NovelToon NovelToon
Everything About You

Everything About You

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:457.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

"Bukan karena aku sudah bahagia, hanya saja aku sangat pandai dalam menyembunyikan luka"

Anisa Rahmawati

Tidak ada yang indah dari sebuah pernikahan tanpa cinta, begitulah yang di rasakan oleh Dimas Prasetyo hingga dia memilih menghadirakan kembali kekasihnya sebagai istri kedua di tengah - tengah pernikahannya dengan Anisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Senja mulai terlihat di ufuk barat, membuat warna langit begitu indah di pandang mata. Anisa masih duduk termenung di atas bebatuan pantai yang ada di ibu kota Jakarta. Meskipun kota ini tidak sesejuk kota kembang kelahirannya, namun kota ini menjadi saksi perjuangannya menata hati selama enam bulan ini. Apakah dia jatuh cinta pada suaminya ? Jawabannya iya, dia mulai menyadarinya sekarang. Dia jatuh cinta pada laki-laki itu sejak dulu untuk itulah dia masih mengharapkan pernikahan ini akan membaik, namun setiap hari rasanya hanyalah kesakitan yang selalu dia paksakan agar tidak muncul kepermukaan yang kini menemani harinya.

Sepertinya inilah saatnya untuk Anisa melepaskan segalanya, seperti halnya senja di ujung lautan sana, yang bersiap pergi meninggalkan sang langit menuju keperaduan. Bukankah bintang dan sang bulan yang akan kembali menggantikannya untuk menemani langit di gelapnya malam. Jadi tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Semuanya sudah ada porsi dan batasannya masing-masing, dan mungkin inilah batas dari waktu yang sudah Allah tentukan untuk pernikannya.

Anisa merogoh tas yang ada di atas pahanya, mengambil ponsel miliknya dari dalam tas tersebut lalu menempelkan benda pipih tersebut di telinganya.

"Assalamualaikum Nis," Jawab seorang laki-laki di ujung sana.

"Waalaikumsalam Ndra, hmm aku butuh bantuanmu." Ucap Keyla singkat. Namun Indra sudah mengerti kemana arah pembicaraan sahabat istrinya ini.

"Kamu yakin ? dan sudah memikirkan hal ini dengan matang ?" Tanya Indra lagi. Anisa mengangguk seakan Indra bisa melihat gerakan kepalanya itu. Indra seakan sudah tahu dari keterdiaman gadis ini, berarti sudah memikirkan hal ini dengan baik. Meskipun dia gadis yang selalu terlihat lemah lembut, namun Indra tahu jika Anisa selalu memikirkan semuanya dengan matang saat mengambil keputusan dalam hidupnya.

"Bagaiman Abi dan Umi, apakah mereka sudah tahu hal ini ? Tanya Indra lagi.

"Belum Ndra, aku akan menelfon mereka besok pagi sebelum mengantar surat pengunduran diri di perusahaan." Ucap Anisa.

"Baiklah, aku akan mengantarkan berkas tuntuannya setelah urusanmu di perusahaan selesai." Kata Indara lalu mengakhiri pembicaraan mereka.

Setelah warna jingga di atas hamaparn lautan itu mulai perlahan berubah menjadi gelap, Anisa beranjak dari sana. Taxi yang dia pesan sudah menunggunya di tempat yang mereka janjikan.

Anisa membuka jendala mobil, membiarkan angin malam menerpa wajahnya membuat ujung hijab yang menutupi kepalanya beterbangan di dalam mobil. Tatapannya menyusuri jalanan yang terdapat lampu yang menyala sepanjang mata memandang. Gedung-gedung pencakar langit yang ada di ujung sana seakan dia rekam dalam otaknya, yah hanya ini yang bisa di kenang dari hampir tuju bulan pernikahannya.

Tangan menyentuh pipinya yang kini sudah terdapat setitik air bening disana. Sedih ? apakah dia sedih melepaskan ini ? Iya. Dia sangat menyedihkan, berharap laki-laki yang mencintai orang lain juga mencintainya. Dan sebelum dia semakin tersakiti oleh harapannya sendiri, dia memilih untuk lebih cepat melepaskan diri.

"Kita sudah sampai nona." Ucap sopir taxi menyadarkan Anisa dari lamunannya.

"Terimakasih pak." Ucap Anisa sambil memberikan upah untuk sopir tersebut lalu keluar dari dalam mobil.

Beberapa saat Anis aterdiam di halaman bangunan berlantqi dihadapannya. Bangunan yang tempat dia menghabiskan harinya beberapa bulan ini. Bangunan yang akan dia tinggalkan sebentar lagi.

