Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Lemahnya Ingatan dan Kuatnya Pertanyaan
Darren masih saja terjebak di dalam barisan antrian yang membosankan. Masalahnya adalah karena hanya dua kasir yang beroperasi siang itu, sementara jumlah pengunjungnya membeludak. Tepat di depannya ibu-ibu tengah membawa keranjang penuh berisi sembako, belum lagi di belakangnya, seorang pria bertato terus memainkan ponsel dengan volume yang sangat bising.
Tentu saja sang pemilik sistem sukses dibuat menggenggam dua botol air mineral dan dua bungkus roti dengan perasaan jengkel.
“Baru mau beli minum dan roti saja, antriannya sudah seperti mau rebutan bansos,” batin Darren dengan dahi berkerut kesal. “Enak sekali ya kalau punya asisten pribadi khusus untuk mengantri. Tapi masalahnya, asisten pribadinya justru aku sendiri, jadi tidak mungkin bisa.”
Baru saja dirinya sadar jika ponselnya tertinggal di dalam mobil. Alhasil, dia hanya bisa menoleh ke arah luar kaca transparan untuk memastikan kondisi Seo yeon baik-baik saja. Namun, pemandangan di luar sangat ramai oleh kendaraan yang mengisi bahan bakar, sehingga dia tidak bisa melihat posisi mobilnya dengan jelas.
Darren kembali fokus ke depan. Tinggal satu orang lagi sebelum gilirannya tiba. Kendati demikian, dia merasa ada dorongan untuk menoleh keluar sekali lagi. Kali ini dia memicingkan mata lebih lama, untuk melihat seorang pria berjas gelap dengan rambut klimis sedang berbicara dengan Seo yeon melalui celah jendela yang sedikit terbuka.
“Itu jelas bukan petugas SPBU,” batin Darren curiga.
Dia segera memanggil sistem untuk membedah identitas pria tersebut. Layar transparan biru pun muncul seketika, namun detik berikutnya hanya menampilkan pesan gangguan. Sistem mengalami error dan target tidak dapat diidentifikasi secara menyeluruh. Oleh sebab itulah Darren langsung menyimpulkan identitas pria itu, yang siapa lagi kalau bukan William Kusuma. Tanpa memedulikan barang belanjaannya, dia meletakkannya begitu saja di rak permen dan segera keluar dari mini market dengan cepat.
William menyadari kehadiran Darren yang mendekat dengan ekspresi tidak bersahabat. Sementara pria bermata biru itu justru memberikan senyum ramah dan segera menyodorkan tangannya.
“Pak Darren, kebetulan sekali kita bisa bertemu lagi di sini. Bagaimana kabar Anda?” sapa William dengan santai.
Akan tetapi Darren sama sekali tidak menggubris tangan yang terulur itu. Alih-alih menyapa balik, dia justru membungkukkan tubuh ke arah jendela mobil untuk memeriksa kondisi majikannya.
“Nona baik-baik saja? Apakah ada seseorang yang mengganggu kenyamanan Nona?” tanya Darren tanpa basa-basi.
Seo yeon sendiri sedikit terkejut melihat reaksi protektif asistennya. Wajahnya yang biasanya dingin membeku, kali ini memperlihatkan ekspresi yang aneh. Matanya sedikit membulat dan kedua pipinya tampak memerah.
“Aku baik-baik saja, Darren. Tidak ada masalah,” jawab Seo yeon.
Baru setelah mendengar konfirmasi dari Seo yeon, Darren menoleh ke arah William. Dia menjabat tangan pria itu dengan sangat singkat dan kaku.
“Mohon maaf karena saya memang bertanggung jawab atas keamanan Nona Seo yeon,” ujar Darren dengan penekanan pada kata keamanan.
William tertawa kecil seolah tidak terganggu dengan sikap kaku Darren. “Saya sangat tahu hal itu. Seo yeon sudah banyak bercerita tentang Anda.”
