cantika…” Suara itu keluar begitu saja.
Hening—tidak ada jawaban. Tidak ada tawa kecil yang biasa menyahutku.
Aku tersenyum, tapi air mataku jatuh tanpa bisa dicegah. Mataku bergeser ke nisan di sebelahnya. Nama itu masih terukir jelas. Tidak pudar. Sama seperti ingatanku. “Bagaimana kabarmu?” tanyaku pelan, seperti orang bodoh yang berbicara pada tanah.
“Aku merindukanmu.”
Tanganku mengusap rumput halus di atasnya. Tetesan air menyentuh pipiku. Awalnya kukira air mataku sendiri, tapi ketika mendongak, langit sudah gelap. Awan menggantung berat. Hujan turun perlahan, lalu semakin deras. Aku berdiri, memandang dua nisan itu sekali lagi sebelum pergi.
Aku meninggalkan dua hatiku di sana. Aku tidak langsung kembali ke rumah Dev. Ada satu tempat lain yang tiba-tiba ingin kudatangi—Rumah lamaku.
Rumah yang sudah lama tidak kukunjungi.
Pintu itu kubuka perlahan. Bau debu dan kayu tua menyambutku. Tidak ada suara tawa lagi di sini. Tanganku menyentuh meja ruang tamu. Debu menempel di ujung jariku. Aku menghela napas panjang. Sepertinya aku memang terlalu lama meninggalkannya.
Perabotan masih sama. Sofa yang dulu sering kami duduki bertiga. Lemari kecil di sudut ruangan. Tirai yang warnanya mulai memudar. Foto-foto di dinding masih tergantung. Tiga orang yang tersenyum bahagia. Pelukan hangat. Tawa yang terasa begitu nyata di dalam bingkai. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.
Aku membersihkan rumah itu perlahan. Mengelap meja. Menyapu lantai. Seolah dengan melakukan itu, aku bisa menghidupkan kembali sesuatu yang sudah lama mati. Setelah selesai, aku masuk ke kamarku. Kamar yang tak pernah benar-benar berubah. Aku berbaring di ranjang lama, memeluk boneka Doraemon yang dulu menjadi hadiah ulang tahunku. Bau kain yang sudah lama tersimpan membuat dadaku semakin sesak.
Aku tidak sadar kapan tertidur. Ketika membuka mata, kamar sudah gelap. Aku langsung bangun. Jantungku berdegup kencang. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Aku terlambat—terlambat untuk kembali.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku dipenuhi bayangan Dev. Bagaimana jika ia marah? Akhir-akhir ini ia berubah. Ia selalu bertanya aku dari mana, dengan siapa, melakukan apa. Aku harus memberi kabar setiap waktu. Tidak boleh berinteraksi dengan orang asing tanpa sepengetahuannya. Katanya ia hanya khawatir. Katanya ia takut kehilanganku—aku menurut.
Kupikir itu bentuk cinta. Atau mungkin… bentuk lain dari sesuatu yang lebih gelap.
Aku membuka pintu rumah perlahan. Ruang tengah kosong. Mungkin Dev ada di kamar. Aku berjalan menuju kamarku. Gagang pintu terasa dingin di telapak tanganku.
Kubuka—gelap.
Aku meraba saklar lampu.
Klik... Lampu menyala.
Dan jantungku seperti berhenti—Dev duduk di kursi di sudut kamarku. Tangannya memainkan rubik. Tatapannya fokus pada warna-warna kecil itu. Wajahnya datar.
“Dev…” panggilku pelan.
Tidak ada jawaban. Rubik itu masih berputar di tangannya.
“Kamu sedang apa?” tanyaku lagi, mencoba terdengar biasa.
“Kamu dari mana?” suaranya datar, tanpa menatapku.
Aku menelan ludah. “Maaf aku baru pulang. Aku dari Gramedia… cari buku.”
Tubuhku masih berdiri kaku di dekat pintu.
Tiba-tiba ia tertawa pelan. “Gramedia ya?”
Tangannya berhenti memutar kubik. Ia berdiri. Melangkah perlahan mendekatiku. Berhenti tepat di depanku. Tangannya terangkat, membelai rambutku.
“Sejak kapan seorang Nara senang membaca?”
Suaranya lembut.
“Memangnya salah kalau aku mulai suka buku?” tanyaku, mencoba tenang.
“Tidak ada yang salah.” Ia mengendus rambutku. “Yang salah hanya kamu yang mengabaikan teleponku.”
Aku tersentak—Ponselku.
Aku benar-benar tidak mengeceknya seharian.
“Aku lupa. Aku tidak buka ponsel, jadi aku tidak tahu.”
Napasnya terasa hangat di leherku. “Kenapa kamu mulai berbohong, Nara?”
“Aku tidak berbohong, Dev.”
Tiba-tiba tangannya mencengkeram leherku. Tidak keras di awal, tapi cukup membuatku mendongak.
“Kamu tidak bisa menutupi apa pun dariku,” bisiknya. “Aku tahu setiap detail aktivitasmu.”
Cengkeramannya menguat.
“Dev… sakit.” Suaraku pecah, batuk kecil keluar dari tenggorokanku.
Ia melepaskannya mendadak. “Kenapa kamu kembali ke rumah itu?”
Aku membeku.
“Kamu tahu dari mana?” Tanganku memegang leherku yang perih.
Ia tersenyum kecil. “Ponselmu. Aku bisa melacaknya.”
Dadaku terasa sesak. “Itu berlebihan, Dev. Aku tidak punya privasi kalau begitu.”
“Privasi?” suaranya naik sedikit. “Kamu ingin menyembunyikan sesuatu dariku?”
“Tidak ada yang kusembunyikan!”
“Lalu kaca itu?” Ia menunjuk ke arah kamar mandi. “Kenapa pecah?”
“Aku tidak sengaja.”
“Soal wajah lagi?” suaranya berubah tajam. “Sampai kapan kamu seperti ini?”
Tangannya mencengkeram lenganku kuat. “Kamu bersikap seperti itu sama saja kamu tidak benar-benar mencintaiku.”
“Aku mencintaimu!” teriakku. “Aku hanya belum terbiasa dengan wajah ini! Orang-orang terus membandingkanku dengannya. Bagaimana mungkin aku bisa bahagia kalau setiap hari aku diingatkan bahwa aku bukan diriku sendiri?”
Air mataku jatuh lagi. “Aku lelah, Dev!”
Ia terdiam.
Aku merosot ke lantai, menangis, menutup wajah dengan kedua tangan. Ia ikut berlutut. Memaksa membuka tanganku. Untuk beberapa detik ia hanya menatapku. Lalu memelukku, pelukannya kuat.
Malam itu terasa panjang. Dan di dalam pelukan itu, aku akhirnya menyadari sesuatu yang selama ini coba kuabaikan. Devandra yang memelukku sekarang… bukan lagi lelaki yang dulu membuatku merasa aman. Ia adalah pria posesif yang mencintai dengan ego.
Dan aku mulai takut, suatu hari nanti, cintanya akan menjadi hal yang paling menyakitkan dalam hidupku.