NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senja yang Menyambut Janji Suci

Gelak tawa riuh terdengar dari arah ruang tamu. Ternyata, para tamu yang dimaksud Bu Sarasvati adalah teman-teman kerja Kinanti yang belum sempat hadir tadi siang karena kebagian jam kerja pagi.

"Aku masih tidak menyangka kamu menikah, Kinan. Selama ini kamu tidak pernah terlihat dekat atau diantar oleh siapa pun selain bapakmu. Kalau ada yang berusaha mendekatimu di toko bunga, selalu kamu tolak. Ternyata kamu sudah ada yang punya, dan ganteng pula! Jadi, alasanmu izin tidak masuk itu adalah untuk persiapan pernikahanmu?" ujar Tika, menggebu-gebu.

"Iya, benar sekali! Aku juga tidak akan tahu kalau bukan suamimu sendiri yang datang ke toko bunga memberikan undangan, Kinan," sahut Sekar.

Kinanti hanya meringis mendengar rentetan godaan dan omelan sayang dari teman-temannya. Ia masih asyik menikmati hidangan soto ayam di piring masing-masing. Namun, teman-teman Kinanti tak juga gentar menggoda pengantin baru itu.

"Ngomong-ngomong, bagaimana, Kinan?" tanya Tika usil, menjeda makan.

"Apanya yang bagaimana?" tanya Kinanti, pura-pura tidak paham.

Teman-temannya memutar bola mata, gemas.

"Kinanti!" seru mereka serentak.

Kinanti terkekeh melihat raut kesal mereka.

"Masih sore, tidak buru-buru, kok," jawab Kinanti santai, membiarkan mereka penasaran.

"Uhuyyy," sahut salah satu dari mereka pelan, sementara yang lain hanya bisa menggeleng tak percaya.

"Masa, sih? Suamimu segagah itu, apa iya kamu tidak tergoda, Kinan? Hahaha," ucap salah satu temannya, memancing tawa geli. Kinanti sampai membekap mulutnya agar tawanya tidak meledak terlalu keras.

"Kalian ini! Sudah, makan saja, tidak usah membahas itu. Malu," lerai Kinanti, takut jika ledekan ini terdengar sampai ke telinga ibu mertuanya. Perbincangan mereka pun beralih menjadi pembahasan santai lainnya.

Kinanti merasa sangat senang. Teman-teman kerjanya begitu baik padanya, dari awal ia bekerja sampai sekarang. Ia merasa beruntung bisa memiliki teman-teman seperti mereka persahabatan yang jauh dari kesalahpahaman, apa adanya, tanpa berpura-pura, dan selalu mengutarakan apa yang dirasakan saat itu juga.

ღ❖❁✦ღ❖❁✦ღ❖❁✦ღ❖❁✦ღ❖❁✦

💢 Drama di Dapur Wijaya

Di ruang dapur, Aditya baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya tampak lembap. Ia agak terkejut ketika melihat ibunya, Bu Sarasvati, sudah melirik sinis ke arahnya.

"Ada apa, Bu?" tanya Aditya.

"Kamu itu!" jawab Bu Saraswati jengkel.

"Apa, Bu?" tanya Aditya lagi.

"Masih sore, Nak. Banyak tamu yang masih berdatangan. Kinanti malah kamu kurung di dalam kamar!" ujar Bu Sarasvati, terdengar sebal.

TUK!

Sebuah sendok besar yang baru selesai dicuci melayang dan mendarat di bahu kekar Aditya. Bukannya marah, pria tampan itu malah tersenyum geli.

"Kan sudah sah, ya bebas, dong, Bu," jawab Aditya santai.

"Bebas! Bebas kepalamu itu! Ini di rumah Pak Wisnu, mertuamu. Jaga sikap, Adi!" Omelan Bu Sarasvati terdengar sewot.

"Iya iya, Kanjeng Nyonya," canda Aditya, menunduk hormat dengan nada menggoda.

"Ibu serius, Adi!" tukas Bu Sarasvati.

"Ini sudah serius, Bu. Kalau belum serius, Kinanti tidak akan jadi menantu Ibu sekarang," jawab Aditya, santai tak terganggu.

Beberapa kerabat Kinanti yang kebetulan berada di dapur tampak menahan senyum mendengar perdebatan lucu sepasang ibu dan anak itu.

"Ngeyel saja kalau diberi tahu," ucap Bu Sarasvati, menggerutu pelan.

Aditya memilih diam daripada kena omel lagi. Tak lama kemudian, Kinanti datang. Aditya dan Bu Sarasvati kompak menoleh ke arah gadis cantik yang membawa sebuah piring kosong itu.

