"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai berubah
"Kau mengusir?," ucap Rasti pelan.
Xena mengambil tisu dan mengelap pelan, "Tidak."
"Lalu."
Xena tidak langsung menjawab, ia bangkit, berjalan guna mengambil air dari dispenser.
"Apa kau masih mau tinggal di sini?."
Rasti terdiam sesaat. Pertanyaan itu terasa sederhana, tapi entak kenapa menusuk. Ia menatap punggung Xena yang berdiri di dekat dispenser., menuangkan air dengan tenang seolah tidak mengatakan sesuatu yang berarti. Padahal jelas itu bukan pertanyaan biasa.
"Ini kantor mu," jawab Rasti akhirnya.
Xena berhenti sejenak, lalu menoleh setengah, "Itu bukan jawaban."
Rasti menarik nafas pelan. Tangannya meremas ujung tas bekal yang sudah ia rapikan.
"Aku hanya tidak ingin menganggu pekerjaanmu."
Xena berjalan kembali, membawa segelas air. Ia meletakkannya di meja, lalu bersandar ringan di tepi meja sambil.menatap Rasti.
"Kau tidak mengganggu."
DEG
Rasti mengangkat wajahnya, sedikit terkejut mendengar pengakuan Xena.
"Tapi aku juga tidak mengundangmu untuk tinggal lama," lanjut Xena datar.
Dan kalimat itu langsung menjatuhkan harapan kecil yang sempat muncul. Membuat Rasti tersenyum tipis.
"Iya, aku paham."
Xena mengernyit, "Apa semua yang kau pahami selalu kau terima begitu saja?"
Rasti terdiam. Pertanyaan itu lebih dalam dari yang terlihat.
"Aku hanya tau posisiku," jawab Rasti akhirnya.
Xena menatapnya lama, "Dan menurutmu di mana posisimu?"
"Bukan di sini terlalu lama."
Cetazzzz
Jawaban itu seperti menampar balik tanpa suara. Xena menghela nafas pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke jendela.
"Kau selalu membuat jarak."
Rasti mengangkat wajahnya, "Bukankah kau juga?"
Untuk pertama kalinya Rasti membalas. Xena langsung menatapnya lagi. Tatapan mereka bertemu. Kali ini tidak ada yang menghindar.
"Kau bilang ini hanya peran, jadi aku menjaganya agar tidak lebih dati itu." ucap Rasti pelan.
Kalimat itu tidak tinggi, tidak emosional. Tapi jelas tepat sasaran. Membuat Xena terdiam beberapa detik.
"Bagus," gumamnya.
Rasti mengernyit, "Apa yang bagus?"
"Kau konsisten."
Xena melangkah mendekat membuat Rasti mundur selangkah.
"Tapi kau salah saru hal."
"Apa?"
"Peran itu...kadang berubah tanpa kita sadari."
Rasti mundur lagi hingga membuat tubuhnya hampir terjatuh. Kalimat itu terlalu berbahaya untuk sesuatu yang mereka sepakati sejak awal.
"Aku tidak ingin itu berubah," jawab Rasti cepat.
Jawaban itu membuat Xena diam. Tatapannya berubah, lebih tajam dan lebih sulit dibaca.
"Kenapa?"
Rasti menggenggam tasnya lebih erat, "Karena...aku akan membuatnya lebih sulit."
Xena tertawa mendengar jawaban itu. Tawa yang tadinya keras lalu tiba-tiba dingin.
"Lalu, kenapa kau tak menolak saat aku menyentuh kau pagi tadi? Kau seperti menikmatinya."
DEG
Rasti teringat saat Xena berpamitan dan menyentuh kepalanya sebelum berangkat.
"Itu... karena aku tidak punya pilihan."
Suara Rasti pelan. Tapi tegas. Xena langsung terdiam. Jawaban itu bukan pembelaan. Bukan juga penyangkalan. Namun itu kenyataan.
"Di depan orangtua mu, aku harus terlihat sebagai istri yang baik. Aku tidak bisa menepis tanganmu begitu saja," jelas Rasti lagi.
Kali ini yang terkena justru Xena. Rahangnya mengeras.
"Hanya itu?" tanya Xena.
Rasti ragu sejenak. Hanya sepersekian detik namun cukup untuk membuat Xena menangkapnya.
"Katakan saja," ucap Xena.
"Dan...karena aku tak ingin mempermalukan mu."
Hening. Jawaban itu lebih lembut dari yang Xena duga. Tapi justru itu lebih sulit untuk diabaikan. Xena mengalihkan pandangannya. Tangannya masuk ke saku celana, seolah mencari sesuatu untuk menahan diri sendiri.
