NovelToon NovelToon
Pilihan Hati Anisa

Pilihan Hati Anisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Single Mom
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: pinkanmiliar

Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.

Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.

----------------------------

"Siapa ayah dari bayimu?"

"Itu bukan urusan Dokter."

"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."

Anisa hanya tersenyum getir.

"Maaf. Saya menolaknya."

-----------------------

Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Cinta Kita

Anisa masih bertugas di klinik saat ponselnya terus bergetar menandakan ada panggilan masuk. Anisa melirik sekilas dan melihat nama Mak Rahma di layar.

"Dijawab dulu aja, Bu Bidan," ucap Resti yang kini kembali bekerja bersama Anisa.

"Nanti saja. Palingan Rere yang ngerengek minta ini itu," jawab Anisa sambil memeriksa ibu hamil yang berbaring di brankar.

"Siapa tau ternyata penting," tutup Resti kemudian keluar dari ruangan.

Anisa menunggu hingga pemeriksaan selesai lalu barulah Anisa menghubungi lagi nomor Mak Rahma. Anisa menunggu beberapa saat hingga akhirnya Mak Rahma menjawab panggilan.

"Assalamu'alaikum, Mak. Ada apa?"

"Wa'alaikumsalam. Nisa..." Suara serak Mak Rahma membuat Anisa panik.

"Ada apa, Mak?"

"Rere, Nak. Kamu cepatlah pulang."

Tak bisa lagi berpikir jernih, Anisa berlarian lorong klinik menuju ke pintu keluar. Air matanya sudah mengalir deras setelah mendapat telepon dari Mak Rahma tadi.

"Anisa! Kamu kenapa?" Reinhart menghentikan langkah Anisa.

"Dokter, aku harus segera pulang ke rumah. Mak Rahma bilang kalau ...." Anisa tak bisa melanjutkan kalimatnya saking paniknya.

"Oke, aku antar ya. Ayo!"

Anisa dan Reinhart pulang ke rumah mengendarai mobil operasional klinik. Reinhart menatap wajah cemas Anisa.

"Kamu tenang dulu ya. Jangan berpikir yang tidak-tidak."

Tiba di rumah, Anisa berlari masuk mencari keberadaan Rere.

"Rere!" Anisa menatap putrinya yang sudah terbaring lemah di ranjang. "Rere kenapa, Mak? Kenapa bisa begini?"

Mak Rahma hanya bisa menangis. Ia sendiri bingung bagaimana menjelaskan pada Anisa.

Reinhart datang dan segera memeriksa kondisi Rere. "Kita bawa ke klinik aja. Ayo, Nis."

Anisa mengangguk. Reinhart segera membopong tubuh Rere menuju mobil.

"Kamu pangku Rere ya?" perintah Reinhart. "Mak juga ikut, ayo!"

Mak Rahma dan Anisa duduk di jok belakang. Mobil yang dikendarai Reinhart melesat cepat menuju ke klinik.

"Kapan Rere pingsan, Mak?" tanya Reinhart. Ia harus melakukan pemeriksaan awal terhadap pasien.

"Mak gak tau pasti, Dokter. Tadi Rere kan sedang mainan di kamar. Tiba-tiba aja Rere ngeluh pusing dan nyeri kepala. Mak pikir hanya pusing biasa, makanya Mak mau ambilkan minum, karena Mak kira Rere kebanyakan main. Tapi, pas Emak balik ke kamar, Rere udah gak sadarkan diri."

Anisa memejamkan mata mendengar cerita Mak Rahma. Memang akhir-akhir ini Rere sering mengeluh sakit kepala. Namun, Anisa pikir itu adalah hal biasa karena Rere kurang istirahat dan banyak bermain.

"Dokter, Rere gak kenapa-napa kan?" tanya Mak Rahma.

Reinhart menatap Anisa dari kaca spion. Tak disengaja, mata sembab Anisa juga sedang menatap Reinhart.

"Saya akan lakukan yang terbaik, Mak," balas Reinhart.

*

*

*

Sudah tiga hari Rere dirawat di klinik. Karena keterbatasan alat pemeriksaan, Reinhart terpaksa membawa sampel darah Rere untuk diperiksa di rumah sakit Avicenna.

Anisa yang setia mendampingi Rere seakan tak memiliki gairah hidup lagi.

"Makan dulu, Nak. Kamu sejak pagi belum makan," lerai Mak Rahma.

"Aku gak lapar, Mak. Aku cuma ingin Rere bisa kembali sehat. Melihat senyumnya." Tangis Anisa kembali pecah saat melihat mata Rere yang terus terpejam.

"Kalau Rere tahu kamu begini, Rere pasti akan sedih. Makanlah meski hanya sedikit." Mak Rahma menyodorkan sesendok makanan ke mulut Anisa. Hingga akhirnya wanita itu membuka mulutnya juga meski dengan diiringi isakan tangis.