"Loh, Nak?" bu Sarasvati segera mendekat ke arah Kinanti.

"Ini, Bu. Teman Kinan ada yang mau nambah lagi," ucap Kinanti sambil tersenyum kecil.

Bu Sarasvati sontak tertawa. "Ya sudah, sini biar Ibu yang tambahkan."

Kinanti menyerahkan piring yang ia bawa. Bu Sarasvati bergeser untuk mengambilkan makanan. Kesempatan kecil itu dimanfaatkan Aditya untuk mendekat. Pria tampan yang baru selesai mandi itu menghampiri istrinya.

"Sayang," bisik Aditya.

Kinanti menoleh dan tersenyum lembut kepada suaminya. Aditya mengulurkan handuk yang tersampir di bahunya. Kinanti paham. Ia langsung menjinjit guna mengeringkan rambut sang suami yang selesai keramas. Aditya sedikit menunduk agar tidak menyusahkan sang istri yang lebih pendek darinya.

"Masih lama ya tamunya?" bisik Aditya lagi, suaranya pelan dan manja.

Kinanti mengangguk. Memang benar, teman-temannya masih betah stay di ruang tamu.

"Kenapa masih lama sekali," keluh Aditya.

Usapan Kinanti terhenti. Mata beningnya memandang wajah menggemaskan Aditya. Suaminya ini kenapa terlihat berbeda sekarang; lebih manja, padahal dulu saat mengurungnya di rumah terkesan sangat dingin.

"Sabar," sahut Kinanti lembut.

Bibir Aditya maju, merajuk pada sang istri.

"Mau ikut aku ke depan menemui mereka?" tawar Kinanti.

Aditya menggeleng tak mau. "Perempuan semua, kan?" tanyanya. Sang istri mengangguk kecil.

"Tidak mau. Aku malas kalau Mas digoda. Bagaimana kalau Mas tergoda?" ucap Aditya, berlebihan. Kinanti mendelik mendengarnya.

"Cih, orang jelek begini mana ada yang mau menggoda, toh?" cibir Bu Sarasvati yang tiba-tiba menyempil di tengah-tengah mereka sambil membawa sebuah piring yang sudah terdapat porsi soto ayam.

"Ibuu!" protes Aditya.

Bu Sarasvati tidak mengindahkan. Beliau asyik berbincang sebentar dengan Kinanti.

"Sebentar ya, Mas, aku ke depan dulu," pamit Kinanti sambil membawa piring soto ayam yang sudah terisi.

"Tapi, Sayang..." ucap Aditya, terpotong karena merasa tidak rela istrinya pergi.

*Tamunya lama sekali,* batin Aditya.

"Eits, eits… Sabar, dong, Nak, kamu ini," Bu Sarasvati terus mengomelinya.

"Ibu," panggil Aditya.

"Apa lagi?" balas Bu Sarasvati, terdengar sangat sewot.

"Tidak pulang ke rumah menyusul Ayah dan Abyan?" tanya Aditya.

Bu Sarasvati mendelik dan menyibak kesal. "Kamu mengusir Ibu?!"

*Entah kenapa aku hari ini salah terus di mata ibu,* batin Aditya, pasrah.

ღ❖❁✦ღ❖❁✦ღ❖❁✦ღ❖❁✦ღ❖❁✦

🌅 Janji Cinta di Penghujung Senja

Sepulang teman-teman Kinanti, gadis cantik itu masuk lagi ke dalam rumah. Waktu Magrib sebentar lagi akan tiba. Kinanti sudah sibuk di dapur membantu Bu Sarasvati.

Kini, mereka tengah makan malam bersama kerabat dari pihak Pak Wisnu ayah Kinanti dan mendiang istri Pak Wisnu. Tak lupa juga, Pak Wijaya dan Abyan telah kembali ke rumah Pak Wisnu. Sementara kerabat Aditya yang lain telah pulang.

Di meja makan, Kinanti tampak mengambilkan nasi dan lauk terlebih dulu untuk ayahnya, baru setelah itu untuk suaminya. Aditya menanti dengan sabar, tatap matanya tak lepas dari sang istri.

"Terima kasih, Sayang," ucap Aditya lembut.

"Sama-sama," jawab Kinanti, juga lembut.

Kehangatan itu tak luput dari pandangan kedua orang tua mereka. Pak Wijaya dan Pak Wisnu merasa senang melihat anak-anak mereka begitu mesra.

"Adi, nanti kamu ikut Ayah bersama Ayah Wisnu di ruang tamu. Setelah Isya, ada teman Ayah yang belum sempat datang ke pernikahanmu dengan Kinanti tadi," ucap Pak Wijaya, penuh wibawa.