"Kau terlalu banyak berpikir," gumamnya.
"Kalau aku tidak berpikir, mungkin semuanya akan lebih buruk."
Xena tak menjawab. Xena merasakan sesuatu terjadi dalam dirinya. Semakin ia ingin mencaritahu semakin ia mengetahui apa yang sebenarnya yang ada dihatinya.
"Sudah cukup. Sebaiknya kau pulang sebelum gelap," ucap Xena akhirnya.
Rasti mengangguk pelan, "Iya."
Rasti meraih tas bekalnya. Gerakannya pelan, rapi seperti biasa. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak berlama-lama. Ia melangkah menuju pintu. Langkahnya ringan namun entah kenapa dadanya justru terasa berat. Satu langkah. Dua langkah. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu.
Namun dari luar, seseorang membuka gagang pintu itu.
KLIK
Rasti mundur saat pintu itu semakin terbuka lebar. Matanya membesar melihat siapa yang membuka pintu itu. Sandra.
Sandra berdiri di ambang pintu. Penampilannya rapi, elegan dengan setelan yang pas ditubuhnya. Kontras dengan penampilan Rasti saat ini. Rasti membeku sesaat. Tangannya masih menggenggam tas bekal itu. Sementara Sandra mengangkat alisnya tipis.
"Sepupu?" ucapnya pelan.
Rasti tersenyum kecut. Lalu menoleh menatap Xena yang hanya mematung di tempatnya.
"Maaf, aku tidak tau kau di sini,"
"Tidak apa-apa. Aku cuma sebentar," sahut Rasti sambil tersenyum tipis.
"Ohh...,"
"Kalau begitu aku permisi dulu," ucap Rasti sambil berlalu meninggalkan mereka.
Rasti melangkah cepat keluar dari ruangan itu. Pintu tertutup di belakangnya dengan pelan. tapi cukup untuk memutus suasana yang sejak tadi menekan dadanya. Langkahnya tidak berhenti sampai akhirnya ia tiba di blorong yang sepi.
Tangannya mencengkram tas bekal yang kini terasa jauh lebih ringan, tapi entah kenapa hatinya terasa berat.
"Kenapa sakit sekali," ucap Rasti pelan sambil menekan dadanya.
Namun tanpa ia sadari, Xena memperhatikannya dari balik layar. Xena mengernyit memperhatikan setiap detail gerak-gerik Rasti tersebut.
"Xena.." panggil Sandra pelan.
Xena tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah layar monitor di hadapannya. Rekaman CCTV menampilkan sosok Rasti di lorong. Berdiri sendiri, menekan dadanya, wajahnya menahan sesuatu yang jelas bukan sekedar lelah.Hal itu membuat rahang Xena mengeras.
"Xena.."
Kali ini suara Sandra terdengar lebih dekat. Ia melangkah mendekat, ikut melihat ke arah layar.
"Itu sepupumu tadi, kan?" tanyanya lagi, nada suaranya pelan tapi mengandung sesuatu yang sulit diabaikan.
Xena tidak menjawab, ia langsung mematikan layar itu.
"Xena, kenapa dengan dia? Kenapa dia ke sini?"
Xena tak menjawab.
"Xena, kau menyembunyikan sesuatu dariku. Kau bilang kau akan menghubungiku. Tapi nyatanya sampai detik ini kau seperti mengabaikan ku," ucap Sandra kesal.
"Aku sibuk. Banyak pekerjaan yang menungguku," jawab Xena akhirnya.
"Lalu dia?"
Xena menghela nafas panjang, " Dia hanya mengantar bekal makan siang."
Sandra mengernyit bingung, "Bekal? Makan siang?"
"Kau tidak sedang berbohong, bukan?" tanya Sandra lagi.
Xena menatap datar, " Berbohong? Untuk apa ? Aku tidak punya waktu untuk itu."
Sandra menatap Xena lekat. Sorot matanya berubah. Tapi ia tak ingin membuat keributan. Karena bukan waktunya untuk itu.
"Baiklah sayang, karena aku sudah di sini. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ucap Sandra.
"Aku sudah makan," jawab Xena datar.
Senyum Sandra tiba-tiba memudar, " Baiklah, kalau begitu antar aku belanja?"
"Aku sibuk."
Sandra terdiam. Tidak biasanya Xena mengabaikannya. Tapi setelah beberapa saat berlalu keadaan seperti berubah sedemikian rupa.
"Kau berubah, Xena," katanya lirih.
Xena terdiam. Ia menatap lurus ke depan. Perkataan itu membuatnya tersadar sejenak.