Todak terasa sudah begitu larut, Anisa melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Sudah pukul sembilan malam, dia tidak menyiapkan makan malam seperti biasanya.

Anisa tersenyum kecut, sekarang dia menyadarinya. Dia benar-benar jatuh cinta pada laki-laki itu, dan berharap semua yang dia lakukan akan merubah tatapan laki-laki itu padanya.

Anisa melangkahkan kakinya menuju lift dan naik keatas diaman apartemennya berada. Beberapa kali di lift dia menguatkan hatinya, jika keputusannya malam ini benar-benar yang terbaik.

Sampai di depan pintu apartemen, Anisa masih terdiam. Berharap di dalam hatinya laki -laki itu masih belum kembali dari perusahaan sama sepwrti malam-malam biasanya, agar dia bisa dengan nyaman beristirahat malam ini.

ceklek.... Pintu apartemen terbuka, Anisa bernafas lega karena ruang tamu masih terlihat gelap, itu berarti laki-laki itu belum kembali.

Baru saja Anisa melangkah masuk umtuk menyalakan lampu ruangan suara bariton itu membuatnya terkejut.

"Kemana saja ? kenapa baru kembali ?" Ucap suara serak yang duduk tidak jauh dari tempat Anisa berdiri.

Tidak berniat menjawab pertanyaan dari laki-laki yang sudah dia kenali suaranya, Anisa terus melangkah menuju saklar lampu dan membuat ruangan itu terang. Sangat terkejut mendapati Dimas sudah duduk dengan tubuh yang tidak lagi beraturan, bau alkohol menguap di dalam ruangan. Namun Anisa berusaha untuk tidak memperdulilan apapun dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar untuk membersihkan tubuhnya dan beristirahat.

Dimas pun dengan langkah sempoyongan ikut menaiki satu persatu anak tangga dengan susah payah sagar bisa mencapai ke kamar mereka.

Dengan terburu-buru Anisa keluar dari kamar mandi dan membiarkan laki-laki yang sedang duduk di sisi ranjang dan kini menatap lekat padanya. Dia mengacuhkan semuanya meraih ponsel, meskipun bau tajam yang sangat tidak dia sukai kini menguar di seluruh kamar.

"Aku sedang berbicara denganmu." Kesal Dimas. Namun Anisa membungkam mulutnya, dia menganggap laki-laki ini tidak ada. Dimas menarik tangan Anisa dengan kasar, membuat gadis itu terjatuh di ranjang laki-laki itu bersamaan dengan ponsel yang ada dalam genggamannya.

"Apa yang kamu lakukan ?" Teriak Anisa saat Dimas semakin mengeratkan pegangan tangannya. Kini kedua tangan kecil Anisa sudah berada di dalam genggaman Dimas. Pias di wajah gadis itu menandakan jika dia sedang ketakutan sekarang.

"Ku mohon mas jangan seperti ini." Butiran bening mulai meluncur dari sudut matanya saat tangan Dimas menarik hijab yang menutupi kepalanya. Mulut yang berbauh alkohol itu kini membungkam bibirnya kasar membuat tubuh mungil itu bergetar ketakutan. Takut di perlakukan seperti ini oleh suaminya sendiri.

"Hentikan, kumohon siapapun tolong aku." Teriak Anisa saat bibir laki-laki itu berpindah menuju leher yang tidak pernah di sentuh oleh siapapun. Piyama dengan lengan panjang itu di tarik oleh tangan kekar Dimas hingga kancingnya berhamburan di atas tempat tidur.

"Kenapa kamu terus saja memilih karirmu Rania, aku hanya ingin punya leluarga kecil bahagia denganmu. Punya anak-anak lucu yang akan kita jaga dan besarkan bersama." Kalimat Dimas membuat Anisa semakin terisak. Tangisan menyayat hati dari bibir istri pertamannya tidak di perdulikan oleh Dimas, dia terus menjamah bagian tubuh Anisa tanpa rasa kasihan. Pergelangan tangan kecil itu sudah membiru karena pegangan tangan Dimas yang terlalu kencang.

Celana piyama panjang yang membalut tubuh bagian bawah Anisa, sudah terlepas dari tempatnya. Dimas menjamah seluruh bagian tubuh istrinya dengan kasar. Bau wangi Vanilla menyeruak masuk kedalam indra penciumannya hingga menembus saraf otak seakan membuatnya semakin terangsang untuk menyetubuhi istri pertamanya ini.

Anisa terus merintih, hubungan suami istri yang di juluki sirga dunia ini, rasanya bagaikan neraka. Tidak ada kenikmatan yang dia rasakan. Rangsangan pada tububnya begitu kasar, juga nama yang terus meluncur dari bibir suaminya semakin membuat hatinya semakin tercabik-cabik.