Darren tetap tidak membalas senyumnnya. “Dalam beberapa minggu terakhir, Nona Seo yeon sedang tidak berada dalam kondisi yang kondusif. Terlalu banyak gangguan dari pihak-pihak tidak bertanggung jawab, sehingga saya memiliki tugas ekstra untuk menjaganya tetap aman.”
“Oh, begitu?” William memberikan anggukan mengerti, raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. “Saya juga sempat mendengar kabar soal adanya sedikit masalah keamanan. Saya tidak akan mencoba mengulik lebih jauh mengenai tragedi atau kesulitan yang sedang kalian hadapi. Namun karena Seo yeon adalah teman lama saya, saya benar-benar berharap segalanya bisa segera membaik.”
Dia kemudian kembali menatap Seo yeon dengan tatapan lembut. “Sayangnya, jika kondisimu sedang tidak memungkinkan seperti ini, sepertinya kau tidak akan bisa bebas hadir ke acara ulang tahunku besok malam.”
Seo yeon menghela napas panjang sembari memikirkan situasi keluarganya. “Ayahku sepertinya tidak akan memberikan izin kepadaku untuk pergi ke acara kumpul-kumpul semacam itu. Situasi saat ini memang sedang tidak aman bagi aku maupun Wonyoung.”
Lantas William tersenyum lebar, seolah baru saja mendapatkan sebuah solusi cemerlang. “Kalau masalahnya adalah keamanan, bagaimana jika Darren juga ikut serta mendampingimu? Dia kan asistenmu sekaligus bertindak sebagai bodyguard dadakan. Acaranya tidak akan memakan waktu lama, paling hanya setengah jam jika kalian memang ingin segera pulang.”
William menambahkan kalimatnya dengan penuh harapan. “Tentu saja secara pribadi aku berharap kalian bisa tinggal lebih lama, tapi aku tidak ingin memaksa kondisimu.”
Seo yeon segera menimbang tawaran tersebut. “Kapan sebenarnya hari ulang tahunmu, Liam?”
William sampai tertawa lepas mendengar pertanyaan itu. “Bahkan kamu sampai lupa tanggal lahirku sendiri? Padahal aku kira kita ini sudah bersahabat sangat lama.”
“Maaf, aku memang orang yang cukup pelupa,” jelas Seo yeon dengan sedikit kikuk.
“Tidak masalah, aku pun terkadang sering lupa. Yang terpenting bagiku adalah kehadiranmu besok malam,” balas William ramah.
Seo yeon terdiam sebelum akhirnya memberikan jawaban final. “Baiklah, aku akan datang.”
Darren baru saja hendak membuka mulut untuk mengingatkan soal risiko keamanan, namun Seo yeon segera mengangkat telapak tangannya. Sebuah isyarat agar Darren tidak mengeluarkan bantahan. Darren pun terpaksa menutup mulutnya kembali meskipun hatinya merasa tidak tenang.
Sedangkan William terlihat sangat sumringah. “Bagus sekali! Aku akan menantikan kedatangan kalian dengan senang hati. Pastikan Darren juga ikut mendampingimu ya, jangan datang sendirian.”
William melambaikan tangannya dengan santai, lalu melangkah masuk ke dalam mobil hitam miliknya yang segera melaju meninggalkan area SPBU.
Keheningan yang canggung pun akhirnya melingkupi mereka berdua selama beberapa saat. Darren menatap Seo yeon dengan tatapan penuh tanya, sementara wanita itu membalas tatapannya dengan raut datar entah apa yang dia pikirkan.
“Mana minuman yang aku minta tadi?” tanya Seo yeon tiba-tiba untuk mengalihkan pembicaraan.
Darren seketika menepuk jidatnya sendiri. “Ketinggalan di meja kasir mini market, Nona.”
“Kenapa kamu bisa seceroboh itu sih?” tanya Seo yeon lagi.
“Itu karena saya merasa Nona sedang dalam bahaya karena diganggu oleh pria yang tidak bertanggung jawab,” Darren segera berkilah dengan gusar.
“William bukan seorang pengganggu, Darren.”
“Pria yang tiba-tiba muncul di SPBU tanpa pemberitahuan sebelumnya, bagi saya itu adalah definisi pengganggu.”
