Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Ganda yang sadar tidak bisa langsung mengejar Diaz karena ada Laura yang masih pingsan di terasnya, segera mengeluarkan ponsel dengan tangan bergetar.
Ia langsung menghubungi nomor ayah Laura. Begitu panggilan tersambung, Ganda tidak lagi menggunakan nada lembutnya yang biasa. Suaranya terdengar dingin dan bergetar menahan amarah yang luar biasa.
"Halo, Pa. Tolong datang ke rumah saya sekarang juga dan jemput putri Anda!" ucap Ganda tanpa basa-basi.
"Ganda, ada apa? Kenapa kamu—"
"Putri Anda baru saja menyusup ke rumah saya dan mencoba membunuh istri saya dengan tongkat kayu!" potong Ganda dengan nada tegas yang mematikan.
"Untung istri saya bisa membela diri. Sekarang Laura pingsan di teras rumah saya. Saya minta dengan sangat, setelah Anda menjemputnya, masukkan Laura ke kantor polisi atau rehabilitasi! Jika tidak, saya sendiri yang akan melaporkannya dan menyebarkan seluruh rekaman kejadian ini sampai viral di media sosial. Saya tidak main-main, Pak!"
Setelah menutup telepon secara sepihak, Ganda segera menghubungi salah satu rekan dekatnya yang tinggal tak jauh dari rumahnya.
Ia meminta temannya itu untuk datang secepat mungkin guna mengawasi Laura yang masih pingsan, agar tidak terjadi fitnah selagi dirinya pergi.
Begitu temannya tiba di lokasi, Ganda langsung menyerahkan kunci pagar, melompat ke balik kemudi mobilnya, dan menginjak pedal gas dalam-dalam.
Ia melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mencoba melacak ke mana taksi yang membawa istrinya pergi.
Sementara itu, di dalam kabin taksi yang melaju menjauhi kompleks perumahan, suasana terasa begitu sunyi.
Diaz duduk di kursi belakang, menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin.
Air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh satu per satu membasahi pipinya.
Dadanya terasa begitu sesak oleh rasa kecewa dan dikhianati.
Sopir taksi yang sejak tadi melirik dari kaca spion tengah akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Ngapunten, Mbak... Kita ini mau jalan ke mana arahnya?"
Diaz mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang untuk menstabilkan suaranya yang bergetar.
"Ke bandara, Pak. Tolong agak cepat, ya," jawab Diaz pelan namun mantap.
Ia sudah membulatkan tekadnya. Tempat ini tidak lagi terasa aman dan nyaman baginya.
Ia ingin pergi sejauh mungkin dari Ganda, dari janji-janji manis pernikahan yang kini dirasanya tak lebih dari sekadar kepalsuan belaka.
Taksi akhirnya berhenti tepat di depan area keberangkatan Bandara Internasional.
Diaz turun setelah membayar ongkos, lalu menyampirkan ranselnya di pundak.
Langkah kakinya membawa tubuhnya yang lelah masuk ke dalam gedung terminal yang ramai dan bising oleh hilir mudik calon penumpang.
Di tengah keramaian itu, Diaz mendadak merasa sangat asing dan kesepian.
Ia menepi, duduk di salah satu kursi tunggu besi yang dingin, lalu menyunggingkan senyum sinis yang teramat getir.
"Hidupku sepertinya memang telah gagal," gumamnya lirih pada diri sendiri, menatap kosong ke arah lantai marmer.
"Tidak ada yang menginginkan aku hidup, atau memang seharusnya aku tidak usah lahir saja ke dunia ini?"
"Kata siapa kamu gagal?"
Sebuah suara bariton yang tenang tiba-tiba menyahut dari arah samping.
Diaz tersentak kecil lalu menoleh. Di kursi sebelahnya, duduk seorang lelaki berpakaian kasual rapi yang sedang melipat koran setengah bagian.
Lelaki itu menurunkan korannya, menatap Diaz dengan sorot mata yang ramah dan tidak menghakimi.
"Aku juga pernah gagal," lanjut lelaki itu tenang, melipat korannya sepenuhnya lalu menaruhnya di pangkuan.
"Tapi dari kegagalan-kegagalan itulah, aku justru menemukan bahan bakar baru yang membuka semangatku untuk terus berjalan."
Diaz mendengus pelan, membuang muka. "Jangan bercanda, Tuan. Anda tidak tahu apa-apa tentang hidup saya."
Lelaki itu terkekeh tipis, tidak tersinggung sama sekali dengan perkataan Diaz.
Ia mengulurkan telapak tangannya dengan sopan.