*

*

*

Reinhart menatap lembaran kertas di depannya dengan tatapan nanar. Sungguh ia tak percaya dengan apa yang barusan ia baca.

"Rere sakit apa, Dok?" Tak sabaran mendengar dari Reinhart, Anisa merebut kertas di tangan Reinhart.

Tubuh Anisa terhuyung setelah membaca hasil tes darah Rere. "Ini gak mungkin." Anisa menggeleng kuat. "Rere gak mungkin sakit separah ini. Gak mungkin."

Anisa histeris di ruang kerja Reinhart. Anisa menangis meraung-raung. Ia bahkan memukuli dadanya, tapi Reinhart menghentikannya.

"Jangan begini, Anisa. Rere pasti sedih melihat kamu begini."

"Dokter, katakan kalau semua ini gak benar! Rere gak mungkin kena leukemia. Ini gak mungkin." Tangis Anisa makin pilu.

Dari luar ruangan, Ruby dan Rhea rupanya menguping pembicaraan Anisa dan Reinhart. Mereka berdua juga ikut bersedih sama seperti Anisa.

"Ya Tuhan, cobaan hidup Anisa begitu berat," ucap Rhea lirih.

"Kita harus selalu ada di sisi mereka, Rhe," sambung Ruby.

Rhea mengangguk. "Iya, Kak. Kasihan Anisa harus mengalami cobaan bertubi-tubi dalam hidupnya."

*

*

*

Lorong klinik itu terasa sunyi di malam hari. Hanya ada Anisa yang duduk di bangku tunggu depan kamar rawat Rere.

Reinhart yang baru saja membantu seorang ibu melahirkan, segera menghampiri Anisa. Ia duduk pelan di samping Anisa.

"Udah makan?" tanya Reinhart basa basi.

Anisa hanya menggelengkan kepala.

"Mau makan apa? Aku beliin ya. Atau mau aku masakin?"

Anisa kembali menggeleng.

"Aku masakin bentar ya!"

"Aku gak lapar."

Reinhart mengembus napas pelan. "Anisa, kalau kamu begini, gimana kamu mau rawat Rere? Kamu harus lebih kuat dari Rere. Oke?"

Anisa menatap Reinhart. "Dokter... Rere pasti akan sembuh kan?"

Reinhart membalas tatapan Anisa. Ia tak bisa menjawab pasti karena semua bukan kehendak darinya.

"Insya Allah, Rere pasti sembuh."

Tak berselang lama, Mak Rahma datang membawakan makan malam untuk Anisa dan Reinhart.

"Wah, kebetulan banget. Yuk, Nis. Kita makan bareng." Reinhart mengajak makan bersama di ruangannya.

Reinhart menatap Anisa yang makan dengan lahap meski dengan tatapan yang kosong. Sebenarnya ada hal yang belum Reinhart sampaikan mengenai kondisi Rere. Reinhart harus mencari waktu yang tepat.

"Saudara kembarnya akan jadi penyembuh bagi Rere." Begitulah kata dokter yang ditemui Reinhart di rumah sakit Avicenna.

"Bagaimana aku bisa membawa Reynald kemari? Atau Rere yang harus dibawa ke kota?" batin Reinhart.

"Ummm, Nis. Kalau kamu udah agak tenang. Apa kita ... bisa bicara?" Reinhart membuka obrolan usai makan malam.

"Mau bicara apa?"

Reinhart memantapkan hati untuk mengatakan yang sebenarnya pada Anisa.

"Akan lebih baik kalau Rere dibawa ke rumah sakit kota."

DEG!

"Satu-satunya jalan agar Rere sembuh adalah ... dengan mendapat transplantasi dari saudara kembarnya."

Anisa menggeleng. Ia tak mungkin mengusik kehidupan putranya yang sudah tinggal dengan keluarga Kramawijaya.

"Aku akan bicara pada Kak Rendra."

Alis Anisa berkerut dalam. "Tidak! Aku gak mau ada yang tau soal Rere."

"Tapi kita gak punya pilihan lain, Nis. Kita pindahkan Rere ke kota supaya dapat pengobatan yang lebih bagus. Percayalah padaku."

Anisa masih menggeleng kuat. Sudah lama ia meninggalkan kehidupan kota. Tak mungkin ia kembali ke sana.

Reinhart menghela napas. "Aku tidak memaksa. Kumohon pikirkanlah lagi tentang ini. Jika tetap disini, Rere gak akan dapat pengobatan yang bagus."

*

*

*

Atas bujukan dan rekomendasi Reinhart, Anisa setuju untuk memindahkan pengobatan Rere ke rumah sakit Avicenna. Dengan bantuan dokter Boy, Rere mendapat perawatan yang bagus.