"Ahh.. Sakit mas." Teriak Anisa saat Dimas mnghujam dengan satu kali hentakan masuk kedalam tubuhnya. Mahkota yang dia jaga selama hampir 23 Tahun ini terenggut dengan keji, dan lebih membuatnya sedih suaminya sendiri yang melakukan hal itu padanya.

" Jangan, kumohon mas sadarlah. ahh.. sakit mas hentikan.. jangan.. kumohon berhenti.. kamu menyakitiku mas." Teriakan Anisa terus menggema di seluruh ruangan kamar, namun Dimas tidak memperdulikan apapun. Dimas terus menghujam dengan kasar sambil menyebut nama Rania di sela-sela desahannya hingga mencapai apa yang ingin dia capai dari perbuatannya. Puncak kenikmatan yang selalu dia raih bersama istri keduanya, namun ini jauh lebih nikmat.

Setelah puas, Dimas segera beranjak dari atas tubuh polos dengan memar dimana-mana, membawa tubuhnya berbaring di samping Anisa yang sudah meringkuk membungkus dengan selimut. Meskipun tidak ada gunanya lagi, tetap saja tangisan menyayat hati itu terus lolos dari mulutnya.

Setelah puas meratapi perbuatan suaminya, dengan susah payah Anisa bangkit dari ranjang, memunguti kembali celana piyama yang tadi di tarik keluar oleh Dimas lalu memakainya. Selimut putih yang sudah bercecran darah dimana-mana kembali dia gunakan untuk membungkus tubuh bagian atas miliknya, karena atasan piyama yang dia pakai sudah tidak berbentuk lagi. Sebelum melangkah keluar, Anisa meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur disamping Dimas yang sudah terlelap setelah puas menyetubuhinya. Dan dengan langkah tertatih-tatih Anisa berusaha keluar dari kamar menuju ruangan tamu lalu keluar dari apartemen terkutuk itu. Terus berdo'a dan berjanji di dalam hatinya, setelah berhasil keluar dia tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di apartemen ini.

Masih sisa langkah yang terseok-seok Anisa menguatkan tubuhnya agar mencapai lift. Dan Bruukk... Kakinya yang terus gemetar tidak lagi bisa menahan beban tubuhnya dan akhirnya ambruk disana. Dia tidak bisa lagi menahan sakit di sekujur tubuhnya, perih yang terasa menyayat di inti tubuhnya.

Seorang gadis yang hendak keluar dari lift menuju apartemennya, terkejut ada yang pingsan di depannya dengan selimut juga piyama yang berantakan. Dengan cepat gadis yang memang kini sedang mengemban pendidikan kedokteran di salah satu Universitas terbaik di Indonesia, kembali menekan tombol lift menuju lobi apartemen sembari menghubungi seseorang di ujung sana ponselnya.

1
falea sezi
g jelas ne novel pantes sepi like
falea sezi
tau agama tp kumpul. satu rmh ma mantan suami. yg buat novel gmna /Pooh-pooh/
falea sezi
males klo ujungnya balikan/Drowsy/ bekas rania aja. lu doyan nis begooo
falea sezi
goblok aja g bs. move on dr laki bekas jalang di kasih spek. baik kayak angga g mau oon
Annie Soe..
Cerita yg bagus thor, cuma tlg revisi typo nya ya..
Fardiana Hamsah
Luar biasa
Yunior
typo lagi
Yunior
nama orang banyak yang typo
Saini Jamudin
anak sya sja suda 5 thn masi mnyusu
Jumadin Adin
jgn ada pelakor ya thooor kasian anisa
Jumadin Adin
akhirnya cinta yg menang....horee cinta
Jumadin Adin
perasaan mengalahkan luka
Jumadin Adin
Ya Allah ANISA kamu bkn muhrim,kenapa mau di gandeng
Jumadin Adin
cinta mmg tdk masuk akal,sesakit apapun pada seseorang tp di hadapkan dg hati yg masih bersamanya...perih itu tak terasa
Jumadin Adin
sakitnya hati ini thoorr..melihat nereka berdua sama² tersakiti
Jumadin Adin
lho dimas dan ANISA kan hidupnya di apartemen.kenapa melihatnya trenyuh di rumah Dimas
Jumadin Adin
pergumulan yg menyakitkan
Jumadin Adin
sesuatu baru terasa setelah kehilangan.Pada saat msh bersama sering terabaikan
Jumadin Adin
dimas betul² jomblo ngenes.Anisa menggugat ceria,Rania di cerai krn memilih hidup dg suami orang
Jumadin Adin
thooorrr banyak typo²
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!