"Perkenalkan, aku Fabian. Aku sedang menunggu penerbangan ke Bali."
Diaz terdiam sejenak menatap uluran tangan itu. Entah mengapa, ada rasa hangat yang tulus dari sikap pria asing ini. Perlahan, Diaz menyambut uluran tangannya.
"Aku Diaz. Dan, aku juga mau ke Bali."
"Kebetulan yang menarik," ujar Fabian tersenyum simpul.
Belum sempat mereka mengobrol lebih jauh, suara dengung pengeras suara bandara menggema di langit-langit terminal, mengumumkan panggilan masuk boarding untuk maskapai penerbangan tujuan Denpasar, Bali.
“Panggilan penerbangan terakhir bagi para penumpang pesawat udara tujuan Denpasar, Bali...”
Diaz berdiri, merapatkan tali ranselnya. Ia menoleh ke arah Fabian yang juga sudah berdiri merapikan jaketnya.
"Sepertinya itu pesawat kita," ucap Fabian memberi isyarat ke arah pintu gerbang keberangkatan.
Diaz mengangguk pelan. Bersama Fabian di sampingnya, ia melangkah masuk melewati pintu pemeriksaan dokumen menuju garbarata.
Di dalam dadanya, ada debar ketidakpastian tentang masa depan, namun untuk saat ini, meninggalkan kota ini bersama pesawat yang akan terbang tinggi adalah satu-satunya pelarian yang ia butuhkan.
Langkah kaki Diaz dan Fabian membawa mereka menyusuri lorong kabin pesawat yang mulai padat oleh penumpang yang tengah merapikan barang bawaan mereka di bagasi kabin.
Begitu tiba di baris kursi yang tertera pada tiket, Diaz sempat tertegun.
Ia mencocokkan nomor kursi di boarding pass miliknya dengan nomor di atas tempat duduk.
"Lho? Kita di baris yang sama?" gumam Diaz setengah tidak percaya.
Fabian yang berdiri di belakangnya melirik tiket milik Diaz, lalu tersenyum simpul.
"Tampaknya takdir sedang bercanda, atau mungkin sistem komputer bandara hari ini sedang berpihak pada kita."
Fabian melangkah masuk terlebih dahulu karena nomor kursinya berada tepat di samping jendela (window seat).
Diaz yang mendapat bagian di kursi pinggir menatap jendela kecil pesawat dengan pandangan mendamba.
Ia ingin melihat awan, ingin melihat daratan yang perlahan mengecil, seolah dengan begitu ia bisa meninggalkan seluruh beban hidupnya di bawah sana.
"Mas... maksudku, Fabian," panggil Diaz ragu.
"Boleh kita tukar posisi? Aku, ingin duduk di dekat jendela."
Fabian menghentikan gerakannya yang hendak memakai sabuk pengaman.
Ia menatap Diaz sejenak, menangkap gurat kesedihan yang masih membekas di sepasang mata bulat milik wanita di sampingnya itu.
Tanpa banyak argumen, Fabian kembali menegakkan tubuhnya dan bergeser memberi ruang.
"Silakan, Nona Patah Semangat," ucap Fabian dengan nada menggoda yang halus, sembari mempersilakan Diaz lewat dengan gestur tangan yang sopan.
Diaz seketika mengerucutkan bibirnya, merasa kesal sekaligus gemas dengan julukan baru yang diberikan pria asing ini.
Ia menghentakkan kakinya pelan sebelum menggeser tubuhnya ke kursi dekat jendela.
"Ishhh! Namaku Diaz! D-I-A-Z!" semprot Diaz ketus, menatap Fabian dengan mata melotot jengkel.
"Jangan panggil aku dengan sebutan aneh-aneh!"
Fabian justru terkekeh pelan, suara tawa baritonnya terdengar renyah di tengah dengung mesin pesawat yang mulai dinyalakan.
Ia memasang sabuk pengamannya sendiri dengan santai.
"Baik, baik, maaf, Diaz," sahut Fabian, menekankan nama Diaz dengan senyum geli yang masih tersisa di wajahnya.
"Setidaknya, wajah ketusmu yang sekarang jauh lebih hidup daripada wajah putus asa yang kulihat di ruang tunggu tadi."
Diaz terdiam. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca, menyembunyikan semburat merah di pipinya—bukan karena tersipu, melainkan karena kesal sekaligus malu karena isi hatinya begitu mudah dibaca oleh orang asing yang baru ditemuinya beberapa puluh menit lalu.
Di luar jendela, pesawat mulai bergerak perlahan meninggalkan landasan pacu, membawa Diaz pergi menjauh menuju hamparan pulau dewata.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