"Makasih banyak, Dokter Boy." Anisa membungkuk hormat.

"Tidak masalah. Sudah jadi tugas kami untuk melakukan yang terbaik demi pasien."

Dokter Boy berpamitan keluar dari kamar rawat inap Rere. Mata gadis kecil itu masih terus terpejam. Entah kapan ia akan bangun.

"Sayang..." Anisa menggenggam tangan Rere. "Kamu sudah ada di kota. Bukannya kamu sangat ingin berada di kota lagi? Buka matamu dan kita akan jalan-jalan di kota." Suara Anisa bergetar saat berucap.

Reinhart ikut duduk di samping brankar Rere. "Benar. Kita akan jalan-jalan bertiga. Kamu bisa naik wahana di taman bermain sepuasnya. Bertahan ya, Nak. Om Dokter akan lakukan apapun agar kamu sehat lagi."

*

*

*

TAP TAP TAP

Reinhart melangkah memasuki rumah besar yang telah lama ditinggalkannya. Rumah besar itu terasa sunyi.

"Den Reinhart?" Seorang asisten menghampiri Reinhart.

"Bik, dimana Kak Rendra?"

"Eh? Pak Rendra kalau jam segini masih di kantor, Den."

"Kalau Reynald? Apa dia ada?"

"Sudah sejak beberapa minggu lalu, Pak Rendra membawa Den Reynald dan Nyonya tinggal di tempat lain, Den. Gak tau tinggal dimana."

Reinhart mengusap kasar wajahnya. Tadi ia ke rumah sakit dan Rendra tidak ada di sana. Mungkinkah Rendra ada di gedung perusahaan? Lalu apa ini? Reynald dan ibu sambungnya tidak tinggal di rumah ini, pantas saja suasananya sungguh sunyi.

"Makasih banyak, Bik." Reinhart berbalik badan dan segera pergi.

"Den!" Si bibik menghentikan langkah Reinhart. "Apa Den Reinhart gak ingin bertemu Tuan Besar?"

Reinhart terdiam sejenak. "Aku akan menemui Kakek lain waktu." Reinhart melanjutkan langkahnya keluar dari rumah.

Tiba di sebuah bangunan yang menjulang tinggi, Reinhart menatap kemegahan bangunan itu. Rendra benar-benar sudah memiliki segalanya sekarang.

Reinhart melangkah masuk. Ia menemui resepsionis dan meminta bertemu Rendra sekarang juga.

"Aku Reinhart Kramawijaya. Apa kamu gak percaya? Apa perlu kutunjukkan kartu identitasku?"

"Eh? Tidak perlu, Pak. Silakan langsung naik ke lantai 20 saja. Ruangan Pak Rendra ada di sana."

*

*

*

Rendra merentangkan tangan menyambut kedatangan adik semata wayangnya.

"Wow, sungguh mengejutkan. Adikku yang sudah menghilang lima tahun ini kini kembali."

Reinhart tak ingin berbasa-basi. "Kak, aku butuh bantuan Kakak. Lebih tepatnya ... bantuan Reynald."

Rendra mengerutkan dahi. "Bantuan apa?"

Reinhart menceritakan semuanya dari A sampai Z tentang Anisa dan Rere. Tentu saja Rendra syok setengah mati mendengar jika Anisa ternyata melahirkan bayi kembar. Selama ini Rendra dan Raisa telah dibohongi oleh Ridha.

"Kak, tolong bawa Reynald untuk menolong saudara kembarnya," tutup Reinhart di akhir ceritanya.

Rendra menatap adiknya dengan tatapan remeh. Adiknya ini ingin jadi pahlawan bagi Anisa.

"Tidak!"

"Ha?" Reinhart terhenyak. "Kak! Apa Kakak tega melihat seorang anak kecil meregang nyawa?" bentak Reinhart.

"Kenapa bukan Anisa sendiri yang memohon padaku?"

Reinhart tak habis pikir dengan sikap Rendra. Kakaknya ini sudah banyak berubah.

"Selama ini Reynald bahkan tidak pernah tahu kalau ia memiliki saudara. Kenapa baru mencarinya sekarang? Apa karena ingin memanfaatkan Reynald? Iya?" Rendra membentak Reinhart.

"Pergi dari sini sekarang! Aku tidak akan mengizinkan orang lain memanfaatkan putraku!" usir Rendra.

1
inchieungill
masa pergi ama laki2 lain, gak izin suami pula.
falea sezi
oalah bodoh bgt anisa😒
Emak Femes: makasih udh mampir Kak 🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
Sunarti Narti
itu namanya jodoh
Dian
suka
Emak Femes: Makasih sudah mampir, Kak 😍
total 1 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Baru episode satu kamu udah bikin hidup orang rumit, Mak🤣

daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: ❤️❤️❤️
semangART, Emak!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!