"Iya, Ayah," jawab Aditya, mengangguk paham.

Selesai makan malam, mereka menunaikan salat Magrib. Di dalam kamar, Kinanti diimami oleh suaminya. Setelah tahiyat akhir dan salam, Kinanti mengecup punggung tangan sang suami dengan penuh kepatuhan. Kening gadis itu pun dikecup lembut oleh Aditya. Keduanya saling pandang dengan binar mata yang memancarkan cinta.

"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah mau menerima Mas dengan segala kekurangan ini," ucap Aditya tulus.

Kinanti tersenyum manis. "Aku juga mengucapkan terima kasih karena Mas Aditya memilihku sebagai istri, dan tidak berhenti berjuang untuk meyakinkanku."

Sebelah tangan Kinanti terangkat, membelai lembut pipi suaminya. Aditya berkali-kali lipat makin tampan saat mengenakan baju koko, sarung, dan berpeci seperti ini. Tak pernah sekalipun Aditya tidak membalas senyuman manis gadis cantik ini.

"Aku beruntung karena bersanding denganmu, Mas. Pria yang dulu tidak pernah sedikit pun aku pikir bakal jadi suamiku," lanjut Kinanti.

"Dan sekarang, Mas yang jadi imammu, suamimu, dan nantinya akan menjadi ayah dari anak-anak kita," sahut Aditya lembut, sembari netra matanya terus menatap wajah cantik istrinya. Kinanti semakin tersenyum lebar.

"Mas, di waktu Magrib ini, di mana langit sedang senja dengan cantiknya, aku ingin mengatakan pada suamiku, Aditya Sakti Wijaya, bahwa hidup dan kebahagiaan akan kuabdikan bersamamu," ucap Kinanti tulus.

Di dalam dada Aditya, rasanya tiba-tiba ada kembang api yang meledak. Tak terasa, sepasang mata Aditya berkaca-kaca mendengarnya. Semua kata-kata Kinanti terdengar indah sekali, seindah paras dan perangainya. Aditya semakin tergila-gila pada istrinya ini.

"Mas Adi, aku mencintaimu, Mas," ungkap Kinanti.

DEG!!

"Sayang..." ucap Aditya, tertegun.

"Sangat mencintaimu, sekarang dan selamanya," lanjut Kinanti, menguatkan.

GREP!!

Tak kuasa membendung air matanya, Aditya segera menarik Kinanti ke dalam dekapannya, sangat erat. Akhirnya, perjuangannya tidak sia-sia. Istrinya membalas cintanya.

"Mas lebih mencintaimu, Sayang. Teramat sangat mencintaimu," ucap Aditya, suaranya tercekat.

CUP!

Aditya mencium lama kening istrinya.

"Kamu tahu? Yang lebih merasa beruntung itu Mas, karena Mas bisa memilikimu, Sayang. Terima kasih sudah berkenan menjadi bagian hidup Mas. Maaf kalau cara Mas salah, sampai mengurungmu di rumah Mas agar kamu mau Mas nikahi. Ayo kita bangun keluarga kecil kita sama-sama ya, Sayang. Kamu mau kan membangun keluarga bersama Mas? Kita buat putra-putri kecil yang menggemaskan sepertimu, Sayang," Nada suara Aditya bergetar hebat.

Aditya merangkum wajah cantik Kinanti, membuat istrinya menatap lekat padanya.

"Mas, aku tidak punya alasan untuk menolak lagi," ucap Kinanti.

Ucapan itu sontak membuat air mata bahagia Aditya berjatuhan.

"Kok menangis? Maaf ya, pernah membuatmu marah atas penolakanku," ucap Kinanti, mengusap lembut sisa air mata di pipi pria tampan itu.

"Mas senang. Senang banget. Terima kasih, Sayangku," bisik Aditya, sembari memeluk Kinanti lagi dengan erat.

Kinanti tersenyum haru. Ia membalas pelukan sang suami tak kalah hangat.

"Hanya denganmu, Sayang. Mas tidak minat dengan yang lain. Hanya denganmu, gadis cantikku," gumam Aditya, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher istrinya, mencari kenyamanan.

"Semoga pernikahan kita langgeng, menjadi yang pertama dan terakhir untuk selamanya, Sayang," ucap Aditya.

Kinanti mengaminkan, sembari terus mengusap punggung lebar sang suami.

Menjelang senja ini, untuk pertama kalinya mereka berdua menunaikan ibadah salat berjamaah sebagai sepasang suami istri. Betapa senangnya Aditya. Dadanya terasa meletup-letup penuh kelegaan dan kebahagiaan yang tak terhingga.

Bersambung__

_____

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!