Seo yeon pun mendesah panjang. “Sudahlah, segera ambil kembali minumannya. Aku benar-benar haus sekarang.”
Darren melirik ke arah botol minuman yang tadi ditinggalkan oleh William di atas kap mobil. Botol itu masih berada di sana dan belum disentuh sama sekali oleh Seo yeon.
“Kenapa Nona tidak meminum pemberian dari William saja? Itu jauh lebih praktis,” sindir Darren.
Seo yeon tetap memasang wajah tanpa emosi. “Aku tidak mengonsumsi minuman yang mengandung kadar gula terlalu tinggi.”
Dia kemudian meraih botol pemberian Wiliam dan justru menyodorkannya ke arah Darren. “Ini untukmu saja.”
Malam semakin larut di unit penthouse yang mewah itu. Darren duduk di depan meja kerja kamarnya dengan laptop yang menyala terang. Ponselnya terletak di samping, menampilkan pesan masuk dari Bibi Ayu yang berisi foto kebahagiaan keluarga mereka di rumah baru. Ibunya terlihat tersenyum lebar di depan kulkas barunya, sementara sepupu-sepupunya tampak asyik berguling di sofa yang empuk.
Darren sempat tersenyum melihat foto-foto itu, namun perlahan senyumnya memudar. Tidak ada kabar terbaru dari Rina, hanya ada kiriman foto Cello. Anak laki-laki itu tampak tersenyum sendiri, tanpa kehadiran Rina ataupun Alvino di sampingnya.
“Semoga Cello selalu dalam kondisi baik dan aman di sana,” batin Darren sembari mendesah berat. “Maafkan Ayah.”
Jemarinya tanpa sadar mengetikkan beberapa kata kunci pada bilah pencarian di peramban. Secara tidak terduga, dia menemukan sebuah artikel dari sebuah forum gelap dengan judul yang sangat mencolok; “Dewan Keseimbangan, Pengatur Ekonomi Dunia di Balik Layar.”
Artikel tersebut memberikan pemaparan mengenai sebuah organisasi rahasia yang memiliki kendali penuh atas aliran kekayaan global. Anggotanya terdiri dari para ekonom terkemuka, bankir internasional, hingga pengusaha kelas kakap. Mereka bergerak tanpa terlihat, namun pengaruhnya terasa di setiap sudut dunia ekonomi. Salah satu nama yang tercantum secara spesifik dalam artikel tersebut adalah keluarga besar William Kusuma.
Darren membaca bagian itu berulang kali dengan dahi berkerut. “Dewan Keseimbangan,” bisiknya dengan curiga.
Dia mulai menyadari bahwa segala pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan semata. William ternyata bukanlah pengusaha biasa pada umumnya. Pria itu adalah bagian dari sebuah struktur yang jauh lebih masif dan terorganisir. Hal ini menjelaskan mengapa sistem miliknya selalu mengalami error setiap kali bersentuhan dengan William, pria itu jelas dilindungi oleh sebuah entitas atau kekuatan yang jauh lebih kuat dari jangkauan sistem saat ini.
Lantas Darren mencoba memanggil sistemnya sekali lagi. “Selain diriku, apakah ada pengguna lain yang memiliki sistem serupa?”
Layar sistem berkedip dengan pendar biru yang berulang secara acak. Keterbatasan informasi. Sistem tidak dapat mengakses data dari pengguna lain yang kemungkinan berada di luar jaringan deteksi saat ini.
Darren mengerutkan keningnya dengan rasa tidak puas. “Jadi, itu berarti ada pengguna lain selain diriku?”
Sistem tidak dapat memberikan jawaban yang pasti untuk saat ini.
Darren menutup laptopnya dengan perasaan gusar. Kepalanya mulai terasa sakit karena banyaknya informasi yang saling berkelindan. Malam itu, dia tidak bisa memejamkan mata dengan nyenyak, dibayangi oleh eksistensi William dan organisasi misterius yang kini mulai masuk ke dalam radarnya.
“Semoga besok semuanya baik-baik saja.”